Om CEO Galak Itu Suamiku

Om CEO Galak Itu Suamiku
Mana istriku


__ADS_3

"Masak tante lupa?" Rocky lalu membuka topi nya.


"Dia inikan orang yang ada di dalam foto yang pernah ku lihat itu?" batin Salsa saat pertama kali bertemu dengan Rocky.


"Iya, iya, Tante baru ingat! Kamu Rocky teman sekolah Zi dulu, kan?" balas Maria, matanya kini menatap sebelah lengan Rocky yang tidak ada.


"Tapi Nak Rocky, sebelum nya Tante minta maaf ya. Itu tangan nya kenapa?" tanya Maria merasa prihatin.


"Oo, iya tidak apa-apa Tante. Waktu itu aku mengalami kecelakaan. Jadi saat itu juga aku harus kehilang satu lengan kanan ku ini, Tante," jawab Rocky yang kini memandang Salsa.


Salsa merasa tidak nyaman, ia tau Rocky sedang memperhatikan nya, meski dia menggunakan kaca mata hitam. Salsa kemudian menggeser  langkah nya lebih merapat lagi pada Maria, sembari merunduk kan wajah nya seperti orang yang sedang ketakutan.


"Oo iya Tante. Tante datang kesini dengan siapa?" tanya Rocky lagi berbasa-basi, matanya terus saja memperhatikan Salsa.


"Tante kesini dengan Putri Tante," jawab Maria sembari tersenyum pada Salsa yang berdiri di sampingnya.


"Ooo, Jadi dia Adik nya Zidan!" balas Rocky yang lansung menerka.


"Bukan, dia menantu Tante," ucap maria seraya merangkul bahu Salsa. Ia baru sadar melihat wajah Salsa yang seperti orang ketakutan.


"Sayang, kamu kenapa?" Maria mengangkat dagu menantunya yang terus saja menunduk.


"Tidak apa-apa Ma," Ia mengangkat wajahnya tapi matanya menatap kebawah.


"Sayang, kenalkan dia itu teman nya suamimu, nama nya Rocky. Oh ya Rocky, kenalkan ini menantu tmTante yang paling cantik, nama nya Salsabila," ujar Maria saling memperkenalkan mereka.


"Gadis yang sangat cantik! Pantas saja kemarin Zidan tidak ada reaksi apa-apa saat tau Niken bersama ku."batin Rocky menyeringai.


Salsa menangkap sekilas senyum Rocky yang begitu manakutkan bagi nya. Ia menunduk kan kembali wajah nya seraya meraih jemari Maria, meremas nya.


Maria seperti tau isyarat yang di berikan menantu nya itu, melalui remasan jemari tangan yang di lakukan menantunya.


"Nak Rocky, kalau begitu Tante permisi dulu, lain waktu mungkin kita bisa mengobrol lagi, tentunya dengan adanya Zidan," ucap Maria seraya menggandeng lengan Salsa lalu melangkah pergi.


"Tunggu Tante!" ucapan Rocky kemudian, membuat langkah Maria dan Salsa terhenti.

__ADS_1


"Tante, tolong jangan beritahukan pertemuan kita ini pada Zi, karna aku ingin memberi kejutan untuk nya nanti." ucap Rocky.


"Baiklah kalau begitu, sampai jumpa, Nak Rocky," Maria dan Salsa kembali melanjutkan langkah nya, diikuti beberapa pengawal Maria yang berdiri tidak jauh dari mereka.


"Tunggu sebentar lagi Zi, aku akan merebut semua yang kau miliki saat ini, termasuk gadis manis mu itu." batin Rocky.


**


Sudah satu jam lebih, Salsa dan Maria berada di dalam salon kecantikan. Setelah berjumpa dengan Rocky tadi, Maria mengajak Salsa masuk kedalam salon untuk melakukan perawatan tubuh. Mereka melakukan body treatment, mulai dari pijat relaksasi, luluran, maskeran, menipedi, sampai ke creambath. Salsa benar-benar merasa lebih fresh setelah keluar sari salon.


Selesai dari salon, Maria mengajak Salsa masuk ke dalam sebuah butik terkenal. Ia memilihkan beberapa gaun untuk Salsa.


Mata Salsa tertuju pada gaun pengantin yang terpajang di butik itu, ia juga membayangkan saat menggunakan gaun pengantin itu.


