
"Selamat pagi tuan, selamat pagi nyonya," sapa Marni dan semua pelayan yang sudah berbaris di lantai bawah mension itu. Salsa yang sudah rapi dangan seragam putih abu-abu nya, begitu pun Zidan sudah rapi dengan setelan jas hitam nya.
Ini kali kedua bagi Salsa, di sambut oleh semua pelayan yang berbaris rapi, dirinya merasa sangat canggung. Baginya semua perlakuan pelayan itu terlalu berlebihan.
"Kalian kembalilah bekerja," Perintah Zidan.
"Baik tuan," balas para pelayan serempak sebelum melangkah pergi.
Zidan kemudian memegang bahu Salsa dengan ke dua tangan nya, menuntun nya ke meja makan.
"Selamat pagi tuan, selamat pagi nyonya," sapa Raka yang baru saja datang.
"Pagi Abang Raka," balas Salsa dengan menoleh ke belakang dan tersenyum. Berbeda dengan Zidan yang terus saja melangkah menuntun Salsa berjalan.
"Lihat saja jalan mu di depan," ucap Zidan ketus.
Bibir Salsa yang tadi nya tersenyum kini berubah mengerucut.
"Ada apa kau datang kesini pagi-pagi buta Raka," tanya Zidan kesal, tanpa melihat Raka.
"Maaf kan saya Bos, saya mau menyampaikan tiga kabar penting Bos." jawab Raka.
Zidan dan yang telah tiba di depan makan, menarik satu kursi ke belakang, kemudian membatu Salsa duduk di kursi itu.
Zidan pun duduk di kursi yang yang biasa ia duduki.
"Abang, ayo sarapan sama-sama," ucap Salsa.
Zidan menoleh menatap tajam ke arah Raka. Seperti hendak menelannya hidup-hidup.
"Sa-saya sudah sarapan nyonya," balas Raka gugup. Padahal dirinya datang pagi-pagi berharap dapat sarapan.
"Kalau begitu kau pergilah panas kan mesin mobil ku," timpal Zidan sembari menyeruput kopi dari gelas.
"Baiklah Bos," balas Raka patuh, lalu melangkah gontai keluar.
"Bos suruh aku panas kan mobil terus, tapi pergi ke kantor nya pasti minta diantar Jefri lagi," gerutu Raka.
"Pulang sekolah lansung pulang, jangan ke mana-mana," suara Zidan terdengar dingin.
"Iya om," jawab Salsa.
-
Selesai sarapan.
Seperti biasa Zidan berangkat ke kantor diantar Jefri, meski tau dirinya akan sampai di kantor agak lama, karna berlawanan arah dengan sekolah Salsa.
"Jauhi teman laki-laki mu itu," ucap Zidan sebelum mobil yang di kemudikan Jefri tiba di sekolah.
"Iya Om,"
Seperti biasa mobil yang di kendarai jefri berhenti tepat di pintu gerbang sekolah Salsa. Dan seperti biasa, Salsa mencium punggung tangan Zidan sebelum turun dari mobil.
__ADS_1
Zidan membantu Salsa turun dari mobil, memapah nya hingga ke depan pintu gerbang.
Wajah Salsa sudah merah menunduk, karna mata para Siswa-siswi yang berlalu lalang kini tertuju pada nya.
"Salsa," Panggil Rendi yang berlari ke arah mereka.
"Om, biar saya bantu antarkan Salsa ke kelasnya," Rendi menawarkan diri.
"Nggak usah," tolak Salsa seraya memeluk satu lengan Zidan dengan kedua tangan nya.
"Kau dengarkan dia tidak mau, dan sekarang kau pergilah. Jangan pernah ganggu dia lagi," suara Zidan terdengar serak, kedua netranya menatap tajam pada pemuda yang yang menggunakan seragam SMA.
Dengan rasa kecewa Rendi meninggalkan mereka.
"Aku ngggak akan berhenti sampai disini buat dapatin kamu Salsa," batin Rendi melangkah pergim
"Biar saya antar ke kelas," Zidan memegang kedua pundak Salsa kembali.
"Nggak usah, Om pergi saja, saya mau tunggu sahabat saya," tolak Salsa.
"Telepon dia sekarang,"
Salsa pun mengambil ponsel nya, kemudian menelpon santi.
"Halo, kamu dimana San?" tanya Salsa saat sambungan telepon nya terhubung.
