
Setelah mereka saling melepaskan kenikmatan, Zidan dan Salsa pun mandi bersama. Kemudian mereka menyantap makan siang, setelah memanggil Marni kembali, yang tadi datang di waktu mereka sedang memadu kasih. Tepat nya bukan makan siang, tapi makan sore karna waktu yang sudah menunjuk kan pukul setengah lima.
Selesai makan, Salsa turun ke bawah mengambil tas sekolah nya yang tertinggal di dalam mobil. Salsa mengambil ponsel nya, dan melihat beberapa panggilan tak terjawab dari Zidan dan Santi.
"Kanapa Santi menelpon aku sebanyak ini? Apa ada hal yang penting?"
Salsa melangkah kan kaki nya manaiki anak tangga sembari mendekatkan ponsel nya ditelinga menelpon Santi.
"Ehh, kamu kemana aja sih Sa, sudah puluhan kali aku telpon tapi nggak kamu angkat," oceh Santi saat sambungan telepon mereka baru saja terhubung.
"He he he, maaf San aku gak tau kamu nelpon, karna nada dering ponselnya aku pelankan," balas Salsa memberi alasan.
"Kamu tau gak Sa? tadi di sekolah. Si Rendi maksa aku, minta nomor ponsel mu!" ujar Santi.
"Trus kamu kasih gak?" tanya Salsa.
"Ya engga sih, cuman aku gak tega saja sama dia. Kasihan dia Sa, kayak nya dia benar-benar suka deh sama kamu. mending kamu kasih tau saja dia, kalau kamu itu sudah nikah. Biar dia bisa move-on," jawab Santi.
"Iya,nanti aku kasih tau dia," balas Salsa.
"Gitu dong, siapa tau dia bisa membuka hatinya untuk aku. He he he," ucap Santi.
"Ihhh, dasar ganjen," ledek Salsa.
"Biarin..." balas Santi.
"Oh ya Sa, gimana persiapan drama mu?" tanya Santi.
Aduh...... Aku sampai lupa memberitahukan ini pada mas.' batin Salsa.
"San, udah dulu ya. nanti aku telpon lagi," ucap nya lalu mengakhiri sambungan telepon nya.
Salsa kini sudah berada di dalam kamar. Tapi ia tidak melihat keberadaan Zidan di sana. Ia juga sudah mencari Zidan di ruang kerja nya, tapi tetap tidak ada.
'Perasaan tadi mas, masih di kamar deh saat aku ke bawah mengambil tas. Kalau mas keluar pasti aku melihat nya. Tapi kok kok sekarang dia nggak ada, kemana perginya?' batin nya.
Salsa yang masih memegang ponsel di tangan, akhir nya mencoba menelpon Zidan.
"Mas dimana sih?" tanya Salsa saat sambungan telepon nya terhubung.
"Ada apa?" balas Zidan yang juga bertanya.
"Ihh, Mas! Saya itu nanya mas ada di mana sekarang? jawab nya bukan ada apa? tapi mas jawab posisi mas sekarang ada di mana!" sungut Salsa yang mulai kesal.
"Ya, saya ada di rooftop, apa kamu mau kesini?" tanya Zidan.
"Mau, mas?" balas Salsa cepat.
__ADS_1
"Naik lah ke lantai tiga," ujar Zidan.
Salsa lansung berjalan menapaki anak tangga menuju lantai tiga. Ia dulu mamang pernah sekali dengan Marni naik kelantai bangunan itu.
"Mas.....! Mas........! Mas dimana?" teriak Salsa yang sudah tiba di lantai tiga ia mengedarkan pandangan nya ke segala arah.
Zidan muncul dari tangga yang terletak di sudut ruangan itu.
Salsa lansung berjalan mendekati Zidan.
"Mas kok ada disini? Dari tadi saya cari-cari gak ketemu, tau nya ngumpet di sini," ujar Salsa ketus saat sudah berada di dekat Zidan.
Zidan hanya menatap wajah kesal istrinya itu dengan dahi yang berkerut.
"Kemarilah," ucap Zidan seraya berjalan menaiki tangga.
Namun Salsa masih berdiri diam di bawah. Zidan menghentikan langkah nya, yang baru beberapa langkah. Ia melihat Salsa yang hanya berdiri diam.
"Sabila, kamu kenapa?" tanya Zidan yang masih berdiri diatas tangga.
Salsa menatap Zidan sembari merentangkan kedua tangan nya ke depan.
"Heis, merepotkan!" dengus Zidan, seperti tau apa yang di ingin kan iatrinya, ia turun lagi ke bawah. Lalu berjongkok tepat di depan Salsa.
