Om CEO Galak Itu Suamiku

Om CEO Galak Itu Suamiku
Kalau Om lagi ngapain?


__ADS_3

Di sekolah salsa. Bel istrahat sudah berbunyi beberapa menit yang lalu. Semua siswa sudah berhamburan keluar kelas. Tapi, tidak dengan Salsa. Istri Zidan itu masih duduk diam di bangku nya.


"Sa, kantin yuk," ajak santi yang sudah duduk di sebelah Salsa.


"Kamu saja San, aku nggak ikut, kaki aku gak kuat jalan jauh," ucap Salsa menolak ajakan Santi.


"Salsa, ada yang nyariin kamu nih," salah satu teman kelas Salsa tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu bersama seorang laki-laki dengan setelan jas. Laki-laki itu menenteng dua buah paper bag di tangan nya.


"Abang, Abang ngapain kesini?" tanya Salsa heran.


"Saya di suruh Bos untuk mengantarkan makanan ini, nyonya," jawab Raka, mengangkat dua kantong paper bag di tangan nya.


"San, Santi," panggil Salsa, namun tidak ada sahutan dari sahabat nya itu.


Santi sejak tadi terus saja memandang Raka, menopang kan satu tangannya di dagu, senyum mengembang terbit di bibir gadis itu.


"Heis...." Salsa mengusap wajah sahabat nya, membuat Santi tersentak kaget.


"Kamu ke napa senyum-senyum sendiri? Apa yang kamu pikirkan?" tanya Salsa dengan mata yang menyipit.


"Nggak ada, siapa yang senyum?" elak Santi.


"Ya sudah, kamu ke kantin sana,"


"Iya, iya," balas Santi seraya bangkit dari duduk nya, berjalan keluar kelas. Ketika dirinya berpapasan dengan Raka, dengan genit nya Santi mengedip kan satu mata nya pada Raka, membuat raka bergidik geli.


"Dasar cabe cabe an," batin Raka.


"Abang, sini," panggil Salsa setelah Santi pergi.


Raka kemudian berjalan mendekati Salsa.


"Iya nyonya."  balas Raka.


"Abang, Salsa boleh nanya nggak?"


"Tanyakan saja nyonya, apa yang ingin nyonya tanyakan?"


"Abang, nona Niken itu siapa ya? Kelihatan nya dia dekat sama si Om," tanya Salsa.


"Maafkan saya nyonya, saya tidak bisa menjawab nya. Lebih baik nyonya sendiri yang langsung bertanya pada Bos," jawab Raka.


"Iih, Abang seperti nggak tau saja si Om itu seperti apa. Salsa takutlah menanyakan itu. Nanti si Om nya marah, Abang mau tanggung jawab?"


"Bos tidak akan marah nyonya, percaya sama saya, Bos tidak akan pernah menyakiti nyonya," jawab Raka meyakin kan istri Bos nya.


"Abang nggak tau saja, seperti apa Om itu. galak banget, kerja nya bentak-bentak Salsa mulu,"


"Itu hanya diluar nya saja nyonya, sebenernya Bos sangatlah memperhatikan nyonya. Buktinya, ini Bos yang menyuruh saya membawakan makanan kesini," Raka meletak kan bawaan nya diatas meja.


Sejenak Salsa memikirkan ucapan Raka. Dirinya membenarkan ucapan itu.


"Sekarang nyonya makanlah," ucap Raka membuyarkan otak Salsa yang sedang memikirkan Zidan.

__ADS_1


"Ya, terimakasih Abang,"


"Kalau begitu saya permisi nyonya," ucap Raka lalu pergi meninggalkan ruang kelas Salsa.


.


.


.


.


Sementara itu ditempat lain. Sejak tadi, pemilik perusahan Ziro Company, duduk di kursi kerja nya dengan perasaan resah gelisah. Sebentar-sebentar dirinya melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan.


"Apa aku telepon saja dia. Tapi apa yang harus aku katakan?" dirinya terus membatin.


Setelah puas membatin, Zidan mengambil ponsel nya diatas meja, menatap layar ponsel yang kini sudah menyala itu. Tapi dirinya meletek kan kembali ponsel itu di meja. Zidan, mengalihkan pandangannya ke layar leptop yang ada di hadapan nya. Namun, itu hanya beberapa detik saja, kemudian ia meraih kembali ponselnya dan melakukan panggilan.


"Halo Om," sapa seseorang setelah sambungan telepon nya tersambung.


