
"San, Santi, bangun Nak, " ucap Wati sambil menggoyang-goyang kan tubuh putri nya yang masih tertidur lelap.
"Hoamm," tubuh Santi menggeliat sambil menggaruk rambut nya yang berantakan.
"Ada apa sih Ma? Pagi-pagi udah berisik, " gumam Santi kembali memeluk guling.
"Eeh..., ini anak malah tidur lagi! Ini sudah siang Santi. Bangun! " Wati lalu menyibak kan kain gorden hingga pantulan sinar matahari masuk ke ruangan itu.
Namun Santi masih tidak bergeming, atau mungkin sudah kembali ke alam mimpi nya.
"Kalau kamu tidak juga bangun, awas saja nanti!" ancam Wati berlalu pergi.
Di ruang tamu. Raka masih mengobrol akrab dengan Edi. Mata nya sesekali melirik ke ruang tengah. Namun, ia tidak melihat Santi di sana.
"Ini nak Raka sarapan nya," ujar Wati membawa dua piring yang berisi makanan yang di bawa Raka tadi.
"Wah! Kamu tau saja, kesukaan om, Raka, " timpal Edi yang melihat sepiring gado-gado yang di letakkan Wati di atas meja tepat didepannya.
Raka tersenyum simpul. Namun, di dalam hati nya bersorak penuh kemenangan. Karna berhasil mengambil hati kedua orang tua Santi.
"Ma, tolong panggil kan Santi, biar kita sarapan sama-sama, " ucap Edi menoleh pada Wati yang berdiri di samping nya.
"Belum bangun dia Pa, tadi sudah Mama bangun kan, " Balas Wati yang berdiri disamping suaminya.
"Anak itu benar-benar pemalas sekali, " gerutu Edi pelan.
"Biar Mama coba bangun kan sekali lagi ya, Pa," ucap Wati berlalu pergi.
Wati kembali masuk kedalam kamar Santi, ia menggeleng-gelengkan kepala saat mendapati putri nya yang masih meringkuk memeluk guling. Wati kemudian mengayunkan langkah kekamar mandi, mengambil segayung air lalu membawa nya ke kamar Santi.
Byuur!!
Santi tersentak kaget sambil menyeka air di wajah nya.
"Mama! Apaan sih ma? " pekik santi seketika duduk di ranjang.
"Kamu itu yang apaan! Anak gadis bukan nya bangun pagi. Ini malah, sudah di bangunin tidur lagi! " balas Wati sengit.
"Tapi Ma, ini kan hari libur, " protes Santi memberi alasan.
"Hari libur, hari libur. Apa kamu tidak memikirkan masa depan mu? Apa kamu tidak ingin kuliah? Cepat mandi Nak Rendi sudah menunggu mu diluar. " setelah mengatakan itu Wati berlalu pergi.
Buat apa lagi sih! Si kepala batu itu datang, Apa yang dia rencanakan?
batin Santi. Lalu dengan malas ia bangkit dari ranjang. Setelah melilit kan handuk di leher, Santi melangkah keluar kamar. Di ruang keluarga, langkahnya terhenti saat menoleh ke ruang tamu, ia melihat Raka yang tersenyum padanya. Santi lalu mengepalkan tangan kanan nya memukulkan ke telapak tangan kiri.
"Apa liat-liat! " hanya gerak bibir tanpa mengeluarkan suara.
Wow! Takut.
Batin Raka yang duduk di ruang tamu melihat kearah Santi.
__ADS_1
"Santi! Kenapa masih berdiri di sana?" Pekik Wati yang keluar dari dapur.
"Apa sih ma? teriak-teriak mulu, " tegur Edi menoleh kan badan nya melihat ke sumber suara.
"Liat nih! Anak mu Pa, jam segini baru bangun. " Suara Wati terdengar melengking memenuhi ruangan itu.
"Santi cepat mandi Nak, kita sarapan sama-sama, " ucap Edi yang terdengar lembut.
"Iya, pa, " sahut Santi berlalu kekamar mandi.
Wati terus mengoceh, melangkah membawa nampan yang diatasnya terdapat dua gelas teh manis.
"Udah lah Ma, ini masih pagi. Malu juga sama Nak Raka, "
"Habis Mama kesal Pa, hari-hari selalu begitu, kalau tidak di bangun kan tidak akan mau bangun, " Wati terus mengoceh meluapkan kekesalan nya.
Entah kenapa, Raka yang biasa nya tidak menyukai orang yang cerewet, mendengar ocehan Wati dia terlihat senyum-senyum saja.
Beberapa menit kemudian Santi keluar kamar, karna suara Wati dan Edi yang terus saja memanggilnya dari ruang tamu.
