Om CEO Galak Itu Suamiku

Om CEO Galak Itu Suamiku
Masalah besar


__ADS_3

"Silahkan masuk Nak Rendi," ucap Rita setelah turun dari taksi.


"Tidak usah Bu, terimakasih." balas Rendi merasa sungkan.


"Kalau begitu, biar Ibu panggilkan Salsa kedalam ya. Nak Rendi tunggu di sini dulu ya." ujar Rita berlalu pergi.


Rita pun melangkah masuk kedalam mension, memanggil Salsa.


Tok, tok, tok!


Salsa yang yang masih belajar segera berdiri untuk membuka pintu.


Ceklek!


Pintu terbuka, Salsa melihat Rita yang berdiri di depan pintu dengan luka lebam di dahi dan wajahnya.


"Ibu! Ibu kenapa?" tanya Salsa histeris, ia lansung memegang pipi Rita memeriksa luka nya.


"Siapa sayang!!" teriak Zidan dari dalam kamar berjalan keluar.


"Tidak apa Nak, Ibu tadi hanya terjatuh." kilah Rita menutupi apa yang terjadi tadi.


"Ibu jangan bohong! Ini bukan luka terjatuh, ini luka habis di pukul." tepis Salsa tidak percaya.


Salsa menoleh melihat Zidan yang sudah berdiri di belakang nya.


"Katakan! Tadi Ibu dari mana?" desak Salsa, teringat ucapan Zidan tadi mengatakan Ibunya pergi kerumah teman nya.


"Ta-tadi Ibu---,"


"Katakan Bu, Ibu tadi dari mana?" Salsa terus mendesak nya.


"Ta-tadi Ibu di bawa Herman----"


"Kenapa sih, Ibu masih saja berhubungan dengan orang seperti itu. Kenapa ibu nggak berpisah saja dengan nya." potong Salsa.


"Sayang, biarkan Ibu menjelaskan apa yang terjadi dulu," sela Zidan sambil mengusap punggung Salsa.


"Tapi Mas, aku nggak suka Ibu masih berhubungan dengan laki-laki itu."


"Tidak Nak, Ibu tidak ada lagi berhubungan dengan nya. Ibu tadi hanya menemani Marni ke pasar. Tapi, tiba-tiba Herman menarik tangan Ibu. Ibu tidak bisa teriak karna mulut Ibu di bekap nya. Beruntung ada teman sekolah mu yang melihat dan menolong Ibu." sergah Rita menjelaskan.


"Teman aku? Siapa?" Salsa melihat Rita dengan mata menyipit.


"Dia ada diluar sekarang. Tadi sudah Ibu ajak masuk tapi dia tidak mau." ujar Rita.


Salsa memandang Zidan seolah meminta izin padanya.


Mari Nak temui dia, Ibu tadi juga belum sempat mengucapkan terimakasih pada nya." ajak Rita.


"Ayo Mas," Salsa menarik tangan Zidan mengikuti Rita yang sudah lebih dulu melangkah di depan.


Diluar, Rendi berdiri membelakangi pagar.


"Nak Rendi." tegur Rita yang sudah berdiri di belakang nya.


Rendi menoleh, melihat Zidan yang lansung merangkul pinggang Salsa di belakang Rita.


"Rendi!" sapa Salsa.


"Hai, Salsa." balas Rendi menyapa, di sertai sunggingan senyum di wajah nya.


Zidan semakin memperarat tangannya merangkul pinggang Salsa.


"Ngapain kamu ada di sini?" tanya Salsa seperti tak suka.


"Nak Rendi ini yang menolong Ibu tadi, Nak." sela Rita menjawab.


"Hanya kebetulan lewat saja tadi Bu." balas Rendi.


"Kalau begitu Ibu masuk kedalam dulu ya Nak. Salsa, kalau kamu tidak keberatan, ajak lah Nak Rendi masuk ke dalam dulu untuk minum." pinta Rita lalu masuk ke dalam.


