Om CEO Galak Itu Suamiku

Om CEO Galak Itu Suamiku
Minum obat


__ADS_3

"Mas, cepatlah minum obat nya," Salsa terus memohon agar Zidan mau meminum obat yang di berikan dokter Erwin padanya.


"Jangan paksa aku sabila, aku itu tidak pernah minum obat. Lagian aku juga tidak sakit," kekeh Zidan yang terus menolak.


"Apa mas nggak dengar, kata dokter tadi! Mas itu harus meminum obat ini," tegas Salsa yang terus memaksa.


"Tidak perlu dengarkan kata dokter itu, aku ini rajin olahraga, tidak akan mudah di serang penyakit," ucap Zidan menyombongkan dirinya. Tapi memang benar. kenyataan nya ia dulu sangat lah gemar berolahraga sehingga otot-otot tubuh nya terbentuk sempurna.


Salsa mengangakat sebelah sudut bibir nya ke atas sembari memutar bola matanya malas.


Dreeet. Dreet. Dreet. 


Ponsel Salsa yang terletak di atas nakas bergetar. Ia melihat nama Santi yang tertera di sana.


"Mas, tolong pegang obat nya dulu, aku mau angkat telepon santi," pinta Salsa seraya memberikan obat itu ketangan Zidan serta meletakkan gelas yang berisi air di atas nakas.


Setelah itu Salsa baru mengambil ponsel nya yang terletak di nakas dan menggeser tombol hijau di layar ponsel.


"Salsa, hari ini kamu datang kan ke acara perpisahan sekolah?" tanya Santi saat sambungan ponsel nya terhubung.


"Hah! Acaranya hari ini ya San?" jawab Salsa sembari menepuk jidatnya.


"Iya, hari ini Salsa! jangan bilang kamu pura-pura lupa." balas Santi.


"Ish..., tapi aku benar-benar lupa San, kalau acara itu akan diadakan hari ini." tegas Salsa.


"Intinya, kamu datang kan ke acara perpisahan sekolah kita?" ucap Santi bertanya.


"Itu lah masalah nya San," Salsa memandang Zidan yang sejak tadi mencuri dengar percakapannya dengan Santi.


"Masalah apa Salsa? Jangan bilang kamu nggak akan datang!"


"Memang Jam berapa acara nya San?" tanya Salsa.


"Jam sepuluh. ingat! kamu harus datang Sa. Karna acara ini cuma sekali saja," ucap Santi memperingatkan.


"Ya iyalah sekali, nama nya juga acara perpisahan, kalau sering itu nama nya acara pertemuan,"  balas Salsa bercanda.


"Serius lah Salsa!" ucap Santi yang mulai kesal.


"Iya, iya Santo, aku usahain datang," balas Salsa.


"Jangan usahain, tapi harus datang," tegas Santi mengingat kan.


"Kalau suami aku nggak ngizinin gimana?" ucap Salsa pelan agar tidak di dengar oleh Zidan.


"Ish, masa laki mu nggak ngizinin sih, nggak asyik banget," ketus Santi.

__ADS_1


"Ya mau gimana lagi?,"


"Ya sudah nanti aku telepon lagi ya," balas Salsa lalu memutuskan sambungan telepon nya. Ia kini menatap Zidan yang berbaring dengan menutup matanya.


"Mas. Aku ***-"


"Tidak! Kalau kamu tetap pergi aku tidak akan meminum obat ini," Zidan melemparkan kelantai obat yang ada ditangan nya lalu membalikkan tubuh nya berbaring membelakangi Salsa.


Kenapa dia? 


Salsa merasa heran dengan sikap suami nya itu.


Salsa yang tadi nya duduk di samping ranjang dengan kaki yang menjuntai kelantai, kini ia naik ke atas ranjang dengan duduk bersila lebih mendekat lagi pada tubuh Zidan yang berbaring memunggunginya.


"Mas," tangannya memijat bahu Zidan pelan.


"Kalau kamu lebih mementingkan acara sekolah mu itu, pergilah! Biar saja aku mati kedinginan disini," Zidan menepiskan selimut yang menutupi tubuh nya. Ia pun seketika menggigil kedinginan.


"Hrrrr......, Hrrrr......., Hrrrr......," ringis nya kedinginan.


"Mas kenapa sih? Kalau mas nggak mengizinkan aku juga nggak akan pergi kok. Tapi mas bilang yang jelas, jangan seperti ini! Nyuruh aku pergi tapi mas mengamuk sendiri," ujar Salsa yang mulai kesal.


