
Dua minggu kemudian. Setiap pagi Zidan selalu mengalami morning sicknes bahkan, terkadang sampai malam hari pun ia masih saja muntah-muntah. Wajah nya semakin terlihat pucat dan kurusan karna setiap makanan yang masuk ke perut nya, seketika lansung ia keluarkan lagi. Dokter Erwin memang sudah memberikan obat, namun tak pernah sekali pun ia minum, ia selalu membuang obat itu tanpa sepengetahuan Salsa dan akan mengatakan sudah meminumnya. Tak jarang, ia juga meminta makanan yang aneh-aneh, meski hanya memakannya satu suap saja.
Setiap malam dia juga tidak bisa tidur nyenyak karna mengalami sakit di punggung, pinggang serta betisnya. Namun, ia tidak pernah mengeluh atau pun meminta bantuan Salsa untuk memijat nya. Malah sifat nya semakin protective dengan kehamilan Salsa. Ia sangat memperhatikan sakali asupan makanan yang di konsumsi Salsa.
Sifat nya juga berubah jadi sensitif, cerewet, layak nya seperti ibu-ibu hamil.
Traaaang
Tangan Salsa tak sengaja menyenggol gelas di atas nakas.
Zidan yang masih tidur di ranjang seketika tersentak, melihat Salsa berjongkok mengemasi pecahan kaca di lantai.
"Sabila, apa yang kamu lakukan?" Zidan sedikit menegakkan tubuhnya melihat Salsa yang berjongkok di lantai.
"Eh, maaf Mas, gelas nya jatuh nggak sengaja tersenggol tanganku." lirih nya yang tetap memungut pecahan kaca yang berserak di lantai.
"Sudah sini. biarkan saja pelayan yang membersih kan nanti." Zidan melambaikan tangan nya meminta Salsa mendekat.
"Ya Mas," Salsa lalu berdiri berjalan hati-hati menghindari pecahan kaca.
"Mas, hari ini aku izin sebentar ya, mau anterin Ibu ke rumah. Aku takut, kalau Ibu pergi sendiri nanti Om Herman datang lagi." ucap nya yang sudah duduk di samping ranjang.
"Mau apa kesana?" Zidan yang tadi nya berbaring seketika duduk diatas ranjang
"Nggak tau. Kata Ibu ada barang yang mau diambil." jawab Salsa.
"Ya, sudah Mas ikut," Zidan lalu mengibaskan selimut yang menutupi kaki nya.
"Mas kan sakit! Lebih baik Mas di rumah saja. Lagian aku hanya sebentar kok." ujar Salsa.
"Siapa yang bilang Mas sakit?" Zidan sudah menurunkan kaki nya ke lantai serta menyorongkan alas kaki nya......
***
Mobil yang di kemudikan Jefri kini sudah berhenti di tepi jalan depan rumah Salsa. Rita membuka pintu segera turun dari mobil. Sebelum melangkah masuk ke dalam Rita memandang rumah sederhana itu dari depan. Kilasan kenangan hinggap di kepalanya, dimana saat ia dan Baharudin, tertawa bahagia bermain dengan putri mereka. Sambil tersenyum Rita memandang halaman rumah sederhana itu.
Senyum di bibirnya berubah seketika, teringat saat ia mengusir putri nya dari rumah itu.
Salsa turun dari mobil, memegang kedua bahu Rita yang berdiri manatap rumah mereka dengan mata yang berkaca.
"Maafkan Ibu Nak," tiba-tiba Rita terisak seketika memeluk Salsa.
"Nggak ada yang perlu di maafkan Bu, Salsa udah melupakan semua nya." Ia mengusap punggung Rita lembut.
"Ibu menghancurkan semuanya Nak," tangis Rita semakin pecah. Memang benar penyesalan itu sangat menyakitkan, itu lah yang ia rasakan saat ini.
"Ayo Bu, katanya ibu mau ngambil barang,"
"Iya Nak, Ibu masuk dulu, kamu tunggu saja di sini, kasihan suami mu," ujar Maria melangkah memasuki rumah.
Salsa kembali masuk ke dalam mobil, duduk di sebelah Zidan yang masih memandang rumah nya.
