
Zidan pun menurut, ia menutup matanya. penasaran juga dengan hadiah yang akan di berikan istrinya.
"Tunggu ya mas, jangan di buka dulu sebelum aku suruh," pinta Salsa yang di balas anggukan kepala dari Zidan. lalu Salsa beranjak dari duduk nya mengambil sebuah kotak yang di bungkus dengan kertas.
"Sabila, sudah belum?" tanya Zidan setengah teriak seperti tak sabar.
"Tunggu dulu mas." Salsa kembali ketempat duduk nya meletakkan kotak yang sudah di bungkus kertas kado itu di atas meja. Lalu melambaikan tangan nya memanggil Raka dan Maria yang duduk tidak jauh dari meja mereka.
"Sabila, apa sudah boleh mas buka," ulang Zidan bertanya.
"Belum! sabar dulu lah mas," jawab Salsa dengan mata yang terus memperhatikan Maria dan Raka yang berjalan mendekat membawa kue ulang tahun.
Salsa mengambil kue dari tangan mertua nya. kemudian, menyalakan lilin di atas kue ulang tahun itu, ia juga memberikan kode agar Raka dan Maria menyanyikan lagu happy birthday saat Zidan membuka matanya.
"Dah, sekarang mas boleh buka mata," perintah Salsa.
Zidan perlahan membuka matanya. dan saat itu juga Maria dan Raka mulai menyanyikan lagu Happy birthday. disamping nya berdiri Salsa yang memegang kue ulang tahun dengan lilin yang menyala diatas nya.
Sungguh, Zidan merasa terharu saat itu, masih teringat oleh nya kapan terakhir kali ia meniup lilin dan mendengar lagu yang di nyanyikan Maria dan Raka di belakang Salsa.
Ya, semenjak Maria pergi meninggalkan nya, Zidan tak pernah lagi mendengarkan lagu heppy birthday atau pun meniup lilin kue ulang tahun.
Zidan mengusap mata nya yang kini sudah berkaca-kaca, tubuhnya kadang bergetar tatkala ingin tertawa tapi tangis juga ingin memaksa.
"Mas, cepet tiup lilin nya, aku sudah tidak sabar untuk menikmati kue buatan mama ini." desak Salsa yang tak ingin melihat wajah haru suaminya.
Zidan berdiri dari duduk nya, ia pandangi wajah istri nya, lalu netra nya mengarah pada Maria dan Raka yang masih menyanyikan laku. Tepatnya lirik yang mereka ucapkan itu menyuruh nya agar segera meniup lilin.
Zidan menghela nafas panjang, sebelum menghembuskan ke arah api lilin yang ada diatas kue yang di pegang Salsa.
"Tunggu dulu mas. Mas Doa dulu lah," saran Salsa yang membuat Zidan menyimpan kembali pasokan udara yang akan di keluarkan nya.
Zidan pun menurut, sambil berdiri ia menadahkan kedua tangan, dengan bibir yang bergerak ber ucap di dalam hati. Selesai memanjatkan doa ia mengusapkan kedua tangan kewajah.
Kembali Zidan menghela nafas panjang lalu menghembuskan nya ke arah lilin diatas kue ulang tahun yang di pegang Salsa.
"Potong kue nya, potong kue nya, potong kue nya sekarang juga." sorak Raka dan Maria yang berdiri di belakang Salsa.
"Cepat mas, potong kue nya," desak Salsa.
Zidan mengambil pisau yang sudah tersedia di samping kue itu, lalu memotong sedikit dan meletak kan nya di atas piring kecil yang memang sudah di siap kan diatas meja. Ia menyuap kan sepotong kue itu dengan tangan nya ke mulut Salsa.
__ADS_1
"Mama, sini," Salsa menarik tangan mertua nya setelah meletak kan kue ulang tahun itu diatas meja.
"Mas," Salsa memandang Zidan yang kini berdiri berhadapan dengan Maria.
Zidan seakan tau maksud Salsa, kedua bola matanya memberanikan diri menatap Maria yang berdiri tepat depan nya. Sungguh di hati kecil nya sangat merindukan sosok wanita yang berdiri di depan nya saat ini. Tapi sifat dendam nya selalu saja menguasai hati.
Kedua bola mata Zidan kini berkaca-kaca, rasa rindu ingin memeluk sosok wanita pertama yang dulu sangat ia cintai itu sudah tak dapat ia bendung lagi.
Kini kedua nya saling berpelukan, Zidan hanya mampu menangis dalam pelukan Maria, tanpa ngin berkata sepatah kata pun. begitu pun maria, yang hanya bisa terisak sambil terus memeluk tubuh sang putra.
Salsa yang melihat juga bisa merasakan keharuan suasana saat itu, wajah nya juga sudah dibanjiri air mata, begitu pun Raka yang berdiri di belakangnya.
Raka tak menyangka, kehadiran Salsa mampu mencairkan dendam dihati bosnya. dulu bosnya itu selalu mengatakan pada siapapun, jika ibu nya sudah meninggal. Bahkan semua benda yang bisa mengingat kan nya dengan Maria ia lenyap kan.
Salsa ingin beranjak pergi, untuk memberikan ruang pada suami dan mertuanya itu agar bisa menjelas kan kesalah pahaman yang sudah lama berlarut. tapi saat ia baru melangkah pergelangan tangan nya di pegang Zidan.
