
Di dalam kamar mandi, Zidan mencoba menenangkan dirinya, tidak bisa ia bohongi hati nya saat ini tidak baik-baik saja, ada getaran yang dirinya rasakan saat Salsa membalas pelukannya tadi, selain rasa perih mendengar suara tangisan Salsa, Zidan juga merasakan sesuatu yang lain. Sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelum nya.
"Sial, kenapa aku jadi gugup seperti ini," gumam nya.
Setelah rasa itu hilang dan detak jantung nya sudah kembali normal. Zidan akhirnya keluar dari kamar mandi.
"Iiiiih.... Om kenapa keluar lagi!" Salsa menjerit, kembali dirinya menutup mata dengan ke dua tangan, saat melihat tubuh Zidan tanpa menggunakan baju.
"Itu bukan kamar mandi saya. jangan buka mata mu sampai saya keluar. Awas saja kalau kamu berani membuka nya," ucap Zidan mengancam sembari berjalan keluar dari kamar Salsa,
"Siapa juga yang mau lihat," sungut Salsa.
.
.
Tiba di kamar, Zidan menelpon Raka, menanyakan insiden yang terjadi di mall tadi.
"Apa kau sudah temukan siapa pelakunya?" tanya Zidan saat sambungan telepon nya terhubung.
"Sudah bos, Pelakunya seorang perempuan tua, semua itu murni ketidak sengajaan nya. Troli yang di pegangnya tiba-tiba ia lepaskan, karna cucu hendak mengejar cucunya," jawab Raka menjelaskan.
"Apa kau yakin?" tanya Zidan lagi.
"Yakin Bos, saya juga sudah memeriksa rekaman CCTV tapi memang tidak ada hal yang mencurigakan," jawab Raka.
"Hmmm."
"Besok kau urus semua pekerjaan aku kantor, dan kau tidak usah datang ke sini," ucap Zidan sebelum memutuskan sambungan telepon.
"Baik, Bos," sahut Raka di sebrang telepon.
.
.
.
Salsa yang hendak mengambil tas sekolah nya, perlahan turun dari ranjang. Dengan menggunakan satu kaki ia melompat mengira semua itu mudah untuk ia lakukan.
Tap!
Tap!
Bruk!
Dirinya terjatuh, kaki nya yang terkilir kembali terhempas ke lantai.
"Aduuuuh,"
"Sakit"
"Aduh sakit," Salsa meringis kesakitan.
"Apa yang kamu lakukan?"
__ADS_1
Zidan yang baru datang segera membopong tubuhnya keatas ranjang.
"Apa kamu tidak mendenga, yang di katakan dokter tadi?" tanya Zidan membentak nya.
"Saya cuma mau ambil tas itu saja," jawab Salsa seraya menunjuk tas yang ada di atas meja belajar.
"Disini kan sangat banyak pelayan, kenapa tidak memanggil mereka saja," ucap Zidan masih terdengar ketus.
"Mana mereka akan mendengar saya berteriak dari sini, mereka semua kan ada di bawah," jawab Salsa membela diri.
"Menjawab saja kerja mu, coba kamu lihat itu? kamu bisa menekan nya kan?" Zidan menunjuk tombol merah di samping ranjang, kemudian menekan nya. Tidak lama, Marni dan beberapa orang pelayan pun datang.
Marni dan pelayan lainnya hanya berdiri di luar kamar, meski pintu kamar itu terbuka lebar meraka tidak akan berani masuk jika belum mendapat izin
"Marni, apa kau sudah pernah mengatakan pada nya kegunaan tombol itu?" tanya Zidan seraya menunjuk tombol merah di samping ranjang.
"Sudah tuan, hari pertama saya membawa nyonya ke kamar ini, saya sudah mengatakan nya," jawab Marni.
Kepala Salsa sudah tertunduk.
"Pergilah, bawakan makan malam untuk nya." perintah Zidan.
"Baik tuan," balas Marni.
.
.
.
Dirumah Rita. Herman masuk kedalam kamar kemudian berbaring di samping istrinya, ia memeluk tubuh sang istri dari belakang. Meletak kan kepala nya di ceruk leher Rita. Dirinya juga sedikit memberi kan ciuman-ciuman kecil di sana.
Kemudian Ayah tiri Salsabila itu membelai rambut Rita lembut.
Rita menoleh sebentar melihat wajah suami nya penuh tanya.
