
"Sa-saya harus panggil Om apa?" tanya Salsa yang sudah menunduk kan wajah nya di depan Zidan.
"Heis, kan sudah saya katakan, kamu bisa panggil saya apa saja salain dari Om," Zidan mendengus kesal.
"Raka saja kamu panggil abang, kenapa saya kamu panggil Om," dengus Zidan sembari berbalik badan membelakangi Salsa.
"Abang Raka itu beda, dia sudah seperti abang saya sendiri," terang Salsa.
"Lalu, apa kamu mau bilang saya ini seperti Om kamu juga!" balas Zidan sengit masih berdiri memunggungi Salsa.
"Bu-bukan, Om itu orang yang paling berjasa dalam hidup saya, tanpa Om, saya tidak tau lagi apa yang akan terjadi," ujar Salsa.
"Apa cuma itu saja?" tanya Zidan yang kini sudah berbalik badan, menghadap Salsa.
Salsa membalas nya dengan anggukan kepala.
"Apa kamu tidak...... Apa kamu tidak ada-----?
"Hais! Ya sudah lah!" Zidan mendengus kesal tanpa melanjutkan kata-kata nya, ia kembali berbalik badan memunggungi Salsa.
Angin laut yang berhembus kencang, membuat Salsa kedinginan, ia menyilangkan kedua tangan nya di dada, mungusap kedua lengan nya sendirisendiri.
"Mas..." Salsa memanggilnya.
Zidan segera balik badan menghadap Salsa. Dahi pemilik Ziro Company itu berkerut menatap Salsa. Ia mencondongkan wajah nya kedepan Salsa, membuat Salsa sedikit bergidik ngeri.
"Kamu bilang apa tadi?" desis Zidan.
"Ta-tadi kan Om bilang gak boleh panggil Om, ya saya panggil Mas saja," Salsa menjauhkan wajah nya dari wajah Zidan yang mendekat.
"Hais, tapi saya bukan orang Jawa," dengus Zidan seperti tidak suka dengan panggilan yang di ucapkan Salsa.
"Tapi ayah saya orang Jawa, sedang kan ibu orang Sunda asli. Om mau pilih mana, mau saya panggil Mas, atau Aa?" Salsa menawarkan.
"Mas Zidan, Aa Zidan, heish! Kenapa dia tidak panggil saya hubby atau honey saja,' batin Zidan kesal.
"Terserah mu saja lah, tidak ada yang menarik," dengus Zidan yang kembali membelakangi Salsa.
"Om, eh Mas, Saya dingin. Kita balik ke kamar, yuk," ajak Salsa.
"Apa ini akan menjadi malam pertamaku?" Zidan membatin sendiri. Kemudian berbalik badan, melihat Salsa yang memeluk lengan nya sendiri.
* * *
__ADS_1
Sekarang mereka sudah berada di dalam kamar. Zidan berada di dalam kamar mandi, sedangkan Salsa sudah membungkus tubuh nya dengan selimut di sudut ranjang tanpa mengganti drees yang ia gunakan tadi.
"Kenapa aku deg-deg an sekali," batin Salsa. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini.
Zidan sudah keluar dari kamar mandi, ia berjalan mendekati ranjang, melihat Salsa yang sudah berbaring disana dengan selimut yang menutupi seluruh tubuh nya.
"Sabila. Salsabila," panggil nya. Namun Salsa tidak menyahut.
"Hais, kenapa dia lansung tidur," Zidan berdecak kesal, mengusap kasar rambut nya.
Kemudian Zidan menghempaskan tubuh nya di ranjang, berbaring terlentang di sana, sesekali ia menoleh melihat Salsa yang memunggunginya dalam balutan Selimut.
Zidan perlahan menggeser tubuh nya lebih mendekat lagi ke Salsa, ia manarik sedikit ujung selimut lalu masuk ke dalam nya.
Tentu pergerakan Zidan itu dapat di ketahui oleh Salsa yang berada di balik selimut.
"Apa yang akan dia lakukan?" Salsa hanya bisa membatin.
Zidan yang sudah berada Di dalam selimut, semakin mendekatkan lagi tubuh nya ke punggung Salsa, satu tangan nya perlahan ia lingkarkan di pinggang Salsa. Wajah pun semakin ia dekatkan ke ceruk leher Salsa.
