
Tidak berapa lama, Marni kembali lagi datang mengetuk kamar zidan, ia membawa baskom kecil yang berisi batu es serta handuk kecil yang zidan minta
Zidan mendekati Salsa yang duduk di tepi ranjang, dengan membawa baskom yang di berikan marni tadi, lalu berjongkok diantara kaki Salsa yang terjuntai ke lantai.
"Om mau ngapain?" Pekik Salsa dengan merapatkan ke dua pahanya serta menutupinya dengan ke dua tangan.
"Ish, mesum saja yang otak kecil mu itu pikirkan, apa kamu lupa apa kata dokter tadi!" ketus zidan dengan menatap Salsa sinis.
Zidan kemudian membasahkan handuk kecil itu dengan air yang ada di baskom lalu menempelkan nya di kaki Salsa.
"Biarkan saja seperti itu!" ucap zidan setelah menempelkan handuk basah itu di kaki salsa, ia lalu bangkit dan berjalan ke kamar mandi.
Ponsel zidan yang terletak di atas nakas bergetar.
Salsa yang penasaran memberanikan diri mengintip layar ponsel itu. niken, nama pemanggil yang tertera di layar ponsel itu.
1 kali panggilan tak terjawab karna zidan masih di dalam kamar mandi. Tidak lama ponsel zidan kembali bergetar. Zidan yang telah keluar dari kamar mandi segera mendekati dan meraih ponsel itu, zidan menggeser tombol merah di layar ponselnya sebelum memasukkan ke dalam kantong celananya.
Salsa yang sudah lama ingin tau siapa Niken, memberanikan dirinya bertanya.
"Kenapa om tidak menjawab panggilan itu," tanya salsa yang menunduk memainkan Jemarinya.
"Tidak penting," jawab zidan singkat. lalu kembali berjongkok di antara kaki salsa, mengangkat handuk kecil itu dan merendam nya lagi ke dalam baskom, kemudian menempelkannya kembali ke punggung kaki salsa.
"Om, boleh nggak saya bertanya!" ucap Salsa sembari menatap ramput hitam zidan tepat di bawahnya.
"Apa?" balas zidan singkat.
"Nona niken itu siapa? Apa dia pacar om?" tanya Salsa yang masih menunduk memainkan jemarinya.
"Kenapa dia bertanya seperti itu? apa dia melihat ponsel ku tadi? apa dia cemburu? Wah Menarik sakali," batin zidan.
"Iya," jawab zidan singkat yang masih berjongkok diantara kaki Salsa.
"Hah, benarkan dugaan aku, si niken itu pacar nya si om ini," batin salsa.
Ponsel dalam kantong celana zidan kembali berbunyi, ia bangkit dan meraih ponsel itu, melihat di layar ponselnya tertera nama Raka. Zidan tersenyum kecil sebelum mengangkat sambungan telepon dari Raka itu.
"Ya hallo sayang," ucap zidan sembari berjalan menjauhi Salsa.
__ADS_1
"Hallo bos ini saya Raka," balas Raka meyakinkan siapa dirinya.
"Iya sayang aku tau," balas zidan mesra.
"Bos, saya Raka bos," ucap Raka sedikit teriak.
"Iya sayang, aku juga kangen kamu," balas zidan lebih mesra lagi, serta nada suara yang di buat seramah mungkin, saat ia melihat wajah Salsa yang tertunduk itu sudah memerah, di sertai bibir nya yang maju ke depan seperti membaca sebuah mantra.
"Bos, saya Raka bos, Raka bos. Er ara ke aka, Raka," ujar Raka yang mulai cemas dengan tingkah bosnya, sampai harus meng ejakan nama nya sendiri, siapa tau bos nya lupa pikir Raka
"Iya sayang, muach, muach." balas zidan kemudian mematikan sambungan telepon nya. Zidan pun segera me non aktifkan ponsel nya karna tidak ingin Raka menghubungi nya kambali. Pastinya Raka mengira zidan saat ini sedang di rasuki setan bucin.
Zidan kembali berjalan mendekati Salsa, seperti tidak terjadi apa-apa.
"Sama cewek lain bisa mesra, coba kalau sama aku, hisss," gerutu Salsa dengan mengepalkan tangan nya kuat.
