Om CEO Galak Itu Suamiku

Om CEO Galak Itu Suamiku
Curiga


__ADS_3

"Nyonya, diluar ada seorang wanita mencari Nyonya," ucap seorang penjaga.


Itu pasti Diana? 


batin Salsa.


Lalu ia pun berdiri melangkah ke luar memastikan sendiri. Benar saja, di luar pagar berdiri seorang wanita yang menggunakan baju kebaya dan kain batik sembari tersenyum padanya.


"Kamu Salsa kan?" tanya wanita itu melangkah mendekati Salsa lalu mengulurkan tangan.


"I-iya, " jawab Salsa tersenyum kikuk menjabat tangan wanita itu.


"Aku Diana, " ucap nya memperkenalkan diri.


"Aku Salsabila, " balas Salsa yang masih canggung.


Pandangan Diana mengedar di sertai badan nya berputar, melihat bungunan mewah di hadapannya.


"Wah, rumah kamu besar dan bagus banget, " ucap Diana mengagumi.


Salsa hanya tersenyum canggung, menanggapi ucapan wanita cantik yang umurnya lebih tua dari nya.


"Silahkan masuk Kak Diana, " pinta Salsa ramah.


"Jangan panggil aku Kakak, panggil saja Diana, " balas Diana mengakrab kan diri.


"I-iya Diana silahkan masuk, "


Salsa membiarkan Diana melangkah di depan nya. Mata Diana masih mengedar, menatap bangunan megah itu melihat kiri dan kanan di ikuti gerak tubuh nya yang ikut berputar.


"Silahkan duduk Diana, "


"Terimakasih, " balas Diana lalu duduk di sofa. Pandangan nya masih mengedar. seperti mencari seseorang.


"Suami kamu mana Salsa? " Diana menatap Salsa yang duduk di sofa sebelah nya.


Dari mana dia tau aku punya suami? Perasaan aku belum mengatakan itu pada nya. Ah. Mungkin saja dia tau karna melihat perutku yang besar ini. 


batin Salsa di dalam hati.


"Salsa! " Panggil Diana membuat Salsa tersentak.


"I-iya."


"Suami kamu mana? " ucap Diana mengulangi pertanyaan yang sama.


"Dia kerja, " balas Salsa singkat.


****


Setelah dua jam lebih Diana berada di sana. Ia pun pamit pulang.


"Aku pulang dulu ya, Salsa. Tolong bicarakan dengan suami mu permintaan ku tadi ya, " Diana memeluk tubuh Salsa setelah itu melangkah mendekati tukang ojek yang akan mengantarkan nya pulang.


"Iya, nanti aku sampaikan, " balas Salsa.


Setelah saling melambaikan tangan, Salsa berbalik badan masuk ke dalam mension dengan dahi yang berkerut.

__ADS_1


'Kok aneh ya, katanya dia dari kampung. Tapi kok logat bahasa dan wajah nya tidak seperti orang dari kampung. Mana wajah nya glowing. Tapi bagaimana jika dia benar-benar butuh pekerjaan saat ini. Au ah, mending aku telpon Mas saja. Kangen juga'. 


batin nya lalu mengeluarkan ponsel dari saku rok, mencari nomor kontak Zidan dan menelpon nya.


"Ya, ada apa sayang, " sahut Zidan saat sambungan telepon sudah terhubung.


"Mas, lagi ngapain? Masih lama nggak pulang nya? " tanya nya sambil terus melangkah ke ruang utama.


"Sayang, seperti nya Mas tidak bisa pulang siang ini. " jawab Zidan.


Mendengar jawaban Zidan. Salsa lansung memutus kan sambungan telepon nya.


Di kantor. Setelah Salsa memutuskan sepihak sambungan telepon nya, Zidan menghubungi kembali nomor ponsel Salsa namun tak ada jawaban.


'Argh......, Raka sialan! Semua ini gara-gara kau!'


umpat nya kesal. Ya, asisten pribadi nya itu tadi memang meminta izin sebentar. Namun, sampai sekarang belum juga terlihat batang hidung nya kembali ke kantor. Bahkan Zidan juga sudah berkali-kali menghubungi nomor ponsel nya tapi tidak aktif.


****


Di tempat lain. Sepasang kekasih yang lagi hangat-hangat nya menjalin kasih. Berjalan mengitari lantai dua sebuah pusat perbelanjaan. Tangan si Gadis memeluk erat lengan Laki-laki di sebelah nya.


"Abang, sampai kapan kita begini? Kenapa abang seperti takut sangat jika bos Abang itu tau hubungan kita? " tanya sang gadis.


Belum sempat Laki-laki itu menjawab.


"Santi! Raka! " panggil Maria menyapa mereka.


'Gawat, gawat, gawat! Kenapa Nyonya besar ada disini? Bagaimana jika bos tau nanti. Bisa mati aku, '


Gumam Raka merasa cemas sambil menolehkan wajah nya ke samping.