Zidan yang masih berbaring, kemudian berbalik badan. ia melihat wajah Salsa yang menatapnya kesal. perlahan ia menggeser tubuh nya lebih mendekat pada sang istri. serta meletakkan kepalanya di atas paha Salsa dengan kedua tangan melingkar di pinggang Salsa yang duduk dengan wajah cemberut.


"Mas minta maaf ya," sesal nya sembari mengendus perut rata sang istri.


"Sayang, maaf kan mas ya," ia mengulangi ucapannya.


"Sekarang mas minum obat, kalau nggak mau aku nggak akan maafin!" tegasnya mengancam seraya melepaskan tangan Zidan yang memeluk pinggang nya. Ia lalu berdiri mengambil lima butir obat yang baru, karna yang tadi sudah di buang Zidan.


"Tapi sayang-"


"Nggak ada tapi-tapi, cepat bangun! dan minum obat ini!" ucap Salsa seperti seorang ibu yang membentak anak nya.


Dengan rasa jijik, Zidan mendekatkan sebutir obat ke mulutnya.


Tok


Tok


Tok


"Nyonya, di luar ada nyonya Maria,"


Zidan bernafas lega saat mendengar suara seseorang setelah mengetuk pintu kamar nya.


Zidan membiarkan Salsa berdiri dari duduk nya untuk membuka pintu kamar. Ia bersorak senang setelah pintu kamar itu kembali tertutup rapat.

__ADS_1


Setelah Salsa tidak terlihat lagi Dengan gerakan kilat Zidan berlari kekamar mandi membuang semua obat yang ada di tangan nya setelah itu ia kembali lagi berbaring di ranjang.


Sedangkan Salsa, setelah membuka pintu kamar dan melihat Maria yang duduk di sofa ruang utama sendirian, gegas berjalan mendekati wanita paruh baya itu.


Anak dan menantu itu saling berpelukan terlebih dahulu sebelum duduk di satu sofa panjang yang ada di ruang utama. Maria datang karna janji nya untuk menemani Salsa datang ke acara perpisahan sekolah.


"Seperti nya Salsa nggak jadi datang ke acara perpisahan itu ma," ucap Salsa yang tidak bersemangat, tidak seperti biasanya menantunya itu selalu memperlihatkan air muka ceria saat bercerita dengan Mertuanya.


"Lho, Kenapa sayang?" Maria bertanya seraya menatap wajah menantunya itu lekat.


"Mas Zidan kurang enak badan ma, tadi pagi badan nya begitu panas, tapi mas nggak mau minum obat," ungkap Salsa yang membuat Maria tersenyum padanya.


"Sini mama kasih tau cara agar suami mu mau minum obat." Maria lalu membisikkan sesuatu pada menantu kesayangan nya itu. Seketika mata Salsa menyipit seperti memikirkan sesuatu.


"Emang nggak ada cara lain ma?" ucap Salsa bertanya.


"Tidak ada sayang, cuma itu cara nya! kalau tidak begitu suami mu itu tidak akan pernah mau meminum obat," ungkap Maria.


"Sudah seperti anak kecil saja," sungut Salsa.


"Ya begitu lah suami mu!" ujar maria.


"Tapi tadi Salsa sudah memberikannya obat ma. Sebelum salsa keluar kamar menemui mama,"


"Kamu melihat sendiri dia meminum obat nya?" ujar Maria bertanya yang di balas gelengan kepala dari Salsa.


"Mas tadi mau meminum nya ma, sebelum Salsa keluar kamar," terang nya.


"Palingan obat nya sudah di-."


"Sabila............., Salsabila.............," suara teriakan yang sangat keras terdengar dari dalam kamar.


"Tuh...., suami mu sudah memanggil, cepat temani dia sebelum dia mengamuk," Maria tersenyum sambil memegang bahu menantu nya itu.


Salsa yang masih duduk disofa hanya memasang wajah cemberut nya.


"Ya, sudah mama pergi dulu ya, hubungi mama kalau ada apa-apa," ucap Maria seraya berdiri dari duduk nya, di ikuti Salsa yang juga ikut berdiri dan memeluk mertuanya itu.


"Sabila.........., Salsabila...............," teriakan keras itu kembali lagi terdengar dari dalam kamar.


"Sudah, sudah, sana sayang, cepat temui suami mu itu! sebelum rumah ini roboh karna teriakan nya," Maria melepaskan pelukan menantunya itu kemudian melangkah keluar mension.


Sedangkan Salsa mengayun kan langkahnya masuk ke dalam kamar dengan wajah kesal.


Ceklek


Pintu kamar terbuka.

__ADS_1


"Apa sih mas? Teriak-teriak sudah seperti di dalam hutan saja!" bentak Salsa saat masuk kedalam kamar.


__ADS_2