
Zidan mengarahkan satu telapak tangannya kedapan wanita itu. Pengawal yang membuka kan pintu tadi pun, tanpa di komando lansung memegang tangan wanita yang hendak memeluk Zidan.
"Lepaskan aku, lepaskan aku, brengsek!" santak wanita itu memberontak.
"Apa yang kamu lakukan Zi.....?"
"Apa kamu sudah melupakan pesan papa mu dulu.....?" lanjut wanita itu.
"Stop! jangan pernah kau sangkut pautkan semua kesalahan kau ini dengan wasiat papaku. Bukan kah dulu semua sudah aku lakukan? kau katakan sekarang, apa yang tidak pernah aku berikan untuk mu?" bentak Zidan dengan amarah yang ber api-api, kilat mata nya tacam menatap wanita yang berdiri di depannya.
"Hati dan tubuh mu Zi! Itu yang tidak pernah kamu berikan padaku," lirih wanita itu jujur dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Hentikan semua omong kosong kau ini, Niken! Kau bahkan tau aku tidak akan pernah mengingkari janjiku? Tapi kenapa kau menghancurkan semua nya? Kau bermain di belakang ku dengan sahabat ku sendiri!" sentak Zidan dengan dada semakin naik turun, kilat mata nya pun terlihat tajam menusuk.
"Saat itu aku khilaf Zi. Hiks, hiks, aku mohon berikan aku kesempatan sekali lagi, Zi. Aku menyesal, aku akan merubah semuanya," Lirih nya yang sudah sesunggukan.
"Khilaf? Ha ha ha ha. Kau bahkan melakukan itu berkali-kali, itu yang kau namakan khilaf? Kau kira aku tidak tau yang kau lakukan, Niken?" Zidan bicara dengan emosi tinggi.
Niken hanya menangis sesugukan.
"Aku minta maaf Zi. Hiks, hiks, aku menyesal, hiks," lirih nya di sela isak tangis.
"Maaf? Kau bilang maaf? Apa kurang selama ini kesempatan yang aku berikan? Jika bukan karna pesan dari arwah papaku, mungkin nasib kau sudah sama seperti bajingan itu!"
"Zi, aku mohon, Zi. Hiks, hiks, berikan aku kesempatan satu kali lagi,"
"Berhentilah bersandiwara, Niken! Aku kesini bukan untuk mendengarkan itu!" sentak Zidan di sertai jari telunjuk mengacung tepat ke wajah wanita Niken.
Seketika wanita itu terdiam, tubuh nya menegang, wajah nya pucat ketakutan. saat melihat Zidan sudah memegang sebuah pisau cutter.
"Sebenarnya apa yang kau banggakan dari diri kau itu Niken? Kau merasa cantik kah? Atau kau merasa tubuh kau itu terlalu sexy?" tanya Zidan sembari mendekatkan pisau cutter itu ke wajah Niken.
"Zi, jangan lakukan itu pada ku, Zi. Aku mohon, Zi! Aku berjanji tidak akan mengganggu mu lagi, Zi, aku juga tidak akan mengganggu istrimu, Zi," ucap Niken yang semakin ketekutan.
"Wow! Kau benar-benar hebat, Niken! Bahkan kau tau aku sudah menikah? Kau juga sudah tau siapa istriku? Padahal tidak ada orang lain yang tau selain orang-orang ku," ujar Zidan sembari bertepuk tangan.
Niken semakin ketakutan melihat seringai menakutkan Zidan.
"Zi, maaf kan aku. Kamu tau, di dunia ini aku tidak punya siapa-siapa lagi selain kamu, Zi. Lebih baik kamu bunuh saja aku sekarang Zi, hiks,, hiks. Nunuh lah aku Zi, jika itu bisa membuatmu memaafkan ku, hiks, hiks,"
__ADS_1
"Shitt!" Zidan melemparkan pisau cutter itu ke lantai, lalu melangkahkan kaki nya pergi dari sana.
* * *
Disekolah Salsa
Pagi itu semua siswa-siswi kelas dua belas dikumpulkan di lapangan upacara, karna ada pengumuman penting yang akan di sampaikan pihak sekolah. Terkait tentang acara perpisahan siswa-siswi kelas dua belas yang akan di laksanakan beberapa hari lagi.
Guru pembimbing yang akan mengawasi jalan nya acara perpisahan, bernama ibu Nurmaini. Beliau menyampaikan beberapa acara yang akan di pertontonkan nanti nya saat acara perpisahan tiba, salah satu nya adalah pentas seni. Beliau juga menyebutkan beberapa nama Siswa yang akan terlibat dalam acara itu sebagai pemeran beserta panitia pelaksana.
