Om CEO Galak Itu Suamiku

Om CEO Galak Itu Suamiku
Minta di suapkan.


__ADS_3

"Wah, akhir nya bisa ketemu besan juga," ucap Maria yang sudah berdiri diantara mereka.


Salsa yang tadi nya masih memeluk Rita kini melepaskan pelukan nya.


"Ma," Salsa menoleh sambil tersenyum haru melihat Maria. Kemudian ia menoleh pada Rita.


"Ma, ini ibu Salsa," kembali Salsa menoleh melihat Maria.


"Wah! Pantas putri nya cantik, ternyata ibu nya lebih cantik," puji Maria sambil memegang serta mengusap bahu Salsa.


Rita melayangkan pandangan nya sekilas melihat Maria, lalu menunduk tersipu malu dengan ucapan besan nya.


"Ayok buk kita duduk. Zi ajak mertua mu." ajak Maria yang masih mengusap bahu Salsa.


"Mari bu," ucap Zidan.....


******


Malam nya selepas makan malam dan berbincang-bincang di ruang utama. Zidan masuk terlebih dulu ke dalam kamar. Sedangkan Salsa mengantar kan Rita terlebih dulu ke kamarnya yang juga berada di lantai bawah. Rencana nya besok Maria akan pindah ke kamar yang pernah di tempati Alvero Papa Zidan. Dan Rita akan menempati kamar yang pernah di tempati Salsa sewaktu pertama kali berada di mension. Tentu semua itu Zidan yang memutuskan.


Zidan juga yang meminta mertuanya agar tinggal dengan mereka, meski awal nya Rita menolak tapi setelah di bujuk akhirnya Rita mau juga.


Rita memang belum menceritakan apa yang terjadi, hingga dia keluar dari rumah, serta perlakuan kasar Herman padanya.


"Terimakasih Mas," Salsa memeluk Zidan yang duduk bersandar di atas ranjang. Ia menyandarkan kepala nya di dada bidang itu. Bahagia dan senang itu lah yang ia rasakan saat ini.


Zidan meletak kan ponsel nya, kemudian menggunakan satu tangan nya mengusap lembut puncak kepala, satu tangan nya lagi mengusap punggung Salsa.


"Aku sayang Mas," ungkap Salsa sambil menggunakan jari telunjuk nya menuliskan sesuatu di dada Zidan.


"Kok Mas diam saja?" Salsa menengadahkan wajah nya keatas menatap wajah Zidan. Namun, wajah datar Zidan tanpa ekspresi yang ia lihat. Entah apa yang di pikirkan suaminya itu.


"Iya," suara Zidan terdengar pelan.


"Apa Mas nggak suka Ibu tinggal di sini?" Salsa melontarkan pertanyaan itu meski tadi  ia mendengar sendiri jika Zidan lah yang meminta Ibu nya tinggal disini.


"Tidak sayang. Mas hanya khawatir dengan mu." Zidan mendekap kepala Salsa agar kembali bersandar di dadanya.


"Apa yang Mas khawatir kan? aku kan baik-baik saja." Salsa melingkarkan tangannya memeluk tubuh Zidan.


"Tidak ada sayang. tidak usah di pikirkan. Mungkin ini hanya ketakutan Mas saja." ucap Zidan sambil mengusap lembut punggung Salsa.


Salsa kembali menengadahkan wajah nya menatap wajah Zidan.


"Aku nggak akan ke mana-mana mas, aku janji." ucap nya sambil kedua telapak tangan mengusap wajah Zidan.


"Iiiiih. Geli!" seketika Salsa menjauh kan telapak tangan nya dari wajah Zidan saat menyentuh dagunya.


"Iiiih, Mas belum cukuran ya?" tanya nya merasa geli.


Zidan memegang dagu nya sendiri. Memang terasa kesat, karna sudah 3 hari ini dia tidak cukuran.

__ADS_1


"Sini. aku bantuin," Salsa bangkit dari ranjang menuju kamar mandi, di ikuti Zidan di belakang nya.


*****


Pagi harinya. Zidan dan Salsa keluar kamar bersamaan. Salsa sudah rapi dengan seragam sekolah nya, begitu pun Zidan yang sudah rapi dengan setelan Jas kantornya.


Di meja makan sudah terhidang menu sarapan untuk mereka. Rita berjalan dari arah dapur membawa nampan, diatas nya ada segelas susu putih dan secangkir kopi.


"Siapa yang menyuruh Ibu membawa minuman ini? Marni mana?" tanya Zidan yang  mendapat tatapan tidak suka dari Salsa.


"Tidak ada yang menyuruh Nak. Ibu memang sudah biasa melakukan ini." jawab Rita sambil meletakkan minuman itu di atas meja, kemudian kembali ke belakang.


"Bu," panggil Zidan menghentikan langkah Rita.


"Duduk lah Bu, kita sarapan sama-sama," Zidan menunjuk kursi yang berhadapan dengan Salsa.


"Tapi, Ibu sudah sarapan tadi di belakang, Nak." balas Rita berlalu pergi.


"Mas, biarin aja. Ibu itu dari dulu memang nggak senang diam," jelas Salsa.


"Tapi sayang, Mas meminta Ibu tinggal disini bukan untuk menjadikan Ibu pembantu," sanggah Zidan.


