
Malam itu Rocky menjalankan rencananya. Di bantu Samuel dan togar, ia membuat kekacauan di kasino milik Hendro yang membuat pengunjung berhamburan keluar. Ia juga menembaki beberapa orang anak buah Hendro yang ada di sana.
Pastinya Rocky terlebih dahulu juga sudah mengamankan CCTV yang ada di sana. Setelah melakukan aksi nya, ia mengganti pakaian yang di pakai nya dengan pakaian biasa.
Lalu ia menelpon Hendro memberitahukan kejadian penyerangan di kasino yang di jaganya malam itu.
Hendro begitu murka saat mendengar kabar dari Rocky atas penyerangan di kasino miliknya. Selama ini, ia merasa tidak ada musuh yang berani padanya. Apalagi yang berani terang-terangan mengusik nya.
Malam itu juga, Hendro menuju lokasi penyerangan. Ia diantar sopir dan beberapa orang pengawalnya.
Hendro turun dari mobil, melihat ke sekitar bangunan kasino nya yang sudah porak poranda. Beberapa lampu ada juga yang padam, karna di tembak oleh Rocky dan dua orang temannya.
Amarah Hendro semakin memuncak saat melihat mayat anak buah nya yang tergeletak karna di tembak di bagian kepala.
"Siapa yang melakukan ini Rocky?" tanya nya dengan suara yang bergetar.
"Maaf tuan, saya belum bisa memastikan nya, tapi menurut saya kemungkinan ini adalah perbuatan Zidan." jawab Rocky.
"Zidan? maksud mu, Zidan Alvero? Kenapa kau bisa lansung menuduh nya Rocky?" tanya Hendro yang tidak begitu yakin dengan jawaban Rocky.
"Karna ada dua alasan tuan. Yang pertama mungkin sekarang dia sudah tau, waktu saya menyusup ke markas nya, mengambil beberapa senjata nya. Dan, alasan yang kedua, karna di kota ini, tidak ada orang yang berani dan senekat dia tuan," tutur Rocky.
Sejenak Hendro diam, mencerna kata-kata dari Rocky.
"Bereskan kekacauan ini, dan segera kebumikan mayat mereka," titah Hendro kemudian.
"Kenapa kita tidak membalas mereka saja tuan, hutang nyawa harus di bayar nyawa. Jangan biarkan dia menginjak-injak kepala mu tuan," ucap Rocky yang terus menghasut.
"Aku juga tidak akan membiarkan orang lain menginjak-injak harga diriku Rocky, tapi kita tidak boleh gegabah, kita harus pastikan dulu, dan kita juga harus menyusun rencana untuk melawan nya," tegas hendro seraya berjalan masuk kedalam kasino miliknya.
Dasar tua bangka lemah, kau itu tidak pantas jadi pemimpin. umpat Rocky di dalam hati.
*
Pagi hari di mension Zidan.
Salsa lansung duduk diatas ranjang, saat melihat jam yang terpaku di dinding sudah menunjukkan pukul setengah delapan pagi.
Aaaarg...! Kenapa aku bisa telat bangun sih? umpatnya kesal.
"Mas......... Mas........ Mas........" teriak nya ketika tidak melihat Zidan ada di kamar.
"Mas kemana sih? Pagi-pagi udah menghilang saja, bukan nya bangunin istrinya, ini malah pergi entah kemana?" Salsa terus saja mengoceh sendiri.
Salsa lalu turun dari ranjang, berjalan ke kamar mandi membersihkan badannya.
Selepas dari kamar mandi ia pergi keluar kamar mencari Zidan.
"Nyonya Mau kemana?"
Baru saja ia membuka pintu kamar, sebuah suara mengagetkan nya.
__ADS_1
"Aduh, bibi ngapain sih berdiri disini?" gurutunya sembari memegang dada.
"Maaf nyonya," sesal Marni, menunduk kan kepalanya. Ia memang di suruh Zidan, berdiri di samping pintu kamar, menunggu hingga Salsa keluar kamar.
"Salsa kaget tau, Bi!"
Marni hanya menunduk kan kepala nya diam.
"Bi, lihat mas Zidan nggak?" tanya Salsa sembari mengedarkan pandangan menoleh ke kiri dan kanan.
"Tuan sudah berangkat ke kantor nyonya." jawab Marni.
"Iiiiih!! kenapa mas nggak bangunin aku dulu sih? malah berangkat ke kantor sendirian," ia mengoceh kesal sendiri.
