Om CEO Galak Itu Suamiku

Om CEO Galak Itu Suamiku
USG


__ADS_3

Maria dan Rita tersenyum lebar saat melihat anak dan menantu nya berjalan mendekati mereka. Salsa mengalungkan satu tangan nya di lengan Zidan, melangkah sejajar membelah kerumunan tamu yang sejak tadi sudah datang menunggu mereka keluar. Di belakang mereka, mengekor Santi yang bertugas mengangkat ujung gaun Salsa yang sangat panjang.


Sampai di depan Maria dan Rita, Salsa lansung menyalami, dan memeluk mereka secara bergantian. Begitu pun yang di lakukan Zidan.


"Kamu cantik sekali sayang, " puji Maria menatap kagum menantunya dari ujung kaki sampai puncak kepala.


Lagi, Salsa hanya tertunduk malu mendengar ucapan mertuanya itu.


"Selamat Nak, Ibu hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk rumah tangga kalian, " lirih Rita dengan bola mata yang berkaca.


Untuk kedua kalinya Salsa memeluk kembali ibu nya sebelum melangkah ke pelaminan yang menyerupai singgasana kerajaan.


Acara pesta pun di mulai sesuai susunan acara yang sudah di persiapan oleh Wedding Organizer.


Sebelum acara pesta selesai, Zidan memperhatikan Salsa yang seperti kelelahan, tergambar jelas di wajah Salsa yang memang terlihat pucat.


"Sayang, kamu Oke? " tanya Zidan yang sejak tadi memang memperhatikan nya.


"Agak pusing sih Mas, " jawab Salsa apa adanya.


Zidan lalu meminta Santi yang berdiri di samping Salsa untuk memanggil Maria yang terlihat sibuk menyambut para tamu yang datang.


Tidak lama terlihat Maria berjalan tergesa-gesa kearah mereka di ikuti Santi di belakang.


"Kamu kenapa sayang? " Maria agak cemas wajah nya mendongak melihat Salsa yang memang terlihat pucat.


"Pusing Ma, " ringis Salsa yang kepala nya sudah bersandar di bahu Zidan.


"Zi, bawalah istrimu ke kamar, " ucap Maria menatap Zidan.


Tanpa menjawab ucapan Maria, Zidan berdiri lalu mengangkat tubuh Salsa ala bridal. Melangkah meninggalkan tamu-tamu undangan yang hadir.


Di dalam kamar, Zidan menurunkan pelan tubuh Salsa diatas ranjang. Kemudian mengambil ponsel untuk menelpon dokter Erwin.


"Datang ke tempat ku sekarang. " ucap Zidan saat sambungan telepon nya terhubung.


"Apa yang terjadi tuan? Bukankah saya baru dari sana, " jawab Dokter Erwin dari sambungan telepon.


"Ck. Datang cepat, istri ku pusing, " dengus Zidan. Lalu sambungan telepon ia putus kan.


"Mas, " panggil Salsa pelan.


Zidan melangkah mendekatinya.


"Aku nggak pa-pa Mas. Mas kembali lah keluar, kasihan nanti tamu-tamu kecewa, " lirih Salsa yang berbaring menatap Zidan yang sudah duduk di tepi ranjang.


"Apa yang kamu katakan sayang, buat apa juga Mas duduk sendiri di sana, sedangkan kamu di sini, " sungut Zidan menolak permintaan istrinya.


Salsa tersenyum tipis, mata nya mengerjap pelan berusaha agar tetap terbuka.


Tidak lama, Dokter Erwin pun datang. Tapi Salsa sudah tertidur. Dokter Erwin tetap melakukan pemeriksaan tanpa membangun kan Salsa yang tidur.

__ADS_1


"Bagaimana keadannya? " tanya Zidan yang sejak tadi terlihat khawatir.


"Nyonya hanya kelelahan saja tuan. Dan sebaiknya, bawalah besok ke rumah sakit untuk memeriksa kandungan nya, " jawab Dokter Erwin membuat Zidan sedikit bernafas lega.


"Baiklah. Besok aku akan membawanya. " ucap Zidan.


"Tuan sendiri bagaimana? Apa masih sering mual? " tanya Dokter sebelum pergi.


"Ya, masih, " jawab Zidan yang sudah duduk di pinggir ranjang memperhatikan wajah Salsa yang tampak tidur pulas.


"Apa obat yang saya berikan kemarin sudah habis? " tanya Dokter Erwin.


"Masih banyak. " jawab Zidan singkat tanpa menoleh pada Dokter Erwin.


"Kenapa? Apa tuan tidak pernah meminumnya? "


Zidan seketika menoleh, melayangkan tatapan tajam nya, membuat Dokter Erwin ketakutan.  Kemudian Dokter Erwin pun pamit pergi.


***


Keesokan paginya....


Seperti biasa Salsa dan Zidan keluar kamar secara bersamaan untuk sarapan. Di meja makan sudah terhidang menu sarapan untuk mereka. Serta segelas air jahe hangat di depan meja Zidan yang memang selalu di buatkan Rita untuk menantunya.


"Ibu sudah sarapan? " tanya Salsa pada Raita yang membawa segelas susu hangat untuk nya.


"Sudah Nak, " jawab Rita sambil meletakkan segelas susu itu diatas meja lalu kembali kebelakang.


