Om CEO Galak Itu Suamiku

Om CEO Galak Itu Suamiku
Membujuk Santi yang merajuk.


__ADS_3

Pagi hari di mension Zidan.


Salsa sudah rapi dengan seragam sekolah nya, segera turun ke bawah, sebelum Bibi Marni datang lagi memanggilnya. Merasa tidak enak hati saja status nya yang menumpang malah di tunggu oleh tuan rumah seperti kemarin pagi.


"Semoga saja si Om belum turun," gumam Salsa dalam hati, lalu ia membuka pintu kamarnya, sekilas ia melihat pintu kamar Zidan yang masih tertutup rapat.


'Si Om tadi malam pulang jam berapa ya? Kok aku tidak tau? Ishh.... ngapain juga aku memikirkan itu. Semoga saja pagi ini dia belum turun ke bawah,' batin Salsa melangkah meninggalkan kamarnya.


Salsa menuruni tangga dengan wajah tegang, berjalan pelan menuruni anak tangga. Ia merasa gugup jika nanti bertemu dengan Zidan di bawah, seperti biasa jantung nya akan berdetak sangat cepat bila bertemu dengan Zidan.


"Ish..... belum ketemu orang nya saja, jantung ku sudah dag-dig-dug seperti ini. Huffgh.... aku harus tenang, ya, harus tenang,"  mencoba mensugesti diri Salsa menarik nafas dalam lalu menghembuskan perlahan.


"Selamat pagi nona, sarapan nya sudah siap, saya akan keatas sebentar memanggil tuan," ujar Marni yang tiba-tiba datang.


"Iiiih..... Bibi ini memang hobi ya? ngagetin Salsa," gerutu nya memegang dada yang berdenyut hebat.


"Maafkan Bibi nona, tapi kenapa nona berjalan mengendap-endap seperti itu?" tanya Marni.


"Ehh..... Ng-nggak ada lah, mana ada Salsa mengendap-endap,"  jawab nya panik mendengar pertanyaan Marni.


"Ya sudah lah, Bibi mau ke atas kan?" imbuh nya.


"Baik nona, Bibi ke atas dulu," pamit Marni berjalan menaiki tangga.


"Hafh," Salsa menghela nafas besar.


Kini langkah Salsa terhenti lagi, ketika melihat Raka yang membawa paper bag mendekatinya.


"Selamat pagi nona?" sapa Raka ramah.


"Pagi juga Abang," balas Salsa tersenyum.


Dirinya merasa senang, jika ada Raka karna nantinya dia tidak akan terlalu gugup saat berhadapan dengan Zidan.


"Apa nona sudah mau berangkat sekolah?" tanya Raka.


"Belum, sebentar lagi, Salsa lagi nungguin Bi Marni? dia lagi ke atas memanggil si Om," jawab nya.


Raka diam, dia tau kalau Bos nya tadi malam tidak pulang ke mension, jadi semua orang di mension tidak ada yang tau, jika si Bos sudah terbang ke Jerman pagi tadi.


"Bagaimana Bi? Apa Bos ada di atas?" tanya Raka yang pura-pura tidak tau kala Marni berjalan melewati nya yang sudah berada di ruang makan.


"Saya tidak tau tuan, sudah berkali-kali saya mengetuk pintu kamar tuan, tapi tidak ada jawaban," jawab Marni.


"Bos sudah pergi Bi," jawab Raka sambil menyeruput kopi yang sengaja di buat pelayan untuk Zidan.


Salsa yang sejak tadi hanya mengaduk-aduk sarapannya, hanya menyimak obrolan Raka dan Marni.


"Maksud tuan Raka?" tanya Marni heran.


Salsa yang diam, sebenarnya juga ingin tau kemana pergi Om galak nya itu.


"Tadi pagi Bos sudah berangkat ke Jerman," jawab Raka enteng.


"Oo walah.... Ya sudah kalau begitu saya mau ke belakang dulu," pamit Marni berlalu pergi.


"Ini untuk nona, dari bos," Raka menyerah kan paper bag yang di bawa nya tadi.