******
"Sudah lah bos, nyonya besar, nyonya muda. Nanti saja di rumah lanjutkan drama teletabis nya. Cacing di dalam perut saya sejak tadi sudah berbunyi. kapan acara makan nya kalau berpelukan terus?" gerutu Raka yang berdiri di belakang mereka.
Ya, Maria, Salsa dan Zidan, ketiganya memang saling merangkul satu sama lain, seperti teletabis yang saling berpelukan.
"Raka. Sudah berani kau sekarang membohongi ku!" bentak Zidan setelah melepaskan diri dari pelukan dua wanita yang kini sangat berarti baginya.
"Udah lah mas, nanti aja marah nya," Salsa menarik tangan Zidan agar kembali kemeja.
"Gaji kau aku potong lima puluh parsen Raka," ancam Zidan sambil berjalan menuruti Salsa. tentu Raka tidak takut karna ancaman itu memang sering di ucapkan bos nya, tapi nyatanya, bukan gaji yang di potong malah bonus yang sering di berikan Zidan.
"Ayo Raka kita pesan makanan," ujar Maria berlalu pergi. Sengaja meninggalkan menantu dan putra nya berdua.......
Zidan dan Salsa pun kembali duduk di kursi tadi dangan posisi yang saling berhadapan. Mata Zidan kini tertuju pada kotak dengan bungkus kado yang terletak di tengah-tengah meja.
"Apa ini?" tanya Zidan mengambil kotak itu.
"Buka aja Mas," ujar Salsa sambil tersenyum.
Zidan lalu merobek kasar kertas kado yang membungkus kotak itu. Seperti tak sabar melihat isi di dalam nya.
Zidan terkekeh saat melihat isi di dalam kotak itu. Sebuah roti dan beberapa alat tulis. ya, itu adalah barang-barang yang berserak dilantai swalayan, saat Zidan secara tidak sengaja Bertabrakan dengan Salsa.
"Lucu ya mas, padahal kita belum pernah ketemu sama sekali sebelum nya. Tapi, kenapa mas mau menolong ku saat itu?"
__ADS_1
"Karna mas tau saat itu kamu butuh bantuan," jawab Zidan datar.
"Terus kenapa mas memutuskan menikahi aku?" tanya Salsa seperti tak puas dengan jawaban yang di berikan Zidan.
"Waktu itu mas hanya ingin melindungi kamu saja, dari ayah tiri dan ibu mu,"
Wajah Salsa berubah menjadi sedih saat Zidan menyebut ibu nya. ia kembali teringat, waktu melihat Rita di lampu merah kemarin, terlihat sangat menyedihkan. Tapi, ia juga kecewa saat tau Rita hendak menjual rumah peninggalan ayah nya.
"Maaf sayang bukan niat mas, untuk memisahkan kamu dan ibu. Kamu tau kan? apa yang mas khawatir kan!" ujar Zidan saat menangkap perubahan raut wajah Salsa.
"Iya aku paham mas, tapi boleh nggak aku minta tolong. Rumah peninggalan ayah mau di jual ibu. Padahal hanya itu satu-satu nya peninggalan ayah yang tersisa-"
"Tidak usah di pikirkan, biar nanti mas suruh Raka mengurus nya. tapi berjanjilah untuk saat ini jangan dulu temui ibu, dan jangan sembunyikan apapun dari mas," pinta Zidan.
Salsa mengangguk meski ia tak yakin akan bisa menepati janji nya itu.
*******
Di tempat lain. Herman hanya memperhatikan Rita dari kejauhan menjajakan makanan di lampu merah. Ia juga siap siaga lari jika melihat anak buah para cukong yang mencari nya.
Hutang yang terlalu banyak membuat Herman takut untuk pulang kerumah Rita. Setiap hari ada saja orang yang datang mencari nya. Entah berapa banyak cukong tempat ia meminjam uang.
Herman melangkah cepat saat melihat Rita yang meneduh di bawah pohon di tepi jalan. Rita mengistirahatkan tubuh nya di bawah pohon sambil memijat betis nya yang terasa pegal.
"Bagai mana kita bisa makan kalau kau hanya duduk-duduk saja di bawah pohon ini," cecar Herman menghampiri nya.
"Kau kira aku robot!!" decak Rita kesal.
"Kanapa? kau capek! mangkanya temui anak mu itu dan minta uang padanya" bujuk Herman.
Rita hanya diam, menurutnya tidak ada guna meladeni suaminya yang otak miring itu.
"Kau, dengar aku tidak!" bentak Herman sambil menarik rambut Rita ke belakang hingga wajah Rita mendongak ke atas.
"Lepas! atau aku teriak biar kau di hajar masa," ancam Rita, membuat Herman lansung melepaskan nya.
"Dasar bodoh! di ajari cari uang enak tak mau," gerutu Herman berlalu pergi........
*******
Hari berlalu. kebahagian Salsa semakin bertambah melihat Maria dan Zidan yang sudah berbaikan. Kehamilan pertamanya pun tidak merepotkan, ia tidak ada merasa mual-mual atau pun ngidam seperti kebanyakan wanita hamil lainnya. hanya saja, kaki nya sering terasa pegal-pegal. Tapi beruntung setiap malam Zidan selalu membantu memijat kaki nya.
__ADS_1
Sedang kan Maria kini sudah mendapatkan Wedding organizer terkenal untuk membantu mengurus pesta pernikahan Putranya. Tentunya Maria tak ingin pesta yang biasa-biasa saja, ia akan membuat pesta akbar yang berkesan bagi Zidan dan Salsa nantinya.