
Malam itu, Salsa tidak peduli dengan suaminya yang terus mengacuh kan nya, ia berbaring merapatkan tubuhnya ke punggung Zidan, juga melingkarkan satu tangan nya kebagian perut sang suami meski lansung di tepiskan oleh Zidan.
Zidan lalu menarik selimut ke atas, menutupi tubuh nya sampai bagian leher. Salsa pun tidak berhenti sampai di sana. Ia timpa tubuh Zidan dan berguling ke samping hingga tubuh mereka saling berhadapan. Tapi hanya sebentar karna Zidan kembali membalikkan badan nya hingga memunggungi Salsa kembali.
"Tolong, hentikanlah ini Sabila! aku ingin tidur," ucap Zidan dingin, ya memang terdengar sangat dingin, hingga Salsa pasrah dan menggeser tubuh nya menjauh membelakangi Zidan. Ia meringkuk berbaring ke sudut ranjang, di sertai air matanya yang keluar. Ia menahan tangisan nya agar tidak sampi mengeluarkan suara.
Perlahan Zidan membalikkan tubuh nya, melihat Salsa yang berbaring dengan posisi meringkuk memunggungi nya, ia liha sesekali bahu Salsa bergetar.
******
Pagi hari nya Salsa terbangun, mendapati tubuh nya dalam pelukan Zidan.
"Mas, mas hari ini ke kantor nggak?" tanya nya sambil mengusap pipi Zidan yang masih memejamkan mata.
"Mmhh, iya, kenapa mau ikut?" balas Zidan dengan mata sedikit terbuka.
"Boleh, kalau mas ajak," balas nya lalu merubah posisi nya duduk diatas ranjang.
"Tidak. Hari ini aku tidak mengizinkan mu pergi kemana pun," ucap Zidan tegas.
"Ya," balas Salsa tanpa merasa kecil hati, tak seperti biasanya ia akan memaksa kan kehendak nya agar di turuti.
Zidan menyipitkan mata menatap istrinya karna merasa aneh dengan sifat nya pagi ini.
"Aku mau mandi, mas mau ikut nggak?" Salsa lalu bangkit dari ranjang dengan gerakan yang membuat tubuh Zidan panas dingin. Ia sempat meraba tubuh bawah Zidan sambil terus berlalu. terlihat Zidan yang masih berbaring diranjang hanya melongo dengan mulut terbuka tanpa mengedip kan mata.
Ish, kenapa dia selalu menggoda ku.
Zidan melihat ke bagian bawah perut nya yang masih di tutupi selimut, di bawah sana ada sesuatu yang berdiri tegak menjulang.
Zidan hanya bisa mengusap wajah nya kasar. Ingin sekali ia mengejar istri nya ke kamar mandi, tapi teringat kata dokter Erwin yang melarang nya untuk tidak melakukan hubungan itu dulu, sampai usia kandungan Salsa tiga bulan lebih.
Lagian saat ini ia juga sedang menjalani ritual merajuk, tidak mungkin ia akan meminta bantuan Salsa untuk menidurkan adik kecilnya yang meronta-ronta dibawah sana.
Zidan lalu melakukan gerakan Sit-up diatas ranjang, agar bisa mengalihkan pikirannya. menidurkan adik kecilnya yang semakin berdiri tegak di bawah sana. Sungguh itu sangat menyiksanya.
__ADS_1
Cukup lama Zidan melakukan gerakan Sit-up, dan itu cukup melelahkan tubuhnya pagi ini. Meski nafasnya ngos-ngosan dan tubuh sedikit berkeringat. tapi, olah raga yang di lakukan nya itu cukup membantu membuat adik kecil nya kembali tertidur lemas.
"Mas, kenapa belum juga bangun?" tanya Salsa yang baru keluar dari kamar mandi dalam balutan handuk. dengan santai nya Salsa berjalan mendekati Zidan yang masih berbaring di ranjang sambil mengatur nafas nya yang sedikit ngos-ngosan.
Salsa menempelkan punggung tangan nya yang dingin ke dahi Zidan yang berkeringat.
Mata Zidan kembali melongo melihat ke celah pangkal lengan istrinya yang terangkat saat Salsa menempelkan punggung tangan ke dahi nya.
Pikiran yang sejak tadi susah payah ia singkirkan kini muncul lagi. di sertai bagian bawah perut nya yang kembali berdiri tegak menjulang terlihat jelas dari balik selimut.
"Mas demam?" tanya Salsa melihat kondisi Zidan yang sedikit berkeringat.
Zidan menggelengkan kepalanya cepat sebagai jawaban dari pertanyaan istrinya.
