
"Apa sih mas? teriak-teriak sudah seperti di dalam hutan saja!" bentak Salsa saat sudah berada di dalam kamar.
"Sayang, kemarilah," Zidan menepuk bantal di sebelah nya tanpa memperdulikan wajah Salsa yang kesal.
"Apa?" ucap Salsa ketus, tapi saat melihat wajah tampan suami nya yang memasang wajah memelas, ia merasa tidak tega untuk tidak menuruti kemauannya.
"Sini," Zidan merengek dengan wajah semakin memelas meminta Salsa mendekat.
"Apa mas butuh sesuatu?" suara Salsa berubah jadi lembut saat melangkah mendekati suaminya.
"Baring sini! tubuh mas dingin sekali," Zidan menekuk kedua tangannya seperti orang yang sedang kedinginan.
"Obat tadi mana? Apa mas sudah meminum nya? ucap Salsa bertanya setalah itu ia berbaring di samping Zidan.
"Sudah sayang," jawab Zidan sambil mendekat kan badannya hendak memeluk Salsa.
"Mas nggak bohong kan?" Salsa menatap wajah suaminya sedikit curiga.
"Iya, mas sudah meminum nya. sayang." kekeh nya berbohong, Ia lalu memeluk tubuh Salsa seperti tadi, dengan wajah yang saling berhadapan.
*
Sudah satu jam lebih Salsa menemani Zidan di atas ranjang, namun belum ada tanda-tanda Zidan mengantuk, atau pun ingin tidur. Ia terus saja memeluk Salsa dan memandang wajah nya.
Dreet. Dreet. Dreet.
Ponsel Salsa di atas nakas bergetar.
"Mas lepas dulu, aku mau angkat telepon," ucap Salsa meminta Zidan agar melepaskan pelukannya.
"Biarkan saja lah! Apa panggilan telepon itu lebih penting dari suamimu," Zidan semakin mempererat pelukannya, seperti tidak ingin di tinggal walau sebentar.
"Tapi mas-. " ucapan Salsa terhenti karna bibir Zidan kini sudah ******* bibir nya, setelah itu melepaskannya kembali.
Salsa hanya bisa mendengus kesal tanpa bisa menolak kemauan suami nya yang terlihat sangat posesif memeluk tubuh nya. Ia mengabaikan getaran ponsel yang berdering dengan nada pelan di atas nakas.
Beberapa menit kemudian pintu kamar nya di ketuk dari luar. Salsa menoleh melihat kearah pintu.
"Nyonya, di luar ada yang mencari," suara dari balik pintu.
Siapa lagi sih! Mengganggu saja," gerutu Zidan.
"Aku buka pintu nya dulu ya mas," ucap Salsa meminta izin.
__ADS_1
"Biar mas saja! kamu tunggu di sini!" tegas Zidan, lalu ia bangkit dari ranjang berjalan mendekati pintu.
Bukan nya dia sakit?
batin Salsa heran dengan mata yang membola melihat Zidan berjalan santai membuka pintu.
Salsa terus memperhatikan Zidan yang berdiri di depan pintu berbicara pada seseorang, pasti nya dia berbicara dengan orang yang mengetuk pintu kamar nya tadi. Zidan menoleh melihat Salsa yang sudah duduk bersandar di ranjang setelah itu ia melangkah keluar dan menutup pintu.
Setelah Zidan keluar dari kamar. Salsa meraih ponsel nya yang ada di nakas, ia melihat dua panggilan tak terjawab dari santi, sebelum ia menghubungi nya kembali.
Satu kali panggilannya tidak di jawab oleh santi, pada panggilan kedua sambungan teleponnya baru terhubung.
"Kamu sakit apa Sa?" tanya santi saat sambungan telepon nya sudah terhubung.
"Nggak, aku nggak sakit!" jawab Salsa, sedikit heran dengan pertanyaan sahabatnya itu.
"Lho....., barusan laki mu mengatakan padaku kalau kamu sakit, dan kamu butuh istirahat," balas Santi.
"Kapan kamu bertemu dengan suamiku?" tanya Salsa heran.
"Nih, aku lagi di depan istanamu, tapi dilarang masuk oleh satpam, dan barusan suami mu menemuiku mengatakan kalau kamu sedang sakit, " jawab Santi.
"Tunggu di sana, aku keluar sekarang!" Salsa bergegas bangkit dari ranjang setelah mematikan sambungan telepon nya, tapi pintu kamar lebih dulu di buka oleh Zidan.
"Mau keluar!" ketus Salsa yang terus melangkah menerobos tubuh Zidan yang berdiri di depan pintu. Salsa melangkah cepat menuju pintu gerbang dimana Santi menunggunya.
