
Setelah dari rumah sakit. Salsa meminta diantar lansung pulang ke mension. Ia sudah tak sabar ingin segara membagikan kabar baik itu pada Ibu dan Mertuanya. Tentu Ibu dan Mertuanya akan ikut bahagia mendengar kabar baby twins yang di kandung nya.
Setiba di mension, Salsa bergegas keluar dari mobil melangkah cepat memasuki mension. Dari pintu utama ia sudah berteriak memanggil Ibu dan mertuanya. Hingga suara Zidan yang menegurnya di belakang tak ia hiraukan.
"Mama, ...... Ibu, ..... Salsa sudah pulang, " teriak nya sambil terus melangkah masuk ke dalam mension.
"Kok sepi? Pada kemana ya? "
"Mama, .... Ibu, ....... "
Marni yang mendengar teriakan Salsa, tampak tergopoh-gopoh melangkah ke ruang utama.
"Mereka sedang keluar nyonya." ucap Marni memberi tahu.
"Kemana bi? " tanya Salsa.
"Bibi juga tidak tahu Nyonya, tadi bibi hanya mendengar Nyonya besar memanggil Bu Rita. Setelah itu Bibi tidak melihat mereka lagi, " jawab Marni.
"Yah, Mama nggak dirumah Mas, "
"Kan bisa sampaikan nanti sayang, " Zidan merangkul pundak Salsa sambil melambaikan tangan nya menyuruh Marni pergi.
Lalu, ia memutar otak agar bisa mengajak istri nya untuk menuntaskan hasrat yang sejak dari rumah sakit tadi sudah datang.
"Sayang, " panggil nya dengan suara berat.
Salsa menoleh melihat wajah Zidan yang sedikit merah.
"Mas kenapa? " Salsa mengernyitkan dahinya.
"Sayang, kamu mau itu tidak---?" suara Zidan semakin terdengar berat.
"Mau itu apa? " tanya Salsa dengan kedua alis terangkat naik.
Zidan lalu memaju-majukan bibirnya menunjuk ke dada Salsa.
"Iiih, dasar mesum, " dengus Salsa lalu mencubit pinggang Zidan sebelum malangkah masuk ke dalam kamar.
Zidan menyeringai kemudian mengikuti istrinya masuk ke dalam kamar.
"Sayang, ayo lah. Mas dari tadi sudah tidak tahan nih, " bisik nya yang sudah memeluk perut Salsa yang berdiri di depan cermin.
Zidan juga menggesek-gesek kan alat tempur nya yang sudah mengeras itu ke belakang tubuh Salsa. Bibir nya juga mendesah parah sambil mencium daun telinga istrinya.
Tak ada penolakan dari Salsa membuat Zidan semakin melancarkan aksinya. Hingga tubuh mereka berdua berakhir di atas ranjang.
***
Sore hari nya, Maria dan Rita baru saja sampai di mension. Salsa yang sejak tadi memang menunggu mereka di ruang utama gegas bangkit melangkah mendekati ibu dan mertuanya yang berdiri tak jauh dari duduknya.
"Mama, Ibu, dari mana aja sih? " tanya nya lalu mengambil dan mencium punggung tangan mereka yang menjinjing paper bag, secara bergantian.
__ADS_1
"Maaf ya sayang, Mama membawa besan tanpa memberitahukan mu terlebih dahulu, "
"Emang nya dari mana Ma? " tanya Salsa penuh selidik.
"Biasa sayang, pergi shoping," jawab Maria mengangkat paper bag di tangan nya.
"Iih, Mama perginya nggak ngajak-ngajak, " rajuk nya dengan wajah menunduk disertai bibir yang mengerucut.
"Sayang, bukan nya kamu tadi kerumah sakit? Bagaimana Mama akan mengajak mu, "
Seketika Salsa teringat sesuatu kala mendengar kata rumah sakit yang di ucap kan Maria. Kemudian Ia mengangkat wajahnya, memandang Ibu dan Mertuanya secara bergantian dengan sunggingan senyum yang membuat Maria dan Rita saling pandang.
"Ma, Bu. Hari ini Salsa ingin menyampaikan kabar bahagia, buat Ibu dan Mama, " ucap nya berbinar.
"Wow! Tampak nya serius sakali sayang, kabar bahagia apa itu? " tanya Maria yang sudah tak sabar.
Salsa menoleh melihat Zidan yang duduk di sofa. Lalu mengusap dan menunjuk perut nya sambil mengacungkan dua jari nya di depan perut.
"Maksud mu apa sayang? " Maria mengernyitkan dahinya.
"Iiih. masa mama nggak paham, sih! " Salsa kembali mengulangi gerakan nya tadi kali ini di sertai gerak bibir tanpa mengeluarkan suara.