Susah payah Salsa menahan gejolak yang menjalar di tubuh nya oleh sentuhan tangan Zidan, tubuh nya semakin panas-dingin saat tangan Zidan melingkar di pinggangnya, dada nya semakin naik turun. Pun nafas Salsa semakin sesak, sebab jarak wajah Zidan yang terlalu dekat ke ceruk leher Salsa.
Tak tahan lagi dengan rasa yang bergejolak di tubuh nya di tambah kurang nya oksigen di dalam selimut, seketika Salsa menyibakkan selimut yang membungkus tibuh nya.
Aufhg...
Aufhg....
Salsa menghirup dan menghembuskan nafas nya dengan cepat dan kasar, ketika kelanya terbebas dari selimut yang menutup.
Sedangkan Zidan dengan cepat membalikan tubuh nya memunggungi Salsa.
"Om, eh. Mas!" sentak Salsa melihat Zidan sudah memunggunginya. Namun Zidan tidak bergeming sama sekali seperti sudah tertidur.
"Mas...... Mas, nggak usah pura-pura tidur!" Salsa yang kesal mengguncang-guncangkan tubuh Zidan.
"Hoem...... Ada Apa?" Zidan pura-pura menguap bangun tidur sembari membalikkan tubuh nya.
"Mas ngapain tadi?" dengus Salsa.
"Ya saya tidur lah! Kamu tu yang ngapain, ini sudah malam malah teriak-teriak," Zidan menjawab tanpa membuka matanya.
"Tidur lah ini sudah malam," lanjutnya sembari berbalik badan memunggungi Salsa.
__ADS_1
"Iiih! Mas nyebelin," Salsa melemparkan bantal ydi dekatnya ke tubuh Zidan.
* * *
Pagi menjelang, Salsa terbangun dari tidur, dengan mata yang masih terpejam, tangan nya meraba-raba kasur di sebelah dan seketika mata nya lansung terbuka, ketika tak mendapati Zidan di samping nya. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh sudut kamar, namun tidak juga menemukan sosok ZidanZidan di kamar.
"Mas...Mas....Mas," panggilnya yang sudah duduk diatas ranjang.
Kemudian Salsa bangkit, berjalan ke kamar mandi. Mendapati pintu kamar mandi yang masih tertutup Salsa lansung membukanya.
Ceklek
Pintu terbuka.
Mata Salsa seketika membola sempurna, sebab tepat didepannya saat ini, Zidan berdiri di bawah shower tanpa menggunakan sehelai pakaian pun. Detik kemudian barulah Salsa berbalik badan melangkag pelan ke belakang, sembari menutup kedua tangan nya.
Ceklek.
Pintu di dorong Zidan dari dalam. Salsa segera berlari ke ranjang, menghempaskan tubuh nya di sana, menarik kembali Selimut sampai menutupi semua tubuh nya.
Tidak lama Zidan keluar dari kamar mandi hanya melilitkan handuk di pinggang. Ia berjalan mendekati Salsa yang berbaring di ranjang dengan selimut tebal yang membungkus tubuh nya.
Tanpa berkata apa-apa lagi Zidan naik ke atas ranjang, menyibakan selimut yang membungkus tubuh Salsa lalu membopong tubuh Salsa.
"Lepasin Mas.... Mas lepasin!" Salsa menghentak-hentak kan tubuh nya yang sudah berada dalam gendongan Zidan.
Seperti orang tuli, Zidan dengan Santai berjalan ke kamar mandi dan menutup kembali pintu sebelum menurunkan tubuh Salsa di sana.
"Mas mau ngapain?" tanya Salsa cemas, menyilangkan kedua tangan nya di dada.
Zidan melangkah kedepan mendekati Salsa.
Salsa mundur beberapa langkah kebelakang, sampai tubuh nya terhalang oleh dinding kamar mandi.
"Tadi kamu sudah melihat tubuh saya di sini, sekarang giliran saya," ujar Zidan.
"Gak! Saya ngggak mau, tadi kan saya gak sengaja," sentak Salsa yang ketakutan.
"Heis! Nggak, nggak sengaja tapi kamu diam-diam menikmatinya, kan?" ucap Zidan sinis.
"Mana ada, Mas itu yang salah, kenapa nggak mengunci pintu, atau Mas memang sengaja ya?" tuduh nya.
"Ya saya memang sengaja!" tekan Zidan membenarkan. Kemudian dengan santai nya ia membuka handuk yang ia lilitkan di pinggang, lalu berdiri di bawah shower.
__ADS_1