
"Lepaskan," Salsa mencoba menepis tangan Rendi yang memegang bahunya.
"Aku bisa sendiri," tolak Salsa tegas.
"Aku cuma ingin membantu mu saja Salsa," balas Rendi yang tangan nya kini sudah tidak memegang pundak Salsa lagi.
"Aku tidak butuh bantuan mu, Pergi!" teriak Salsa menyuruh Rendi pergi, satu tangan serta telunjuk ia acungkan kedepan, serta tubuh dan bibirnya ikut gemetar.
"Oke, aku pergi," balas Rendi sembari mengangkat kedua tangan nya ke atas, di sertai kaki nya yang melangkah mundur dan pergi menjauhi Salsa.
Seperti teringat sesuatu Salsa bergegas membuka Resleting tas nya, ia meraih ponsel nya dari dalam tas itu kemudian menelpon seseorang.
Dreet! Dreeet! Dreeet!
"Ya, ada apa?" terdengar suara dari sambungan telepon Salsa.
"Om, bisa kesekolah Salsa gak?" ucap Salsa lirih dengan suara yang gematar.
Tuuuuuuuuuuuut!
Sambungan telepon itu seketika terputus.
Tidak berapa lama setelah menelpon Zidan Salsa mendengar derap langkah menggema di Koridor sekolah itu.
Tap! Tap! Tap!
Langkah itu semakin lama semakin mendekat kearah Salsa.
Tap! Tap! Tap!
Tubuh Salsa pun samakin gemetar diselimuti rasa takut.
"Nyonya, apa yang terjadi?" Jefri tiba-tiba muncul dari ujung bangunan kelas itu, dan perlahan berjalan mendekati Salsa.
Jefri melihat tubuh Salsa yang gemetar ketakutan, serta wajah nya terlihat pucat.
"Tenang lah nyonya sebentar lagi tuan akan datang ke sini," imbuh Jefri sembari berjalan memasuki ruang kelas dan membawa satu kursi ke luar.
"Duduk lah dulu nyonya," Jefri seraya meletak kan kursi itu di belakang Salsa.
Lima belas menit kemudian.
Zidan datang dengan nafas yang memburu sarta wajah yang tampak begitu cemas.
Perlahan Zidan berjalan mendekati istri nya.
Salsa segera bangkit dari duduk nya dengan wajah yang menunduk.
"Apa yang terjadi?" tanya Zidan setelah berada di dekat Salsa.
__ADS_1
Salsa hanya diam dengan wajah yang masih menunduk.
"Jawab lah, apa yang terjadi," bentak Zidan menatap Salsa.
Salsa menggelengkan kepala cepat, tubuh nya semakin gemetar.
Melihat istrinya yang seperti ketakutan Zidan mengusap wajah nya kasar lalu membalikan badannya membelakangi Salsa.
"Jefri!!!" bentak Zidan disertai tatapan tajam ia layangkan pada sopir itu.
"Saya tidak tau tuan, setelah tuan menelpon saya tadi, saya segera kesini dan saya lihat nyonya sudah seperti orang ketakutan," terang Jefri menjelaskan.
"Apa ada orang lain disini tadi?" tanya Zidan.
"Saat saya datang tidak ada orang lain di sini tuan," balas jefri.
Lalu Zidan melambaikan satu tangan nya menyuruh Jefri pergi.
Jefri menurut patuh, dirinya segera beranjak dari sana.
Setelah jefri pergi, Zidan kembali berbalik badan menghadap Salsa. Di lihat nya Salsa masih menunduk ketakutan.
Zidan menghela nafas panjang, hingga dada bidang nya membusung ke depan lalu ia menghembuskannya pelan.
"Sudah lah, Saya minta maaf," kata Zidan lalu dirinya kembali memunggungi Salsa.
Kembali ia menoleh kan wajah nya sekilas ke belakang melihat Salsa yang masih diam menunduk.
"Saya sudah minta ma'af, kenapa wajah mu masih seperti itu," ucap Zidan yang masih berdiri membelakangi Salsa.
Namun masih juga belum ada jawaban dari Salsa, wajah nya masih tetap menunduk meski tubuh nya tidak lagi gemetar.