"Baby twins! " pekik Maria dengan mata yang membola sambil tangan nya menutup mulut.
Salsa mengaguk pelan menatap Ibu dan mertuanya.
"Terimakasih Sayang, " Maria memeluk Salsa dan Rita secara bergantian.
"Kamu hebat Zi! " seru Maria mengacungkan dua jempol nya pada Zidan yang duduk di sofa.
"Selamat Nak, Ibu sangat bahagia sekali, " ujar Rita memeluk Salsa penuh haru.
***
Pagi-pagi buta Raka menerima telepon dari salah satu anak buah nya yang ada di markas. Dia mengatakan jika semua tawanan yang ada di markas telah kabur semua. Kejadian nya sama percis dengan kejadian beberapa bulan yang lalu. Di mana semua orang yang ada di sana tiba-tiba di serang rasa kantuk dan seketika mereka lansung tertidur nyenyak.
Setelah mendapatkan kabar itu, Raka segera pergi ke lokasi. Ingin melihat sendiri keadaan markas saat ini.
Tiga puluh menit kemudian Raka sudah sampai di markas, ia turun dari mobil melangkah cepat masuk ke dalam bangunan itu, tujuan pertama yang ingin ia lihat adalah ruang bawah tanah tempat para tawanan di tahan. Benar saja, tempat itu sudah kosong.
.
.
Didalam kamar. Zidan sudah terlihat rapi dengan setelan formal nya. Pagi tadi sebelum ia terbangun, Raka menelpon meminta nya agar hari ini datang kekantor. Karna ada meeting penting yang harus ia hadiri.
Zidan menghampiri Salsa yang masih membungkus seluruh tubuh nya dengan selimut. Istrinya itu tengah merajuk karna Zidan hari ini tidak mengajak nya ke kantor.
"Sayang, bangun lah, " bisik nya. Namun, Salsa tidak bergeming sama sekali, ia masih diam dalam selumut.
Zidan kemudian menyingkap selimut yang menutupi kepala istri nya itu, ia duduk di pinggir ranjang. Menatap wajah Salsa yang cemberut. Senyum tipis di wajah Zidan terbit saat teringat pergumulan nya semalam.
__ADS_1
"Sayang Mas kekantor hanya sebentar kok, " bujuk nya.
Lagi, Salsa hanya diam. Mata nya mengatup kuat, hingga kerutan di sudut matanya terlihat jelas.
"Mas pergi dulu ya sayang, " Setelah mengecup bibir istri nya, Zidan berlalu pergi.
.
.
"Pagi bos, " sapa Raka yang memang sejak tadi sengaja menunggunya di lobby.
"Sudah berapa kali ku katakan pada kau Raka! jika memintaku datang kekantor, katakan dari semalam! " dengus Zidan menghunuskan tatapan tajam pada Raka.
"Maafkan saya bos karna lupa memberitahukan nya, " sesal Raka dengan wajah tertunduk.
"Gara-gara kau! istri ku merajuk pagi-pagi, " gerutunya lalu melangkah masuk meninggalkan Raka. Namun, langkahnya terhenti, mendengar Raka memanggil nya.
"Bos, bos! " panggil Raka setengah berlari mengejar langkahnya.
Zidan memutar setengah badanya melayangkan tatapan tajam pada Raka yang berdiri tidak jauh di belakangnya.
"Apa lagi?! "
"Ada kabar buruk Bos, "
"Kabar buruk apa? Cepat katakan! "
"Herman dan tawanan lain kabur bos, " ucap Raka dengan wajah tertunduk.
"Apa! Kenapa itu bisa terjadi Raka? " Zidan berbalik badan mengahadap ke arah Raka.
"Saya, juga tidak tau bos. Kajadian nya sama seperti beberapa bulan yang lalu, dimana, semua anggota kita yang ada disana tiba-tiba di serang rasa kantuk dan tertidur pulas, " tutur Raka.
"Sial! Kau tau siapa pelakunya?!"
"Saya yakin itu perbuatan Rocky bos, "
"Arggggh, " rahang Zidan mengeras, hingga terdengar suara gigi nya yang saling bergelatuk.
"Apa kau sudah dapat kan tempat persembunyian bajingan itu? "
"Belum bos. Tapi, saya sudah kerah kan orang untuk mencarinya, " jawab Raka dengan wajah tertunduk.
Zidan menghembuskan nafas kasar, melanjutkan langkah ke pintu besi yang akan
Mambawa nya menuju puncak tertinggi bangunan itu.
.
.
__ADS_1
Di ruang kerja, Zidan berdiri menatap lurus pemandangan dibalik kaca besar di ruangan itu. Rasa khawatir dan cemas menghantui pikiran nya saat ini. Tentu ia sangat tahu sekali apa yang di ingin kan Rocky serta kelicikan nya.