
Setalah berulang kali zidan mencoba miscall nomor ponsel Salsa namun tidak terdengar nada atau pun getaran nya di kamar itu.
"Om, mana ponsel saya," rengek Salsa yang tidak kunjung menemukan ponsel nya.
"Mana saya tau! itu tadi saya coba misscall nomor kamu aktif, kalau ada di sini pasti lah terdengar suaranya," ujar zidan.
"Ihhh, om bantuin lah nyari jangan diam saja," kesal Salsa yang melihat zidan terlihat acuh.
"Biarkan saja, nanti saya belikan yang baru," ucap zidan yang kembali berbaring setelah meletakan kembali ponsel nya di nakas.
Puas Salsa mencari ponsel nya di atas ranjang zidan, namun tidak kunjung menemukannya, akhirnya Salsa menyerah. Ia hendak kembali ke kamarnya.
"Mau kemana kamu?" tanya zidan saat kaki Salsa sudah menapak di lantai.
"Mau mandi lah, mau Siap-siap pergi sekolah," jawab Salsa yang terus melangkah keluar kamar zidan.
"Ooo-," Jawab zidan sambil tersenyum.
Tidak lama Salsa keluar dari kamar. ponsel zidan berbunyi, ia pun lansung menekan tombol panah hijau di layar ponsel nya.
"Om, udah ketemu," ucap seseorang saat ponsel nya terhubung.
"Hmm," Balas zidan.
"Tuuuuuuuuuuut" sambungan zidan putuskan, ia kembali bermalas-malasan di ranjang nya.
-
-
-
20 menit berselang Salsa kembali masuk ke kamar zidan lengkap dengan seragam sekolah nya.
"Kenapa om gak bilang tadi kalau sekarang hari minggu." teriak Salsa yang berdiri di depan pintu kamar zidan dengan kedua tangan di pinggang.
Zidan yang masih berbaring di ranjang nya, sedikit mengangkat ke palanya ke atas melihat Salsa, setelah itu kepalanya ia letak kan di bantal lagi.
Tidak puas hati dengan respon yang di berikan zidan, Salsa berjalan mendekatinya lalu meraih satu bantal di ranjang itu.
"Kenapa.... Om..... Nggak bilang........ Sekarang.......... Hari minggu," kesal Salsa, memukul kan bantal itu pada zidan.
Kemudian tangan zidan menangkap tangan salsa yang memukul nya dengan bantal, lalu menarik nya. Alhasil tibuh Salsa jadi jatuh ke ranjang dengan kepala nya menimpa dada bidang suami nya. Tangan Zidan menahan Kepala Salsa di sana.
Dug! Dug! Dug!
Detak jantung zidan yang berdetak sangat cepat terdengar jalas oleh Salsa, karna posisi telinga nya yang tepat berada di sana.
Diam, lama mereka diam di posisi itu, tidak ada pergerakan tubuh mereka atau pun suara yang terdengar, selain suara degup jantung, dan helaan nafas mereka yang saling berpacu.
Entah kehabisan nafas entah bagaimana, Salsa akhirnya berdiri menepis kan tangan zidan yang menahan kepalanya.
__ADS_1
"O-, om mau ngapain?" tanya Salsa, yang sudah berdiri menunduk kan wajah nya sembari membetulkan rambut dengan tangannya yang sedikit berantakan.
"Kamu tu yang ngapain, datang-datang malah memukul saya," Sengit zidan, yang wajah nya terlihat memerah.
Dalam posisi masih berdiri menghadap ke zidan, Salsa memajukan bibir nya ke depan dengan wajah yang masih menunduk, satu tangan nya masih bermain di rambut.
"Kenapa om gak bilang kalau hari ini minggu," lirih Salsa membalas ucapan zidan.
"Ish, saya sudah mengatakan nya," balas zidan.
"Sudah lah saya mau sarapan," imbuh zidan, yang kemudian bangkit dari ranjang nya lalu berjalan ke kamar mandi.
"Kenapa dia bisa bangun?
bukan nya dia sakit?" tanya Salsa dalam hati.
"Om. Bukannya om masih sakit?" tanya Salsa saat zidan hendak membuka pintu kamar mandi.
"Sudah sembuh," jawab zidan datar, seraya masuk kedalam kamar mandi.
