
Terdengar suara dari arah belakang mereka berdiri.
"Salsabila! Cepat masuk sekarang, teman-teman mu sudah menunggu di dalam." kata Buk Nurma, yang sudah berdiri di depan pintu ruang seni.
"Udah sana pergi!" Santi sedikit mendorong tubuh Sahabatnya itu.
Meski malas, Salsa berjalan juga mendekat ke arah Buk Nurma.
"Buk, boleh tidak kalau saya tidak ikut dalam acara pentas seni ini...? tanya Salsa takut-takut.
"Lho.. Kenapa Salsa?" tanya Buk Nurma.
"Sa-saya malu Buk," lirih Salsa menjawab pertanyaan Buk Nurma disertai kepala nya menunduk.
"Mangka dari itu Ibuk mengikut sertakan mu dalam acara pentas seni ini, agar kamu bisa menumbuhkan rasa kepercayaan dirimu," ujar buk Nurma sembari tersenyum.
"Tapi Buk....?"
"Sudah tidak apa-apa. Ayo masuk sekarang, kasihan teman-teman mu sudah menunggu sejak tadi," imbuh Buk Nurma meyakinkan.
Buk Nurma merangkul bahu Salsa berjalan masuk ke dalam ruang seni. Salsa melangkah pelan saat melihat hanya ada bangku di sebelah Rendi yang kosong.
"Salsa, duduk lah! Aku gak makan orang kok," ujar Rendi melihat Salsa yang ragu-ragu untuk duduk di sebelah nya.
Siska yang melihat, menggeram kesal. Karna tadi ia sudah dulu duduk di sana. Tapi, malah di suruh pindah oleh Rendi saat Salsa masih berdiri di luar.
"Baiklah anak-anak, sekarang kalian semua sudah berkumpul di sini. Pertama-tama Ibuk mau mengucapkan selamat buat kalian yang terpilih. Ibuk sengaja memilih kalian yang ada di sini karna Ibuk percaya kalian pasti bisa menampilkan yang terbaik nantinya. Sekarang Ibuk mau, kalian memberikan ide, cerita apa yang akan kita pentaskan nanti?" ujar Buk Nurmaini, memberikan kata sambutan.
Seorang murid bernama Aidil yang satu kelas dengan Salsa mengangkat jari telunjuk nya keatas.
"Buk, bagaimana kalau kita pentaskan saja drama Cinderella. Setuju gak teman-teman?" ujar nya memberikan pendapat, di sambut kata setuju hampir dari seluruh Siswa yang ada di ruangan itu.
"Baiklah, jika kalian semua setuju dengan usul yang di berikan Aidil, Ibuk pun setuju-setuju saja. Jadi sekarang kita lanjutkan untuk mencari tokoh yang akan memainkan kan peran di dalam cerita cinderala," ujar Bu Nurma membuat para siswa seketika bersorak riuh.
"Sekarang kita akan memilih, tokoh yang akan berperan menjadi Ibu tiri jahat?" lanjut Bu Nurma.
Para siswa seketika lansung saling pandang satu sama lain. Sedangkan Salsa sejak tadi hanya diam menyimak penuturan guru kesenian itu.
"Sepertinya si Novi cocok tuh Buk, enjadi Ibu tiri. Lihat saja wajah nya terlihat judes," usul Rais teman sekelas Novi.
"Iya Buk, cocok pakai banget malahan!" timpal Mira yang lansung kepalanya di toel oleh Novi.
"Lo tu yang lebih cocok untuk jadi Ibu tiri kejamkejam!" balas Novi sengit.
"Sudah, sudah, Ibuk mau kerelaan kalian Saja, siapa yang bersedia menjadi Ibu tiri kejam?" timpal Bu Nurma menengahi.
Semua siswa hanya diam, tidak ada yang bersedia menerima peran itu.
"Baiklah, jika begitu biar Ibuk saja yang memilih peran untuk kalian mainkan di drama Cinderella yang akan kalian pentaskan nanti. Ibuk harap tidak ada diantara kalian yang menolak atau pun protes dengan peran masing-masing," imbuh guru kesenian yang sudah berusia empat puluh tahun itu.
