Om CEO Galak Itu Suamiku

Om CEO Galak Itu Suamiku
Tidak bisa tidur


__ADS_3

Pukul tujuh malam Maria datang kembali ke mension dengan menyeret sebuah koper dan barang bawaan lainnya yang di tenteng oleh seorang laki-laki berbadan tegap di belakang nya.


"Kok lama ma," Salsa yang tadi nya duduk di sebelah Zidan lansung bangkit dan berjalan mendekati Maria yang baru saja datang.


"Iya sayang, tadi mama ada keperluan lain sebentar," jawab Maria.


Salsa mencium punggung tangan mertua nya itu sebelum mereka saling berpelukan.


"Mas, kamar mama yang mana?" tanya Salsa yang berdiri tidak jauh dari Zidan.


"Terserah," ketus Zidan menjawab tanpa melihat mereka.


"Ma, mama mau kamar yang mana?" tanya Salsa yang bingung, karna di mension itu terlalu banyak kamar.


Pandangan Maria tertuju ke lantai atas bangunan itu, sebenar nya ia ingin tidur dikamarnya dulu. Tapi, kini satu pun sudut bangunan di sana tidak ada yang dapat ia kenali lagi, semua berubah, tidak seperti dulu.


"Ma," Salsa menggoyang kan lengan mertua nya yang memandang ke atas.


"Iya sayang, kalau mama tidur diatas boleh?" pinta Maria pada Salsa.


"Tidak!!" tegas Zidan manjawab dengan suara lantang, hingga Salsa pun tidak berani untuk menyelanya.


Salsa memang pernah mendengar cerita dari bi Marni dulu, jika Zidan memang hanya mengizinkan tamu nya menginap di lantai dasar saja. Kecuali dirinya, yang pertama kali datang sebagai tamu dan lansung di bawa ke lantai dua.


"Yuk ma, nggak usah di dengarin," Sekilas Salsa memandang Zidan yang terus saja bermain ponsel, sambil menggandeng lengan Maria Salsa melangkah menuju pintu kamar, di sebelah kamar yang mereka tempati.


"Bukan di sana! Tapi kamar sebelah nya," lagi terdengar suara lantang Zidan sambil menunjuk kamar sebelah.


Ya, di lantai dasar itu memang ada 3 kamar dengan deretan seperti huruf L.


Salsa menoleh melihat Zidan yang jari nya masih menunjuk kamar yang akan di tempati Maria.


"Sudah tidak apa sayang," Maria menahan Salsa yang hendak menjawab ucapan Zidan. Setelah itu mereka kembali berjalan menuju kamar yang di tunjuk Zidan.


"Katanya tadi terserah! sekarang malah ngatur!" Salsa mengomel sendiri sambil terus melangkah bersama Maria.


****


Didalam kamar, Maria dan Salsa saling bercerita hingga hampir satu jam meraka berada di dalam. Salsa memang enggan keluar karena masih kesal dengan perkataan Zidan tadi. Apalagi saat ini perasaan nya begitu sensitif mudah tersinggung, cepat marah dan juga mudah bersedih. Tapi, bercerita dengan Maria malam itu membuat ia merasa senang hingga kadang mereka tertawa lepas.


Tok


Tok


Tok


Dua wanita beda generasi yang tadi nya saling tertawa, kini mata mereka serempak melihat arah pintu yang di ketuk dari luar.


"Biar Salsa aja ma," Salsa segera berdiri menahan Maria yang juga hendak berdiri membukakan pintu.


Dengan rasa sedikit malas Salsa berjalan menuju pintu, karna ia mengira pastilah Zidan yang mengetuk nya.


Ceklek


Dugaan Salsa salah yang berdiri di luar ternyata adalah Marni.


"Maaf nyonya, makan malam nya sudah siap, tuan juga sudah menunggu di meja makan." ucap Marni.

__ADS_1


"Ma, kita makan malam nya di kamar saja ya?" ucap Salsa bertanya sambil menoleh melihat Maria.


"Loh, kenapa makan di kamar sayang,"


"Ya, nggak pa-pa kan ma. Kalau kita makan di kamar saja, Salsa masih mau bercerita dengan mama," ucapnya memberi alasan. Maria yang masih duduk di atas ranjang menganggukan kepalanya pelan sambil tersenyum seperti memahaminya.


"Bibi, tolong bawakan makanan nya kesini ya, kalau mas Zidan nanya, bilang aja Salsa lagi malas ketemu dia!" ujar Salsa pada Marni.


"Baik nyonya," Marni kemudian melangkah pergi ke ruang makan..........


"Mana mereka?" tanya Zidan yang melihat Marni berjalan sendiri.


"Nyonya meminta makanan nya di bawa ke kamar, tuan," jawab Marni dengan menundukkan wajah nya.


Zidan menggeram, sambil berdiri dari duduk nya melangkah ke kamar yang di tempati Maria.


