
Dreeeet
Dreeeet
Dreeeet
Baru saja film di putar, Zidan merasakan ponsel nya bergetar. Ia segara mengambil ponsel itu dan melihat nama Niken lah yang tertera sebagai pemanggil di layar. Zidan mengabaikan getaran ponsel nya. Ia menoleh melihat Salsa yang juga melihat nya sembari memeluk lengan nya erat.
Dreeet
Kali ini getaran notif pesan masuk di ponsel Zidan.
(Zi, tolong aku, aku takut) pesan dari Niken yang di baca Zidan.
Tidak berselang lama setelah pesan itu masuk. Ponsel Zidan kembali bergetar dan masih nama Niken yang tertera di layar sebagai pemanggil.
Zidan menoleh melihat Salsa yang kini terlihat fokus menatap layar lebar di hadapan nya.
"Sabila... Saya mau ke toilet sebentar," ucap Zidan yang lansung berdiri belalu pergi.
Sebelum sampai di toilet Zidan menggeser tanda panah hijau di ponsel nya karna ponsel nya terus saja bergetar.
"Zi, tolong aku Zi. Ampun..... Auw sakit! Zi.... Tolong aku...." Zidan mendengar suara Niken yang mengerang kesakitan, serta suara seperti pukulan dan benda jatuh ke lantai.
"Niken, kau jangan bercanda! Hallo, Niken! Apa kau bisa mendengarku?"
"Hallo hallo, Niken! Hallo..." ucap Zidan merasa khawatir. Namun, jawaban. Ia hanya mendengar suara jeritan kesakitan Niken yang seperti sedang di pukul seseorang
"Hallo Sobat! Apa kau masih mengenal suara ku?" ucap suara seorang laki-laki dari sambungan telepon.
"Kau!" Suara Zidan bergetar ketika mendengar suara laki-laki yang ia kenali.
"Ha ha ha ha. Bagus! ternyata kau belum melupakan aku sobat," ucap laki-laki itu dari sambungan telepon.
Zidan tidak menjawab ucapan laki-laki di sambungan telepo. Momori nya berputar mengingat kembali kejadian masa lalu
"Jangan cemas kawan, aku hanya ingin sedikit bersenang-senang dengan kekasih mu ini. Setelah selesai aku akan mengembalikan nya lagi padamu..."
Tuuuuuuuth
Sambungan telepon terputus. Zidan mencoba kembali menghubungi nomor ponsel Niken, namun sudah tidak aktif.
"Shitt!" Zidan berdecak kesal mengusap kasar wajah nya. Sejenak ia berpikir, sembari menyapu kasar rambut nya ke belakang dengan kedua telapak tangan
"Arrrrrg, kenapa aku tidak membunuh nya saja waktu itu!"
Sebelum memutuskan kembali lagi memasuki ruang bioskop, Zidan menelpon Raka terlebih dulu.
"Raka, lacak lokasi ponsel Niken sekarang juga!" ucap Zidan saat sambungan teleponnya telah terhubung.
__ADS_1
"Baik bos," balas Raka.
"Datang sekarang ke mension ku, ada hal penting yang ingin ku sampaikan," ucap Zidan tegas lalu memutus kan sambungan telepon nya.
Zidan kembali masuk dan duduk di sebelah Salsa.
"Mas kenapa?" Salsa berbisik karna melihat perubahan pada suami nya setelah kembali dari toilet. Terlihat gelisah, tiap sebentar Zidan selalu melihat layar ponsel nya, raut wajah nya pun terlihat khawatir.
Zidan menggeleng sembari tersenyum. Namun Salsa yang peka masih bisa melihat raut cemas di wajah suaminya itu.
Salsa mengenggam satu tangan Zidan, menyatukan sela jemarinya di sana.
"Mas, ayo kita pulang, saya sudah ngantuk," ucap Salsa memberi alasan, karna ia tahu saat ini suami nya pasti sedang memiliki masalah.
"Tapi kan filmnya belum selesai," balas Zidan yang juga setengah berbisik di telinga Salsa.
"Gak pa-pa kok mas, lain kali kan kita masih bisa nonton lagi," ujar Salsa meyakin kan.
Mereka lalu pergi meninggalkan film yang sedang di putar, tak lupa Salsa mengatakan pada Mira dan Novi yang duduk tidak jauh dari dia dan Zidan duduk.
**
Tiga puluh menit kemudian, mobil yang di kendarai Jefri sudah tiba di mension. Salsa lebih dulu melangkah masuk ke dalam. Di ruang utama ia melihat Raka yang duduk di sofa, terlihat fokus dengan leptop di depan nya.
"Duar.....!"
"Ha ha ha ha," Salsa tertawa senang melihat tubuh Raka yeng bergelinjang karena kaget.
