Om CEO Galak Itu Suamiku

Om CEO Galak Itu Suamiku
Cemburu


__ADS_3

Zidan terpaku memandang Salsa yang baru saja di dandani Mis Rida di salon kecantikan nya.


"Mas, Ayo kita pulang," ajak Salsa. Namun, Zidan masih berdiri diam memandang nya tanpa berkedip.


Kenapa mas memandang ku seperti itu. 


batinnya sambil melihat Miss Rida yang berdiri kegirangan.


"Mas, ayo kita pulang," namun sama, Zidan masih diam mematung seperti tak mendengarkan ucapan nya.


Miss Rida akhirnya berjalan mendekati Zidan. Tepukan di bahu membuat Zidan terperanjat.


"Tuan nyonya memanggil," tegur Miss Rida.


Zidan lansung memalingkan wajah nya yang sejak tadi memandang Salsa.


"Ayo kita pulang," ucap Salsa.


"Hm," Zidan melangkah lebih dulu setelah melihat Salsa sekilas. Entah kenapa ia merasa sesuatu saat itu.


Salsa melihat Miss Rida seolah ingin menanyakan, dia kenapa? yang di jawab Miss Rida dengan acungan dua jari sambil terkekeh senang.


"Mas, tungguin!" teriak nya memanggil Zidan yang sudah dulu berjalan di depan. Zidan pun berhenti, Salsa lansung memeluk lengan nya. Kemudian mereka kembali berjalan.....


Setelah membeli seragam sekolah, Zidan mengajak Salsa makan siang di restoran cepat saji sebelum kembali ke mension.


Dua piring makanan sudah tersaji di meja serta dua gelas jus segar.


"Mas, cantik ngga?" tanya nya dengan menaik turun kan kedua alis mata.


Tadi nya Salsa ingin bertanya waktu masih di dalam salon. Bagaimana hasil polesan make up dan tatanan rambutnya yang baru.


"Hmm," jawab Zidan datar, seperti ia tidak menyukai perubahan istri nya itu.


"Mas kenapa sih? Kurang sehat?" tanya nya.


"Cepat. habiskan makanan mu," jawab Zidan dingin.


"Mas itu sebenarnya kenapa sih? Kalau aku salah, mas bilang salah aku tu apa? Jangan seperti ini." bibir Salsa mengerucut kedepan sambil mengaduk kasar makanan di piring tanpa menyuap nya.


Zidan menghela nafas panjang. Meletak kan sendok dan garpu di piring.


"Kamu tidak salah, hanya saja mas merasa takut kalau kamu seperti ini. Mas takut akan banyak laki-laki yang menyukai mu." ungkap Zidan membuat Salsa tersenyum senang.


"Ya ampun, mas cemburu? Yes, akhirnya suami ku yang tampan ini bisa juga cemburu," kata Salsa menggoda sambil terkekeh.


"Kamu senang? membuat mas seperti ini?" tanya nya ketus dengan memalingkan wajah.


"Nggak, mana aku senang, kalau mas nggak suka aku hapus sekarang," Salsa menggeser kursi nya hendak berdiri.


"Mau kemana?" tanya Zidan.


"Mau cuci mukalah, kan mas nggak suka dengan polesan bedak ini." Salsa sudah berdiri hendak pergi.


"Tidak perlu, duduk lah." pinta Zidan dingin.


"Iiih, aku tuh jadi serba salah deh, tadi mas bilang tidak suka. Sekarang aku mau mengahapus make-up ini, Mas larang juga," dengus nya kesal.

__ADS_1


"Mas hanya tidak suka, jika ada laki-laki lain yang memandang mu atau pun mengagumi rupa mu." ungkap Zidan.


"Ya, nanti aku pakai hijab lah," balas Salsa asal.......


Malam harinya Raka datang ke mension. Membawa sertifikat rumah Salsa yang diminta Zidan.


"Kebetulan sekali kau datang Raka. Tadi nya aku juga ingin menyuruh kau kesini." kata Zidan yang baru saja keluar dari kamar.


"Emang ada apa bos?" tanya Raka setelah Zidan duduk.


"Aku ingin kau temukan ibu Sabila, tadi dia melihat nya ada di perempatan lampu merah. Suruh lah orang-orang kau untuk mencari nya di sekitar sana, atau kau bisa sebarkan selebaran biar mudah menemukan nya."


"Maaf bos, saya tidak mempunyai foto nya, untuk di buat selebaran."


Zidan membenarkan apa yang di katakan Raka. Untuk membuat selebaran memang di butuh kan foto wajah, agar mudah orang mengenali.


"Raka, bukankah kau pernah menemuinya waktu aku menyuruh mengirimkan mahar?" tanya Zidan.


"Benar bos, dan saya masih ingat rupa nya."  jawab Raka.


"Berarti, kau lah yang harus mencarinya Raka." ucap Zidan.


"Tapi, bagaimana dengan kantor bos? sergah Raka yang tak enak menolak secara lansung.


"Kau kan bisa mencari nya sepulang dari kantor Raka," jawab Zidan sesukanya.


Raka mendengus kesal, namun ia tak bisa juga menolak perintah bosnya itu......


Di dalam kamar, Salsa menggantungkan seragam yang baru di belinya tadi ke dalam lemari. Tapi, sejenak ia berpikir, dan kembali lagi mangambil seragam yang di gantungkan nya tadi, kemudian Ia berjalan keluar kamar membawa seragam nya menuju kamar Maria. Ia takut seragam nya akan hilang lagi jika ia menyimpan di lemari kamar nya.