Tok


Tok


Tok


Zidan mengetuk pintu kamar yang di tempati Maria dengan dada yang naik turun.


Ceklek


Pintu di buka, terlihat Salsa berdiri di depannya.


"Mas mau apa?" dengus nya yang berdiri di depan pintu.


"Aku mau makan di kamar sama mama saja," lagi ucapan Salsa terdengar ketus sambil menutup kembali pintu kamar.


"Sayang, sayang, sayang buka dulu," ucap Zidan sambil terus menggedor pintu, namun tidak pernah di buka kan lagi oleh Salsa. Hingga sampai Marni datang membawa makanan. baru Zidan berhenti dan kembali ke meja makan.


Malam itu Zidan terpaksa makan sendiri di meja makan.


Kini jam sudah menunjuk kan pukul sepuluh malam, Zidan masih duduk di sofa ruang utama menunggu Salsa keluar dari kamar Maria.


Zidan kembali mengetuk pintu kamar Maria, sebelum ia masuk kedalam kamarnya.


Mana bisa aku tidur jika tidak memeluk dia. 


Zidan melangkah gontai menuju kamarnya.


Di dalam kamar yang di tempati Maria.


Setelah makan malam dan puas bercerita, hingga terdengar kembali suara ketukan pintu dan suara Zidan dari luar, yang masih diabaikan Salsa, meski Maria sudah memintanya membuka kan pintu.


"Sayang, apa kamu ingin tidur di sini juga?" tanya Maria sambil menguap.


"Iya ma, Salsa mau tidur di sini, boleh kan ma," balas nya sambil merebahkan tubuh di ranjang.


"Tapi mama tidak yakin kamu bisa tidur malam ini, tanpa ada suami tercinta," ledek Maria yang juga ikut berbaring di sebelah nya.


"Bisa kok, Salsa sudah biasa," ucap nya yakin.


"Ya sudah, kalau begitu tidurlah, dan jangan lupa baca doa," ujar Maria.

__ADS_1


"Ya, ma,"


Maria sebenarnya dari tadi sudah mengantuk karna lelah nya, tapi ia berusaha menahan kantuk nya karna Salsa yang terus bersemangat bercerita.


Tidak lama berbaring Maria lansung tertidur, sedangkan Salsa, masih uring-uringan di atas ranjang. Mata nya hanya bisa terpejam sebentar kemudian terbuka lagi, ia menoleh melihat Maria yang sudah tertidur lelap.


Sepertinya aku memang tidak bisa tidur kalau tidak ada mas. 


perlahan ia duduk dan beranjak dari kamar itu dengan langkah pelan, agar tidak membangunkan mertuanya yang sudah berada di alam mimpi.


Salsa membuka pintu kamarnya secara perlahan dan menutup nya lagi setelah berada di dalam kamar, ia menapak pelan berusaha sebisa mungkin tidak menimbulkan kan suara.


Zidan yang juga tidak bisa tidur, membuka matanya saat mendengar suara pintu yang terbuka, kemudian memejamkan kembali.


Dengan posisi tidur terlentang dan sedikit membuka kelopak matanya, Zidan tersenyum dalam hati saat melihat Salsa yang berjalan mengendap semakin mendekat ke ranjang. Zidan juga merasakan ranjang yang yang sedikit bergerak, dan juga lengannya diangkat naik. lalu ia merasakan kepala Salsa berada di bawah ketiak nya sambil memeluk tubuhnya.


****


Sementara itu di rumah ibu Salsa.


Brugh


Brugh


Brugh


"Man! Herman! buka pintu nya, atau kami dobrak paksa pintu ini!"


Rita dan Herman yang sudah tertidur, terbangun akibat suara gaduh dari luar.


"Diam di sini saja!" bisik Herman penuh penekanan saat Rita hendak berdiri membukakan pintu.


"Buka lah Man, bagai mana kalau pintu nya benar-benar di roboh kan mereka," ujar Rita ketakutan.


"Kau tidak usah banyak membantah ucapan ku, diam di sini dan turuti kata-kata ku!" ancam Herman sambil membekap mulut Rita.


Suara godoran pintu dari luar makin keras terdengar.


"Man! Kami hitung sampai tiga, jika kau tidak membuka pintu ini kami yang akan membuka paksa,"


Satu


Dua


Tiga


Braaaak


Seketika pintu rumah itu roboh.


Tiga orang berbadan tegap masuk kedalam, Herman yang bert*lanjang dada lansung membuka pintu jendela dan melompat keluar.


Tiga orang itu juga membuka pintu kamar Rita yang memang tidak di kunci.


"A*j*ink dia kabur lagi, bro," ucap salah satu dari tiga orang itu yang melihat pintu jendela yang terbuka lebar.


"Mau apa kalian kesini?" tanya Rita sambil menutup tubuh nya dengan selimut.

__ADS_1


__ADS_2