"Nyonya mau kemana?" tanya Satpam yang berjaga di pintu gerbang.
Salsa tidak menjawab pertanyaan satpam itu, ia terus melangkah melalui pintu kecil di samping Pos satpam.
"Santi.......," teriak Salsa memanggil, saat melihat Santi yang berdiri tidak jauh dari nya.
"Akhirnya tuan putri keluar juga," sindir Santi sambil berjalan mendekati Salsa.
"Iih, apaan sih San,"
"Habis nya, sudah seperti mau ketemu putri raja saja aku," oceh Santi kesal.
"Iiih, udah lah ayo masuk," Salsa menggandeng tangan sahabat nya itu.
"Boleh nih? Nanti aku di usir pula sama laki mu," ujar Santi, namun Salsa terus saja menarik tangan sahabatnya masuk ke dalam pintu kecil yang di lewati nya tadi.
"Tunggu dulu Salsa! Itu tukang ojek nya masih nungguin aku," ucap Santi yang menghentikan langkah kaki Salsa. mereka melihat seorang laki-laki yang duduk diatas motor bebek di pinggir jalan.
__ADS_1
"Oo, ya sudah kamu suruh pergi dulu," ucap Salsa, lalu melepaskan tangan Santi yang di pegang nya.
"Nanti aku ke sekolah nya sama siapa?" tanya Santi yang masih berdiri di depan Salsa.
"Hhmm, nanti aku minta tolong sama bang Jefri saja untuk mengantarkan mu," jawab Salsa, Santi kemudian berjalan mendekati tukang ojek yang masih berdiri di tepi jalan, setelah tukang ojek pergi, ia kembali lagi mendekati Salsa yang berdiri menunggunya di depan gerbang.
"Udah kan? ayo masuk," Salsa kembali menggandeng tangan Santi melangkah kedalam mension.
Wah, ini rumah atau istana Sa?" Santi menatap kagum bangunan megah itu sebelum masuk kedalam. Sama seperti Salsa waktu pertama melihat bangunan itu.
"Nggak usah bawel masuk aja," Salsa kembali menarik lengan sahabat nya itu.
"Tapi ini benar-benar keren Sa, tuh liat air mancur nya," oceh Santi yang tangan nya masih di tarik Salsa.
**
Mereka kini sudah sampai Di dalam ruang utama, Salsa mempersilahkan Santi duduk sebelum memanggil bi Marni, setelah itu ia kembali lagi duduk di sebelah Santi.
"Kamu tau dari mana aku tinggal di sini San?" Salsa bertanya setelah ia duduk di sebelah Santi.
"Aku cari sendiri, tapi sebelum nya aku sudah cek lokasi ponsel mu. Setelah itu aku nanya sama orang-orang di perempatan jalan sana, akhirnya nyampe deh di sini," Jawab Santi yang matanya terus saja mengedar melihat barang-barang yang ada di dalam ruang utama itu.
"Sekalian aku juga mau balikin tas dan ponsel mu nih,"
"Ponsel nya Kamu pakai aja San, aku juga sudah ada yang baru nih, nanti aku bilang deh sama mas," balas Salsa sambil mengeluarkan ponsel dari dalam tas yang baru saja di kembalikan Santi.
"Nggak usah deh Sa, segan aku," tolak Santi tapi mata nya terus saja melihat ponsel yang di letakkan Salsa di atas meja.
"Maaf nyonya ini minuman nya." ucap Marni yang baru datang dengan membawa minuman diatas nampan lalu meletakkannya di atas meja.
"Terimkasih ya bi," ucap Salsa sebelum Marni pergi.
Dreet. Dreet. Dreet.
Ponsel Salsa yang terletak diatas meja kembali berbunyi, ia melihat foto Zidan yang terpampang di layar ponsel nya. setelah itu ia kembali meletakkan ponsel nya diatas meja.
"San, tunggu sebentar ya," Salsa berdiri lalu melangkah masuk ke dalam kamar nya. Di dalam kamar ia melihat Zidan yang berbaring dengan menekuk kedua kakinya kedepan sambil memegang perut, ia meringis seperti menahan sakit.
"Mas, kenapa?" Salsa yang panik lansung berjalan mendekati Zidan dan duduk di samping ranjang sambil mengusap dahi nya.
"Kepala mas sakit sekali sayang," ucap Zidan sambil memeluk pinggang Salsa yang duduk di samping ranjang.
Aneh sekali? Kepala yang sakit, tapi kenapa perut nya yang di pegang?
__ADS_1
batin Salsa merasa heran.