
Pov Zidan.
Setelah aku menyuruh Raka untuk mengantarkan istri ku pulang, firasat ku tiba-tiba tidak enak. Tapi aku coba berpikir positif saja, karna sebentar lagi Mr. Kim akan datang dan aku perlu mempelajari beberapa materi yang sudah di persiap kan oleh Raka.
Sudah satu jam berlalu tapi Raka belum juga balik ke kantor, harus nya dia sudah kembali karna jarak rumah kekantor biasa ku tempuh hanya dalam waktu dua puluh menit. Tapi ini sudah satu jam. Istri ku pun belum memberi kabar. Harus nya ia sudah mengabari ku sejak tadi.
Firasat ku mengatakan ada sesuatu yang terjadi. Tanpa ingin ku menerka-nerka aku pun lansung menelpon istriku.
Dua panggilan ku tidak ada jawaban dari nya. Ku coba menghubungi Raka dan panggilan pun lansung terhubung.
"Kau dimana sekarang Raka?" tanya ku saat sambungan telepon terhubung.
"Su-su dah dirumah Bos-----" gugup Raka menjawab.
"Kenapa kau masih dirumah ku Raka? Bukan kah sudah kubilang agar kau segera kembali ke kantor setelah mengantar kan Sabila," tanyaku sedikit merasa curiga dengan nya.
"Ta-tadi saya mengantarkan nyonya ke-ke-"
"Bicara padaku yang jelas Raka, atau ku potong lidak kau itu!"
"Ma-maafkan saya bos, tadi saya mengantarkan nyonya ke rumah ibu nya," balas Raka yang membuat darahku naik.
"Lalu sekarang di mana Sabila?!!" tanyaku membentak nya.
"A-ada bos,"
"Cepat berikan ponsel kau padanya,"
Tidak lama kudengar, Raka memanggil-manggil istriku. Mungkin istriku saat ini ada di kamar, karna aku juga mendengar suara ketukan pintu.
"Mas, hiks, hiks," suara tangis istriku di sambungan telepon.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya ku khawatir.
"Maaf Mas, hiks, hiks,"
__ADS_1
Entah kenapa? setiap kali aku mendengar suara tangisan nya, hatiku selalu ter sayat.
******
Ku pacu mobil meninggalkan kantor setelah nya. aku tak peduli Mr. Kim yang sudah datang dan menungguku di ruang meeting.
Di telepon tadi istriku dan Raka belum mengatakan apa-apa, tapi saat Raka mengatakan jika dia membawa istriku ke rumah ibunya aku menjadi cemas dan khawatir pasti ada suatu hal yang terjadi.
Sebenar nya tak ada niat ku melarang nya untuk bertemu dengan ibu nya. hanya saja rasa khawatir jika ia bertemu Herman, karna sudah beberapa kali aku mendapatkan Herman yang selalu ingin mencelakai nya.
Ingin rasa nya aku membunuh si Herman itu, tapi aku tak ingin istriku yang di salahkan ibunya nanti.
Lima belas menit menempuh perjalanan. kini aku sudah sampai di rumah. ku berlari masuk kedalam setelah turun dari mobil. Ku hampiri Raka yang duduk di ruang tengah, dada ku masih naik turun dengan nafas yang masih memburu.
"Apa yang telah terjadi!" bentak ku sambil mengangkat kerah leher kemeja Raka. aku hendak mengayun kan tangan memukul wajah nya.
"Mas, hiks, hiks, abang Raka nggak salah mas" tangis istriku sambil tangannya memeluk tubuh ku dari belakang.
Perlahan ku lepaskan tangan ku yang memegang kerah kemeja Raka. ku menoleh melihat istriku yang menempelkan wajah nya di punggung ku.
"Apa yang terjadi!" aku membalikkan tubuh ku lalu memegang kedua pundak istriku yang masih saja menangis.
"Maaf in aku mas," ucap nya dengan wajah tertunduk. Sungguh saat ini aku tak ingin lagi mendengar kata maaf dari nya.