__ADS_1


"Apa ini bang?" tanya Salsa heran, tetap mengambil paper bag itu tanpa ingin melihat isi di dalam nya.


"Nona buka saja, dan ini juga dari Bos, katanya untuk nona jajan di sekolah," jawab Raka mengeluarkan amplop coklat dari kantong jas nya, meletak kan di dekat Salsa.


Mata Salsa membola, setelah melihat isi dalam paper bag itu.


"I-ini buat Salsa?" tanya nya tidak percaya.


"Iya itu buat nona, dan ponsel nya juga sudah aktif, jadi nona bisa lansung menggunakannya, disana juga ada nomor kontak saya, serta nomor kontak Bos," terang Raka.


"Salsa nggak mau lah menerima ini bang, ini pasti sangat mahal, lagian Salsa juga nggak bisa menggunakannya." tolak nya memasukkan kembali kotak yang berisi ponsel itu ke dalam paper bag.


"Bos berpesan jika nona tidak mau menerima, nona boleh membuang nya," celoteh Raka, dengan cepat gadis itu meraih paper bag itu lagi, lansung mengeluarkan ponsel dari kotak nya.


'Sayang lah kalau ini di buang, lebih baik aku pakai saja, semoga saja Om Bos Itu nggak menjadikan hutang," gumamnya melihat lihat fisik luar ponsel di tangan.


"Abanggg, Abang mau kan mengajarkan Salsa cara menggunakannya," pintanya tersenyum simpul.


Raka mengangguk tanda setuju.


Kemudian Raka mengajarkan Salsa menggunakan ponsel pintar itu. Hanya sebentar, karna waktu yang mereka miliki tidak banyak. Salsa yang harus segera berangkat sekolah, sedang kan Raka, juga sudah waktu nya pergi ke kantor, menggantikan posisi sang Bos.


Salsa sudah mulai mengerti, cara mengoperasikan ponsel itu, meski pun hanya tau cara melakukan panggilan ke nomor ponsel orang lain, dan cara mengangkat panggilan masuk. Hanya itu saja yang ia pelajari tadi. Padahal itu adalah ponsel pintar, dangan harga yang sangat mahal, memiliki banyak fitur dan fungsi.


Salsa juga membawa amplop coklat, yang di berikan Raka padanya, ia hanya memasukkan amplop itu ke dalam tas sekolah, tanpa melihat terlebih dulu isi di dalam nya.


Kemudian Salsa berangkat kesekolah, diantar Jefri sang sopir yang memang di tugaskan Zidan untuk menjadi sopir pribadinya.


Salsa tiba di sekolah 10 menit lebih awal, sebelum bel tanda masuk berbunyi, mobil Jefri berhenti tepat di pintu gerbang sekolah, membuat Salsa ragu turun dari mobil. Pastilah jika ia turun banyak siswa-siswi yang melihat nya, ia takut semua orang akan berpikiran lain tentang nya.


Meski pun begitu ia adalah anak yang pintar, dengan semua keterbatasan yang di milikinya, ia selalu menjadi juara 1 umum di sekolah.


Cukup lama dirinya diam di dalam mobil, melihat para siswa yang berlalu-lalang masuk ke pekarangan sekolah


Dirinya tersentak, tiba-tiba pintu mobil di samping nya itu di buka Jefri.


"Silahkan nona," ucap Jefri setelah membuka pintu mobil.


Salsa segera turun dari mobil, melangkah cepat memasuki pekarangan sekolah.


"Eh... Coba lue liat, bukannya itu si Salsa anak 12 IPA satu," kata salah satu siswa bernama Novi yang melihat nya.


"Iya, kok dia bisa turun dari mobil mewah itu ya? pintunya juga di bukakan sopir tuh," imbuh Mira siswa yang bersama Novi.


"Kemaren juga ada cowok ganteng, dengan mobil yang lebih keren dari ini, mencari dia juga," kata Novi.


"Apa mungkin cowok ganteng yang datang kemarin itu cowok nya?" tanya Mira.


"Gimana kalau kita tanya'in saja lansung ke orang nya, biar gak jadi gosip," ujar Novi, yang lansung di balas anggukan kepala oleh Mira.