Kini yang tinggal di luar hanya Salsa, Zidan dan Rendi.


"Masuk Rend," ajak Salsa.


"Tidak usah Sa. Aku juga mau pulang," balas Rendi.


Rendi melangkah hendak meninggal kan tempat itu.


"Rend!" panggil Salsa menghentikan langkah Rendi.


Rendi menoleh kan pandangannya melihat Salsa.


"Terimakasih ya Rend, sudah menolong Ibu." ucap Salsa yang di balas anggukan kepala sarta senyuman dari Rendi sebelum kembali melangkah pergi.


Zidan pun melepaskan tangan nya dari pinggang Salsa, melangkah kedalam meninggalkan Salsa yang masih berdiri.


"Mas. Mas. Tunggu!" Salsa mengejar langkah lebar Zidan. Namun, Zidan tetap melangkah tanpa mempedulikan teriakan Salsa yang memanggilnya di belakang.


Di kamar, Zidan duduk bersandar di ranjang sambil memainkan ponselnya.

__ADS_1


"Mas, kenapa Mas bilang tadi Ibu pergi ketempat temannya?" tanya Salsa yang sudah duduk di pinggir ranjang menatap Zidan.


Namun Zidan tidak menjawab, mata dan tangan nya masih fokus di layar ponsel.


"Mas." rengeknya sambil menggoyangkan kan kaki Zidan.


"Apa?" tanya Zidan datar.


"Kenapa Mas bilang tadi Ibu pergi ke tempat teman nya?" ulang Salsa bertanya.


Namun, Zidan masih diam tidak menjawab.


Salsa lalu menghentakkan kaki nya keluar meninggal kan kamar.


Setelah Salsa keluar Zidan mencari nomor Raka dan lansung menekan tombol panggil.


"Raka. Cari Herman sekarang juga, bawa dia ke markas." ucap Zidan saat sambungan telepon nya terhubung.


"Baik bos. Tapi, bagaimana dengan Bu Rita?" balas Raka dari sambungan telepon.


"Mertuaku sudah kembali, Herman tadi yang membawanya pergi. Kau temukanlah Herman sekarang juga, seperti nya aku ingin sedikit bermain dengan nya." Perintah Zidan.


"Jangan bos. Nyonya sedang hamil, itu tidak baik." cegah Raka.


"Kenapa?" tanya Zidan.


"Mitos nya begitu bos," jawab Raka.


"Kalau begitu kaulah yang harus melakukan nya." titah Zidan.


"Baik bos." balas Raka.


"Buat dia menjerit ketakutan, dan berikan padaku video nya. Aku ingin melihat seperti apa rupa manusia itu kalau sedang ketakutan." ujar Zidan dengan seringai khas di wajahnya.


"Baik bos," balas Raka.


Sambungan telepon pun berakhir.........


****


Malam hari nya, Salsa duduk di meja belajarnya. Sedangkan Zidan duduk bersandar di ranjang memainkan ponsel nya. Sesekali Zidan menoleh melihat Salsa yang seharian tadi mendiamkan nya. Bahkan saat makan malam pun Salsa masih saja bersikap dingin.


Heis Dia itu. harusnya aku yang marah karna dia tersenyum pada lelaki tadi. Tapi kenapa dia yang mendiam kan ku. 


batin nya menggeram kesal.


Begitu pun dengan Salsa, ia merasa kesal karna Zidan bersekongkol dengan Marni tadi siang membohongi nya.


Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 21.30, namun Salsa masih duduk di meja belajar nya.


Salsa tidak menjawab, ia mengemasi buku-buku nya lalu pergi ke kamar mandi.


Heiss, dia itu sebenarnya kenapa? Apa dia tidak tau, kalau aku juga sedang kesal padanya. 


Tak lama Salsa kembali. merangkak naik ke atas ranjang dengan bibir maju ke depan. Ia berbaring menatap dinding kamar memunggungi Zidan yang terus memperhatikan nya.