"Katakan apa yang telah terjadi Raka!!" bentak ku yang kini sudah berdiri sambil melangkah sedikit menjauh membelakangi mereka.
"Maaf kan saya bos, tadi saya membawa nyonya kerumah ibunya. Tapi, di sana ada si Herman yang mengambil barang-barang nya yang ketinggalan. harus nya tadi saya tidak membiarkan nyonya masuk sendiri kedalam rumah itu,"
Jadi firasat ku waktu di kantor tadi benar! aku tadi nya memang menaruh curiga saat dia mengatakan pusing dan meminta pulang.
"Aku menyuruh kau mengantarkan dia pulang kerumah ini Raka, bukan kerumah ibu nya. Apa kau tidak paham ucapan ku, atau kau sudah bosan bekarja dengan ku,"
"Maaf kan saya bos," sesal Raka dengan wajah menunduk.
"Abang Raka nggak salah Mas, aku yang memaksa abang Raka untuk mengantarkan kerumah ibu. Aku nggak ingin Mas tau, mangkanya aku minta abang Raka mengantarkan ku pulang tadi-,"
__ADS_1
"Oo, kamu sudah merasa hebat sekarang? hingga kamu ingin melakukan sendiri apa pun yang kamu suka, begitu?"
sungguh nafas ku begitu sesak sekali saat ini, melihat wajah istriku yang menunduk ketakutan karna ucapan ku barusan. tapi, aku ingin dia belajar lebih menghargai ku, agar dia tidak merahasiakan apa pun lagi dari ku.
Aku balikkan badan menghadap ke arah pintu membelakanginya, karna aku tak sanggup melihat wajah nya yang tertunduk seperti itu. Ku hela nafas dan mengatur sedikit nafasku yang sesak.
"Mas aku minta maaf," terdengar lagi isak tangis nya yang membuat hatiku semakin tersayat.
Setelah nafas ku sedikit teratur, kembali ku balikan badan menatap nya.
"Bukan kah sudah pernah ku katakan, agar jangan pernah mendekati sesuatu pun yang bisa mendekatkan dirimu pada Herman atau pun berjumpa dengan dia. Apa itu susah bagimu!!!!"
"Mas, aku minta maaf,"
Sungguh aku bosan mendengar kata-kata maaf dari nya saat ini. Aku pun membalikan badan dan pergi keluar. Membiarkan teriakan istriku yang memanggil ku dari belakang.
****
Aku kembali ke kantor. untung nya Mr. Kim masih menunggu ku di ruang meeting. Meski tak fokus aku tetap berusaha menyampaikan materi yang sudah ku pelajari tadi. Dan usaha ku melobi Mr. Kim berhasil.
Setelah meeting selesai aku kembali keruangan ku. istrahat di dalam kamar pribadi yang ada di ruang kerjaku.
Biasa nya aku akan pulang menemani istriku di rumah. Tapi kali ini rasanya aku masih kesal dan marah, aku takut jika aku pulang emosi ku akan kembali........
****
Cukup lama ku tertidur di kamar ruang kerjaku, hingga ku terbangun ruangan itu sudah gelap. Biasa nya jika aku tertidur di ruangan itu Raka akan datang membangun kan ku. Tapi tadi memang aku tidak ada memberi tahu kan pada siapa pun, jika aku berada di ruang kerja.
Kulihat layar ponsel 31 kali panggilan tak terjawab dari istriku, aku pun segera bangkit dari ranjang saat melihat jam di ponsel sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Pastinya istriku sangat mencemaskan ku saat ini.
Sampai di rumah. Aku terus melangkah hendak menemui istriku di dalam kamar, pastinya saat ini dia sudah tidur.
"Mas,"
suara istriku memanggilku dari arah ruang tengah.
__ADS_1
Langkah ku terhenti tepat di depan pintu kamar. ku menoleh melihat istriku yang berjalan mendekati ku.
"Mas, dari mana?"