
Setelah menempuh 2 jam perjalanan, Zidan memasuki sebuah resort dan memarkirkan mobilnya di sana.
"Om, katanya mau ketempat Santi, kok malah membawa saya ke sini?" tanya Salsa saat Zidan sudah mematikan mesin mobil nya yang sudah terparkir.
"Habis dari sini saya antar kamu ke rumah sahabat mu itu," balas Zidan, lalu turun dari mobil.
Zidan mengambil koper yang di letak kannya tadi di dalam bagasi, setelah itu ia membuka pintu sebelah kiri mobilnya. di balik pintu yang di buka nya itu terlihat Salsa yang masih duduk diam dengan menyilangkan tangan nya di dada.
"Kamu mau menunggu di mobil, atau ikut saya masuk ke dalam?" tanya Zidan yang melihat bibir Salsa sedang komat-kamit maju ke depan, seperti sedang menirukan apa yang di ucapkan nya.
"Ya sudah, tidur saja di dalam mobil ini dengan nyamuk," imbuh Zidan kesal sembari berjalan tanpa menutup pintu mobil itu kembali.
"Ish, dasar nyebelin. nyebelin-nyebelin-nyebelin," gurutu Salsa kesal, menghentak-hentakan kaki nya ke lantai mobil.
Dari dalam mobil Salsa melihat seorang pria paruh baya dengan setelan jas, berjalan dengan langkah cepat mendekati Zidan. Mereka lalu bersalaman, dan saling berpelukan. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi terlihat mereka sesekali menoleh kearah Salsa yang masih duduk di dalam mobil.
Setelah itu, Zidan berjalan kembali meninggalkan pria paruh baya itu sendiri. Pria paruh baya itu kemudian melihat ke arah Salsa yang masih duduk di dalam mobil, lalu ia berjalan mendekati Salsa.
Salsa yang melihat pria paruh baya itu berjalan kearah nya. ia lansung turun dari dalam mobil, berlari mengejar Zidan yang sudah jauh di depan.
"Om, Om, Om," Langkah Zidan berhenti saat mendengar Salsa memanggilnya. Zidan barbalik badan melihat Salsa yang berlari mendekatinya.
"Kamu kenapa?" tanya Zidan, ketika Salsa sudah berdiri di depannya dengan nafas yang ngos-ngosan.
Salsa menggeleng.
"Zidan, kenapa Dia?" tanya pria paruh baya tadi yang sudah berada di belakang Salsa.
Salsa berjalan ke samping Zidan, memeluk lengan suami nya, wajah nya seperti seorang yang ketakutan, melihat pria paruh baya itu ada di depannya.
Zidan menoleh kesamping, melihat perubahan raut wajah Salsa yang sudah ketakutan. Lalu, menatap pria paruh baya yang berdiri di depannya itu.
"Mungkin wajah aom terlalu menakutkan," kata Zidan datar.
"Dulu waktu masih muda, wajah om ini lebih ganteng dari kamu, Zi," dengus pria paruh baya itu pada Zidan.
"Salsabila. orang yang kamu takuti itu nama nya Roy, kamu bisa memanggilnya Om Roy, karna dia sudah tua. dia yang mengelola resorts ini," ujar Zidan sembari menoleh pada Salsa yang berdiri disamping masih memeluk lengannya erat.
Salsa mengaggukan kepalanya pelan Sembari tersenyum kikuk melihat Roy yang ada di depannya.
__ADS_1
"Sudah lah, mari Om antar kan kalian ke dalam," ucap Roy.
*
Salsa terpana saat melihat pemandangan dari luar kaca transparan besar yang ada di dalam kamar resort itu.
"Wah, ini indah sekali Om!" seru nya saat melihat birunya laut dari balik kaca besar ruangan yang mereka tempati.
Zidan hanya tersenyum seraya mengeluarkan pakaian yang ada di dalam koper, dan menyusunnya di dalam lemari yang telah tersedia di kamar itu.