"Yang berperan sebagai ibu tiri jahat Ibuk mau Novi yang memerankan nya. Dan untuk ibu peri, Ibuk memilih Mira yang akan memerankan nya. Sedangkan untuk pangeran Inuk rasa....."
"Buk, biar saya saja yang menjadi pangeran nya," Aidil menyela cepat ucapan Buk Nurma.
"Huuuuuuuuu!" Suara riuh para Siswa seketika memenuhi ruang kesenian itu.
__ADS_1
"Aidil, di negri dongeng maupun di negri nyata, yang namanya pangeran itu pasti tinggi dan tampan, nggak kaya lo pendek dan bantet. Lo itu cocok nya jadi kurcaci Dil," timpal Rais mengundang gelak tawa semua Siswa yang ada di ruangan itu.
"Bilang aja lo iri," balas Aidil cuek.
Salsa yang tadi nya hanya diam, malah tersenyum mendengar candaan Rais.
"Sudah, sudah. Seperti yang ibuk katakan tadi, Ibuk tidak ingin kalian protes atau pun menolak peran yang akan Ibuk berikan. Apa pun peran yang kalian dapatkan itu sama saja. Jadi Ibu harap kalian bisa bekerja sama," ujar Buk Nurma menengahi.
Para Siswa laki-laki saling pandang sebelum Buk Nurma melanjutkan ucapan nya.
"Untuk tokoh pangeran Ibu mau Rendi yang memerankan nya. Dan untuk tokoh utama yaitu Cinderella Ibuk memilih Salsabila yang memerankan nya. sedang kan untuk saudara tiri Cinderella Ibu mau Siska yang memerankannya."
Tubuh Salsa seketika menegang mendengar nama nya di Sebut menjadi tokoh Cinderella. Sedangkan Rendi malah tersenyum senang menatap Salsa yang duduk di samping nya.
Apa hebatnya sih cewek kampung itu, ucap Siska di dalam hati.
"Terus saya berperan sebagai apa buk?" tanya Aidil.
"Lo cocok berperan jadi kurcaci Dil," timpal Rais.
Hahahahahaha
Kembali terdengar suara tawa riuh dari ruangan itu.
"Kalau saja mulut loe punya BPKB, pasti udah gua gadai in ke tukang loak," balas Aidil kesal.
"Sudah, sudah. Ibuk sudah katakan tadi semua kalian yang ada di sini akan ada perannya masing-masing, untuk Aidil dan Rais kalian berdua akan menjadi tokoh pendukung. yang akan ikut berperan dalam Drama Cinderella ini. Dan untuk dialog nya nanti ibuk akan buatkan," ujar buk Nurma.
"Jadi kapan kita mulai latihan buk?" tanya Mira dengan penuh semangat.
"Apa masih ada yang ingin kalian tanyakan?" imbuh buk Nurma bertanya.
"Buk, boleh gak tukar peran?" tanya Siska.
"Memang nya kenapa dengan peran mu itu Siska?" jawab buk Nurma yang juga di sertai dengan pertanyaan.
"Rasanya saya gak cocok saja buk, dengan peran sebagai saudara tiri yang jahat," ujar Siska.
"Disini ibuk yang menjadi sutradaranya, jadi ibuk tau peran apa yang cocok untuk kalian," tegas buk Nurma.
"Baiklah, jika tidak ada lagi yang ingin kalian tanyakan, kalian bisa kembali ke kelas masing-masing.
*
Di kantor Zidan.
Sekembali nya menemui Niken. di kantor, Zidan tidak bisa fokus untuk bekerja. Ia lalu meraih satu bingkai foto yang ada di meja nya. Potret seorang pria paruh baya, dengan setelan jas lengkapnya.
"Pa, maaf kan Zi pa. Maaf kan jika sikap Zi ini mengecewakan papa." gumam Zidan menatap bingkai foto yang ada di tangan nya.
Disekolah Salsa.
Siang itu, Herman masih berada di luar pekarangan sekolah. ia masih berfikir bagai mana cara nya agar bisa menemui Salsa. Sedangkan ia melihat mobil yang selalu mengantar jemput Salsa, pulang dan pergi sekolah masih terparkir di tepi jalan di luar pagar. itu berarti sang sopir tidak jauh berada dari sana. Lalu ia berjalan mendekati gerbang sekolah.
