
Zidan menoleh ke belakang, melihat Salsa yang memeluk tubuh nya. Ia melepas kan tangan Salsa dan berjalan kesamping. Satu Tangan nya memegang dahi, lalu ia kepal kan kuat dan mengehempaskan nya ke bawah. Nafas nya begitu sesak, sesekali wajah nya menengadah ke atas, dengan masih berjalan bolak-balik. Ia menghela nafas panjang.
Zidan lalu meraih tangan Salsa dan memeluk tubuh nya. "Jangan membuat saya seperti ini lagi Sabila," lirihnya.
"Mas. Lepas ihhh.., saya susah nafas" Salsa memukul pelan punggung suami nya.
"Jangan pernah pergi lagi sayang, jangan pernah pergi lagi," Zidan semakin erat memeluk tubuh Salsa.
Salsa berusaha melepaskan tangan Zidan yang memeluk tubuh nya. Setelah terlepas, ia lalu mendorong tubuh suaminya itu kedepan sedikit menjauh darinya.
"Mas bilang apa tadi?" tanya nya menatap raut wajah cemas suaminya.
"Bilang apa? saya tidak ada bilang apa-apa," balas Zidan mengelak,. sembari mengusap sudut matanya dengan sapu tangan, serta membuang ingus yang sudah mulai keluar dari hidung nya.
"Mas nangis ya?" tanya Salsa dengan sedikit memiringkan kepalanya.
"Heis! Siapa yang menangis? mata saya hanya kelilipan saja tadi," dengus Zidan menyangkal, lalu berbalik badan membelakangi Salsa. Ia menyeka air matanya dengan sapu tangan, serta membuang ingus nya.
"Saya mau pergi lagi lah," ucap Salsa sembari melangkahkan kaki nya mendekati ranjang.
Zidan membalikkan tubuhnya, dengan langkah kilat ia sudah berada di depan Salsa, dan lansung memeluk tubuh nya.
"Jangan pernah pergi sayang. jangan pernah katakan kamu akan pergi," bisik Zidan memohon tepat di telinga Salsa.
"Hehehehe, saya juga sayang mas.Dan saya janji gak akan pernah ninggalin mas," ucapnya sembari melingkarkan erat tangan nya di punggung Zidan. Cukup lama mereka berpelukan, saling melepaskan rindu yang hanya beberapa jam saja baru berpisah.
Krucuk-krucuk
Salsa melepaskan pelukan nya, ia sedikit mendongak kan wajah nya menatap wajah Zidan yang terlihat berantakan dan pucat.
"Mas belum makan siang ya?" tanya nya sembari ke dua tangan nya membelai lembut pipi Zidan. Zidan membalas dengan gelengan kepala, bola mata yang hanya menatap ke bawah.
__ADS_1
"Ya udah, mas mau mandi dulu atau kita lansung ke bawah makan?" tanya Salsa lagi yang ke dua tangan nya masih memegang wajah Zidan.
Jawaban Zidan masih sama, ia hanya menggelengkan kepalanya tanpa melihat wajah Salsa.
"Iiih, Mas, jawab lah! Saya mana ngerti kalau mas hanya menggelengkan kepala saja," sungut Salsa yang sudah melepaskan tangan nya dari pipi Zidan.
"Saya mau makan di sini," ucap Zidan pelan tanpa menatap Salsa.
"Gitu dong. kan jelas." ucap Salsa seraya tersenyum.
"Ya sudah, saya panggilkan bi Marni dulu ya!" ujar Salsa yang sudah melangkah pergi.
"Kamu mau kemana?" tanya Zidan melihat Salsa sudah berjalan ke arah pintu kamar.
"Ya Mau ke bawah lah,.mau panggil bi Marni dulu," jawab nya yang sudah menghentikan langkah sembari menoleh menatap Zidan.
"Kamu jangan pergi, biar Marni saja yang datang ke sini," Zidan lalu menekan tombol merah yang tidak jauh berada dari tempat nya berdiri.
Tapi Zidan seperti tidak mendengar ucapan Salsa, ia malah duduk di pinggir ranjang, lalu membaringkan tubuh nya dengan kaki yang masih berada di lantai.
"Mas, di suruh mandi malah baring," sungut Salsa kesal, sembari berjalan mendekati ranjang dan meraih kedua tangan Zidan dan menarik nya.
"Mas! Mandi dulu!" Salsa terus menarik tangan Zidan.
Zidan menahan berat tubuh nya, kemudian ia sedikit menyentakkan tangan nya, hingga tubuh Salsa jatuh menimpa nya. Salsa menopangkan tangan di kasur, agar kepalanya masih bisa mendongak. Namun, Zidan malah melingkarkan kedua tangan nya di leher Salsa, dan juga sedikit menekan agar lebih mendekat lagi ke wajah nya.
Kini dahi, puncak hidung dan bibir mereka saling menempel. Mereka juga bisa merasakan hembusan nafas masing-masing. tangan Zidan pun kini Sudah berpindah melingkar di punggung Salsa. membelai nya pelan. Bibir yang tadi nya hanya menempel saja, kini Zidan sudah **********.
Tok
Tok
__ADS_1
Tok
Suara ketukan pintu dari luar kamar mengejutkan Salsa. Ia reflek menolehkan wajah nya menatap daun pintu yang di ketuk dari luar itu.
"Mas lepas dulu, saya mau membuka pintu," ucap Salsa yang berusaha untuk berdiri.
Tapi kedua tangan Zidan malah memegang pipi Salsa dan kembali mencium bibirnya.
"Em, Mas!"
Tok
Tok
Tok
Suara ketukan daun pintu dari luar kembali terdengar. Zidan bukan nya melepaskan tautan bibir nya, malah ia semakin rakus ******* bibir Salsa. Dengan kedua tangan nya yang juga aktif mengusap dan meremas tubuh belakang Salsa.
Zidan berusah duduk tanpa melepaskan ciuman nya di bibir Salsa. Ia melingkarkan kedua tangan nya di punggung Salsa, lalu berdiri dan merebahkan pelan tubuh Salsa ke ranjang. Kini tubuh Zidan berada di atas Salsa.
"Emm, Mas," Salsa mulai terbuai menikmati ciuman Zidan. Ia melingkarkan ke dua tangan nya di leher Zidan.
Ciuman mereka semakin panas. saling menyapu kan lidah di rongga mulut masing-masing.
Bibir zidan kini menyapu leher jenjang istrinya, mengisap nya sampai meninggalkan tanda merah di sana.
"Mas, awas dulu!"
Zidan menatap wajah Salsa yang sudah merah karna menahan hasrat nyya yang sudah naik. Kemudian ia berdiri tepat di depan Salsa.
"Ya, udah cepatlah mainnya," ucap Salsa kemudian melihat wajah suami nya yang ceberut.
__ADS_1
Zidan menyeringai senang, dengan gerakan cepat ia kembali menyergap istrinya.