"Mas berkeringat lho, Mas kepanasan ya?" lagi Salsa yang tidak tau apa penyebab suami nya berkeringat bertanya sambil menghempaskan duduk nya di samping ranjang.
Zidan kembali menggelengkan kepalanya cepat
Salsa tersenyum saat matanya menangkap pemandangan di bawah perut Zidan.
*****
"Ti-tidak ada, i-tu a-aku telpon Santi. Ya, tadi aku telpon Santi nanyain pelajaran," jawab Salsa gugup memberi alasan sambil memasukkan ponsel nya ke dalam saku celana.
Zidan yang baru saja keluar dari kamar mandi meyipitkan matanya menatap Salsa.
"Mas aku tunggu di luar ya," kilah Salsa yang ingin menghindari pertanyaan-pertanyaan dari Zidan, lalu membalikkan badan nya hendak pergi keluar kamar.
"Tunggu," ucap Zidan menghentikan langkah nya yang baru saja hendak meraih gagang pintu. Salsa membalikkan badan nya, melihat Zidan yang berjalan mendekatinya.
"Apa lagi yang kamu sembunyikan dariku?" tanya Zidan dengan penuh penekanan sambil mendekatkan wajah nya ke wajah Salsa. Langkah Salsa beringsut mundur sampai mentok ke dinding kamar.
"Se-sembunyiin apa? Apa yang aku sembunyikan dari mas, nih lihat tangan aku nggak ada apa-apa kan," jawab Salsa sambil mengangkat kedua tangan nya.
"Aku tidak bercanda Sabila! Mana ponsel mu?" pinta Zidan tegas.
__ADS_1
"Bu-buat apa mas minta ponsel aku? Kan ponsel mas ada," balas nya.
"Cepat berikan saja ponsel mu itu Sabila," pinta Zidan yang terus memaksa.
"Nggak mau, mas kan udah memberikan ponsel ini buat aku, kenapa mas minta lagi," ucap Salsa yang terus saja menjawab.
"Aku bukan ingin meminta ponsel mu itu, aku hanya ingin melihat siapa orang yang kamu telepon tadi," terang Zidan yang sudah merasa kesal.
"Ya buat apa? itu kan privasi aku mas, aku pun tidak pernah meminta ponsel mas," Lagi jawaban Salsa semakin membakar amarah Zidan pagi ini. sudah lah tadi pagi ia harus berjuang menidurkan adik kecilnya sendiri, sekarang dia di buat kesal karna istri nya yang terus menjawab. Seperti nya pagi itu Salsa memang sengaja mempermainkan nya........
******
"Lah mas, kok pakaian nya itu. Mas nggak jadi kekantor hari ini?" tanya Salsa, yang duduk di ruang utama menunggu Zidan untuk sarapan pagi.
"Memang nya kenapa kamu sangat menginginkan aku pergi kerja. Oo, biar kamu juga bisa pergi keluar nanti kalau suami sudah pergi? Begitu kan! " sengit Zidan menjawab.
"Jawaban mas itu ngaco banget deh, sudah ayo kita sarapan," Salsa berdiri dari sofa yang di dudukinya lalu berjalan mendekati Zidan.
"Jangan harap kamu bisa keluar dari rumah ini," dengus Zidan.
Salsa menahan tawanya berusaha bersifat santai melihat wajah Zidan yang begitu kesal pagi itu........
Pukul sembilan pagi Raka menelpon Zidan meminta nya datang kekantor, karna hari itu Raka beralasan sakit, tidak bisa menggantikan nya di kantor.
Dengan terpaksa Zidan pagi itu berangkat ke kantor, setelah memperingatkan semua penghuni mension nya agar tidak membiarkan Salsa keluar.
Meski pun di kantor pekerjaan nya begitu banyak, tapi setiap jam Zidan selalu menelpon Salsa untuk memastikan keberadaan nya.
Jam makan siang Zidan kembali ke mension, walaupun dalam mode merajuk tapi ia tetap merindukan istri nya yang selalu membuat nya khawatir. di telepon tadi ia juga sudah memberitahukan Salsa jika akan pulang untuk makan siang dan akan kembali lagi kekantor selepasnya.
Setelah makan siang dan beristrhat sejenak, Zidan kembali lagi ke kantor. Tentunya setelah memperingatkan kembali semua penghuni mension agar tidak membiarkan Salsa keluar.
Hingga sore hari Zidan masih berada di kantor, ya, jika tidak ada Raka memang sangatlah merepotkan sekali. Baru saja ia beberes hendak pulang.
Ding
__ADS_1
Sebuah pesan WA masuk ke ponsel nya yang lansung di buka nya.
[Istrimu ada pada ku, kalau kamu ingin kan dia datang ke cafe sejoli sekarang juga]