Om CEO Galak Itu Suamiku

Om CEO Galak Itu Suamiku
Masuk angin


__ADS_3

Tiba di sekolah bell masuk pun berbunyi,  setelah mencium punggung tangan Zidan, Salsa tidak lansung keluar dari mobil, karna melihat wajah Zidan yang pucat.


"Mas, hari ini nggak usah kerja ya, istrahat lah di rumah." lirih nya merasa khawatir.


"Heis. Berhentilah mengkhawatirkan ku! " balas Zidan ketus.


"Bang Jeff habis ini lansung pulang ya. Kalau Mas minta diantar ke kantor nggak usah dianterin." pesan Salsa pada Jefri.


"Baik Nyonya." balas Jefri cepat.


Salsa membuka pintu mobil setelah itu berlalu pergi. Ia mengayunkan langkah nya cepat menuju kelas.


"Permisi buk." ucap Salsa setelah mengetuk pintu. seketika semua yang berada di dalam kelas menoleh padanya.


"Masuk." perintah guru pengawas yang sedang membagikan soal ujian.


Salsa berjalan menunduk karna malu di lihat teman-teman nya. Ya, karna ini adalah hari pertamanya menggunakan hijab kesekolah. Jadi ia belum begitu percaya diri.


"Sssst, sssst," desis Santi memanggil sahabat nya yang baru saja duduk di sebelahnya.


"Apa?" Salsa hanya menggerak kan bibirnya tanpa mengeluarkan suara.


"Kamu cantik sekali Sa," bisik Santi memuji nya.


"Oke. Baiklah anak-anak sebelum kalian mengerjakan soal ujian, Ibuk minta semua tas dan ponsel, kalian kumpulkan ke depan." perintah guru pengawas.


"Huuuuu" Sorak semua siswa yang ada di dalam kelas....


Zidan yang baru tiba di mension melihat mobil dokter Erwin sudah terparkir di halaman. Di depan pintu utama ia juga melihat Maria dan dokter Erwin berdiri.


"Zi, kamu dari mana? Salsa bilang kamu sakit. Ini dokter Erwin sudah dari tadi menunggumu." ujar Maria yang memang sejak tadi menunggunya.


"Hanya masuk angin saja, nanti juga akan baikan." balas Zidan berlalu pergi masuk ke dalam kamarnya.


"Zi. Kamu kenapa?" tanya Maria melihat Zidan yang berajalan cepat masuk kedalam kamar.


"Tidak apa-apa Ma, tidak usah khawatir." balas Zidan yang terus berjalan.


Sampai di kamar. Zidan berlari masuk ke dalam kamar mandi, ia berdiri di depan westafel memaksa mengeluarkan isi di dalam perutnya.


"Zi....... Zi...... Buka Zi." Maria terus berteriak sambil menggedor pintu dari luar.


Apa yang terjadi padaku? kenapa rasa mual ini tak pernah hilang. 


Zidan lalu melangkah membuka pintu kamar.


"Ya Tuhan. Zi, wajah mu pucat sekali. Dok, cepat periksa anak saya!" Maria terlihat begitu histeris saat melihat wajah Zidan yang semakin pucat.


"Baik Nyonya," balas dokter Erwin.


"Heis. Aku baik-baik saja lah," Zidan membalikkan badannya berjalan mendekati ranjang. Ia lalu merebahkan tubuh nya di atas ranjang, karna memang kepalanya terasa pusing.


Dokter Erwin dan Maria berjalan mendekati nya.


"Maaf tuan," Dokter Erwin membuka beberapa kancing kemeja Zidan, mengetuk-ngetuk pelan perut nya dengan jari telunjuk. Lalu kembali mengancingkannya.


Zidan bergegas bangkit dari ranjang, berlari kekamar mandi, ia berdiri di depan westafel kembali kememaksa mengeluarkan isi dalam perut nya. Wajah nya semakin terlihat pucat, tenaga nya habis karna sejak tadi pagi hanya muntah saja.


Suara Zidan dari dalam kamar mandi terdengar nyaring di telinga Maria, membuat wanita paruh baya itu semakin khawatir.


"Sebenarnya dia sakit apa dok? Tidak mungkin hanya masuk angin biasa." tanya Maria khawatir.


"Itu lah Nyonya, saya belum bisa memastikan nya. Apakah tuan mengalami masuk angin biasa, atau ada hal lain. Nanti saya akan memeriksanya lebih lanjut." ujar dokter Erwin.


Dari arah kamar mandi, Zidan sudah terlihat Melangkah mendekati mereka yang berdiri di samping ranjang.


"Mama kalau ingin berangkat kerja, pergilah! Aku tidak apa-apa." ujar Zidan lalu duduk di samping ranjang.