Kriiing
Kriiing
Kriiiing
Marni berjalan mendekati suara telepon yang berdering di ruang utama.
"Nyonya, tuan ingin bicara dengan anda." ucap Marni setelah mengangkat sambungan telepon itu.
Salsa menghentak kan kaki nya berjalan mendekati Marni yang masih memegang gagang telepon.
"Mas, kenapa gak bangunin aku sih?" tanya Salsa marah dari sambungan telepon.
"Mas tuh yang udah tua." sungut Salsa.
"Gimana aku gak marah, gara-gara Mas aku gak berangkat sekolah hari ini," imbuhnya.
"Ooo itu, mas udah meminta izin kesekolah kamu tadi dan selama kamu sakit, Kamu bisa mengikuti pelajaran dari rumah saja," ujar Zidan.
"Iiiiiiih.....Tapi aku nggak sakit mas," gerutunya.
"Pokok nya besok aku mau sekolah,"
"Ini perintah suami mu Salsabila!!" suara Zidan terdengar tegas.
Salsa diam saat mendengarkan intonasi kata-kata Zidan yang tegas padanya.
"Sekarang sarapan, dan minum obat mu," titah Zidan kemudian memutuskan sambungan telepon nya.
Nyebelin, nyebelin, mas itu paling nyebelin." kesal nya bicara sendiri.
"Nyonya sarapannya sudah siap," ucap Marni yang sudah berada di dekatnya.
Salsa tidak menjawab ia malah pergi ke kamar dan mengunci pintu nya.
Marni berjalan mendekati pintu kamar.
__ADS_1
"Nyonya, sarapan lah dulu, nyonya," ucap Marni dari balik pintu.
Tidak lama, Marni yang masih berdiri di samping pintu kamar Salsa, mendengar keributan dari luar. Ia pun berjalan keluar untuk melihatnya.
Diluar Marni melihat Maria dan para pengawalnya sedang bersiteru dengan satpam yang berjaga
"Maaf nyonya, ini perintah tuan Zidan, anda di larang masuk," tegas satpam itu pada Maria.
"Saya hanya ingin berjumpa menantu saya, sebentar saja," jawab Maria yang bersikukuh ingin masuk.
Marni segera masuk ke dalam mension mengetuk kembali pintu kamar Salsa.
"Nyonya, diluar ada nyonya Maria." ucap Marni seraya mengetuk pintu kamar.
Tidak lama pintu pun terbuka. Salsa keluar mengedarkan pandangan nya melihat ke sekitar ruangan utama itu. lalu menatap Marni.
"Mereka ada di luar nyonya, penjaga tidak mengizinkan nya masuk," ucap Marni.
Salsa pun berjalan keluar di ikuti Marni di belakangnya. masih berada di pintu utama ia mendengar keributan dari balik pagar.
"Pak, buka pintu nya," ucap Salsa yang mengintip dari balik pagar.
"Tapi nyonya tuan tidak mengizinkan nya,"
"Udah nggak apa-apa pak, saya yang bertanggung jawab," potong Salsa.
"Baiklah nyonya,"
Gerbang tinggi itu pun di buka lebar oleh satpam yang berjaga.
"Ma...." panggilnya seraya berjalan cepat kearah Maria saat pintu gerbang itu di buka.
Begitu pun Maria berjalan mendekati Salsa.
"Sayang..... Mama kangeen banget sama menenatu Mama yang cantik ini," ucap Maria sembari memeluk tubuh Salsa.
"He he he he,"
"Mama bisa aja," balas Salsa tersipu malu.
"Ayo ma kita masuk," ajak Salsa.
Mereka pun masuk ke dalam mension itu dengan saling memeluk lengan, dan duduk di sofa ruang utama.
"Sayang..., bagaimana? Apa sekarang kamu merasa lebih baikan?" tanya Maria saat mereka sudah duduk di sofa.
"Salsa udah baikan sih ma, udah sehat malahan. cuman mas Zidan tuh nggak ngizinin Salsa sekolah," adu nya pada Maria.
Maria membelai lembut rambut menantu nya itu.
"Menurut mama itu Wajar, karna anak mama itu sangat menyayangi istrinya. Jadi dia tidak ingin kamu dan calon anak nya ini kenapa-napa," ucap Maria seraya mengusap lembut perut Salsa.
__ADS_1
"Anak??" Bola mata dan mulut Salsa membola.