
Pandangan Salsa perlahan menagabur, kemudian tubuh nya benar-benar tidak memiliki keseimbangan dan roboh. Beruntung Maria dengan sigap meraih dan menopang tubuh Salsa ke pelukannya.
"Sayang kamu kenapa nak?" Maria dengan panik nya mencoba bertanya pada Salsa yang sudah hilang kesadaran. Ia menepuk pelan pipi menantunya itu agar segera bangun.
"Salsa kenapa tante?" Rendi yang ada di sana juga tak kalah paniknya saat melihat tubuh Salsa yang lansung ambruk tiba-tiba.
Maria tidak memperdulikan pertanyaan dari Rendi yang juga terlihat panik. Ia memerintahkan Alfredo yang baru datang untuk membantu nya membawa Salsa ke mobil.
*
Salsa kini sudah di baringkan di brankar IGD rumah sakit. Maria duduk diluar menunggu dokter memeriksa menantunya, Masih terlihat raut wajah cemas Maria saat Salsa di tangani oleh dokter.
Belum ada terpikirkan oleh Maria siapa yang menelpon Salsa tadi hingga membuat menantunya itu jatuh pingsan. karna rasa cemas nya dengan keadaan sang menantu. di tambah dengan keadaan nya yang saat ini sedang hamil muda, menambah kekhawatiran wanita paruh baya itu. Apalagi jika Zidan sampai tau, membuat wanita paruh baya itu semakin merasa takut, karna itu akan semakin memperburuk hubungan nya dengan sang anak. Masih terngiang oleh nya suara bentakan Zidan saat Salsa menghilang dulu. Tatapan mata tajam sang anak yang menghunus jantung, tersirat penuh kebencian semakin membuat hati Maria perih.
Rendi dan Santi juga ada disana, Rendi pergi dengan motornya mengiringi mobil Maria yang membawa Salsa tadi. Sedangkan Santi ikut dengan mobil Maria. kini ia sedang berdiri mengintip dari jendela ke ruang IGD melihat Salsa yang sedang di periksa dokter.
***
Di rumah sakit lain di mana dokter Erwin bekerja. terlihat Raka dengan raut wajah yang sulit diartikan, berjalan bolak-balik di depan pintu IGD, tangan nya memegang ponsel yang layar nya masih menyala.
Sudah beberapa kali ia mencoba menghubungi nomor Salsa namun tidak aktif. Padahal panggilan pertamanya tadi terhubung, dan sempat mendengarkan suara Salsa dari sambungan teleponnya, kemudian lansung terputus sebelum Raka membawa mobil nya kerumah sakit.
Tapi kini ia benar-benar butuh Salsa atau pun Maria untuk menandatangani surat persetujuan operasi, karna keadaan Zidan benar-benar kritis saat ini.
Tapi tidak sempat lagi bila ia pergi kesekolah Salsa untuk menjemput istri bosnya itu. Karna Zidan saat ini benar-benar harus di tangani cepat di untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di bahu sebelah kanan nya. Akhir nya Raka memutuskan agar dokter melakukan tindakan operasi pada Zidan tanpa persetujuan Salsa atau pun Maria.
"Operasi saja sekarang dok, saya yang akan bertanggung jawab," ucap Raka yakin.
Dari kejauhan, tanpa Raka ketahui seorang Wanita sedang memperhatikan nya.
Wanita itu memukul tembok karna kesal nya lalu mengeluarkan ponsel, memotret gambar Raka dengan menzoom kamera nya. setelah itu ia mengirim nya ke nomor seseorang sebelum melakukan panggilan suara.
"Jangan harap aku akan membayar kalian!" ucap wanita itu kemudian memutuskan sambungan telepon nya.
***
"Dokter bagaimana keadaan putri saya?" tanya Maria dengan cemas nya, saat dokter baru saja keluar dari ruang IGD memeriksa Salsa.
Dokter wanita itu menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan Maria, pandangan nya melihat pada Santi dan Rendi yang juga ada di sana.
__ADS_1
"Sebaik nya kita bicara di dalam nyonya," dokter itu melangkah masuk di ikuti Maria di belakang nya. Maria mendekati brankar, melihat secara dekat tubuh menantunya yang masih memejamkan mata dengan selang infus di pergelangan tangan nya.
"Nyonya tubuh pasien saat ini sangat lemah, tapi beruntung janin di rahim nya masih bisa bertahan. Tapi saya khawatir jika ini sering terjadi akan mempengaruhi perkembangan janin nya atau pasien bisa saja mengalami keguguran nantinya."
Dada Maria begitu sesak saat mendengar penuturan dokter itu, ia tidak mau jika harus kehilangan calon cucunya yang masih berada di rahim menantunya, yang sudah dianggap seperti putri nya sendiri.
"Terus apa yang harus saya lakukan dok?" Maria menatap pada dokter wanita itu dengan bola mata yang berkaca-kaca.
"Untuk saat ini hindarilah pasien, dari hal-hal yang membuat dia ketakutan, stres, atau pun pun terkejut. Untuk meriksa lebih lanjut kesehatan pasien hanya bisa di lakukan jika kandungan nya sudah berusia tiga sampai empat bulan,"
Maria kembali menatap Salsa, memegang satu tangan nya.
"Kapan dia akan bangun dok?"