"Tidak Zi, mama hari ini tidak kemana-mana." balas Maria memandang putranya iba.


Zidan kemudian berbaring di ranjang. Karna kepalanya semakin terasa berat. Dada nya terlihat naik turun disertia suara nafas yang semakin nyaring terdengar.


Dokter Erwin, kembali melakukan pemeriksaan karna tadi sempat terhenti. Ia juga meminta Maria membantunya untuk melepaskan Jas yang di pakai Zidan.


"Tuan, sejak kapan ini terjadi?" tanya dokter Erwin.


"Rasa mual ini baru tadi pagi. Tapi kalau perutku dari kemarin terasa sakit secara tiba-tiba." jawab Zidan berusaha bicara dengan nafas yang terasa sesak.


"Kapan tuan terakhir kali makan?" tanya dokter Erwin.


"Heis. Kalau kau datang kesini hanya untuk menanyakan hal-hal konyol, mending kau pergi saja!" dengus Zidan menjawab.


Jawaban Zidan membuat nyali dokter Erwin menciut. Hingga ia mengurungkan niat nya untuk menanyakan hal lain.


"Zi, bukan begitu sayang. Tujuan dokter Erwin menanyakan keluhan yang kamu rasakan,  itu hanya untuk mengumpulkan informasi saja, sebelum ia menyimpulkan penyakit yang kamu derita." timpal Maria mencoba memberikan pengertian pada putranya.


"Sudah lah Ma. Mama keluar saja sekarang, aku mau istirahat," lirih Zidan mengusir mereka.


Dengan terpaksa Maria dan dokter Erwin keluar karna Zidan sudah membalikkan badan memunggungi mereka.


"Kenapa dengan dia dok? Kenapa dia begitu sensitif sekali?" tanya Maria setelah berada di luar.

__ADS_1


Dokter Erwin menghela nafas panjang serta  membuka kaca mata nya yang mulai berembun, ia membersihkan kacamata nya kemudian memakai nya lagi.


"Saya rasa tuan mengalami Couvade Syndrome Nyonya. Melihat gejala fisik yang dialaminya, meski saya belum terlalu yakin karna belum menanyakan lebih lanjut yang di rasakannya saat ini. Tapi tidak apa Nyonya, nanti saya akan memberikan obat untuk mengurangi rasa mualnya untuk sementara waktu." jawab dokter Erwin.


"Apa itu Couvade Syndrome dok?" tanya Maria yang sejak tadi hanya mendengarkan saja penjelasan dokter Erwin.


"Couvade Syndrome atau yang sering di sebut kehamilan simpatik. Itu seperti kondisi yang dialami seseorang atau calon Ayah, yang akan mengalami gejala seperti seorang wanita yang sedang hamil. Ia akan merasakan mual dan muntah, sakit perut, perubahan nafsu makan, sakit punggung, gangguan pernafasan, bahkan semua yang di rasakan wanita hamil, calon Ayah itu yang akan merasakan nya juga." terang dokter Erwin menjelaskan.


Maria sejenak diam, mencerna dengan baik ucapan dokter Erwin tadi.


"Kenapa itu bisa terjadi dok?" tanya Maria, yang baru mendengar istilah Couvade syndrome. Pasal nya sewaktu hamil Zidan, suaminya tidak mengalami hal seperti itu.


"Mungkin, karna tuan sering mengalami stres sebab terlalu mengkhawatir kan istrinya atau bisa juga disebabkan rasa cemas yang begitu berlebihan, hingga memicu hormon dalam tubuh nya meningkat." jawab dokter Erwin.


"Apa itu bahaya dok?" tanya Maria.


"Tidak Nyonya dan ini hanya bersifat sementara saja. Nanti rasa itu akan hilang dengan sendirinya-" jawab dokter Erwin.


"Tapi dok, yang saya cemaskan, dari kemarin dia belum makan apa-apa." ujar Maria masih khawatir.


"Bujuk lah tuan, agar mau di pasangkan infus. karna mungkin nafsu makan tuan hilang." jawab dokter Erwin.


"Baik dok terimakasih," ucap Maria.


"Kalau begitu saya permisi dulu Nyonya, hubungi saya kembali jika tuan sudah mau di pasang kan infus. Dan ini resep untuk mengurangi rasa mual nya." dokter Erwin menyerah kan secarik kertas setelah itu berlalu pergi.


*****


Di sekolah. Ujian pertama sudah selesai. Guru pengawas meminta para siswa agar segera mengumpulkan kertas jawaban ujian mereka diatas meja.


Setelah mengambil tas yang ia letak kan di depan kelas, Salsa kembali ke tempat duduk nya.


"Sa, kantin yu," ajak Santi sambil menyelempangkan tasnya.