"Selamat pagi semuanya, " sapa Maria yang baru saja bergabung.


"Bagaimana sayang? Apa kamu sudah baikan? " Maria menarik satu kursi di sebelah Salsa lalu menghempaskan duduk nya di sana.


"Salsa hanya kecapean saja Ma. Maaf ya Ma gara-gara Salsa acara nya jadi berantakan, "  jawab Salsa dengan rasa bersalah.


"Siapa bilang acara nya berantakan?"


"Ya kan itu Gara-gara--"


"Jangan berpikir yang macam-macam sayang. Semua tamu Mama sangat puas sekali, " potong Maria cepat.


"Zi, apa kamu jadi kerumah sakit hari ini? " tanya Maria pada Zidan yang terlihat sibuk dengan ponsel nya.


Seketika Zidan menoleh melihat Maria. "Jadi setelah sarapan ini, " jawab Zidan.


"Bagus lah, smoga cucu mama baik-baik saja di dalam sini, " balas Maria sambil mengusap lembut tunjolan di perut Salsa.


***


Mereka kini sudah tiba di rumah sakit. Jefri gegas keluar membuka kan pintu untuk tuan dan nyonya nya.


"Pelan-pelan sayang, " ucap Zidan khawatir.

__ADS_1


"Aku bisa sendiri lah Mas, " Salsa dengan gesit turun dari mobil. Setelah itu Zidan menuntun langkah nya masuk kedalam rumah sakit.


Di dalam, mereka sudah di tunggu dokter Erwin karna sebelum berangkat Zidan memang sudah memberi kabar pada Dokter Erwin.


Dokter Erwin membawa mereka ke dalam ruangan Dokter kandungan sesuai permintaan Zidan yang ingin istri nya di periksa oleh dokter Wanita.


Setelah masuk kedalam ruangan Dokter kandungan, Dokter Erwin memperkenalkan Dokter itu pada Zidan dan Salsa.


Setelah itu Dokter Erwin pun pamit keluar.


Dokter kandungan yang bernama Shifa itu, kemudian meminta Salsa berbaring di atas brankar yang tersedia.


"Maaf Nyonya, baju nya saya naikan sedikit ya, " pinta Dokter Shifa.


"I-iya Dok, "


Dokter Shifa pun menaikan dress panjang yang di gunakan Salsa hingga ke atas perut.


Zidan yang melihat pemandangan itu menjadi gelisah. Gelisah karna sesuatu di bawah sana lansung mengeras. Meski, sudah sering melihat pemandangan seperti itu di dalam kamar. Tapi Entah kenapa, ia selalu saja bernafsu melihat nya.


Setelah itu Dokter Shifa menuangkan gel diatas perut Salsa. Lalu meletakkan dan menggerakkan sebuah alat diatas perut nya.


"Wah! Lihat itu tuan, ada dua calon bayi di sana! " seru Dokter Shifa menunjuk layar.


Zidan memandang layar dengan tatapan Haru, rasa bahagia saat melihat dua calon anak nya yang masih mungil. Begitu pun Salsa tersenyum bahagia melihat janin di dalam perutnya.


"Maksud anda anak saya kembar!? " tanya Zidan berbinar memandang Salsa yang tersenyum bahagia.


"Benar tuan! Anda bisa lihat sendiri. Itu adalah calon anak kalian, " ujar Dokter Shifa yang juga terlihat bahagia.


Dokter Shifa terus menggerakkan alat itu di perut Salsa ia juga menjelaskan pada meraka perkembangan calon bayi di dalam rahim. Mereka juga sudah mendengar detak jantung janin mereka di dalam sana.


"Selamat tuan, nyonya, saya ikut senang. Jenis kelamin bayi kalian laki-laki dan perempuan. Perkembangan janin pun saat ini baik, dan normal," ujar Dokter Shifa.


Zidan mengelus lembut perut Salsa lalu menurunkan kembali pakaian nya.


"Apa nyonya masih sering mual? " tanya Dokter Shifa yang sudah kembali duduk di kursi kerjanya.


"Saya Nggak ada Dok, tapi suami saya yang sering mengalaminya. Sampai sekaramg pun masih sering mual dan muntah dianya, Dok. " jawab Salsa.


"Benarkah? Berarti suami nyonya sangatlah menyayangi nyonya dan calon baby, " ujar Dokter Shifa disertai senyuman ramah nya sambil menuliskan resep obat untuk mereka.


Salsa tersenyum tipis memandang suaminya.


"Baiklah tuan, ini resep obat untuk mengurangi rasa mual anda dan ini buat nyonya vitamin untuk menguatkan kandungan, " ujar Dokter Shifa memberikan dua lembar kertas pada Salsa.


"Terimakasih Dok, " ucap Salsa lalu bersalaman dengan Dokter Shifa sebelum melangkah pergi.


"Dok, apa boleh saya melakukan hubungan itu dengan nya setelah ini?" tanya Zidan menghentikan langkah Salsa yang hendak keluar dari ruangan itu.


"Mas! " pekik nya dengan wajah merona.

__ADS_1


Dokter Shifa pun tersenyum mendengar pertanyaan Zidan.


"Boleh saja tuan, asal pastikan kondisi istri anda dalam keadaan sehat dan lakukan lah dalam keadaan senyaman mungkin, " ujar Dokter Shifa di sertai senyuman penuh arti.


__ADS_2