
Setelah menemui Maria di luar, Salsa kembali masuk ke dalam kamar inap, sedangkan Maria membawa seorang pengawalnya pergi belanja untuk membeli bahan-bahan untuk di masak nya nanti.
Sebelumnya Maria sudah mengatakan jika ia akan mengutus dua orang pelayan mension kerumah sakit, untuk membantu menjaga Zidan. Tapi Salsa menolak nya, karna ia ingin tangannya sendiri yang mengurus Zidan selama sakit. Lagian jika sudah di mension semua pekerjaannya sebagai seorang istri sudah diambil alih semua oleh pelayan, seperti memasak, mencuci, memberes kan rumah, semua di kerjakan pelayan.
"Sayang, mas merasa mual lagi. Uhuk, huk, huk," Salsa yang baru saja masuk, segera berjalan mendekati Zidan yang terbaring di atas ranjang. Salsa terlihat panik dan tidak tau harus melakukan apa. Tangannya lalu mengusap kepala dan memegang tangan Zidan secara bersamaan.
"Mas, aku panggil dokter dulu ya," ucap nya yang terlihat panik sambil mengusap lembut kepala Zidan. Karna saat itu ia melihat wajah Zidan yang sedikit pucat karna menahan rasa mual nya.
"Tidak usah! Kamu di sini saja," pinta Zidan dengan mata yang terpejam, ia merasa nyaman saat Salsa mengusap kepalanya.
Salsa hanya bisa menuruti saja. satu tangan nya terus mengusap kening sampai ke puncak kepala sang suami.
Cukup lama Salsa berdiri di samping ranjang, dengan tangan yang terus mengusap kepala Zidan. perlahan ia melepaskan tangan nya yang sejak tadi berada di kepala sang suami. Ia pikir mungkin Zidan sudah terlelap. Kaki nya pun kini terasa penat karna terlalu lama berdiri. Salsa lalu duduk di kursi samping ranjang pasien. Sambil memijit kaki yang terasa penat. Baru saja ia duduk, badan Zidan menggeliat seperti akan terbangun. Salsa kembali berdiri dan mengusap lagi kepala Zidan seperti tadi.
*
Malam hari nya Maria kembali datang mengantarkan masakan yang sengaja ia buat untuk anak dan menantunya. Zidan yang di suapkan Salsa begitu menikmati makanan itu. Sedangkan Maria menunggu diluar sampai mereka selesai makan.
Setelah makanan yang di bawa mertuanya habis, Salsa melangkah keluar untuk menemui Maria juga mengajak nya masuk kedalam.
Zidan hanya menjawab singkat saat Maria menyapa dan menanyakan keadaan nya tanpa menoleh sedikit pun. tapi sungguh, semua itu membuat Maria merasa sangat senang, karna Zidan sudah mau bicara dengan nya, meski masih terlihat acuh.
Maria juga sangat mengkhawatirkan keadaan menantunya yang seharian menjaga Zidan, tentu nya menantu nya itu juga merasa lelah dan perlu istirahat. Apalagi saat ini Salsa sedang hamil, menambah rasa khawatir wanita paruh baya yang masih terlihat anggun.
"Sayang kamu pulang lah, istrahat lah di rumah, biar mama yang menjaga Zidan malam ini," ucap Maria yang duduk bersama Salsa di sofa ruang inap pasien.
"Enggak ma, Salsa nggak capek," balas Salsa cepat. Maria tersenyum mendengar ucapan menantunya itu, pasti nya ia tau jika Salsa tidak akan bisa tidur jika di rumah sendiri tanpa suaminya.
"Ya, sudah sekarang kamu istrahat lah," Maria menggeser duduk nya kesamping sofa, lalu menyuruh Salsa berbaring di sana dengan menjadikan kedua pahanya sebagai bantal. tangan Maria juga mengusap puncak kepala sang menantu membuat Salsa semakin merasa nyaman.
Di atas ranjang pasien, Zidan merasa resah. matanya sesekali melihat ke arah sofa, dimana Salsa berbaring di atas kedua paha sang ibu. tatapan mata nya seperti tidak menyukai pemandangan yang di lihat nya itu.
Otak nya terus berpikir, bagai mana cara nya agar istrinya itu bisa tidur di sebelah nya. ia rasa ranjang pasien itu cukup untuk menampung ia dan istrinya tidur di sana.
__ADS_1
"Uhuk, huuuuk, huuuk," Zidan berpura-pura hendak muntah, suara nya pun cukup keras terdengar, untuk menarik perhatian sang istri.
Benar saja, Salsa dan Maria lansung berjalan mendekatinya.
"Mas kenapa?" Salsa kembali berdiri di samping ranjang sambil mengusap kepala Zidan.
"Mas mual lagi sayang, kepala mas juga sakit," wajah Zidan memelas seperti minta di kasihani.