"Tong..... Tong.... Sini tong," seorang Siswa yang berjalan di dalam pekarangan sekolah melihat Herman melambaikan tangan pada nya. Siswa itu pun lalu berjalan mendekati Herman.
__ADS_1
"Ada apa Om?" tanya Siswa itu, saat sudah sampai di depan Herman yang berdiri di balik pagar.
"Bisa minta tolong, panggil Salsabila," balas Herman.
"Salsabila....... Anak IPA ya?" tanya siswa itu.
"Iya, iya, bisa tolong kamu panggil kan? bilang saja orang tuanya menunggu di luar, ada hal penting yang ingin di sampaikan," ujar Herman.
"Kenapa Om tidak masuk saja dan menemuinya di dalam?" tanya siswa itu lagi.
"Sudah kamu panggil kan saja cepat. saya buru-buru, tidak banyak waktu untuk minta izin pada guru," ucap Herman beralasan.
"Baiklah." Siswa itu kemudian berjalan menuju kelas Salsa. dari luar kelas ia memanggil Salsa dengan cara melambaikan tangan nya. Salsa yang sedang mengikuti pelajaran lalu meminta izin pada guru untuk keluar untuk menemui siswa itu.
"Lo Salsabila kan?" tanya siswa itu saat
"Iya, ada apa?" Salsa juga bertanya.
"Orang tua lo menunggu di luar gerbang tuh," balas siswa itu, kemudian melangkah pergi.
Apa Ibu ingin menemuiku?"
Salsa lalu pergi ke tempat yang di sebutkan siswa tadi. Santi yang sejak tadi memperhatikan Salsa dari dalam kelas, ia pun mengikuti Salsa setelah meminta izin pada guru yang mengajar.
Salsa sudah sampai di depan gerbang sekolah. langkah nya terhenti saat melihat hanya ada Herman yang berdiri memegang pagar besi dari luar.
"Salsa, saya ingin menyampaikan kabar penting dari Ibu mu," teriak Herman dari luar pagar, saat melihat Salsa yang sudah berbalik badan hendak kembali masuk ke dalam.
Salsa pun berjalan mendekati Herman.
"Apa kamu tau, Ibu mu tidak bekerja lagi di pabrik, sekarang ia hanya bekerja menjadi tukang cuci baju-baju para tetangga," ucap Herman saat Salsa sudah berada di dekatnya.
"Kenapa tidak anda saja yang bekerja. Anda itu suami nya, harus nya anda yang bertanggung jawab untuk memenuhi semuanya, bukan malah membuat Ibu saya menderita."
"Bukan main biadap Mulut kau sekarang ya? Sudah berani kau menghinaku, kau mau Ibu kau yang bodoh itu mati?" ancam Herman yang omosi.
Salsa hanya diam ketakutan.
Herman lalu meraih satu tangan Salsa dari balik pagar.
"Lepas! Anda mau apa sebenarnya?" Salsa memberontak saat atu tangan nya di pegang kuat Herman.
"Berikan aku uang, cepat!" sentak Herman penuh penekanan, sesekali mata nya melihat ke arah Pos satpam yang terletak di samping.
"Saya tidak ada uang!" Salsa terus berusaha melepaskan cengkraman tangan Herman di pergelangan tangannya.
"Salsa...!" Teriakan suara seseorang dari arah belakang Salsa, membuat Herman seketika melepaskan tangan nya yang tadinya hendak membuka cincin di jari manis Salsa.
"Salsa Ibu guru memanggil," ucap Santi saat Herman sudah melepaskan pergelangan tangan nya.
Salsa lansung berlari ke arah sahabatnya itu, meninggal kan Herman.
"Sial! Lagi-lagi aku gagal! Cincin di jarinya itu seperti nya sangat mahal, aku harus bisa mendapatkan nya," gumam Herman.
**
__ADS_1
Sepulang sekolah, Salsa menelpon Zidan memberitahukan jika ia harus mengikuti latihan drama untuk pentas seni dan akan pulang nanti jam setengah lima sore.