
"Akhirnya selesai juga," Salsa bergumam sendiri sambil menghidangkan nasi goreng yang sejak shubuh tadi di buat nya, meski harus berdebat panjang dengan Marni, kepala pelayan di mension itu. Secangkir kopi tak lupa ia hidangkan diatas meja makan.
Meja makan yang biasanya terhidang menu-menu sarapan yang di masak oleh koki khisus, sesuai selera Zidan. Sekarang hanya terhidang nasi goreng serta secangkir kopi buatan Salsabila.
"Lihat saja kalau dia nggak mau memakannya. Aku sempalkan ke mulut nya,"
Dirinya meracau sendiri, yang tanpa ia sadari, yang di racau nya sudah berdiri di belakang nya.
"Ekhem..... Ekhem..... Ekhem... "
Salsa tersentak, kala mendengar suara deheman yang ia kenali. Seketika penyakit serangan jantung mendadak, dan asma stadium akut nya kambuh.
Zidan melangkah mendekati meja makan, duduk di bangku yang biasa ia tempati. Dahi nya berkerut, kala melihat meja makan yang hanya terhidang nasi goreng serta kopi hitam saja.
"Siapa yang memasak nasi goreng ini?" suara bariton Zidan membuat Salsabila semakin bergidik ngeri. Ada rasa takut di hati gadis SMA yang baru tadi malam menjadi seorang istri.
"Sa- saya Om," jawab Salsa dengan wajah menunduk takut.
"Tadi saya dengar ada orang yang akan menyuapkan nasi goreng ini ke mulut saya, jika saya tidak memakannya," ucap Zidane yang terdengar sinis di telinga istri kecil nya.
"Ish...... Apa dia mendengar apa yang ku katakan tadi? Mati lah aku," batin Salsa merutuki diri.
"Sekarang cepat sajikan buat saya." titah Zidan, membuat si pembuat nasi goreng merasa senang. Dengan penuh semangat Salsabila, menyendok nasi goreng buatan nya ke piring.
"Smoga om suka," ucap Salsa, meletakkan kan sepiring nasi goreng ke hadapan Zidan.
"Hmm," balas Zidan.
'Hanya hmm saja? Iiiih, dia ini benar-benar lah.
"Selamat pagi Bos, selamat pagi nyonya," sapa Raka yang baru saja datang.
"Wah..... Nasi goreng..." seru Raka.
"Sepertinya enak. Apa boleh saya mencobanya, nyonya?" tanya Raka, meminta izin pada si pembuat nasi goreng.
Zidan menatap Raka dengan pandangan tidak suka. Hingga saat mata Raka beradu pandang dengan si pemilik mata tajam itu, Raka mengurungkan niatnya.
"Maaf kan saya bos, saya akan tunggu di luar," ucap Raka, lirih.
Zidan tidak menjawab, ia hanya memainkan sendok nya di atas piring. Mata nya pun kini melihat Salsa yang sudah duduk di barisan kursi yang berhadapan dengan Raka berdiri.
"Abang tunggu, duduk lah, ini nasi goreng nya masih banyak kok,"
Salsa memberikan sepiring nasi goreng yang telah di sendok nya pada Raka.
Raka melihat Zidan, yang masih memberikan tatapan tajam padanya.
"Duduk lah Bang," pinta Salsa menyuruh Raka duduk.
Lagi, Raka melihat Zidan yang hendak menyuap nasi goreng ke mulut nya.
__ADS_1
"Apa boleh Bos?" tanya Raka meminta izin sebelum duduk.
Zidan tidak menjawab, dirinya masih melayang kan tatapan tajam nya pada Raka.
Raka dan Zidan masih saling beradu pandang,
Salsa meminta nya untuk duduk, sedangkan Zidan malah memberikan tatapan tajam, seperti ingin mengusirnya.
"Abang, duduk lah," ucap Salsa.
"Raka, panas kan mobil ku sekarang," titah Zidan, menghentikan Raka yang hendak menarik satu kursi hendak duduk.
"Baiklah Bos," ucap Raka patuh, dirinya tak kuasa menolak perintah pemilik perusahaan Ziro Company.
"Om, biar lah Abang Raka sarapan dulu," entah keberanian dari mana, istri kecil Zidan itu berani menyela ucapan nya.
Zidan mengehela nafas besar.
"Duduk Bang," ucap Salsa.
'Bisa-bisa nya dia memanggil si Raka Abang, sedang kan aku.......??" batin Zidan merasa kesal.
Raka memilih mendengar ucapan nyonya rumah, duduk dan memakan nasi goreng itu. Kadang Raka masih sempat mencuri pandang pada Bos nya, yang lansung mendapat balasan tatapan tajam dari Zidan. Namun, semua itu tidak lah membuat selera makan Raka berkurang. Dirinya dengan lahap tetap menyantap nasi goreng. Tak bisa ia pungkiri nasi goreng buatan Salsa memang lah enak.
"Apa nyonya yang membuat nasi goreng ini?" tanya Raka di sela makan nya.