Zidan mengusap kasar wajah nya, lalu meletakkan ponselnya di meja nakas sebelum berbaring menatap langit-langit kamar.


Detik berganti menit, menit berganti jam, namun, Salsa belum juga bisa tidur. Posisi nya masih memunggungi Zidan.


Sama hal nya dengan Salsa, Zidan pun hanya mampu memejam kan mata, tanpa bisa terlelap, sesekali ia melihat Salsa dari sudut matanya yang berbaring di ujung ranjang.


"Iiiiiih. Aku nggak bisa tidur!" Salsa lalu duduk di atas ranjang melihat Zidan yang seperti sudah tertidur lelap.


"Mas. Mas. Aku nggak bisa tidur," rengek nya menatap Zidan.


Dalam hati Zidan tersenyum senang. Namun, ia masih memejamkan mata seperti tertidur lelap. Bahkan, kini sesekali ia membuat suara dengkuran.


Salsa kemudian merangkak mendekati Zidan, mengambil bantal dan berbaring di samping tubuh kekar itu lalu memeluknya.


Begitu pun Zidan, ia sedikit menggeliat, merentangkan tangan nya merangkul pundak Salsa. Setelah itu baru mereka sama-sama bisa tertidur.


*******


Keesokan paginya. Seperti biasa Salsa sudah terlihat rapi dengan seragam sekolah nya, begitu pun Zidan telah rapi dengan setelan jas kantornya. Namun, ada yang berbeda, wajah Salsa masih terlihat cemberut. Hingga sampai di sekolah, Salsa masih menekuk wajah nya. Tak ada candaan atau pun obrolan. Mereka sama-sama bersifat dingin tanpa mau menurunkan ego masing-masing. Setelah mencium punggung tangan Zidan, Salsa berlalu pergi......


****


Perut yang semakin terasa lapar mengharus kan Herman bergerak di pagi hari. Ia terus berjalan di deretan pertokoan dengan harapan menemukan dompet, ponsel atau pun benda lain yang berharga.


Di depan sebuah cafe, Herman melihat Maria turun dari mobil di iringi anak buah nya dengan mobil lain berjalan memasuki sebuah cafe.


Pasti wanita cantik itu sangat kaya sekali, coba saja kalau aku bisa menjadi suami nya. Pasti aku akan sangat merasa senang sekali. 


batin Herman merasa senang.


"Herman!!!"


Dari arah belakang dan depannya anak buah Raka sudah mengepung bersiap menangkapnya.


Herman menoleh ke belakang, terlihat dua orang laki-laki berlari kearah nya begitupun dari arah depan.

__ADS_1


Sial siapa mereka? 


batin Herman merasa cemas.


Tanpa pikir panjang lagi, Herman masuk ke dalam cafe dan lansung bersujud di bawah kaki Maria yang masih berjalan. Meminta perlindungan.


"Nyonya, tolong saya nyonya." lirih Herman yang bersujud dikaki Maria.


Para ajudan Maria segera berjalan ke dapan hendak menyingkirkan Herman yang menghalangi langkah kaki Maria. Namun, Maria mengacungkan satu tangan nya ke atas agar mereka berhenti.


Anak buah Raka yang mengejar Herman, berhenti di depan pintu masuk cafe. Maria menoleh ke belakang melihat mereka.


"Nyonya, tolong serah kan pria itu pada kami." ujar anak buah Raka yang bernama Enda.


"Jangan Nyonya, tolong saya. Saya tidak kenal mereka," rintih Herman yang terus memohon di kaki Maria.


Maria melihat Herman yang bersujud di kaki nya kemudian melayangkan pandangan pada anak buah Raka yang berdiri di depan pintu.


"Katakan! Apa alasan kalian mengingin kan nya?" tanya Maria.


"Kami hanya menjalankan perintah, Nyonya." jawab Enda.