"Ish, dasar nyebelin," ketus Salsa, lalu pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian.
-
-
-
Zidan dan Salsa kini sedang menikmati sarapan nya berdua.
"Abang duduk lah," ujar Salsa, yang merasa senang Raka datang.
"Apa boleh bos?" tanya Raka pada zidan.
Zidan tidak menjawab, ia hanya diam menikmati sarapannya.
"Gak apa bang, kata orang kalau diam itu tanda boleh," timpal Salsa menyindir zidan, lalu meraih satu piring hendak menyendok kan makanan untuk Raka.
"Duduk, makan saja makanan mu?" Ucap zidan menatap istrinya yang akan berdiri menyendok makananmakanan untuk Raka.
"Tidak apa nyonya, biar saya yang melakukan nya sendiri," ucap Raka seraya meraih satu kursi di hadapan Salsa. Yang membuat rahang zidan mengeras melihatnya.
"Raka, panas kan mobil saya sekarang," ucap zidan dengan suara berat nya.
"Sudah bos, sebelum masuk saya sudah menghidupkan mesin nya." balas Raka sembari tersenyum pada zidan, lalu meraih satu piring hendak menyendok makanan.
"Kau mati kan sekarang mesin mobil ku, dan tiup knalpot nya sampai dingin," Ucap zidan yang menatap tajam Raka.
"Tapi bos-,"
Ucapan Raka terhenti saat melihat tatapan tajam zidan yang seperti hendak menelan nya.
__ADS_1
"Om, Biar kan lah dulu abang Raka sarapan," ucap Salsa menatap suaminya.
Zidan hanya diam mengaduk kasar makanan yang ada di piringnya.
"Abang, bunga dan boneka nya ada di kamar om, habis sarapan Salsa ambilkan ya," ucap Salsa.
"Maksud nona?" tanya Raka sembari menatap zidan.
"Itu boneka dan bunga yang abang bawa tadi malam, pasti abang mau berikan buat pacar abang ya," ujar Salsa menatap suami nya sekilas.
"Abang Raka memang sweet lah," imbuh Salsa, yang membuat Raka tersentak.
"Mati aku, aku lupa mengatakan jika itu punya bos, lebih baik sekarang aku pergi, dari pada nanti di mutilas," batin Raka.
Raka kemudian bangkit dari duduk nya. Dan berjalan ke luar.
"Abang mau kamana?" Tanya Salsa yang tidak di jawab oleh Raka, ia terus saja berjalan seperti tidak mendengarnya.
"Kau mau kemana Raka?" ucap zidan yang menghentikan langkah nya.
"Sa-, saya mau ke markas bos," balas Raka yang sudah berada di belakang zidan.
"Apa tidak ada yang ingin kau katakan?" tanya zidan yang tangan nya masih bermain dengan sendok di piring.
Perlahan Raka berjalan kembali mendekati meja makan.
"Maafkan saya nyonya, saya lupa mengatakan kalau itu punya bos, maafkan saya bos," Ucap Raka merasa bersalah.
"Sekarang kau matikan mesin mobil ku, dan kau tiup knalpot nya sampai dingin, selesai sarapan aku akan ke sana memeriksanya," ucap zidan datar tapi penuh dengan penekanan.
"Baik bos," balas Raka lemas sembari melangkah pergi.
Salsa masih belum mengerti apa yang di ucapkan Raka tadi.
"Jadi bunga dan boneka itu om yang punya," tanya Salsa bingung.
"Bukannya dari tadi malam sudah saya katakan." balas zidan datar.
"Untuk apa om beli bunga dan boneka itu?" tanya Salsa sembari menatap zidan.
Tidak ada jawaban dari zidan.
"Ooooooo, Saya tau?" ujar Salsa keras seperti ingat sesuatu, dengan satu telunjuk ia acungkan ka atas.
Sampai Zidan tersentak mendengar nya.
"Uhuk, uhuk, apa? tanya zidan dengan mata setengah membola.
"Om belikan buat saya kan," jawab Salsa sembari tersenyum dan mengedip-ngedipkan matanya, kedua telapak tangan ia letak kan di pipi dan siku tangan nya menopang di atas meja.
"Bukan," balas zidan.
__ADS_1
Deg
Seketika senyum di wajah Salsa hilang di sertai bahu nya merosot ke bawah.