"Kenapa Bang? nggak enak ya?" bukan nya menjawab Salsa juga bertanya.
"Ehem.... Ehem.... Ehem.... Raka, cepat habis kan makanan kau, setelah itu keluar," dengus Zidan lengkap dengan tatapan tajam nya.
"Baik Bos," jawab Raka patuh.
Zidan menyuap nasi goreng di piring nya begitu pelan, seperti tidak menyukai masakan istri kecil nya itu. Lain hal dengan Raka yang begitu lahap menyantap sepiring nasi goreng di hadapannya. Bahkan hanya lima menit saja dirinya sudah menghabiskan sepiring nasi goreng itu tanpa sisa.
"Boleh saya menambah lagi, nyonya," pinta Raka menyodorkan piring nya yang sudah habis.
"Rakaa...... !" Keluar panas kan mobil ku sekarang juga," bentak Zidan.
Tanpa berani menjawab lagi, Raka segera berdiri, berlari meninggalkan meja makan.
Sedangkan Zidan, kembali mengaduk-aduk nasi goreng di piring nya, sesekali ekor mata nya mencuri pandang ke arah Istrinya.
"Nasi goreng kamu ini tidak enak sama sekali, saya tidak bisa menghabiskannya," ucap Zidan, sambil mendorong piring yang masih tersisa nasi goreng itu kedepan.
Salsa menyipit kan mata nya. Tanpa merasa kecil hati dirinya meraih piring yang masih tersisa nasi goreng itu.
"Heis..... Kamu mau apakan, itu punya saya," ucap Zidan.
"Tadi kan Om bilang tidak enak. Ya, saya mau habis kan lah, dari pada mubazir. Lagian perut saya masih lapar," Salsa menjawab Santai.
"Mana bisa begitu... Itu punya saya." Zidan merebut piring nya tadi dari Salsa.
__ADS_1
"Ya sudah, ambil lah. Tapi awas ya kalau nggak Om habis kan," ucap Salsa tersirat ancaman.
"Kamu mau apa? kalau saya tidak menghabis kannya," tantang Zidan, memang ini lah yang di tunggu nya.
"Saya akan sumpalkan ke mulut Om," jawab Salsa asal.
Zidan tersenyum tipis, sangat tipis hingga Salsa tidak menyadari jika Om galak nya itu sedang tersenyum.
"Ya sudah," balas Zidan, berharap Salsa benar benar menyuapkan nasi goreng itu padanya.
Zidan masih mengaduk-aduk nasi goreng di piring itu tanpa menyuap nya. Ekor matanya selalu memperhatikan Salsa yang duduk sambil memakan nasi goreng.
"Heis...... Gadis ini, aku sengaja tidak menghabis kan nasi goreng nya, kenepa dia tidak juga menyuapi ku," gerutunya dalam hati.
"Nasi goreng ini sungguh tidak enak, saya tidak bisa menghabis kannya," ucap Zidan pelan, lalu meletak kan kedua sendok diatas piring.
Bukan nya menyuapkan pada Zidan, Salsa malah meraih piring itu memakannya sendiri.
"Dasar rakus," ucap Zidan, sinis.
Salsa diam saja, tidak memperdulikan, sambil terus memakan nasi goreng sisa suaminya.
.
.
.
Selesai sarapan, perut Salsa benar-benar sangat kenyang sekali, karna dirinya menghabiskan dua piring nasi goreng.
Lain hal dengan Salsa, Zidan malah merutuki dirinya sendiri, karna harus merelakan nasi goreng yang lezat itu.
"Silah kan nyonya," ucap Jefri, setelah membuka kan pintu mobil untuk Salsa.
Salsa segera masuk kedalam mobil lalu Jefri menutup pintu.
"Tunggu Jef, antar kan saya ke kantor," ucap Zidan.
"Ta-tapi tuan, bagai mana dengan nyonya?" jawab Jefri hati-hati, masalah nya sekolah nyonya dan tuannya itu berlawanan arah.
"Kenapa kau bodoh sekali. Kau kan bisa mengantarkan dia dulu, setelah itu baru mengantarkan ku." cerca Zidan.
"Maaf Bos, kenapa tidak berangkat dengan saya saja, bukan kah kita satu tujuan?" sela Raka.
Zidan tidak menjawab ucapan asisten nya yang sangat menjengkelkan itu. Dirinya lansung masuk ke dalam mobil yang pintu nya sudah di buka Jefri.
Raka menggaruk-garuk kepala nya. Menatap mobil yang berjalan perlahan hingga menghilang dari pandangan nya.
"Aneh? Sekolah nyonya, dan kantor si Bos berlawanan arah. Tapi, kenapa Bos minta Jefri mengantarkan nya? Kenapa tidak dengan ku saja? Terus, buat apa Bos menyuruh ku memanaskan mobil nya?" batin Raka yang semakin tak mengerti dengan tingkah Bos garang nya itu.
Notes;
__ADS_1
InsyaAllah aku up 2 Bab sehari. Mohon dukungan nya ya...