"Ada apa sayang?" tanya Maria heran, ketika melihat Salsa berdiri di depan pintu kamar memegang seragam sekolah.


"Ma, Salsa boleh nggak numpang narok seragam Sekolah di kamar mama, besok pagi Salsa ambil lagi," pinta nya.


"Lho? Kok tidak disimpan dikamar kamu saja sayang?" tanya Maria.


"Salsa takut hilang lagi ma." jawab nya membuat Maria tersenyum.


"O, ya sudah, sini," Maria mengambil seragam sekolah itu dari tangan Salsa.


"Makasih ya ma. Tapi nggak pa-pa kan Ma, kalau Salsa bangunkan mama besok pagi-pagi?" tanya nya yang di balas anggukan dari Maria.


"Kalau begitu Salsa balik ke kamar lagi ya ma, soal nya mau beresin buku-buku," ucap nya meminta izin sebelum pergi.


******


Pagi harinya Salsa sudah rapi dengan seragam sekolah nya. Begitu pun Zidan, ia memilih pergi ke kantor dari pada menunggu istri nya pulang sekolah hanya di rumah saja.


Berat bagi Zidan membiarkan istrinya itu kembali kesekolah. Sedetik pun rasa nya ia tak ingin berpisah. Namun, untuk melarang ia juga tak bisa, karna Salsa bersikukuh memaksa.


Setelah mencium punggung tangan Zidan di dalam mobil, Salsa segera keluar karana melihat gelagat Zidan yang masih enggan melepaskan nya.


Salsa melangkah dengan riang masuk ke dalam pekarangan sekolah. Ini adalah hari pertamanya kembali bersekolah setelah hampir sebulan lamanya libur meski tetap mengerjakan tugas yang di kirimkan guru padanya. Tapi, ia juga sangat merindukan suasana sekolah serta sahabat nya Santi.


Salsa berbalik badan melihat ke arah luar gerbang sekolah. Ia tersenyum mendapati mobil suami nya yang masih berada di luar.


Sebenarnya Salsa pun sama dengan Zidan, hatinya juga terasa berat untuk berpisah dengan suaminya itu walaupun hanya beberapa jam saja.

__ADS_1


***


"Woi. bangun! Ini sudah siang, pergilah cari uang, aku sudah lapar." Herman menggoyang-goyang kan tubuh Rita dengan kaki nya yang tidur diatas tumpukan kardus bekas.


Rita membuka mata, perlahan duduk di atas tumpukan kardus itu, ia menengadah melihat Herman yang berdiri di depannya.


"Kurasa badan ku hari ini tidak sehat lah Man," keluh Rita sambil memijat dahinya.


"Kalau kau tidak kerja, kita mau makan apa?" bentak Herman.


"Kau lah yang kerja! lagian aku harus kerja apa? Kau sendiri yang melarang ku berjualan di lampu merah itu," keluh Rita masih memijat dahi nya.


"Kau kan bisa kerja lain, memulung, mengemis, atau apa lah. Yang penting dapat uang," cecar Herman.


"Tubuh ku lemas Man, biarkan aku istirahat hari ini," mohon Rita.


"Ya, tubuh kau itu akan tambah lemas jika hanya tiduran saja. Sekarang cepat lah pergi cari uang,"


"Aku mohon kali ini kau yang Kerja Man. Kepalaku terasa sangat pusing." lagi, Rita memohon.


"Kau tau sendiri, mana ada yang mau menerima ku bekerja. Cepat lah pergi cari uang aku benar-benar sudah lapar." kemudian Herman melenggang pergi........


*****


Bel istirahat sudah berbunyi. Para siswa sudah berhamburan keluar kelas. Tapi, tidak dengan Salsa yang lebih memilih duduk di dalam kelas, membaca pesan yang di kirim Zidan di ponsel nya.


"Sa, kantin yu," ajak Santi, namun, Salsa yang terlalu fokus membaca pesan yang dikirim Zidan ke ponsel nya tidak mendengar apa yang di ucapkan Santi.


"Dorr," tepukan di bahu membuat Salsa bergelinjak kaget.


"Iiih. Kamu apaan sih San," dengus Salsa kesal.


"Kamu kenapa sih Sa? Dari tadi  aku perhatikan senyam-senyum sendiri." tanya Santi.


"Nggak ada, mana ada aku senyum," kilah Salsa.


"Kantin yuk," ajak Santi sambil menarik tangan Salsa.


"Malas ah, kamu aja," balas Salsa menolak. Sebenarnya dia lagi menunggu Zidan yang mengirim nya pesan, Zidan mengatakan ia akan datang di jam makan siang.


"Yakin nggak pa-pa ku tinggal sendiri?" tanya Santi menatap nya lekat.


"Iya. udah sana kamu ke kantin saja," balas Salsa.


"Baiklah aku ke kantin dulu," ucap Santi berlalu pergi.


Salsa kembali membaca beberapa pesan yang di kirimkan Zidan padanya.


Tidak berapa lama ponsel nya berbunyi, terlihat foto Zidan yang terpampang di layar ponsel yang menghubungi nya.


"Ya, mas. Tunggu sebentar, aku keluar sekarang," ucap Salsa saat sambungan telepon nya terhubung.


"Sayang, sayang kamu makan di kantin saja ya, atau nanti biar mas suruh Raka mengantarkan makanan kesana. Mas tidak bisa datang kesekolah mu sekarang," balas Zidan berusaha bicara tenang agar tidak membuat Salsa cemas.


"Lho kok nggak jadi datang sih mas?" protes nya.


"Nanti mas ceritakan di rumah ya," lalu Sambungan telepon terputus.

__ADS_1


__ADS_2