"Om, apa boleh saya membuka pintu ini? saya mau ke sana!" Salsa menunjuk saung yang ada di tengah-tengah kolam tepat di belakang resert yang mereka tempati. Di hadapannya juga terhampar pemandang laut lepas, dengan pasir putih.
Zidan menganggukan kepalanya.
Salsa kemudian membuka pintu kaca transparan itu, dan berjalan di jembatan kecil di atas kolam. Dari atas jembatan itu Salsa melihat ikan-ikan hias yang berenang di dalam kolam.
Kini Salsa sudah berada di dalam saung, ia duduk bersandar di kursi rotan yang mengarah ke laut.
"Apa itu pulau," gumam nya saat melihat dua pulau kecil di tengah-tengah laut.
Lalu Salsa berlari, kembali masuk ke dalam kamar.
"Om, ikut saya sebentar," Salsa menarik satu tangan Zidan yang sedang duduk di sofa agar mengikutinya.
"Sini Om, ikut saya sebentar," Salsa terus menarik paksa tangan Zidan.
Dengan pasrah, akhirnya Zidan mengikuti kemana Salsa membawanya.
Kini mereka sudah barada di Saung tempat Salsa tadi duduk.
"Om, coba lihat itu!" Salsa menunjuk dua pulau kecil di tengah-tengah laut. Wajah Salsa begitu senang Saat menunjukan pulau itu pada Zidan.
Tapi, Zidan melihat nya biasa saja.
"Apa mata Om bisa melihat itu?" tanya nya, karna melihat wajah Zidan yang datar saja saat melihat pulau itu.
"Apa kamu kira mata saya sudah rabun," dengus idan.
"Ups, maaf," Salsa menutup mulut nya dengan kedua tangan.
__ADS_1
"Orang-orang di sini menamakan pulau itu dengan nama pulau dua Hati," ujar Zidan menatap pulau itu.
"Apa Om pernah kesana?" tanya Salsa yang di balas anggukan oleh Zidan.
"Saya juga mau ke sana, Om," rengek nya yang pada Zidan.
"Kapan-kapan saya bawa kamu kesana," ujar Zidan datar.
"Iiiih, kok kapan-kapan sih Om, kenapa nggak sekarang saja," Salsa terus merengek.
"Saya, entah kapan lagi bisa ke sini," imbuh nya.
"Ya nanti, kalau sempat saya bawa kamu kesana," ucap Zidan.
"Janji ya Om! Nanti bawa saya ke sana,"
"Hmmmmmm," balas zidan.
**
Sore hari Zidan sudah terlihat segar dan rapi dengan pakaian nya, saat keluar dari kamar mandi. Sedang kan Salsa hanya diam duduk di Sofa. Salsa tersentak kaget saat Zidan melempar kan handuk pada nya.
"Ish, Ommm. ngagetin orang aja," dengus nya lalu melempar handuk itu kembali ke Zidan.
"Buruan mandi, saya mau keluar," balas Zidan, melemparkan kembali handuk itu pada Salsa.
"Saya tidak bawa baju ganti. Ini semua salah Om! Kenapa Om tidak bilang kalau mau kesini," gerutu nya dengan mulut yang sudah maju ke depan.
"Itu di dalam lemari, saya ada bawa pakaian ganti mu satu," ucap Zidan.
Salsa berjalan mendekati lemari dan membukanya. Memang benar ada satu steal pakaian nya di dalam lemari itu. Namun, Salsa masih mencari sesuatu di dalam lemari tapi tidak menemukan nya.
"Sudah buruan mandi sana," decak Zidan yang melihat Salsa mengacak-acak pakain yang tadi di susun nya.
"Om," panggilnya.
"Apa lagi?"
"Pakaian dalam saya kok nggak ada?" tanya Salsa dengan wajah yang menunduk.
__ADS_1
"Sa-saya tidak bawa lah," ucap Zidan terbata. Bagaimana Zidan bisa ingat membawa perabotan itu.
"Itu lah, semua ini gara-gara Om. Terus sekarang saya harus pakai apa?"Salsa melemparkan pakaian nya yang diambil nya ke atas ranjang.