Setelah menyampaikan pengumuman, para siswa di bubarkan agar masuk ke dalam kelas masing-masing dengan tertib. Kecuali para siswa yang sudah di sebutkan namanya oleh Ibu Nurmaini, agar tetap tinggal untuk mendiskusikan lebih lanjut acara apa saja yang akan di pertunjukan.
"Gimana ini San? Aku nggak mau terlibat dalam acara seperti itu. Kenapa sih, Ibu Nurmaini menunjuk aku jadi salah satu pameran nya," keluh Salsa mengadu pada sahabatnya saat semua siswa sudah bubar.
"Ihhh, kenapa kamu marah sama aku, bukan aku yang memilih mu?" balas Santi sewot.
"Kamu saja lah San yang menggantikan akuaku, please! Kamu mau kan, San?" Salsa menyatukan kedua telapak tangan nya, memohon pada Santi.
"Ihhh, mana bisa seperti itu! Lagian aku juga gak mau lah, aku lebih senang jadi penonton saja," balas Santi sambil nyengir.
"Terus aku mesti gimana sekarang?" tanya Salsa meminta solusi sahabatnya.
"Ya, kamu bilang sama guru pembimbing lah, jangan sama aku," balas Santi santai.
"Bilang saja Ibumu tidak mengizinkan, untuk mengikuti acara itu," jawab Santi masih santai.
"Aku gak mau lah berbohong membawa nama Ibu ku," balas Salsa.
"Hmmm..... Kalau nggak kamu bilang saja keluargamu tidak mengizinkan, kan benar tuh! Laki mu belum mengizinkan untuk mengikuti acara ini," ujar Santi.
Beberapa saat Salsa terdiam memikirkan sesuatu.
"Woi...... Cepat katakan itu pada Bu Nurma, jangan malah bengong," Santi menepuk bahu Salsa hingga ia bergelinjak kaget.
"Ishh! Kamu ini lah, bikin aku jantungan saja" sungut Salsa sembari memegang dada nya, yang hampir copot.
"Dah, sana pergi. Aku mau ke kelas dulu," ujar Santi lalu melenggang pergi.
"Tunggu San!"
__ADS_1
"Apalagi sih Salsa?" Santi menghentikan langkah nya, dengan posisi tubuh masih membelakangi Salsa.
"San, temani aku, ya. Please!" mohon nya.
"Tapi, sebelum kamu mengatakan itu pada Bu Nurma, lebih baik kamu bilang dulu sama laki mu. Jika dia tidak mengizinkan itu lebih baik, karna itu bisa menjadi alasan mu. tapi kalau dia mengizinkan kamu nggak ada alasan lagi untuk menolak peran itu," ujar Santi.
"Cepat! Telepon laki mu sekarang!"
Salsa pun mengembil ponsel nya dari dalam tas kemudian menelpon Zidan.
"Ada apa?" sahut Zidan saat sambungan telepon nya sudah terhubung.
"Mas, di sekolah mau mengadakan acara perpisahan, saya di tunjuk menjadi salah satu yang akan menjadi pameran untuk mementaskan seni teater," ujar Salsa.
"Lalu masalah nya apa?" tanya Zidan.
"Ya saya mau nanya, apa Mas mengizinkan?"
"Jika untuk kepentingan sekolah saya izinkan," jawab Zidan.
"Tapi Mas....?"
"Tapi apa?" sela Zidan memotong ucapan Salsa.
"Nggak jadi lah," balas Salsa pasrah.
"Apa ada lagi yang ingin kamu tanyakan?" tanya Zidan.
"Nggak ada," jawab Salsa.
Tuuuuuuut!
Sambungan telepon di putuskan Zidan.
"Sa, kamu tadi menelepon laki mu ya?" tanya Santi yang di balas anggukan kepala dari Salsa.
"Wah! Mesra sekali panggilan mu itu, Sa. Tapi, tunggu dulu! Pantas saja dari tadi aku merasa ada yang beda dari kamu. Kamu sudah melakukan itu, ya?" Santi menaik-turunkan kedua alis nya.
"Apaan sih kamu, San!" sungut Salsa dengan pipi yang merona.
__ADS_1
"Ha ha ha, aku senang, akhir nya gak lama lagi aku akan punya keponakan," ujar Santi yang semakin menggoda sahabatnya itu.
"Salsabila.....!"