"Kamu kenapa?" tanya zidan, yang kini sudah berdiri di samping ranjang, meletakkan ponsel nya di nakas.
"Tidak usah pedulikan saya, teleponan saja terus sama pacar om itu," gerutu Salsa seraya memalingkan wajah nya ke samping.
Zidan tersenyum tipis, tapi hatinya tertawa lepas.
"Oo-, dia cuma menye nye nye nye nye," gerutu Salsa seperti menirukan ucapan zidan, dengan mulut yang di majukan ke depan.
Zidan tidak kuat lagi menahan tawanya, kembali ia masuk ke kamar mandi untuk melepas kan nya.
"Sama cewek lain bisa ngomong mesra seperti itu, coba sama aku, huff, bukan main kasar nya." Gerutu Salsa bicara sendiri.
Salsa menepis kan handuk di kaki nya itu, lalu mengambil satu bantal dan menggigitnya kuat.
"Arrrrrrrrrrrrg," Salsa melepaskan kesal.
Tiba-tiba ponsel nya berbunyi, ia melihat nama Raka tertera di layar ponsel nya.
"Halo nyonya, apa bos lagi bersama nyonya?" suara raka lansung terdengar setelah Salsa menggeser tombol panah hijau dan mendekatkan ponsel nya ke telinga.
"Tidak ada, dia sudah pergi," jawab Salsa yang masih kesal.
"Maaf nyonya, apa nyonya tau bos pergi kemana?" Raka kembali bertanya.
__ADS_1
"Tidak tau! kerumah pacar nya mungkin, sudahlah! Salsa pusing, abang jangan tanya-tanya dia lagi sama Salsa," ketus Salsa, lalu memutuskan sambungan telepon nya.
Zidan keluar dari kamar mandi berjalan mendekati Salsa.
"Hish, kenapa kamu membuang kompres nya, kan sudah di katakan dokter biarkan selama 20 menit." panik zidan yang lansung berjongkok, meraih handuk yang sudah di tepiskan Salsa tadi.
Tapi Salsa malah berbaring di ranjang itu, menaikan kedua kaki nya serta menutup wajah nya ke bantal.
Zidan mendengar suara isak tangis di kamar nya itu.
"Kenapa dia menangis? Apa dia tadi benar-benar cemburu?" batin zidan.
Zidan bangkit dan duduk di pinggir rancang di sebelah Salsa berbaring, dengan helaan nafas panjang serta mengumpulkan segenap keberaniannya.
Zidan mengusap pelan bahu Salsa, tapi Salsa menipis kan nya.
"Om pergi Saja keluar!" Teriak Salsa dengan suara serak nya. Suara yang membuat hati zidan tergores sakit karena nya.
"Keluar lah, om keluar lah," ucap Salsa di sela tangisan nya.
Zidan hanya bisa pasrah, melangkahkan kaki nya berjalan keluar, Sesekali ia menoleh melihat Salsa yang masih menangis menempelkan wajah nya di bantal.
Ceklek!
Ceklek!
Menandakan pintu di buka dan di tutup kembali. Salsa segera duduk, mengangkat wajah nya dari bantal yang telah membuat ia susah untuk bernafas.
"Kanapa aku tadi menangis? Kenapa juga aku kesal? Dia kan cuma menikahi aku karna terpaksa. duhhh, bodoh nya aku, sampai berharap yang bukan-bukan, pasti dia akan marah lagi," batin Salsa menyesal.
Zidan yang sudah berada di luar kamar, hanya berdiri di depan pintu, berjalan bolak-balik memikirkan bagaimana caranya membujuk istrinya saat ini.
Zidan teringat saran Raka waktu itu, untuk melihat nya di internet, tapi sayang nya ponsel nya tertinggal di dalam.
Tanpa pikir panjang lagi, zidan lansung meraih dan memutar handle pintu itu.
Ceklek!
Zidan melihat Salsa yang sudah duduk di ranjang, lalu ia berjalan mendekati nakas di samping ranjang itu. tanpa melihat ke arah Salsa, zidan meraih ponsel nya dan kembali keluar.
__ADS_1