Om CEO Galak Itu Suamiku

Om CEO Galak Itu Suamiku
Belum kenyang


__ADS_3

Sebelum pergi kedapur rumah sakit untuk memasakkan makanan untuk putranya. Maria memandang Zidan lagi, yang ketika itu masih berbaring terlentang menatap langit-langit di ruangan itu. Salsa yang berdiri membelakang juga ikut menoleh, melihat suami nya.


"Maafin mas Zidan ya ma," Salsa menatap Maria yang masih saja tersenyum, saat melihat Zidan yang acuh padanya.


"Mama pergi dulu ya sayang, tapi nanti kamu jangan bilang apapun ke suami mu ya," bisik Maria, lalu melangkah pergi setelah menyunggingkan senyum nya pada sang menantu, seakan mengisyaratkan jika ia baik-baik saja.


Ya, tentunya Maria sangat hapal sekali watak putranya itu. Ia hanya menunggu waktu sampai sang putra bisa di ajak bicara. Ia akan Menjelaskan kesalah pahaman yang bertahun-tahun terjadi.


*


Di tempat lain.


Raka mendatangi markas kalajengking, Atas perintah Maria. ia datang bersama Alfredo dan beberapa anak buahnya di dalam mobil yang berbeda.


Tin, tin, tin. 


Raka yang masih duduk di bangku kemudi, membunyikan suara klakson mobil nya. Memanggil penghuni bangunan agar keluar.


"Kalian cari siapa?!!" seorang laki-laki dengan menggunakan jaket kulit hitam berteriak dari balik pagar besi.


Raka lalu menurunkan kaca mobil, dan mengeluarkan kepalanya.


"Buka sekarang!!!! atau aku robohkan pagar itu!" Teriak Raka yang mengandung ancaman.


Tidak lama pagar besi yang menghalangi akses masuk kedalam bangunan bertingkat dua itu terbuka.


Mobil Raka masuk ke dalam, hingga ke depan teras bangunan berlantai dua itu. Di iringi mobil lain di belakang yang juga ikut masuk ke dalam. Hanya tiga mobil yang bisa masuk ke halaman bangunan itu. Mobil Selebihnya parkir di pinggir jalan.


Dua orang yang berjaga di sana saling pandang satu sama lain. Memperhatikan sosok orang yang akan keluar dari dalam mobil. Pastinya bukan orang sembarangan pikir mereka.


Raka keluar dari pintu kemudi, di ikuti Alfredo yang keluar dari pintu sebelah kiri mobilnya. Serta para anak buahnya yang bertubuh tegap dan besar berbaris di belakang Raka.


"Ca-cari siapa tuan?" tanya salah satu dari dua orang yang membuka pagar tadi.


"Panggilkan tuan Hendro sekarang," ucap Raka tanpa menoleh pada dua orang yang masih berdiri di depan pintu pagar.


Gegas dua laki-laki yang berdiri tadi masuk kedalam bangunan berlantai dua itu. Untuk memanggil orang yang di sebut Raka tadi.


Tidak lama Hendro keluar, dari dalam istananya dengan empat orang laki-laki di belakang nya. dua diantara mereka yang berjaga tadi.


"Aku kira siapa yang datang mengunjungi ku, hingga membuat penjaga ku ketakutan," Hendro terus berjalan mendekati Raka.


"Aku tidak suka ber basa-basi tuan, tujuan ku datang kesini, mencari dua orang anak buah anda," Raka mengeluarkan ponsel nya dari dalam saku celana. Lalu menunjukan pada Hendro potongan video yang sudah di copy nya dari rekaman CCTV jalan.


Raka mempause rekaman video, saat orang di dalam video menodongkan senjata. Raka juga memperbesar tampilan gambar nya, memperjelas tatto yang ada di punggung tangan orang itu.


"Jadi kamu menuduh orang di dalam video itu adalah orang ku. begitu kan Raka?" Hendro mengambil sebatang rokok dari dalam saku jas nya, lalu membakar dan menghembuskan asap nya. Tidak ada raut ketakutan di wajah laki-laki yang sudah berumur setengah abad itu.

__ADS_1


"Aku tidak asal menuduh tuan, aku menyertakan bukti nya. Sekarang terserah anda, jika anda tidak mau menyerah kan orang nya, aku sendiri yang akan mencari,"


"Terserah mu saja Raka! Yang pasti aku tak pernah berurusan dengan mu atau pun tuanmu. Jadi lakukan lah apa yang kamu mau," Hendro kembali mengisap rokok nya.


"Baiklah tuan, aku akan mencarinya sendiri," Raka membalikan tubuh nya melangkah pergi.


"Tapi Ingat tuan! Jika aku dapatkan bukti anda terlibat. Anda hanya akan mempunyai dua pilihan." ucap Raka sebelum masuk ke dalam mobil.


Berani kau mengancam ku Raka!


gumam Hendro.


***


Di rumah sakit.


Maria begitu semangat berjalan membawa makanan yang baru saja di masak nya di dapur rumah sakit. Ia sangat berharap Zidan akan memakan makanan yang di masak nya.


Di pintu kamar inap, Maria menelpon Salsa menyuruh sang menantu keluar sebentar untuk membawakan masakan nya itu pada Zidan. Maria takut jika ia sendiri yang membawanya, Zidan tidak akan mau memakan.


"Kenapa nggak masuk sekalian saja ma?" Salsa yang baru keluar, melihat Maria yang masih berdiri saat ia hendak masuk ke dalam kamar.