"Sayang," panggil Herman mesra pada istrinya. Satu tangannya terus saja mengusap lembut puncak kepala Rita.
Rita berbalik badan, memandang wajah suami nya dengan dahi yang berkerut. Merasa aneh saja dengan tingkah suaminya ini.
"Sayang, bagai mana pun Salsa itu anak kamu. Tidak baik lah berdendam sama anak sendiri, saya sudah melupakan semua masalah itu," ucap Herman tanpa menghentikan tangan nya yang mengusap kepala Rita.
"Maksud kamu apa Mas?" tanya Rita, kedua matanya menyipit menatap Herman.
"Sayang, bagai mana kalau besok kita temui Salsa di sekolah nya, kita bicara kan semua nya dari hati ke hati, biar masalah diantara kamu, aku dan dia selesai. Setelah itu kita bisa hidup layak nya sebuah keluarga yang bahagia," ujar Herman menyampaikan maksud nya.
"Tapi-" ucapan Rita terhenti kala telunjuk Herman menempel di bibirnya.
"Besok aku temani kamu, kita sama-sama bertemu dengan Salsa ya sayang," ucap Herman merayu.
.
.
.
__ADS_1
Marni audah meletakkan makanan untuk Salsa di atas meja. Zidan lalu mengangkat kursi di depan meja rias dan meletakkan nya di samping ranjang Salsa, kemudian dirinya duduk di kursi itu. Zidan mengambil piring makanan yang diantar Marni tadi, mengaduk makanan itu dengan sondok.
"Om mau ngapain?" tanya Salsa.
Zidan tidak menjawab ia terus saja mengaduk makanan di piring itu.
Tanpa bicara Zidan menyuapkan makanan itu mulut Salsa.
"Saya bisa makan sendiri Om," tolak Salsa membiarkan tangan Zidan menggantung memegang sendok.
"Kamu kan lagi sakit," ucap Zidan masih terdengar dingin.
"Tapi kan yang sakit kaki saya om, bukan tangan," ucap Salsa.
"Ya sudah makan lah ini," Zidan yang kesal memberikan piring itu pada Salsa.
"Letakkan saja dulu di meja itu nanti saya makan," pinta Salsa, menunjuk meja kecil di samping ranjang.
Zidan pun meletak kan piring itu di atas meja yang di tunjuk Salsa.
Salsa melirik Zidan yang menatap nya.
"Om keluar lah, nanti juga saya makan,"
"Heis.... Meja itu kan jauh, kamu mana bisa menjangkau nya,"
"Ya sudah letak kan di sini saja," Salsa menepuk ranjang di sebelah duduk nya.
"Eh, mana boleh meletak kan makanan di atas ranjang, nanti kalau makanan nya tumpah berserakan bagaimana?" Zidan menggerutu kesal.
"Ya sudah nanti saya panggil Bi Marni," ucap Salsa.
"Ini sudah Malam semua pelayanan sudah istirahat,"
Salsa menatap kesal suami nya itu.
"Ya sudah, mana makanan nya,"
Zidan tersenyum tipis, sangat tipis, bisa di katakan tersenyum dalam hati. Zidan lalu meraih makanan diatas meja memberikannya pada Salsa.
"Ya sudah om keluar sana," ucap Salsa setelah memegang piring berisi makanan itu.
"Eh, kalau kamu haus. Siapa yang akan mengambil air minum untuk mu,"
Salsa menghela nafas kasar, lalu menyuap makanan itu. Percuma saja berdebat dengan suami nya ini
Setelah selesai makan, kini Salsa mengerjakan pekerjaan sekolah yang di berikan guru tadi siang.
"Besok kamu tidak usah sekolah," ucap zidan.
"Saya harus sekolah Om, karna sebentar lagi saya akan mengikuti ujian akhir," tegas Salsa.
"Dalam keadaan mu seperti ini?" tanya Zidan, kemudian bangkit dari duduknya mendekati Salsa.
"Emang kenapa? Saya bisa kok nanti minta tolong Santi buat membantu saya berjalan ke kelas," Salsa membalikkan tubuh nya membelakangi Zidan.
__ADS_1
"Tidak! kamu besok izin dan di rumah saja. Sampai kaki mu benar-benar sembuh baru boleh sekolah," ucap. Zidan.
"Gak mau, besok saya harus sekolah,"