"Kalau begitu aku panggil dokter ya! Ma tolong jagain mas Zidan sebentar ya," Salsa yang terlihat panik, handak pergi keluar memanggil dokter. Tapi Zidan menahan tangan nya.
"Tidak usah sayang, sekarang sudah agak mendingan," ucap nya dengan nafas yang di buat sesak.
Salsa bisa mendengar helaan dan hembusan nafas Zidan yang terdengar kasar.
"Tapi mas, aku nggak tau mesti ngapain, aku panggil dokter saja ya,"
Maria yang berdiri di belakang Salsa hanya menggelengkan kepalanya, Tentunya ia sangat hapal sekali dengan raut wajah dan tingkah sang putra yang seperti ini.
Maria kembali duduk di sofa, setelah melihat ekspresi wajah Zidan yang sangat ia hapal sekali. Tidak ada bedanya dengan wajah yang dulu sering ia lihat ketika ia bermesraan dengan alvero berdua, saat itu Zidan juga akan menarik perhatian nya dengan berpura-pura sakit, memasang wajah seperti yang ia lihat tadi.
****
Sudah setengah jam Salsa berdiri di samping ranjang dengan terus mengusap kepala Suami nya. Kaki nya kini terasa lelah karna terlalu lama berdiri. Namun mata Zidan masih terbuka nyalang, belum ada tanda-tanda akan tertidur. Sedangkan Maria sudah meringkuk di sofa ruangan itu
Zidan bisa menangkap wajah lelah Salsa yang sedikit berubah cemberut, juga usapan di kepalanya pun kini sudah terasa berbeda yang tadi nya lembut kini sedikit kasar.
"Berbaring lah disini," Zidan memang sudah menggeser tubuh nya tadi sebelum ia berpura-pura hendak muntah.
"Mana boleh mas! ini kan ranjang buat orang sakit,"
"Siapa yang bilang tidak boleh! kamu tidak lihat ranjang ini cukup luas," Zidan terus membujuk meyakinkan istrinya.
"Udah mas itu tidak usah bawel, tidur cepat!" ucapan Salsa kini berubah menjadi ketus padanya.
__ADS_1
"Berbaring lah di sini, kamu pasti sudah lelah berdiri," bujuk Zidan sambil terus memperhatikan wajah cemberut istrinya itu.
"Mangkanya mas itu cepat tidur biar aku bisa istirahat," lagi Salsa menolak tapi tangan nya masih mengusap kepala Zidan
"Mas itu belum mengantuk, kalau kamu sudah lelah, kamu istirahat lah," ucap Zidan pasrah.
"Benar mas nggak mual lagi?" ucap Salsa bertanya yang di balas Zidan dengan anggukan pelan.
Salsa lalu beranjak ke maja di dekat Maria berbaring, untuk mengambil botol minuman. Ia meneguk minuman di dalam botol hingga menyisakan sebagian.
Lalu ia kembali mendekati ranjang pasien dan duduk di kursi yang terletak di sebelah ranjang. Sungguh Zidan tidak tega melihat, saat Salsa memijat betis nya sendiri. ingin rasanya ia yang melakukan itu.
****
Sebelum Pagi menjelang Salsa terbangun dari tidurnya, dengan posisi kedua tangan memeluk tubuh Zidan dan satu tangan Zidan juga melingkar di di bahunya. Mata nya seketika nyalang, karna seingat nya ia tadi tidur di atas kursi. Batinnya terus bertanya-tanya kenapa bisa ia berada di atas ranjang. Tidak mungkin Zidan yang melakukan nya. otak nya terus saja memikirkan kenapa ia bisa berada di atas ranjang bersama Zidan.
Dengan pelan Salsa berusaha menyingkirkan tangan Zidan yang melingkar di tubuh nya, berusaha agar tidak membuat suami nya itu terbangun. Mata Salsa kini fokus melihat tangan dan selang infus yang sudah lepas dari pergelangan tangan Zidan.
Zidan pun terbangun saat Salsa hendak menyingkirkan tangan nya. Tanpa membuka mata, Zidan menahan tubuh Salsa dengan satu tangan kirinya.
Salsa melihat wajah Zidan yang masih terpejam, tapi tangan kiri Zidan begitu kuat menahan tubuh nya.
"Kamu mau kemana? Ini masih pagi," suara Zidan yang terdengar serak tapi matanya masih belum terbuka.
"Mas, kok aku bisa tidur disini?" Salsa yang masih merasa penasaran mencoba bertanya.
"Mana mas tau, mungkin kamu rindu ingin memeluk tubuh suami mu ini," Zidan menggoda sambil membuka satu matanya.
"Iiiih mana ada!" Salsa menyanggah nya cepat.
"Terus kenapa kamu bisa ada disini?" Zidan memandang Salsa dari sudut matanya.
Salsa diam, kali ini ia tidak bisa lagi menjawab kata-kata suami nya itu, karna kenyataan nya memang ia tidur di atas ranjang itu.
__ADS_1