Meski merasa malas, Salsa harus mengikuti sahabat nya itu karna takut Rendi akan kembali datang ke kelas nya.


"Iya." Salsa lalu bangkit dari duduk nya.


Mereka berjalan kekantin dengan lengan yang saling melingkar satu sama lain.


"Sa, kok tumben kamu memakai hijab sekarang? udah tobat ya." ujar Santi menoleh kesamping melihat wajah Salsa.


"Iiih. Nggak usah ngeledek aku lah, Santo," balas Salsa yang tidak bersemangat.


"Tapi jujur ya Sa. Kamu terlihat cantik dan cocok sekali menggunakan hijab. Ya, semoga saja kelak aku mengikuti jejak mu," ujar Santi.


Dreeet


Dreeet


Dreeet


"Hallo Mas." sapa Salsa saat sambungan telepon nya baru saja terhubung. kaki nya tetap melangkah mengiringi langkah Santi.


"Kamu di mana?" balas Zidan dengan nada dingin.


"Ya di sekolah lah Mas! kan Mas sendiri yang nganterin tadi. Harus nya itu aku yang nanya, Mas dimana sekarang? Nggak jadi ngantor kan? Tadi kata dokter Erwin apa? Mas udah sarapan kan?" berondong nya dengan banyak pertanyaan.


Santi yang berjalan di samping memutar bola matanya malas mendengar pertanyaan Salsa.


"Heis, berhenti lah mencemaskan ku! Sekarang kamu dengan siapa?" dengus Zidan merasa kesal.


"Aku sama Santi, Mas. Mau kekantin. " jawab Salsa.


"Bohong bang! Salsa lagi sama cowok nya berduaan makan di kantin," teriak Santi menyela.


"Iiih, Santo kamu apaan sih!" pekik Salsa.


Seketika Zidan lansung mengganti panggilan suara menjadi panggilan Video.


"Sabila! arah kan ponsel mu kedepan." suara Zidan di ponsel terdengar begitu nyaring di telinga Salsa, hingga Santi pun bisa mendengar nya.


Salsa lalu mengarah kan ponsel nya itu kedepan sesuai perintah Zidan. Santi lalu berlari menjauh dari nya.


"Mana teman mu itu?" tanya Zidan yang duduk bersandar di ranjang, bisa di lihat Salsa dari layar ponsel nya.


"I-itu Mas dia lari," Salsa mengarahkan layar ponsel nya ke arah Santi.


"Dah percaya kan!" sambung Salsa.


"Siapa Santo?" tanya Zidan dingin.


"Itu si Santi Mas, aku kalau lagi kesal sering nyebut namanya Santo," ujar Salsa menjelaskan.


"Jangan putuskan sambungan telepon ini sampai kamu masuk kelas." ketus Zidan yang terus menatap layar ponsel nya.


"Iya." jawab Salsa pasrah.


Sampai di kantin, Salsa memilih duduk di pinggir. Ia meletakkan ponselnya di tengah-tengah meja, mengarahkan layar ponsel tepat di depan nya duduk.


Sambil menyantap makan siang, Salsa memperhatikan wajah Zidan yang terlihat pucat dengan rambut yang acak-acakan. Duduk bersandar di ranjang dengan mata saya.

__ADS_1


Salsa ingin menanyakan banyak hal, apa suaminya itu sudah makan apa belum? Hanya saja di kantin sedang ramai orang. Jadi ia mengurungkan pertanyaan itu.


Selama dikantin hingga sampai kembali lagi ke kelas panggilan video itu tetap terhubung. Hingga suara bell panjang tanda masuk berbunyi.


"Mas, udah dulu ya, bell masuk udah bunyi nih," bisik Salsa mendekatkan ponsel nya ketelinga.


"Jam berapa kamu pulang?" tanya Zidan.


"Jam setengah dua belas. udah ya Mas sambungan telepon nya aku putuskan sekarang." jawab Salsa lalu menggeser panah merah.


*****


Zidan menelpon Jefri, setelah Salsa memutuskan sambungan telepon nya. Ia meminta Jefri menjemputnya sekarang juga.


Sambil menunggu Jefri datang ia berbaring di ranjang. Perutnya semakin terasa sakit karna dari kemarin belum ada sedikitpun makanan yang masuk ke dalam lambungnya.


Seluruh tubuh nya juga terasa sakit semua, apalagi di bagian betis dan punggung hingga berbaring pun ia merasa tidak nyaman......


****


Sudah hampir satu jam Zidan menunggu Salsa di luar gerbang sekolah. Hingga sekarang baru terdengar bell panjang menandakan selesai nya ujian hari ini.


Di Koridor sekolah Salsa melangkah beriringan dengan Santi. Dari kejauhan ia melihat Rendi dan beberapa temannya berdiri di depan ruang guru.