Salsa mengalungkan kedua tangan nya di leher Zidan dari belakang. Kemudian Zidan berdiri dan mengunci tubuh Salsa dengan melingkarkan tangan nya ke belakang.
"Berat ya mas?" tanya Salsa, di saat Zidan sudah mulai menapaki tangga.
"Iiiih, kalau mas nggak ikhlas, mending mas turun kan lagi saya ke bawah," ujar Salsa ketus.
Zidan tidak menjawab, ia terus berjalan menapaki anak tangga.
Mata Salsa membelalak saat langkah Zidan sudah sampai di puncak tertinggi mension nya. Hampir semua lokasi di sana di tumbuhi tanaman hijau yang tertata rapi. Lantai nya pun di tumbuhi rumput hijau yang tebal,
'Mas, ini indah sekali mas," ucap Salsa dengan mata yang berbinar.
Perlahan Zidan menurunkan tubuh Salsa, yang berada di punggung nya.
Zidan berjalan ke sudut Rooftop, yang di sana ada kursi yang tertata dengan atap yang transparan diatas nya. Sedangkan Salsa masih berjalan ke arah lain melihat kagum pemandangan di atas sana.
Salsa berjalan mendekati Zidan yang sudah duduk menatap lurus ke depan, seperti sedang memikir kan sesuatu.
"Mas...," Salsa memanggil mesra suami nya itu, sembari tersenyum manis pada nya.
Zidan menoleh melihat Salsa yang berdiri di samping nya.
"Duduk lah Sabila," Zidan menunjuk kursi di depannya.
__ADS_1
"Mas kenapa?" tanya Salsa saat sudah duduk di depan Zidan.
"Tidak ada apa-apa," jawab Zidan singkat.
"Mas, saya kan di tunjuk guru untuk ikut serta mementaskan drama, waktu itukan mas bilang saya boleh ikut." Salsa mencoba menjelaskan
"Kamu tidak boleh ikut," balas Zidan yang lansung menyela ucapan istrinya.
"Tapi mas....?"
"Tapi apa? Apa kamu ingin ikut karna ada teman laki-laki mu itu!" potong Zidan sedikit menaikkan suaranya.
"Bukan itu lah...." bantah Salsa.
"Lalu apa?" sergah Zidan.
"Iiiih, ya mas dengar saya dulu lah! Saya itu nggak tau mesti memberi alasan apa pada Guru yang membimbing," ucap Salsa.
"Besok saya akan datang ke sekolah mu," balas Zidan seraya mengalihkan pandangan nya ke arah lain.
"Mas mau apa datang kesekolah?" tanya Salsa panik.
Namun Zidan tidak menjawab, ia hanya diam tanpa melihat Salsa.
"Mas jangan bilang kita sudah menikah..."
"Kenapa? Apa kamu malu, jika teman-teman mu tau?" tanya Zidan dengan tatapan tajam pada Salsa.
"Mas bisa nggak sih, dengarin saya ngomong dulu," Salsa merasa kesal sendiri, lalu berbalik badan membelakangi Zidan.
'Eish, kenapa dia jadi marah? Apa aku salah bicara tadi?' gumam Zidan di dalam hati.
Beberapa jenak mereka hanya diam, Salsa yang masih kesal, melayang kan pandangan nya ke arah lain. Sedangkan Zidan memperhatikan wajah istri nya itu dari samping.
"Aduhh..... perut saya sakit, Sabila," Zidan meringis sembari memegang perutnya.
Namun Salsa yang masih kesal hanya menatap suaminya itu dengan sudut matanya.
Zidan semakin merintih kesakitan dengan meremas perut nya.
"Sabila, perut saya sakit sekali. Aduh....." ringis Zidan dengan wajah yang meringis menahan sakit.
"Mas, nggak usah bercanda deh," ucap Salsa yang masih kesal tanpa melihat Zidan.
Tapi tidak ada lagi suara Zidan yang merintih kesakitan. Salsa lalu menoleh melihat Zidan yang sudah duduk bersandar dengan kepala yang menengadah ke atas dengan mata yang sudah tertutup, serta tangan yang terulur lemas ke bawah.
"Mas," Salsa bangkit dari duduknya mendekati Zidan dengan wajah cemas.
__ADS_1
"Mas, bangun mas. mas bangun," Salsa meraih kedua pipi Zidan dengan bola mata yang sudah berkaca-kaca. Namun tidak ada respon dari tubuh Zidan, kedua matanya pun masih tertutup.
"Mas, bangun, bangun mas," lirih nya dengan air mata yang sudah mengucur deras di pipi.