"Sekarang pasien sudah bisa di pindah kan ke ruang inap,"
"Sebentar lagi dia juga akan sadar nyonya, dan ingat lah pesan saya tadi, jangan membuat dia stress atau pun sedih. Karna itu sangat berpengaruh pada janin nya,"
***
Salsa kini sudah di pindahkan keruang inap. Maria sedikit bernafas lega karna tidak terjadi hal yang terlalu fatal pada menantunya. Seperti teringat sesuatu ia lalu meraih mengambil tas Salsa. Ia ingin tau siapa yang menelpon menantunya tadi hingga membuat dia pinsan.
Maria mengaktifkan kembali ponsel Salsa yang tadi nya nonaktif akibat terjatuh di lantai sekolah. Ia membuka menu kontak, melihat panggilan terakhir yang di jawab oleh Salsa tadi.
Apa yang di katakan Raka sampai membuat Salsa terkejut?
Maria bertanya dalam hati. Ia hendak menghubungi kembali nomor Raka. Tapi tiba-tiba Santi yang berada di luar masuk ke dalam ruangan itu.
"Tante, di luar ada orang yang mencari," ucap Santi memberitahukan.
Maria kembali meletak kan ponsel Salsa di atas meja nakas di samping ranjang pasian. Lalu ia berjalan keluar.
"San, tolong jagain Salsa sebentar ya," ucap Maria saat melewati Santi yang berdiri tidak jauh dari ranjang pasien.
Santi mengangguk lalu duduk di tempat Maria duduk tadi di samping ranjang pasien.
Di luar ruangan Maria melihat Jefri yang berdiri di samping pintu, sedang kan Rendi duduk di bangku yang tersedia di samping kamar. Alfred dan para pengawal nya yang lain juga berdiri tegap di Koridor di depan kamar itu.
"Ada apa Jefri?" tanya Maria.
__ADS_1
"Nyo-nyonya, ada hal penting dari tuan Raka yang ingin saya sampaikan," jawab Jefri terbata.
"Hal penting apa? katakan lah," Maria memandang wajah Jefri yang terlihat gugup. Tapi Jefri malah melihat Rendi yang terlihat asyik sedang memainkan ponsel nya, seakan Jefri tidak ingin jika ucapan nya akan di dengar orang lain.
Maria lalu berjalan ke Koridor agar sedikit menjauh dari Rendi diikuti Jefri di belakang nya.
"Sekarang katakan lah!" Maria kini menjadi penasaran saat melihat wajah Jefri yang terlihat tegang.
"Tu-tuan Zidan sekarang ada di rumah sakit nyonya,"
Maria menyipitkan matanya karna tidak paham dengan ucapan yang di sampaikan Jefri. "Katakan lah yang jelas jeff,"
"Tuan sekarang ada di rumah sakit karna mengalami luka tembak, nyonya" ucap Jefri.
Maria seketika menutup mulutnya, tubuh nya tiba-tiba bergetar saat mendengar kabar itu. Ia memegang tiang yang ada di Koridor itu untuk menahan tubuh nya agar tidak jatuh.
Alfred yang melihat segera menghampiri Maria.
"Zi. Hiks.....hiks.....,"
Alfredo memapah tubuh Maria, membawa nya ke bangku yang tidak jauh dari Maria berdiri.
Dari arah kamar inap, Santi berjalan bergegas mendekati Maria.
"Tante! Salsa sudah bangun, tapi dia terus saja menangis, dan ingin pergi menemui suami nya, jarum infus nya pun sudah ia cabut sendiri."
Maria yang masih terpukul mendengar kabar putranya. Ditambah mendengar ucapan Santi, tentang keadaan Salsa membuat ia semakin terpukul.
Aku tidak boleh lemah, anak dan menantuku sangat membutuhkan ku saat ini.
ia menyemangati diri sendiri, menghela nafas panjang sebelum berdiri dari duduk nya dan lansung melangkah ke kamar inap Salsa.
"Sayang, jangan bangun dulu," ucap Maria yang baru saja masuk ke ruangan inap, ia melihat Salsa yang sudah duduk di pinggir ranjang pasien, dengan kaki yang sudah menyentuh lantai.
"Ma, antar kan Salsa ke tempat mas Zidan ma, antar kan Salsa sekarang ma," pinta nya dengan air mata yang sudah mengucur deras.
Maria yang telah duduk di sampingnya memeluk tubuh menantunya itu untuk menenangkannya.
"Tenang lah dulu sayang, Zidan baik-baik saja," Maria membujuk menenangkan agar menantunya itu tidak larut dalam kesedihan nya.
__ADS_1
"Ma, Salsa mau ketemu mas Zidan ma, Salsa mau ketemu mas Zidan," Salsa terus menangis meminta Maria untuk membawa nya bertemu Zidan. Padahal mertua nya itu juga terpukul saat mendapat kabar dari Jefri. Tapi ia juga teringat kata dokter agar menjaga perasaan sang menantu agar tidak sedih, apalagi jika sampai stress, itu sangat lah buruk untuk nya.
"Ya sudah, sekarang kamu tunggu di sini dulu ya, mama mau bertemu dokter," Maria berjalan keluar. Ia terlebih dulu menemui Alfredo, memerintah kannya untuk mencari pelaku penembakan putra nya. Setelah itu ia pergi menemui dokter untuk memeriksa Salsa sebelum membawa nya pergi ke rumah sakit tempat Zidan di rawat.