Om CEO Galak Itu Suamiku

Om CEO Galak Itu Suamiku
Akan mencari Rita


__ADS_3

"Beli seragam baru, aku besok harus sekolah."


"Sayang, bagaimana kalau kita nonton film saja diatas," Zidan mencoba mengalihkan pikiran istrinya.


"Nggak mau! Pokok nya sekarang juga mas harus anterin aku beli seragam sekolah," rengek nya sambil menghentakkan kaki ke lantai.


"Oke, oke, kita pergi sekarang," pasrah Zidan yang tak pernah mampu menolak kemauan sang istri. Ia lalu melangkahkan kaki keluar kamar.


"Ayok, kata nya mau pergi," ucap Zidan sambil menoleh kebelakang. Tapi, ia lihat Salsa masih saja berdiri di belakang nya.


"Kenapa lagi sayang?" tanya Zidan.


Salsa mengulurkan satu tangan kedepan. Zidan tersenyum lalu berbalik meraih dan mengenggam tangan istrinya itu.


Dengan riang nya Salsa berjalan keluar sambil mengayun-ayun kan satu tangan nya yang di genggam Zidan.


"Bang Jeff, tolong antar kan kami ke mall," pinta Salsa pada Jefri yang duduk santai di luar.


"Baik nyonya." Jeffri gegas bangkit dari duduk nya membuka kan pintu mobil untuk mereka.


******


Di dalam perjalanan, ketika mobil mereka melintas di persimpangan lampu merah. Salsa melihat Rita dari arah jalur lain di persimpangan itu. Ia melihat Rita menjajakan dagangan nya pada pengendara mobil yang berhenti di lampu merah. Hati Salsa terenyuh saat melihat sang ibu yang berpanas-panas di jalan. Wajah ceria nya berubah muram di sertai sudut bibir melengkung kebawah.


"Sayang, kamu kenapa?" Zidan meraih pipi Salsa menarik agar menghadap padanya.


Salsa diam menunduk, berusaha menyumbunyikan kesedihan yang di rasakannya.


"Sayang." Zidan mengangkat Wajah istrinya yang diam menunduk.


Salsa menggelengkan kepala nya pelan dengan sudut bibir yang semakin melengkung kebawah.


Zidan lalu menoleh kebelakang melihat ke arah lampu merah yang tidak jauh dari mobil mereka.


"Putar balik sekarang Jeff," perintah Zidan sambil terus menoleh kebelakang.


"Baik tuan," balas Jefri.


Zidan ingin tau, apa yang membuat istrinya berubah jadi sedih. Karna sebelum nya wajah istrinya itu begitu ceria dan bersemangat.


"Pelan-pelan Jeff!!" Zidan terus memperhatikan area sekitar lampu merah kala mobil yang di kemudikan Jefri melintas disana.


"Sayang, apa yang kamu lihat tadi?" tanya Zidan sambil mengusap puncak kepala Salsa.


"Ibu," jawab Salsa sedikit terisak dalam pelukan Zidan.


Zidan terus memperhatikan area di sekitar lampu merah. namun, sayang nya ia tidak mengetahui rupa mertuanya, padahal saat itu matanya menangkap Rita berada disana.


"Berhenti Jeff," titah Zidan.

__ADS_1


"Ayo, sayang." Zidan mengajak Salsa keluar dari mobil.


Mereka berjalan di trotoar lebih mendekat lagi ke arah lampu merah.


Dari arah lain, Herman lebih dulu berlari mendekati Rita ketika melihat Zidan dan Salsa turun dari mobil.


Tap


Herman memegang pergelangan tangan Rita yang sedang menjajakan dagangan nya, ia lansung menarik nya pergi dari sana.


"Lepas Man!" Rita yang tak mengerti berusaha menepiskan tangan Herman yang menarik paksa pergelangan tangan nya. Tapi Herman tak menghiraukan, langkah nya semakin cepat menyeret tangan Rita pergi dari sana.


Sedang kan Zidan dan Salsa terus memperhatikan orang-orang yang ada di sekitar lampu merah itu.


"Sayang, mana ibu?" tanya Zidan yang terus memperhatikan sekitar lampu merah itu.


"Tadi aku lihat ibu di sana," jawab Salsa sambil menunjuk tempat ia tadi melihat Rita, tapi sekarang sudah tidak ada.