Kemudian mereka berdua pun mengejar langkah Salsa yang tidak jauh di depan.


"Nama kamu Salsa kan?" tanya novi, setelah berhasil menyusul langkah Salsa.


"Iya nama aku Salsa,"


Novi, mengulurkan tangannya, mereka juga saling berkenalan satu sama lain.

__ADS_1


Setelah mereka saling berkenalan. Salsa melihat Santi, sahabat nya itu berjalan tanpa menegurnya, padahal mata mereka saling beradu pandang, namun, Santi cepat memutuskan kontak mata itu.


"Mira, Novi, aku duluan ya," ucap Salsa pada kenalan barunya.


"Nanti kita ngobrol lebih banyak lagi ya," pinta Novi.


"Iya," sahut Salsa berlalu pergi.


"San..... Santi.... tunggu San," panggil nya seraya berlari mengejar sahabat nya.


Santi menghentikan langkah nya ketika Salsa meraih satu tangan nya.


"Apa lagi," ucap Santi ketus, memutar bola matanya malas.


"Kamu jangan marah lagi lah San, aku minta maaf, nanti jam istirahat aku akan ceritakan semua nya. aku janji," Salsa mengacungkan dua jarinya kedepan.


"Kemarin kamu juga bilang gitu, tapi apa? Udah lah aku mau masuk kelas," dengus Santi melangkah masuk ke dalam kelas.


"Kali ini aku janji akan cerita'in semua nya," Salsa sudah berdiri di depan sahabatnya.


"Hmmm," lagi, Santi hanya memutar bola mata nya malas.


Bell istirahat pun berbunyi, suara kelas yang tadi nya hening, kini terdengar riuh, para siswa-siswi itu seperti merayakan kebebasan nya.


Salsa memasukan buku-buku dan alat tulis nya ke dalam tas, sekilas ia melihat amplop berwarna coklat yang tadi di berikan Raka padanya, yang belum sempat ia buka.


Karna penasaran, ia mengeluarkan amplop isi amplop tersebut. Seketika tangan nya gemetar melihat isi di dalam amplop. lembaran uang kertas seratus ribuan yang begitu banyak menurut nya.


Selama ini, jangan kan memegang, melihat uang sebegitu banyak ia belum pernah.


"Ayo ke kantin." Santi tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya.


Salsa memasukkan kembali amplop itu ke dalam tas.


Baru saja Salsa berdiri dari duduk nya, ponsel di dalam tas nya berbunyi, Santi menatap Salsa dengan dahi berkerut. Salsa mengabaikan tatapan sahabatnya itu, yang sudah biasa dilihat nya. Kemudian ia mengeluarkan ponsel itu dari dalam tas. Melihat nama Raka yang tertera di layar, segera ia mendekatkan ponsel itu ke telinga, setelah menggeser panah hijau.


"Hallo," sapa Salsa, saat panggilan telepon nya telah terhubung


"Maaf nona jika saya mengganggu, tapi saya hanya melakukan perintah Bos, menanyakan apa nona sudah makan siang? apa perlu saya bawakan makanan ke sekolah," balas Raka dari sambungan telepon.


"Nggak usah Abang, ini Salsa juga mau makan di kantin sekolah," balas nya berbisik.


"Baiklah nona, saya hanya menanyakan itu saja," balas Raka, lalu memutuskan sambungan telepon nya.


Salsa memasukan ponsel kembali ke dalam tas setelah sambungan teleponnya dengan Raka terputus.


Santi yang sejak tadi memperhatikan sahabat nya itu merasa heran. Namun, Salsa hanya tersenyum simpul melihat tatapan penuh tanya sahabat nya.


"Gak usah ngomong apa-apa dulu, sebelum kamu jelasin semuanya," ketus Santi, memutar tubuh nya membelakangi Salsa.


"Iya, iya, nanti aku jelasin." Salsa memeluk lengan sahabatnya itu.


"Kamu mau aku jelasin di mana?" tanya Salsa.


"Kantin, ikut aku," ketus Santi.


Mereka pun segera berjalan menuju kantin, tanpa ada yang bicara satu sama lain.

__ADS_1


__ADS_2