"Apa yang Mas lihat?" tanya Salsa dengan alis yang bertaut.
"Ini rumah mu?" tanya Zidan.
"Iya, rumah ini hasil kerja keras ayah dulu dan hanya ini lah satu-satu peninggalan ayah yang tersisa. Terimakasih, karna Mas sudah menebus nya kembali," ungkap nya dengan bola mata yang berkaca.
"Heis. Bisa tidak kalau bicara itu tidak usah menangis," dengus Zidan.
"Aku menangis karna bahagia Mas. Bahagia karna bisa mengenal Mas, bahagia karna bisa memiliki Mas, bahagia karna Mas--" Zidan lansung membekap mulut nya.
"Mas mau melihat rumah mu," Zidan segera turun dari mobil. mengusap sudut matanya yang sedikit basah. Entah kenapa akhir-akhir ini ia memang mudah sekali mengeluarkan air mata.
Salsa ikut turun dari mobil mendekati Zidan yang berdiri memunggunginya.
"Mas mau masuk?" tanya nya yang sudah memeluk lengan Zidan.
__ADS_1
Zidan hanya mengangguk memalingkan wajah ke arah lain. tentu ia tak ingin Salsa melihat mata nya yang berkaca-kaca saat ini.
"Ayo Mas," Salsa menarik tangan Zidan melangkah masuk ke dalam rumah.
Didalam rumah mata Zidan menangkap sebuah bingkai foto yang terpajang di dalam ruangan itu.
Anak kecil itu? Apa dia sabila?
Zidan berjalan lebih dekat lagi untuk melihat foto itu agar lebih jelas.
"Itu foto Ayah, aku dan Ibu," Salsa mengambil foto yang tergantung itu dan memberikan nya pada Zidan.
Zidan menatap foto itu lekat, kemudian melihat Salsa lalu melihat sofa panjang yang sudah lusuh di depan TV.
Jadi keluarga Sabila yang sudah menolong ku dulu. Oh Tuhan.... Ternyata gadis yang selama ini ku rindukan adalah istriku.
Zidan menatap lekat sofa lusuh di depan meja TV. Seketika ia lansung memeluk tubuh Salsa.
"Mas kenapa?" tanya Salsa yang merasa bingung dengan sikap Zidan.
Zidan tidak menjawab, tangan nya semakin erat memeluk tubuh Salsa di sertai air matanya yang mengalir begitu saja.
"Loh. kok Mas nangis?" tanya Salsa.
Zidan lalu melepaskan pelukan nya. Seketika membalikkan badan ke arah lain sambil menyeka air mata yang jatuh di sudut mata.
"Mas kenapa?" Salsa mengusap lembut punggung Zidan.
"Hanya kelilipan saja," jawab Zidan memberi alasan.
"Sini aku lihat," Salsa menarik bahu Zidan agar menghadap padanya.
Salsa mendekatkan wajah menatap bola mata Zidan yang berkaca-kaca.
"Kok kelilipan mata Mas berair kedua-duanya?" tanya Salsa dengan alis yang bertaut.
"Yes. Akhir nya! Mas manggil aku sayang lagi." ujar Salsa menggodanya.
"Sudah lah Sabila, jangan bercanda terus," rajuk Zidan.
"Habis Mas aneh sih! Biasa galak. Eh, tiba-tiba nangis meluk aku," ledek nya sambil terkekeh.
"Mas hanya kelilipan Sabila, sudah lah ayo kita pulang," Zidan melangkah keluar membawa bingkai foto itu.
"Mas..... Mas........." Salsa geleng-geleng kepala melihat Zidan yang seperti salah tingkah.
Sekembalinya dari rumah Rita. Salsa meminta Jefri untuk singgah di cafe Maria. Sekalian merencanakan akan makan siang bersama di sana.
Tidak lama, mobil pun sampai di cafe Maria. Setelah turun dari mobil, mereka melangkah masuk ke dalam cafe secara bersamaan.
"Sayang, Mas mau kekamar mandi sebentar ya, kamu tunggu di sini dulu, ya. jangan kemana-mana," ucap Zidan.
"Iya," balas Salsa.