"Aduh nyonya, Hampir saja jantung saya lepas." dengus Raka sembari tangan nya memegang dada.
"He he he he, kaget ya bang?" ledek Salsa.
Raka hanya mendelik kesal pada istri tuannya itu.
"Sabila, masuk lah dulu ke kamar, saya mau bicara dengan Raka sebentar." ucap Zidan yang sudah berdiri di belakangnya.
"Jangan lama-lama," balas Salsa sembari melangkah pergi.
Zidan mengangguk menanggapi.
**
"Bagaimana Raka. apa kau sudah menemukan lokasi keberadaan Niken?" tanya Zidan sembari menghempas kan duduknya di sofa.
"Sudah bos," jawab Raka.
"Kalau begitu suruh anak buah mu menyelidiki nya ke sana," balas Zidan.
"Itu juga sudah saya lakukan bos," jawab Raka.
__ADS_1
"Apa kau tau Raka....?" Zidan menghela nafas dalam kemudian menghembuskan nya secara perlahan.
"Rocky lah yang menyusup ke markas kita waktu itu, dan dia juga yang membawa Niken pergi," sambung Zidan.
"Awal nya saya juga berpikir seperti itu bos, karna pintu rahasia menuju ruang bawah tanah, tidak ada orang lain yang tau, letak dan cara membuka sandi nya, selain anggota kita dan Rocky. Jika pelakunya bukan Rocky, pastilah anggota kita yang berkhianat, karna telah memberitahukan letak posisi dan sandi nya pada orang lain," ujar Raka yang juga sudah memprediksi sebelum nya.
"Itu berarti Rocky tidak sendiri bos, dia pasti sudah mempunyai anak buah yang cekatan, atau bisa jadi dia sudah mempunyai sekutu yang kuat untuk membantu menjalan kan misi nya. Karna tidak mungkin dia melakukan itu sendirian. bos tau sendiri ke adaan fisik nya seperti apa sekarang ini dan juga senjata yang dia rampas itu tidak sedikit." imbuh Raka menjelaskan.
"Brengsek! Harus nya dulu aku lansung mengirim bajingan itu ke neraka!" Tangan Zidan mengepal kuat.
"Rocky memang tidak akan mampu melawan kita bos. Namun, yang saya khawatir jika dia tau bos sudah menikah tentu dia akan mengincar nyonya,"
Wajah Zidan cemas seketika setelah mendengar apa yang di ucapkan Raka.
"Tapi bos tidak perlu khawatir, mulai besok saya akan mengutus dua orang bodyguard terlatih untuk menjaga nyonya dari kejauhan," Imbuh Raka yang tau kecemasan Zidan.
"Raka...." Zidan menjeda ucapan nya.
"Ya," sahut Raka sembari melihat wajah bos nya.
"Terimakasih!" lanjut Zidan pelan, kata-kata yang belum pernah sama sekali di dengar Raka.
"Santai saja bos, itu sudah menjadi tugas saya. Bos tidak perlu merasa terharu begitu lah," Raka mencoba mencair kan suana haru.
"Haeis! Kau jangan merasa besar kepala!" dengus Zidan.
Raka hanya terkekeh.
"Oh ya bos, bagai mana dengan wanita yang membuly nyonya tadi siang di kantor?" tanya Raka.
"Kau urus saja Raka. Aku mau istrahat," jawab Zidan sembari bangkit dari duduk nya dan melangkah pergi.
"Dan Kau tidur lah di sini," imbuh Zidan, setelah beberapa langkah berjalan.
"Baik bos," balas Raka.
Baru beberapa menit Zidan meninggalkan Raka di ruang utama, tiba-tiba seorang yang bertugas berjaga di luar, berjalan tergesa-gesa menghampiri Raka yang masih duduk di sofa ruang utama.
"Tuan, di luar ada nona Niken, dia ingin bertemu dengan tuan Zidan," ucap penjaga itu memberi laporan.
Raka lalu berjalan keluar. Benar saja di luar gerbang ia melihat Niken yang sedang bertengkar dengan satpam yang berjaga.
"Ada perlu apa kau malam-malam datang kesini, Niken?" tanya Raka sinis.
"Raka, tolong biarkan aku masuk, aku mau bertemu Zi, ada hal penting yang ingin aku sampaikan," jawab Niken sembari berjalan mendekati Raka.
"Bos belum pulang! Katakan lah apa yang ingin kau katakan, nanti akan ku sampaikan pada bos," balas Raka datar.
"Aku harus menyampaikannya sendiri pada Zidan. Tolong Raka, tolong biarkan aku masuk," mohon Niken yang tetap bersikukuh ingin masuk.
__ADS_1