"Udah nggak pa-pa Mas nggak usah di pikirin, nanti aku bilangin ke Ibu. Cepet habisin sarapannya Mas, aku nggak mau telat, karna hari ini aku ujian," ujar Salsa mendesak.


"Kalau mau cepat, ya kamu bantu lah."  ucap Zidan sengaja melambatkan suapan nya.


"Bantu?" tanya Salsa dengan alis bertaut.


Salsa meruncingkan bibirnya ke arah Zidan.


"Pagi sayang," sapa Maria yang baru bergabung.


"Pagi ma." balas Salsa menyunggingkan senyum.


"O ya Ma, Mas Zidan katanya minta di suapin Mama," ujar Salsa, Maria tersenyum lalu berdiri di samping Zidan.


"Benar Zi?" tanya Maria.


"Ma-mana ada, emang aku anak kecil" jawab Zidan.


"Terus. kemarin-kemarin siapa yang sering minta di suapin?" cibir Salsa. Zidan tak menjawab ia terus saja melanjutkan sarapannya.


"Ma, kalau Mas Zidan nggak mau di suapin. Salsa mau dong Mama suapin," pinta nya manja.


"Ide bagus tuh sayang." tanggap Maria serius, ia lalu menarik satu kursi di sebelah Salsa dan duduk di sana.


******


Selepas Zidan, Salsa dan Maria berangkat. Rita pun ke luar bersama Marni untuk pergi belanja bulanan. Marni memang sudah melarang Rita agar tidak ikut karna takut di marahi Zidan. Tapi Rita kekeh ingin tetap ikut sebab di rumah juga tidak ada yang bisa dikerjakan nya, semua sudah beres oleh pelayan. Rita juga sudah akrab dengan Marni, karna di dapur tadi mereka banyak bercerita.


Marmi dan Dita pergi menggunakan mobil yang memang sudah di sediakan khusus untuk membeli keperluan. Pasar tradisional adalah tujuan Marni. Karna di pasar tradisional lah ia bisa dapat membeli sayur, buah dan daging segar, buat persedian makanan.......

__ADS_1


Di kantor, pikiran Zidan tak tenang. Rasa cemas dan khawatir akan keselamatan Salsa terus membayanginya. Apalagi sampai saat ini, anak buah nya belum berhasil menemukan keberadaan Rocky dan Niken. Di tambah Herman yang pasti akan terus mencari mertuanya.


Zidan melihat jam di pergelangan tangan nya. Hari ini Salsa pulang lebih awal karna ujian.


30 menit lagi. 


gumam nya lalu melangkah keluar. Sambil berjalan ia mengeluarkan ponsel dan lansung menghubungi Raka.


"Antar kan aku sekarang!" ucap Zidan saat sambungan teleponnya terhubung ke nomor ponsel Raka setelah itu kembali ia putus kan........


Tepat perkiraan Zidan, baru ia tiba di sekolah Salsa satu persatu siswa sudah ada yang keluar gerbang. Jefri yang berada di warung sebrang jalan segera berlari saat melihat Zidan datang. gegas ia membuka kan pintu kabin belakang untuk tuan nya.


Tidak menunggu lama Salsa pun sudah terlihat, berjalan keluar gerbang bersama sahabat nya Santi.


"Mau aku antar nggak?" tanya Salsa pada Santi sebelum masuk mobil.


"Boleh deh, mumpung laki mu nggak ada," balas Santi.


Salsa lalu membuka pintu belakang mobil.


"Lah, Mas kok ada di sini?" tanya Salsa saat melihat Zidan yang sudah berada di dalam mobil.


"San, kamu duduk depan ya," ujar Salsa, lalu masuk ke dalam mobil dan mencium punggung tangan Zidan.


"Bang Jeff, anterin teman Salsa ke jalan pepaya dulu ya," ucap nya pada Jefri.


"Baik nyonya," balas Jefri, mobil pun melaju.


Menyesal aku ikut. 


gerutu Santi dalam hati saat melihat tingkah manja Salsa pada Zidan.


"Mas, hari ini kita ajak ibu makan siang di luar ya," pinta Salsa yang di balas anggukan kepala oleh Zidan.


"San, mau ikut nggak?" ujar Salsa menawarkan.


"Nggak lah," balas Santi cepat.


"Ya udah kalau nggak mau," Salsa memeluk lengan Zidan dan menyandarkan kepalanya di sana.............


Setelah mengantarkan Santi kerumah nya, mobil mengarah ke mension menjemput Rita untuk mengajak nya makan siang.


Sampai di mension Salsa melangkah dengan riang sambil memanggil-manggil Rita, suaranya lantang terdengar begitu bersemangat. Namun Rita tidak juga muncul.


Seorang pelayan dari belakang berjalan mendekati Salsa yang berdiri tepat di bawah tangga sambil terus memanggil Rita.


"Nyonya, Ibu Rita pergi bersama bi Marni berbelanja," ucap pelayan itu.


"Ooo. Makasih ya bi," ucap Salsa lalu masuk kedalam kamar untuk meletakkan tas sekolah nya dan mengganti pakaian.


Diluar. Marni baru saja datang sendiri tidak tampak Rita bersamanya wajah nya pun terlihat panik.

__ADS_1


__ADS_2