
"Maaf tuan, sepertinya nyonya sudah tidur," ucap Marni setelah sampai dekat zidan.
"Apa kau sudah memanggilnya," tanya zidan.
"Saya sudah memanggil dan mengetuk pintu kamarnya berulang kali tuan," balas Marni.
"ish, dia itu kenapa salalu menggagalkan rencana ku," gumam zidan menggeram kesal.
"Kau Kenapa masih di sini, pergi sana," bentak zidan yang melihat Marni masih berada di dekatnya.
Marni yang ketakutan segera pergi dari sana.
***
Dengan perasaan kesal bercampur kecewa zidan berjalan menuju kamarnya.
Clek! Clek! Clek!
"Sial kenapa dia mengunci pintu nya," gumam zidan, saat membuka pintu kamarnya yang terkunci.
"Oo, ternyata dia ingin bermain-main dengan ku," ucap zidan bicara sendiri sembari menyeringai.
Dengan langkah lebar zidan berjalan masuk ke ruang kerja nya, ia membuka pintu didalam ruangan kerjanya, pintu itu terhubung lansung ke kamar nya.
Didalam kamar, zidan melihat Salsa yang sudah tertidur pulas. emosi yang tadi ia rasakan seketika lenyap, saat melihat wajah teduh Salsa yang sedang tertidur.
Zidan duduk di tepi ranjang menatap lekat wajah Salsa yang terlelap. Satu tangan nya hendak membelai kepala Salsa, tapi tangan itu hanya ia biarkan menggantung di udara tanpa menyentuh nya.
Zidan lalu berjalan ke kamar mandi, membersihkan dirinya, keluar dari kamar mandi ia masuk ke walk in closet untuk memakai piyama.
Zidan berbaring di ranjang di sebelah Salsa, ia menggeser tubuh nya sedikit ke tengah ranjang. Satu tangan nya hendak membelai wajah Salsa yang tepat di hadapan nya.
Tiba tiba mata Salsa terbuka.
"AAAAAAAAAAAAAAA." Pekik Salsa.
Zidan membekap mulut istrinya itu dengan telapak tangan nya.
Setelah yakin Salsa tidak akan berteriak lagi zidan melepaskan tangan nya yang membekap mulut Salsa tadi.
Salsa yang masih berbaring menaikan selimut sampai menutupi hidungnya.
"Om ngapain disini?" tanya Salsa yang gugup dengan menutup mulut nya menggunakan selimut.
"Heis, kamu ini! Ya tidur lah," jawab zidan sembari menggeser dan membalikan badan nya kesamping memunggungi Salsa.
"Kenapa om bisa masuk? Kan saya sudah mengunci pintu nya," ujar Salsa bertanya.
"Ish, Mana ada pintu nya di kunci, kalau di kunci saya mana bisa masuk," balas zidan yang masih memunggungi Salsa.
"Tapi saya yakin pintu nya tadi sudah saya kunci," ucap Salsa sembari melihat ke arah pintu.
"Yaaaaa-, mungkin ada yang membukanya," balas zidan santai dengan masih memunggungi Salsa.
Salsa mulai merasa ketakutan.
"Ma-maksud om apa?" tanya Salsa yang mulai gugup dengan suara serak nya.
Zidan tidak menjawab, ia masih memunggungi Salsa.
"Om," panggil Salsa karna zidan tidak menjawab nya.
"Apa" jawab zidan singkat.
"Saya yakin tadi sudah mengunci pintu nya, terus siapa yang membukanya?" tanya Salsa lagi karna belum mendapat jawaban.
"Setan mungkin," jawab zidan asal, yang membuat tubuh Salsa bergedik ngeri.
__ADS_1
Salsa memutar bola matanya menatap langit-langit kamar yang di terangi cahaya remang-remang itu. mumbuat bulu kuduk nya seketika berdiri.
Perlahan ia menggeser tubuh nya mendekati zidan.
"Om," lirih salsa pelan tapi tidak ada respon dari zidan, baik suara atau pun gerakan tubuh.
"Apa dia sudah tidur?" gumam salsa yang sudah ketakutan.
Salsa merapatkan tubuh nya ke punggung zidan tanpa bersentuhan.
Lama Salsa tidak bisa tertidur, mata nya kadang ia pejamkan kuat, kadang bola matanya berputar putar menatap barang-barang di sekitar kamar, yang hanya di terangi cahaya remang-ramang. Semakin membuat bulu kuduk nya berdiri.
Sama dengan Salsa zidan pun belum tertidur, pikiran nya entah kemana.
Saat zidan membalikan badan nya kesamping.
Aaaaaaaaaaaaaaaaa!
Salsa berteriak lagi, karna wajah mereka saling beradu.
"Ishh, kamu kenapa sih, sudah malam teriak-teriak," kesal zidan yang sudah membekap mulut istrinya itu.
Salsa kembali menaikan selimut nya sampai ke hidung, setelah zidan melepaskan tangan nya.
"Saya takut om," lirih nya dengan wajah yang ketakutan.
Zidan mengerutkan dahinya.
"Takut kenapa kamu?" tanya zidan.
"Setan," lirih nya lagi.
Zidan membalikkan kembali tubuh nya memunggungi Salsa, karna ia ingin tertawa melihat ekpresi wajah Salsa.
"Kadang setannya suka tidur juga di kamar ini," ucap zidan datar, tapi tidak dengan Salsa, ia lansung memeluk erat tubuh belakang zidan.
"Om saya takut," lirih Salsa yang sudah memeluk tubuh belakang zidan.
"Heiss, menyesal aku membalik kan badan tadi," rutuk zidan.
***
Pagi menjelang Salsa terbangun dengan posisi saling berpelukan dengan zidan.