"San, kita putar arah aja yuk, aku malas ketemu dengan si Rendi. Apa lagi suami ku tidak suka melihat nya yang terus mendekati ku," tutur Salsa sembil merangkul erat lengan Santi.


"Tidak usah takut ada aku." ujar Santi percaya diri.


Salsa terus melangkah memeluk lengan sahabat nya, ia bersembunyi dibalik bahu Santi saat melewati Rendi.


"Salsa!" Rendi memanggilnya namun ia dan Santi tetap mengayunkan langkah kedepan.


Rendi berlari mengejar, menghentikan langkah mereka dengan berdiri tepat di depan mereka. Santi menghela nafas panjang dengan tangan yang mengepal.


"Minggir!" bentak Santi, tapi Rendi tidak bergeming sama sekali.


"Gua mau bicara dengan Salsa sebentar," ucap Rendi santai.


"Eh, lue kalau mau ngomong, ngomong aja." sengit Santi menjawab.


"Gua mau bicara berdua," balas Rendi.


"Nggak bisa! kalau lue mau ngomong, cepat ngomong sekarang kami mau pulang," Santi melangkah manarik tangan Salsa. Namun, Rendi tetap saja menghalangi jalan nya.


"Lue cowok atau bukan sih? Nggak tau malu banget." sinis Santi.


"Terserah lue mau nganggap gua apa," ucap Rendi.


"Benar, benar nggak tau malu." Santi mendongak menatap wajah Rendi dengan tatapan menghina. Kemudian ia melihat wajah Salsa yang menunduk ketakutan.


"Satu menit nggak lebih." Santi lalu melepaskan tangan Salsa yang sejak tadi memeluk lengan nya. Kemudian melangkah sedikit menjauh darinya.


"Salsa, aku sayang sama kamu. Aku cinta kamu Sa. Aku nggak akan pernah berhenti untuk mendapatkan mu. Nggak akan! Apa pun akan aku lakukan untuk mendapatkan mu Sa. Apa pun itu akan aku lakukan! Dan akan ku pastikan suatu hari nanti kamu akan bersama ku." ungkap Rendi kemudian berlalu pergi.


Santi datang, Salsa masih diam menunduk, ia masih mencerna semua ucapan yang di ungkapkan Rendi tadi. Apa kah itu ungkapan cinta? Atau kah sebuah ancaman yang akan menghancurkan pernikahan nya.


"Salsa, apa yang di katakan si buaya buntung itu tadi?" tanya Santi memandang wajah Salsa yang masih diam menunduk.


"Tidak ada. Ayo kita pergi," balas Salsa mulai melangkah.


"Sorry ya Sa, aku terpaksa membiarkan mu bicara dengan nya tadi. Karna kamu tau sendiri kan Sa seberapa keras kepalanya si buaya buntung itu. Bisa-bisa kita tidak pulang kalau tidak menuruti kemauan nya." sesal Santi.


"Udah lah, biasa saja. nggak usah di pikirin." balas Salsa yang terus melangkah......


"Kenapa kamu lama sekali?" tanya Zidan setelah Salsa mencium punggung tangan nya.


"Maaf Mas, tadi di panggil keruang guru sebentar," jawab Salsa memberi alasan. Tidak mungkin ia mengatakan bertemu dengan Rendi, karna itu hanya akan menjadi perdebatan panjang nantinya.


Mobil sudah melaju pelan, Zidan menatap ke depan bersandar di sandaran jok mobil. Wajah nya sangat terlihat lemas tidak bersemangat.


Salsa menggeser duduk nya memeluk lengan Zidan serta menyandarkan kepalanya di sana.


"Mas, sudah makan?" tanya Salsa yang di balas gelengan kepala oleh Zidan.


Salsa menoleh memandang wajah nya.


"Kok belum, Mas dari kemarin belum makan lho,"


"Mas tidak ada selera." balas Zidan.


"Pokok nya Mas harus makan! kalau Mas nggak mau Makan, aku juga nggak mau makan," rajuk nya sambil melipat kedua tangan di dada.


"Heis, sudah lah nanti Mas makan." dengus Zidan.


"Benaran ya! pokok nya kalau Mas nggak mau makan. aku juga nggak akan makan." ancam nya sambil memeluk kembali lengan Zidan.


Zidan tidak lagi menjawab, ia hanya menatap lurus ke depan.


"Oh ya, Mas. Tadi dokter Erwin bilang apa?" pertanyaan yang sejak tadi ingin ia tanyakan.


"Biasa masuk angin." jawab Zidan singkat.

__ADS_1


"Ooo, pantas Mas merasa muntah-muntah tadi pagi ya." balas Salsa....


****


__ADS_2