Zidan menghela nafas dalam sebelum mulai bicara.


"Ya," balas Zidan, hanya kata itu yang mampu dirinya ucapkan.


"Ada apa Om?" tanya seseorang di sebrang telepon.


"Aku mesti mengatakan apa? Apa aku tanya kan, sudah makan apa belum? Heis, jangan Zi, jangan jangan tanyakan hal itu, karna itu hanya membuat mu terlihat bodoh. Lalu, aku harus bertanya apa?" batin Zidan berdepat sengit.


"Halo Om," suara seseorang dari balik sambungan telepon yang sudah tidak bisa di hitung lagi banyak nya.


"Kalau Om dengar, kenapa Om diam saja?"


Zidan menghela nafas besar.


"Kamu lagi apa?" tanya nya, yang lansung mengutuk dirinya sendiri. Bagaimana bisa mulutnya bertanya hal seperti itu.


"Baru selesai makan Om, terimakasih ya Om, sudah membawakan saya makanan,"


"Ya," balas Zidan singkat.


"Kalau Om sendiri lagi ngapain? Apa Om sudah makan siang?"


"Sa- Sa- sa,"


Tuuuuuuuuuuuuut!


Sambungan telepon itu Zidan putuskan sendiri. Entah kenapa karna lidah nya mendadak kaku, tidak mampu lagi melafaskan kata dengan benar.


"Kenapa aku bisa gugup seperti ini? dan kenapa juga jantungku berdetak seperti ini?" Zidan merutuk dirinya sendiri sambil memegang dadanya saat ini berdetak tak beraturan.


Dengan cepat dirinya meraih gelas yang berisi air putih, palu meneguk air itu sampai habis tak bersisa.


"Seperti nya aku harus memeriksa kan diri ke dokter," gumam nya.

__ADS_1


.


.


.


Di rumah Ibu Salsa.


Herman yang sudah tidak tau lagi cara untuk mendapatkan uang, akhirnya ia nekat mengambil sertifikat rumah milik istrinya. Gegas dia memasukkan sertifikat itu ke balik baju nya, sebelum pergi keluar.


"Mas mau kemana?" tanya Rita melihat Herman yang hendak keluar.


"Mau kerja lah, tidak ada lagi yang bisa aku harapkan dari kamu," jawab Herman ketus, kemudian berlalu pergi.


"Syukurlah kalau kamu sudah sadar, Mas,"  gumam Rita tersenyum senang melihat punggung suami nya yang semakin menjauh.


.


.


.


Di sekolah Salsa.


Bel pulang sekolah sudah berbunyi lima menit yang lalu, Salsa di bantu Santi berjalan ke luar kelas. Santi memegang bahu Salsa, melangkah pelan meninggalkan ruang kelas.


Tiba-tiba ponsel Santi berbunyi, ia pun lansung mengangkatnya.


"Hah, innalillahi wainnailaihi rajiun," ucap Santi berbicara dengan seseorang di ponsel nya.


"Iya, Ma, Santi pulang sekarang," ucap Santi sebelum sambungan telepon nya terputus.


"Kenapa San? Siapa yang meninggal?" tanya Salsa karna mendengar ucapan Santi seperti mendapat kabar duka.


"Nenek aku di kampung baru saja meninggal Sa," balas Santi, mata yang mulai berkaca-kaca.


"Salsa aku harus segera pulang, Mama aku sudah menunggu di rumah." ujar Santi.


"Iya San, gak pa-pa, kamu pulang saja,"


"Tapi kamu gimana?" ucap Santi.


"San, biar aku saja yang membantu Salsa," ucap Rendi yang tiba-tiba sudah berada di belakang mereka.


Santi menoleh ke arah suara itu.


"Sa, aku benar-benar harus pulang sekarang, kamu gak pa-pa kan sama Rendi," pinta Santi.


"Iya, nggak pa-pa San, kamu pulang aja. Hati-hati di jalan ya,"


"Ren, aku titip sahabat aku ya," ucap Santi lalu berlari meninggal kan Salsa dan Rendi.


Tangan Rendi kemudian memegang bahu Salsa menggantikan tangan Santi yang tadi berada di sana.

__ADS_1


"Izinkan aku membantu kamu ya," ucap Rendi di saat tangan nya sudah berada di bahu Salsa.


Salsa ingin sekali menepiskan tangan itu. Tapi dia juga membutuhkan seseorang untuk membantu nya berjalan.


__ADS_2