Pikiran nya seketika terhenti saat mendengar ponsel di dalam tas kecil nya berdering, ia mangambil ponsel itu dan melihat nama dan foto Zidan yang terpampang di sana.


"Kamu dimana?" tanya Zidan saat sambungan teleponnya baru saja terhubung.


"Ini lagi di toko baju sama Mama, kenapa Mas?" sahut Salsa bertanya.


"Sebentar lagi ya Mas," Salsa mencoba menawar.


"Pulang sekarang! Atau aku jemput kesana!" ucap Zidan tegas.


"Iiiih, Mas kan gitu! Baru juga pergi sudah di suruh pulang," dengus nya kesal.


"Sebentar kamu bilang? Ini sudah dua jam lebih! Cepat pulang sekarang!"


"Iya, iya, aku bilang Mama dulu," jawab Salsa pasrah.


Sambungan telepon kemudian di putus kan Zidan.


Salsa berjalan mendekati Maria yang masih melihat gaun-gaun di butik itu.


"Ma," panggil nya yang berdiri di belakang Maria.

__ADS_1


"Iya sayang, apa kamu menginginkan sesuatu?" tanya Maria.


"Mas Zidan menyuruh pulang, Ma," jawab Salsa seraya berjalan mendekat pada mertuanya.


"Oo, Mama kira ada apa. Ya sudah kita pulang sekarang, bisa-bisa suami mu itu akan menjemput mu kesini kalau kamu tidak segera pulang." balas Maria yang begitu hapal sifat putra nya itu.


Maria menggandeng lengan Salsa keluar dari butik itu setalah membayar beberapa pakaian yang di dibawanya.


***


Di mension.


Zidan berdiri di depan mension, perasaannya saat ini tidak tenang. Tiga puluh menit sudah berlalu setelah ia menelpon Salsa tadi. Namun Salsa belum juga sampai di mension nya. Ia mencoba kembali menghubungi nomor ponsel Salsa, namun tidak di jawab. Sudah tiga kali ia mencoba menghubungi nomor Salsa namun hasil nya sama tidak ada jawaban.


Hati nya semakin tak tenang. Kemudian ia menghubungi Raka, menyuruh asistennya itu melacak nomor ponsel Salsa. Sepuluh menit kemudian Raka kembali menelpon Zidan memberikan titik lokasi keberadaan Salsa. Tanpa membuang-buang waktu, Zidan segera mengendarai mobil nya menuju titik lokasi yang di tunjukan Raka.


"Kenapa perasaan ku tidak tenang seperti ini? Semoga saja tidak terjadi sesuatu padamu, sayang." Zidan bergumam sambil melajukan mobil nya dengan kecepatan kilat, membelah jalanan di antara banyak kendaraan lain. Dia menyalip kiri dan kanan. Terlihat raut wajah cemas nya saat mengendarai mobil membelah jalanan kota.


Dua puluh menit berselang, Zidan sudah sampai di titik lokasi yang di sebutkan Raka pada nya tadi. Ia memarkirkan mobil nya asal, lalu keluar dari mobil dan lansung melangkah memasuki bangunan yang di datangi Salsa dan Maria.


Masih di lantai dasar bangunan yang ia datangi. Zidan melihat Maria yang duduk di bangku yang tersedia di bangunan yang memiliki empat lantai itu.


Maria duduk di bangku panjang, di sebelah nya berdiri Alfredo lelaki paruh baya yang selalu menemani Maria.


Zidan yang berdiri tidak jauh dari tempat Maria duduk, matanya tidak menemukan keberadaan Salsa di sana. Kemudian dengan langkah lebar Zidan berjalan mendekati Maria yang duduk tidak jauh dari tempat nya.


"Mana istriku?" Zidan mengedarkan pandangan nya ke sekitar, namun masih belum ia lihat dimana keberadaan Salsa.


Maria yang melihat kehadiran Zidan disana, tidak kalah cemas nya dengan rasa cemas yang Zidan rasakan.


"Zi," Maria begitu ketakutan melihat kehadiran Zidan disana.


Mata Zidan terus menyisir mencari keberadaan Salsa di sekitar.


"Mana istriku!" sentaknya dengan suara yang sangat keras.

__ADS_1


__ADS_2