Raka seketika menepiskan tangan Santi yang memeluk lengan nya.


"Maaf Nyonya saya harus pergi, " ucap Raka lalu membalikkan badannya.


"Lho, kok pergi. Santai saja Raka, tante dulu juga pernah muda, " ujar Maria.


Santi lalu mencium punggung tangan wanita paruh baya itu.


"Santi kenapa tidak pernah main kerumah? " tanya Rita, namun Santi malah memandang Raka yang memalingkan wajah nya kearah lain.


"A-anu tante, "


"Kalian kenapa jadi aneh begini? " timpal Maria sambil terkekeh pelan.


"Udah, kalian lanjutkan lagi, tante pergi dulu, " sambung Maria berlalu pergi. Seakan mengerti kehadirannya membuat suasana menjadi canggung.


Setelah Maria pergi, Raka kembali membalik kan badan melihat Santi yang memasang wajah cemberut.


***


Sore hari nya. Setelah mengantarkan Santi pulang, Raka kembali datang ke kantor. Dengan perasaan cemas, ia melangkah menuju ruangan Zidan. Tentu ia menyadari jika dirinya akan di marahi nanti jika bertemu dengan bos nya. Sebelum mengetuk pintu, Raka menghela nafas panjang sambil berdoa agar tidak mendapatkan amukan dari Zidan.


Tok, tok, tok


"Masuk, " ucap Zidan dingin.

__ADS_1


Raka melangkah masuk kedalam ruangan itu dengan wajah tertunduk.


"Dari mana saja kau? " suara Zidan terdengar tidak bersahabat.


"A- a- Anu.. Bos-"


"Anu, anu. Anu apa? Aku tanya kau dari mana! " potong Zidan menatap nya tajam.


"Sa-saya dari a-anu bos, " jawab Raka terbata.


"Ah! Pergi lah. Anu, anu, "


Raka lalu membalikan badan nya hendak berlalu.


"Tunggu! Sekarang aku mau pulang. Kau ringkas semua data-data ini, lalu kirimkan ke email ku, " ucap Zidan lalu berdiri dari duduk nya melenggang meninggal kan ruang kerja nya.


"Baik bos, " balas Raka merasa lega.


***


Sampai di mension Zidan lansung melangkah menuju kamar ketika matanya tak menemukan Salsa di ruang utama. Dan benar saja ketika pintu kamar terbuka. Ia melihat Salsa tidur di ranjang. Zidan melangkah pelan sambil tangan nya membuka jas serta melonggarkan dasi yang melilit leher nya.


Lalu Ia menghempaskan diri nya duduk di samping ranjang. Menatap wajah teduh Salsa yang terlihat tidur begitu pulas.


Pandangan nya turun kebawah melihat perut Salsa yang semakin membesar. Zidan mengusap lembut perut istrinya itu. Lalu mencium nya.


Tubuh Salsa menggeliat kelopak matanya seketika terbuka.


"Maaf ya sayang. Mas membangun kan mu. " ucap Zidan sambil membelai puncak kepala istrinya.


Salsa mengangkat kedua tangan nya keatas, melingkarkan ke leher Zidan.


"Cium dulu, " pinta nya manja.


Zidan tersenyum senang dan lansung melabuhkan kecupan nya di kening, dan bibir Salsa.


"Mas... Kan teman aku tadi, datang kesini. Terus dia cerita, kalau ibu nya di kampung lagi sakit. Dia lalu membulatkan tekat datang ke jakarta untuk mencari pekerjaan, agar bisa membantu biaya rumah sakit Ibunya. "


"Dia sudah mencari pekerjaan di mana-mana. Tapi, sampai sekarang ini belum dapat juga. Kira-kira Mas bisa nggak memberikan dia pekerjaan di sini, " ujar Salsa panjang lebar.


"Teman mu. siapa? " tanya Zidan dengan alis mata bertaut.


"Aku juga baru kenal sih dengan nya tadi malam di media sosial, " jawab Salsa jujur.


"Lalu, kamu mengajak nya kesini? " tanya Zidan dengan nada suara sedikit naik.


Salsa mengangguk pelan, bibir nya sedikit bergetar mendengar perkataan Zidan tadi.


Zidan mengusap wajah nya kasar ketika melihat perubahan raut wajah Salsa.


"Sayang, Mas minta maaf. Mas hanya khawatir saja dengan mu, tidak seharus nya kamu lansung percaya pada orang asing, " tutur Zidan berusaha memelankan ucapan nya.


"Tapi dia baik kok Mas, " lirih Salsa membela diri.


"Baik lah, baik lah. Dia bisa apa? " pasrah Zidan terpaksa mengalah.


"Mas mau bantu dia? " tanya Salsa seketika duduk diatas ranjang.

__ADS_1


"Iya, " Zidan mengangguk pelan.


"Terimakasih Mas, " Salsa berhambur kepelukan nya.


__ADS_2