Zidan pun melangkah ke kamar mandi, sesekali menoleh kebelakang melihat Salsa yang masih berdiri disamping Rita.
Tidak jauh dari tempat Salsa dan Rita berdiri, Herman keluar dari arah lain, membawa ember beserta kain pel. Seketika Herman meninggalkan ember dan kain pel itu saat mata nya menangkap Rita dan Salsa.
Akhirnya kau sendiri yang menyerahkan diri kesini Rita. Kau ingin bercerai dengan ku kan! akan ku kabulkan karna aku sudah mendapatkan wanita yang lebih segalanya dari kau.
Tanpa membuang waktu Herman lalu melangkah cepat mendekati Rita dan Salsa dengan seringai menjijikan nya.
"Bu, kenapa Dia ada di sini?" wajah Salsa terlihat cemas saat melihat Herman berjalan mendekati mereka.
"Ibu juga tidak tau Nak," jawab Rita yang juga terlihat cemas.
"Biar Ibu yang menghadapinya." Rita berdiri di depan memasang badan, saat langkah Herman semakin mendekat.
__ADS_1
"Mau apa lagi kau!" pekik Rita yang berdiri di depan Salsa.
"Kau yang mau apa kesini?" Herman semakin mendekat.
"Kau tau, ini cafe adalah punya calon istriku," ujar Herman.
Tanpa berbasa-basi lagi, ia lansung menarik rambut Rita dengan keras.
"Aaaw!" pekik Rita kesakitan.
"Lepaskan, lepaskan Ibu," Salsa tidak tinggal diam, ia berusaha melepaskan tangan Herman yang menarik kuat rambut Rita.
Herman melepaskan tangan nya yang menarik rambut Rita ketika matanya menangkap cincin yang terpasang di jari Salsa.
Seketika pergelangan tangan Salsa ia cengkram kuat dan cincin itu ia tarik paksa.
Rita berusaha memberikan perlawanan dengan memukul-mukul tangan Herman.
Namun, hanya dengan satu tangan, Herman mencengkram wajah Rita dan menolak nya kuat hingga Rita terduduk di lantai.
Kini Herman hanya fokus membuka cincin di jari Salsa. Namun, Salsa berusaha mempertahan kan cincin itu dengan mengepalkan kuat jemarinya.
Herman yang merasa geram menggunakan satu tangan nya menarik Jilbab Salsa hingga kepalanya mendongak ke atas.
"Cepat! berikan cincin itu pada ku!" bentak Herman yang semakin kuat menarik jilbab itu hingga rambut Salsa sedikit terlihat.
"Tidak! aku tidak akan memberikan nya." pekik Salsa.
"Anak sialan kau!" tangan Herman terangkat naik hendak menampar Salsa.
Tap!
Tangan nya seketika di tangkap Zidan.
"Sudah berapa kali kau aku peringatkan, bajingan!" Zidan mengepalkan tangan nya kuat
Bug!
Satu pukulan keras mendarat di wajah Herman, hingga darah segar keluar dari mulut dan tubuhnya seketika roboh di lantai.
Zidan lalu meraih kepala Salsa dan menyandarkan ke tubuh nya.
"Sayang, ini Mas. Jangan takut," Zidan mengusap lembut kepala Salsa menenangkannya.
"Ada apa ini Zi?" tanya Maria yang baru saja datang. Pandangan nya mengedar melihat Rita yang meringis kesakitan di lantai sarta melihat Herman yang tergeletak tak sadarkan diri.
"Sayang apa yang terjadi?" Maria melangkah mendekati Salsa yang berada dalam pelukan Zidan.
"Mama tau siapa dia? Dia adalah Herman! Yang selalu berusaha mencelakai Sabila!" bentak Zidan penuh amarah.
"Maaf kan Mama Zi. Mama sama sekali tidak tau." lirih Maria.
"Terlambat!" dengus Zidan.
Maria lalu berjalan mendekati tubuh Herman yang terbaring di lantai.
Bagh!
Satu tendangan dari kakinya mendarat di wajah Herman.
"Alfred, habisi dia," titah nya.
"Baik nyonya,"
Alfredo memerintahkan anak buah nya membawa tubuh Herman pergi dari sana.
******
__ADS_1