"Tidak sayang, mama tidak mau mengganggu kalian nantinya," Maria berkilah, sebenarnya ia takut jika sang putra tidak akan memakan masakan nya jika ia ikut masuk ke dalam.


"Mama apaan sih?" ucap Salsa yang tersipu.


Benar saja, baru saja Maria mengucap kan kata-kata itu, dari dalam kamar Zidan sudah berteriak memanggil nama nya.


"Tuh kan, Cepat masuk!" Maria sedikit mendorong tubuh menantunya itu yang berdiri di depan pintu.


"Ya sudah, Salsa masuk ya ma! tapi mama jangan pergi dulu." Salsa lalu membuka pintu kamar dan masuk kedalam.


"Mas, apaan sih! tidak di rumah, tidak disini,  kerja nya teriak-teriak saja!" ucap Salsa sedikit kesal yang berdiri tidak jauh dari Ranjang pasien.


"Siapa yang menelpon tadi?" tanya Zidan dengan suara sedikit meninggi.


"Nggak ada!" Salsa berjalan mendekati ranjang pasien lalu meletakkan kotak makanan yang berisi masakan Maria tadi di atas meja nakas.


"Terus kenapa kamu keluar?" tanya Zidan penuh selidik.


"Dan Itu apa?" imbuh nya saat melihat kotak makanan yang di letakkan Salsa di meja nakas.


"Udah, mulut mas itu nggak usah bawel," Salsa menempelkan satu telunjuk nya di bibir Zidan. Agar mulut suaminya itu tidak lagi menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang seakan mengintrogasinya.


Setelah itu Salsa duduk di kursi samping ranjang pasien, ia mengambil kotak yang berisi masakan yang di buat Maria tadi dan membukanya.


Zidan sedikit mengangkat kepala nya, saat mencium aroma masakan di dalam kotak itu. Nafsu makannya yang tadi hilang, seketika kembali saat mencium aroma masakan yang yang memang di buat khusus oleh Maria untuk nya. Meski masih sedikit merasa mual.

__ADS_1


"Apa itu?" Zidan yang tadinya diam kembali bersuara, saat Salsa mencicipi makanan di dalam kotak itu.


"Obat," jawab Salsa singkat.


"Obat apa?" Zidan yang tak percaya semakin mengangkat kepalanya ingin melihat isi di dalam kotak itu.


"Obat lapar! mas mau?" Zidan lansung mengangguk pelan. Perut nya benar-benar terasa semakin lapar saat mencium aroma makanan itu.


Salsa lalu menyuapkan makanan itu ke Zidan, yang masih berbaring di ranjang. Sesekali ia juga menyuap untuk dirinya sendiri. Masakan Maria itu benar-benar lesat. Tidak terasa makanan di dalam kotak itu sudah habis tanpa Sisa.


"Dah habis ya mas," Salsa meletakkan kotak kosong itu di atas meja nakas, lalu ia berjalan ke meja lain untuk mengambil botol minuman.


Tanpa sepengetahuan Salsa, tangan kiri Zidan meraih kotak kosong itu, ia yang masih belum merasa kenyang, tidak percaya kalau makanan itu sudah habis.


Tap


Kotak kosong itu jatuh kelantai. Saat Zidan sudah melihat isi di dalam nya yang benar-benar sudah licin tanpa sisa.


"Kok bisa jatuh kotak nya mas?" tanya Salsa yang sudah berjalan kembali mendekati ranjang pasien.


"Tersenggol," balas Zidan. Ia sedikit kecewa saat melihat kotak itu yang benar-benar sudah kosong.


"Kenapa, mas belum kenyang," ucap Salsa sambil menyodorkan botol minuman, yang sudah ada sedotan di dalam nya.


"Kenapa kamu membeli nya sedikit sekali?" tanya Zidan setelah meneguk minuman di dalam botol.


"Itu bukan aku beli mas!" jelas Salsa.


"Terus dapat dimana?" tanya Zidan semakin penasaran.


"Dapat!? Emang mas kira ada orang yang membuang makanan se enak itu!" Salsa kembali duduk di kursi di samping ranjang setalah mengambil dan meletak kan kembali kotak kosong itu di atas meja lain.


"Aku mau keluar sebentar ya mas," Salsa bangkit dari duduk nya dan hendak berjalan keluar.


"Mau kemana?" tanya Zidan yang menghentikan langkah kaki Salsa.


"Keluar sebentar sayang," Salsa kembali mendekati Zidan yang terbaring di ranjang kemudian mengecup bibirnya sekilas, sebelum kembali melangkah keluar.


****


"Benarkah itu sayang?" Maria yang berada di luar begitu senang saat Salsa mengatakan, jika Zidan sangat menyukai masakan nya.


"Benaran ma! Harus nya mama tadi melihat wajah mas Zidan saat Salsa bilang makanan nya sudah habis. Wajah nya begitu menyedih kan ma," ujar Salsa menceritakan.


"Kalau begitu mama akan memasakkan lagi untuk nya," Maria begitu bersemangat, dan hendak kembali ke dapur rumah sakit untuk memasakkan makanan untuk putranya.


"Tidak usah sekarang ma, masak nya untuk makan malam saja," Sungguh Salsa begitu terharu melihat wajah sang mertua yang begitu bersemangat.

__ADS_1


"Baik lah sayang, nanti mama akan membuatkan masakan yang lebih enak untuk kalian," ucap Maria dengan senyum mengembang, terlihat kebahagian yang teramat dalam di sana.


__ADS_2