"Nih lagi di angkot, kenapa?" jawab Santi.
"Masih jauh ya?" tanya Salsa lagi.
Tidak lama Santi pun datang. Sahabat Salsabila itu berlari saat melihat Salsa berdiri dengan seorang laki-laki berjas hitam.
Netra Santi kini tertuju pada Zidan, menatap kagum pada sosok suami sahabat nya.
Ini pertama kalinya Santi melihat Zidan dari jarak dekat. Dirinya terpesona, lama netra nya memandang Zidan, hingga tanpa ia sadari, bibir nya mengukirkan senyum entah apa yang dia pikirkan.
Salsa mengusap wajah sahabat nya yang senyum-senyum sendiri itu. Membuat si empu tersentak dari lamunan.
"Aku senang banget hari ini kamu sudah masuk lagi Sa," ucap Santi lansung berhambur memeluk Salsa.
"Sudah, ayo kita masuk,sebentar lagi bell bunyi. Tapi kamu bantuin aku ya, kaki aku masih sedikit nyeri," pinta Salsa.
"Pasti nya dong," balas Santi lalu memegangi ke dua bahu salsa, menuntun nya berjalan memasuki pekarangan sekolah.
"Om, aku masuk dulu," ucap Salsa lirih, sekilas dirinya merlitik Zidan sebelum mulai melangkah masuk gerbang sekolah.
Zidan memperhatikan Salsa dari balik pintu pagar sekolah, hingga istrinya itu benar-benar menghilang dari pandangan nya. Setelah itu baru dia masuk kedalam mobil, menuju kantor.
.
.
.
__ADS_1
.
Dikantor Zidan.
"Sekarang, Katakanlah hal penting apa yang ingin kau sampaikan?" tanya Zidan seraya duduk di kursi kebesarannya.
"Yang pertama tentang kelanjutan kerjasama kita dengan perusahaan NEW GLOBAL, minggu ini mereka akan datang ke Indonesia untuk bertemu dengan bos."
"Kau atur jadwal nya,"
"Tapi bos, itu salah satu perusahaan raksasa dari England, aneh nya mereka yang ingin mengajukan kerjasama dengan perusahaan kita. Seperti nya mereka punya tujuan lain Bos,"
"Aneh apanya? kau itu yang aneh Raka. Sekarang lanjut yang ke dua," Zidan menatap sinis tangan kanan nya itu.
Raka menghela nafas panjang.
"Yang kedua, saya ingin menyampaikan jika senjata pesanan kita dari Rusia akan melabuh malam ini Bos."
"Kau yang mengurus semuanya, bawa ke markas, seperti biasa," sahut Zidan yang kini telah menghidupkan leptop kerjanya.
"Apa Bos tidak ingin memeriksa keadaan barang nya dulu?" tanya Raka.
"Kau sendiri kan bisa memeriksa nya, kenapa harus aku juga yang mengurusi hal sepele itu." dengus Zidan.
"Baik lah Bos,"
"Tapi yang harus kau ingat, jangan ceroboh. Periksa dengan teliti semua barang nya. Dan pastikan keadaan tempat aman. Apa kau paham?!"
"Paham Bos," sahut Raka cepat.
"Bagus, sekarang lanjutkan yang ke tiga,"
"Malam besok ada undang dari tuan Daniel, acara ulang tahun pernikahan nya," ucap Raka.
Sejenak Zidan berpikir. "Kau cari butik yang paling bagus, bawa ke mension. Suruh mereka membawa semua contoh pakaian nya, biar kan dia itu yang memilih nya,"
"Dia itu siapa Bos?" tanya Raka.
"Istriku lah... Kenapa kau terlihat bodoh sekali Raka," umpat Zidan merasa kesal.
"Ma-maaf Bos," sesal Raka.
Zidan menatap tajam Raka.
"Apa masih ada yang ingin kau sampaikan?" suara Zidan mulai terdengar tidak bersahabat.
"Tidak ada Bos," balas Raka.
"Lalu, kenapa kau masih disini?" tanya Zidan sinis.
"Ma-maaf Bos," jawab Raka kemudian berlalu pergi.
"Tunggu. Kau antar kan makan siang untuk istriku," teriak Zidan, sebelum Raka benar-benar keluar dari ruangan nya.
__ADS_1
"Baik Bos," sahut Raka.