Cukup lama mereka berada di sana memperhatikan area di sekitar lampu merah, namun Salsa tidak melihat keberadaan ibu nya disana.


"Sudah sayang, nanti mas suruh orang untuk mencari ibu." bujuk Zidan sambil merangkul bahu Salsa.


"Benar, Mas mau cari ibu?" tanya Salsa yang tak yakin.


Zidan memegang kedua bahu Salsa lalu memutar tubuh nya agar saling berhadapan.


"Ya, tapi mas janjikan cari ibu," ucap nya dengan bibir yang masih enggan tersenyum.


"Iya. Mas janji," balas Zidan meyakinkan.


"Terimakasih mas," Lirih nya yang sudah berada dalam pelukan Zidan.


"Sudah, jangan sedih lagi. Sekarang kita mau kemana? Mau pulang atau lanjut ke Mal?" tanya Zidan sambil mengusap puncak kepalanya.


"Ke Mal lah, aku kan belum beli seragam sekolah," ujar Salsa yang masih berada dalam pelukan Zidan.


****


Herman terus menyeret tangan Rita menapaki gang sempit, semakin menjauh dari lampu merah. Dengan masih menenteng keranjang dagangannya Rita terus meronta dan berusaha menepis kan tangan Herman yang menarik kasar tangan nya.


"Lepas Man. Kau kenapa?!" Rita terus meronta membentak Herman yang seperti orang tuli terus saja berjalan menarik tangan nya ke gubuk tempat mereka tinggal.


Bugh


Herman mengayunkan tangan nya hingga tubuh Rita menghempas di tumpukan kardus dan karung bekas.


"Kau dengar!! mulai besok kau tak perlu lagi berjualan di lampu merah itu!" bentak Herman.


"Kau sudah gila ya! Kita mau makan apa kalau aku tidak menjual makanan ini," cecar Rita tak kalah emosi.

__ADS_1


"Heh! Kau dengar kan saja kata-kata ku." Sambil berjongkok Herman menarik kasar rambut Rita.


Rita hanya meringis menahan tangan Herman yang menarik rambut nya.


"Mau kau itu apa sebenar nya hah. Cuih!" ringis Rita yang terus berusaha melawan. Herman mengusap air ludah Rita di wajah nya, dengan seringai yang menakutkan.


Plak


Plak


Plak


Plak


Empat tamparan dari Herman mendarat di wajah Rita, membuat sudut bibir wanita paruh baya itu sedikit mengeluarkan cairan merah.


Rita terisak dangan rambut yang acak-acakan menutupi wajah nya.


"Kenapa kau tak melepaskan ku saja bre*gs*k," ringis nya.


Tap


Kembali Herman menarik rambut Rita dan mendekat kan wajah nya.


"Kau dengarkan aku baik-baik! Aku tak akan lepaskan kau, sampai ku dapatkan apa yang ku ingin kan," bisik Herman ditelinga nya kemudian menghempas kembali kepala Rita ke tumpukan kardus.


"Apa yang kau inginkan b*n*tang!" bentak Rita di sisa-sisa tenaganya.


Herman terkekeh membelakangi nya.


"Putri sialan kau itu. aku ingin dia dan hartanya," kembali Herman terkekeh.


******


Salsa dan Zidan menapak di gedung pusat perbelanjaan dengan saling berpegangan tangan. sungguh, terlihat seperti pasangan yang serasi. Salsa yang menggunakan dress sebetis dengan motif kembang terlihat sangat manis, meskipun tanpa polesan make-up di wajah nya. sedang kan Zidan yang tak menggunakan pakaian formal nya, Terlihat sangat gagah. Tentunya mereka menarik perhatian semua orang yang melihat mereka.


"Nyonya, nyonya!" pekik seorang laki-laki bertubuh gemulai berlari mendekati mereka.


Salsa dan Zidan menoleh serempak ke arah sumber suara.


"Miss Rida!"


"Syukurlah nyonya masih ingat eke." miss Rida hendak memeluk Salsa, tapi tubuh nya lansung di dorong kasar oleh Zidan.


"Ma-maaf tuan, eke kira nyonya jalan sama pacar baru nya," sesal Miss Rida yang kembali menutup mulut nya dengan tangan saat mendapat tatapan tajam dari Zidan.


"Ma-maaf lagi tuan," sesal Miss Rida menunduk.


Salsa terkekeh sambil mengusap dada Zidan.

__ADS_1


__ADS_2