Salsa menepiskan kasar tangan zidan yang memeluk nya. membuat zidan tersentak bangun.
"Om, kenapa memeluk saya," ketus salsa sembari melemparkan satu bantal ke arah zidan.
"Kamu yang memeluk saya duluan," ucap zidan seraya duduk di tepi ranjang.
"Nanti kalau saya hamil gimana?" lirih Salsa yang sudah menunduk kan wajah.
"Ish, kamu jangan termakan omongan si Raka," balas zidan.
"Kalau beneran gimana?" tanya Salsa dengan bibir yang manyun ke depan.
"Sudah, buang pikiran buruk mu itu, sekarang cepatlah mandi, saya juga mau mandi," Ketus zidan.
Salsa hanya menuruti saja, ia segara bangkit dari ranjang dan pergi ke kamar mandi.
"Bagai mana dia bisa hamil, aku memeluk nya saja baru sekali ini," gumam zidan seraya mengusap wajah nya.
***
Pagi itu zidan berangkat ke kantor menyetir mobilnya sendiri. Karena ia harus cepat tiba di kantor, banyak pekerjaan yang harus ia selesai kan pagi itu. Serta mempersiapkan meeting untuk menjalin kerjasama dengan perusahaan NEW GLOBAL, yang akan segera bergabung dengan perusahaan nya.
Zidan sampai di kantor, Keluar dari mobil dengan langkah lebar, sapaan ramah para karyawannya tidak ia hiraukan. Ia terus saja berjalan tegap menuju pintu lift khusus untuk para petinggi di kantor itu.
__ADS_1
Sedangakan Salsa, pagi itu seperti biasa diantar jefri.
Di depan pintu gerbang, Rendi sudah berdiri menunggunya. Seperti sengaja datang cepat untuk bertemu dengan nya.
"Kenapa dia berdiri di situ? aku tidak mau bertemudia," batin Salsa yang masih duduk di dalam mobil.
Lima menit sebelum bell masuk sekolah berbunyi, Salsa terpaksa harus keluar dari dalam mobil dan harus segera masuk ke dalam pekarangan sekolah.
"Salsa, boleh aku ngomong sebentar," ucap Rendi saat Salsa berjalan di hadapan nya.
"Ngomong apa? Aku mau masuk kelas," ketus Salsa.
"Sebentar saja! lagian kan pagi ini upacara," pinta Rendi memohon.
"Gak mau. minggir sana, aku mau masuk," ucap nya kesal karna Rendi menghalangi nya di pintu pagar yang hanya terbuka sedikit saja.
"Kalau kamu gak mau ikut aku, ya sudah kita sama-sama di luar saja," balas Rendi santai.
"Kalau kamu mau ngomong, ngomong aja di sini," ketus Salsa, yang sudah tidak tau lagi cara menghadapi Rendi.
"Tidak di sini, aku mau ngomong di kantin, sampai upacara selesai saja," ujar Rendi.
"Tadi katanya sebentar! sekarang sampai upacara selesai. terus aku harus bolos," ucap Salsa kesal.
Bell masuk telah berbunyi.
Satpam akan segera menutup pintu gebang yang masih terbuka sedikit itu.
"Gimana? kamu mau ikut aku atau kita sama-sama bolos," tawar Rendi santai.
"Ya, kita ke kantin." ucap Salsa terpaksa.
***
"Mau ngomong apa, cepat ngomong," ujar Salsa saat mereka sudah berada di kantin.
Suasana kantin saat itu memanglah sepi, hanya ada beberapa siswa saja yang bolos karna malas untuk upacara.
"Apa kamu sudah sarapan?" ucap Rendi ber basa-basi.
"Ish, apa kamu hanya ingin menanyakan hal itu?" ketus Salsa dengan memalingkan wajahnya kesamping.
"Muka nya jangan begitu dong," ucap Rendi menggoda.
"Kalau kamu hanya mau ngomong hal-hal yang gak penting mending aku pergi sekarang," kesal Salsa yang lansung berdiri hendak pergi.
"Tunggu, tunggu Salsa," pinta Rendi seraya memegang tangan Salsa agar tidak pergi.
"Lepas kan jangan pegang aku," bentak Salsa menepiskan tangan Rendi yang memegang tangan nya.
"Oke, aku tidak pegang, kamu duduk dulu," balas Rendi dengan mengangkat kedua tangan nya ke atas.
Dengan kesal Salsa kembali duduk.
"Sebenarnya aku mau nanya. apa hubungan kamu dengan tuan zidan?" ucap Rendi, setelah Salsa kembali duduk.
"Kenapa dia bertanya seperti itu. Aku harus jawab? tidak mungkin aku bilang aku ini istrinya, bisa-bisa aku di keluarkan dari sekolah," batin Salsa yang mulai cemas.
"Salsa," panggil Rendi yang melihat perubahan raut wajah Salsa seketika.
Salsa hanya diam menunduk karna tidak tau harus menjawab apa.
"Kenapa kamu diam? apa dia mengancam mu?" imbuh Rendi bertanya.
"Gak. Aku g ada diancam," balas Salsa cepat disertai gelengan Kepala.
"Lalu apa hubungan mu dengan dia?aku tau kamu tidak ada hubangan keluarga dengan dia, dan aku juga tau kamu sekarang tinggal di rumah dia. Yang aku gak tau hubungan kalian apa?" ujar Rendi memberikan pertanyaan yang tidak bisa di jawab oleh Salsa.
__ADS_1
"Itu bukan urusan mu," ucap Salsa sembari berdiri dan melangkah untuk pergi.
"Itu menjadi urusan aku Salsa, karna aku peduli dengan mu, Karna aku sayang..... Aku cinta kamu Salsa." ucap Rendi dengan suara lantang.