"Apa sih Pa? " dengus nya melangkah menuju ruang tamu.
"Sini Nak, sarapan dulu, ini ada gado-gado yang di bawa Nak Raka enak sekali. Kamu Cobain deh, " ujar Edi bersemangat.
"Ea lah Pa, di mana-mana gado-gado itu rasa nya sama saja kok, " ketus nya, tak ingin melihat Raka yang terus saja menatapnya.
"Ini beda Nak. Mangkanya kamu cobain dulu, " Edi menyodorkan sesendok gado-gado kemulut nya.
"Bagaimana? enak kan?! " tanya Edi berbinar.
"Biasa aja Pa, udah lah nggak usah di lebih-lebihin. " sengaja ia berucap ketus, meski lidah nya memuji.
"Emang Santi biasa nya suka makan apa Om? " timpal Raka Berbasi-basi.
"Makan daging orang, " sela Santi cepat.
"Huss! ngomong baik-naik kenapa sih San, " timpal Wati yang duduk di sebelah Edi.
"Tidak apa-apa tante saya suka, " celetuk Raka seketika menutup mulut nya.
Pipi Santi merona, tapi ia berusaha menyembunyikan nya. Pasal nya ucapan pedas Raka masih terngiang-ngiang di telinga nya.
Tapi tidak dengan Edi, yang menanggapi ucapan Raka itu dengan serius.
"Benar, Nak Raka menyukai Santi? "
"Apaan sih Pa! Aku tu nggak suka dengan dia! " dengus Santi lalu menghentakkan kaki nya pergi.
*****
"Mas yakin mau kekantor? " tanya Salsa sambil merapikan kerah kemeja Zidan.
__ADS_1
"Iya sayang pagi ini Mas harus ke kantor, karna Raka hari ini datangnya siangan, " jawab Zidan memandang wajah manis istrinya.
"Emang nya bang Raka kemana? " tanya Salsa.
"Mas juga tidak tau sayang, tadi dia kirim pesan katanya ada urusan penting, " jawab Zidan.
"Aku teman kan ya. Soalnya aku khawatir banget sama Mas, wajah Mas masih terlihat pucat, "
"Mas tidak takut sayang, jadi buat apa di teman kan, " Zidan menoel hidung istrinya yang seperti paruh elang itu.
"Iiiih, Mas. aku serius, " rengek nya manja.
"Iya, iya. Ayo sarapan dulu, " Zidan membalikkan badan nya lalu melangkah pelan di depan.
"Mas mau sarapan? " tanya Salsa mengikuti langkah Zidan.
"Tidak sayang, Mas hanya menemanimu saja, " jawab Zidan lalu melangkah keluar kamar.
Di meja makan, ada Rita yang sedang menata makanan diatas meja.
"Bu, biar saja Marni yang menyiapkan semua nya, " ucap Zidan sambil menarik kursi duduk nya.
"Ibu senang melakukan ini Nak, jadi tolong jangan paksa Ibu untuk tidak melakukannya, "
****
Sudah hampir dua jam lamanya Raka berada di rumah Santi. Selesai sarapan ia menemani Edi memandikan burung.
"Om, Santi mana ya? Kok dari tadi belum keluar? " tanya Raka yang berjongkok di samping Edi yang sedang memandikan burung nya.
"Palingan di kamar, anak itu memang jarang keluar. " jawab Edi tanpa menghentikan aktifitas nya memandikan burung.
"Apa dia tidak ada main dengan temannya? " tanya Raka.
"Ada, mungkin sekarang teman-teman nya pada sekolah, mangkanya dia tidak keluar, biasanya main layangan di sana. " jawab Edi.
"Santi sendiri apa tidak melanjut kan kuliah om?" tanya Raka.
"Itu lah, om bingung dengan anak itu, di suruh kuliah. Katanya, buang-buang uang saja, karna tamat kuliah nanti bakalan nganggur juga sama seperi sarjana-sarjana lainnya, "
"Udah jadi bapak-bapak kerjaan nya ngerumpi anak sendiri!!!" dengus Santi yang sudah berdiri di belakang mereka.
Raka dan Edi serempak menoleh ke belakang.
"Kamu! ngapain lagi sih datang kesini!? Sejak kedatangan kamu, aku sering di omelin Papa dan Mama!
"Papa juga! Suka sekali qhibah in anak sendiri! " oceh Santi ber api-api.
"Lho! kamu mau kemana Nak? Kok udah rapi? " tanya Edi dengan kedua alis bertaut.
"Mau minggat!! " Santi lalu menghentakkan kaki nya pergi.
__ADS_1