"Saya mau pulang, kamu mau ikut saya atau mau di sini," ucap Zidan tegas seraya melangkah kan kaki nya berjalan ke depan.
"Om, tunggu," lirih Salsa yang dapat di dengar sayup-sayup oleh Zidan.
Zidan seketika menghentikan langkahnya disertai senyum kecil terukir di wajahnya. Kemudian ia berbalik badan menatap Salsa yang masih menunduk, tapi sesekali Salsa mencuri pandang melihat Zidan dengan menaikan bola mata.
Zidan kembali berjalan mendekati Salsa, dan berhenti tapat di hadapan nya, tubuh mereka kini saling berhadapan, sangat dekat sekali.
Kemudian dirinya berbalik badan berjongkok di depan Salsa.
"Cepat naik," ucap zidan sembari menepuk-nepukan tangan nya di punggung.
Tapi tidak ada pergerakan dari Salsa, dia masih saja berdiri diam.
"Naik cepat atau saya tinggal,"
Tap!
__ADS_1
Seketika Tubuh depan Salsa menempel di punggung Zidan di sertai kedua tangan nya ikut melingkar di leher Suaminya.
Seguurat senyum terbit di wajah Zidan sebelum dirinya berdiri.
Zidan mengulurkan tangan nya kebelakang, memegang ke dua paha Salsa sebelum mulai melangkah.
Salsa menyandarkan Kepala nya di bahu kekar suami nya itu, nyaman, aman, dan tenang itulah yang ia rasakan saat ini.
Sama halnya dengan Zidan, dia melangkah pelan tidak ingin cepat tiba di luar.
Saking Salsa merasa nyaman dirinya pun sampi tertidur di punggung Zidan.
Lima belas menit perjalanan yang Zidan tempuh dari kelas Salsa menuju gerbang, biasanya di tempuh para siswa berjalan normal memakan waktu sekitar lima menit saja.
Saat sampai di gerbang, seperti biasa mobil sudah terpakir disana dengan pintu yang sudah di buka Jefri.
Zidan menurunkan tubuh Salsa sangat pelan sakali, nyaris Salsa tidak merasakan apa pun di tubuhnya ketika Zidan menurunkannya pelan. Tapi, Saat zidan hedak melapaska tangan Salsa dari lehernya tiba-tiba saja Salsa terbangun akibat ponsel Zidan berdering, seketika Salsa pun tersentak kaget, dan menggeser duduk nya ke sudut mobil.
"Siapa sih. Bangsat! mengganggu orang saja," umpat zidan dalam hati lalu meraih ponsel nya dari kontong calana.
Di lihat nya nama Raka yang tertera di layar ponsel.
"Perlu apa kau menelpon ku," bentak Zidan, ketika sudah menggeser panah hijau di layar ponsel.
"Maaf kan saya bos, saya hanya ingin bertanya Bos ada dimana sekarang, itu saja." balas Raka.
Tuuuuuuuuuuuuut!
Sambungan telepon itu kemudian zidan putuskan. dan memasukkan kembali ponsel nya ke kantong celana.
"Hais.... Kenapa baju ku ini bau sekali," Zidan menggerutu, menoleh ke samping pundak nya. tempat dimana kepala Salsa tadi berada.
Salsa mengusap sudut bibirnya seperti memeriksa sesuatu.
"Apa kamu tidur tadi?" tanya Zidan pura-pura kesal.
Salsa menggeleng cepat.
"Lalu, ini cairan apa? Mana bau nya menyengat begini? coba kamu cium," Zidan berbalik badan memunggungi Salsa. Mengarahkan pundak belakang yang tadi menjadi bantal empuk istrinya.
dengan terpaksa Salsa mengendus bahu tersebut, menciumi aroma yang terdapat di pakaian suaminya itu.
"Bau apa?" tanya Zidan yang sudah tidak sabar.
"Tidak ada Om, saya tidak mencium bau apa pun," balas Salsa.
"Berarti hidung mu itu bermasalah, masa bau menyengat seperti ini saja kamu tidak mencium nya." ucap Zidan, suara nya masih saja ketus.
Seketika Salsa memegang hidung nya sendiri, lalu mencium tangannya itu, untuk memastikan apa yang di katakan suami nya itu.
__ADS_1