"Kalau begitu kalian pergilah dari sini." ucap Maria dengan penuh wibawa nya membuat Enda dan rekan nya segera meninggalkan tempat itu.


"Terimakasih Nyonya, terimakasih Nyonya," ucap Herman yang masih berada di bawah kaki Maria.


"Bangunlah, dan pergi dari sini." ujar Maria melangkah pergi.


"Tunggu Nyonya, kasihanilah saya Nyonya saya belum makan dari kemarin," rintih Herman mengiba masih bersujud di belakang Maria.


"Alfred berikan dia uang, lalu suruh dia pergi." ujar Maria tanpa menoleh ke belakang.


"Nyonya, saya tidak butuh uang, saya hanya butuh kerja. Tolong berikanlah saya pekerjaan." sergah Herman cepat.


"Kau bisa apa?" tanya Maria yang kini sudah berbalik badan melihat Herman.


"Saya bisa membantu membersihkan bangunan ini nyonya," ujar Herman bersemangat.


"Baiklah. Alfred! Berikan dia pekerjaan yang dia ingin kan," titah Maria berlalu pergi.


"Terimakasih nyonya! terimakasih nyonya!" ujar Herman merasa senang.


Pelan-pelan wanita cantik itu pasti bisa ku takhlukan. 


gumam Herman dalam hati.....


******


Di lantai tertinggi gedung pencakar langit. Zidan merasa uring-uringan, pasal nya Salsa dari kemarin mendiam kan nya. Zidan melihat Jam yang melingkar di pergelangan tangan nya.


Heis, kenapa jam ini lama sekali berputarnya....... 


Begitu pun Salsa di sekolah, pikirannya tidak bisa konsentrasi membaca soal-soal ujian. Sesekali ia memegang kepalanya agar bisa lebih fokus lagi.


Iiiih, kenapa sih Mas bohongin aku! Kan jadi nya gini. Mana nggak mau membujuk. Iiiiiiih. 


gerutunya dalam hati sambil memukul-mukul kening nya sendiri.


"Sa,. Sa,. Kamu kenapa?" bisik Santi yang duduk di sebelahnya.


Salsa melayangkan pandangannya melihat Santi, lalu kembali menunduk membaca soal ujian..........


Setelah mendapatkan laporan dari anak buahnya, Raka pergi menemui Zidan di ruangan kerja nya.


Tok


Tok


Tok


"Masuk," ucap Zidan dari dalam ruangan.


Setelah mendorong pintu Raka pun masuk.


"Ada apa?" tanya Zidan dingin. Ya, hari ini mood nya tidak lah baik.


"Maaf bos, tadi orang-orang saya sudah menemukan Herman. Tapi, mereka tidak bisa membawa nya ke markas, karna Herman meminta perlindungan pada seseorang," ujar Raka menjelaskan.


"Siapa? Siapa yang berani melindungi buruan ku?" tanya Zidan dengan seringai khas nya.


"Saya juga tidak tau bos, kata mereka dia seorang wanita dengan banyak pengawal yang mendampingi nya." Jawab Raka.


"Siapa wanita di kota ini yang paling berkuasa?" tanya Zidan yang juga ikut berpikir.


"Apa jangan-jangan dia mertua Sabila? Tapi tidak mungkin lah." gumam Zidan.


"Bisa jadi bos! karna di kota ini hanya nyonya Maria yang ke mana-mana selalu di kawal seperti seorang Ratu." ujar Raka.


"Hei kau! Dia itu Mama ku, jangan pernah kau mengolok-olok kan nya." bentak Zidan menunjuk Raka.


"Maaf kan saya bos." sasal Raka.

__ADS_1


"Kau saja yang tidak tau, kalau dia itu memang seorang ratu dari Inggris," dengus Zidan.


"Sudah lah! Kau lupakan dulu si Herman baji*gan itu. Masalah ku ini lebih besar!" ujar Zidan.


__ADS_2