Om CEO Galak Itu Suamiku

Om CEO Galak Itu Suamiku
Ke Mall dengan suami


__ADS_3

"Nih, bunga dan boneka om, saya kembalikan," ketus Salsa sembari menyodorkan bunga dan boneka itu ke depan zidan.


Zidan dengan wajah sedikit panik dan mulut sedikit menganga, masih diam berdiri menatap bunga dan boneka yang di pegang Salsa.


"Heis, aku harus jawab apa? santai, santai jangan terlihat sangat panik," batin zidan dalam hati. Zidan menghela nafas berusaha tetap tenang.


"Kenapa benda itu bisa ada di kamu?" tanya zidan dengan penuh selidik.


"Heis, kenapa dia bicara seperti menuduh aku,"  gerutu Salsa dalam hati.


"Saya gak tau! Ini saya kembalikan," jawab Salsa ketus, dengan ke dua tangan masih menyodorkan bunga dan boneka ke depan zidan.


"Saya tidak mau, itu sudah kamu pegang, dan kamu harus menggantinya," ucap zidan tidak kalah sengit.


"Ish, memang nya aku ini virus, apa yang sudah aku pegang harus dia buang," kesal Salsa dalam hati.


"Saya gak mau om, bunga dan boneka ini kan sudah terletak di ranjang, waktu saya masuk kamar," ujar Salsa menjelaskan.


"Cih, mana mungkin benda itu bisa berjalan sendiri ke kamar kamu," sinis zidan.


"Pokok nya kamu harus ganti," tegas zidan.


"Nggak mau. lagian boneka nya kan masih di bungkus plastik, jadi tidak kotorlah," balas Salsa.


"Terus bunga nya, pasti tadi sudah kamu cium kan?" ucap zidan sinis.


"Kok dia tau aku tadi mencium bunga nya?"  tanya Salsa dalam hati.


Salsa hanya diam dengan wajah yang sudah menunduk, serta bibir yang sudah maju ke depan.


"Katakan, tadi kamu mencium bunga itu kan?" ulang zidan bertanya.


Salsa yang tersentak kemudian mengangguk cepat.


"Itu bunga dan boneka nya kamu ambil saja," ucap zidan datar. dengan menyamping kan badan nya.


"Tapi om jangan minta ganti ya?" ujar Salsa yang masih menunduk, dengan boneka dan bunga yang sudah ia peluk erat.


Zidan hanya menoleh menatap nya.


"Sekarang kamu bersiap-siap lah," ucap zidan.


"Bersiap? Maksud om?" tanya Salsa tidak mengerti.


"Heis, dia ini kenapa selalu bertanya," gerutu zidan dalam hati.


"Ya bersiap, ganti bajumu sekarang! sebentar lagi kita akan pergi." ketus zidan.


Salsa hanya diam, menatap wajah bingung suami nya itu dengan dahi yang berkerut.


"Apa yang kamu lihat? Cepat lah, saya tunggu sepuluh menit lagi." ketus zidan seraya membalikan badannya, hendak memasuki kamar.

__ADS_1


"Om," panggil Salsa, yang menghentikan langkah zidan.


Zidan menoleh kan wajah nya menatap Salsa.


"Maksud om kita mau kemana?" tanya Salsa yang kembali menunduk.


"Ke Mall," Jawab zidan singkat, yang Seketika membuat wajah Salsa tersenyum senang.


"Om, mau ajak saya ke mall" Ulang Salsa tidak percaya.


"Hmm, cepat lah sepuluh menit lagi kita berangkat." ucap zidan seraya menutup pintu kamarnya.


"Dia mau ajak aku ke mall? ih senengnya aku!" Ucap Salsa sembari berjalan cepat ke kamarnya.


Sepuluh menit kemudian.


Zidan keluar dari kamar nya menggunakan setelan jas hitam tanpa dasi, berjalan menuju pintu kamar salsa yang masih tertutup.


"Hais, kenapa dia lama sekali," gerutu zidan yang sudah berdiri di depan pintu kamar salsa, sesekali ia melihat jam di pergelangan tangan nya.


"Ini sudah lewat dari sepuluh menit, apa yang dia lakukan di dalam? Kenapa lama sekali," ucap zidan di dalam hati


Tok. Tok Tok


Zidan yang sudah tidak sabar, akhirnya mengetuk pintu kamar Salsa. namun sudah beberapa kali ia mengetuk pintu itu tidak juga terbuka.


"Heis, kenapa pintu nya tidak juga di buka? apa dia tidak jadi pergi?"  pikir zidan.


Zidan membuka pintu kamar itu, yang tidak kunjung di bukakan salsa dari dalam.


Dengan Masih berdiri di pintu. zidan mengedarkan pandangan nya ke dalam kamar Salsa, tapi matanya tidak melihat Salsa ada di dalam. Yang ada hanya bunga dan boneka yang ia berikan tadi, terletak di ranjang nya.


"Kemana dia?" Apa dia sedang di kamar mandi?" batin zidan bertanya.


Tanpa suara zidan perlahan masuk ke dalam kamar Salsa, menuju pintu kamar mandi yang tertutup itu. Namun Salsa juga tidak ada di dalam.


"Kemana dia? Kenapa tidak ada," batin zidan, yang mulai cemas karna tidak mendapati Salsa di kamarnya.


Dengan langkah cepat zidan keluar dari kamar Salsa menuju lantai bawah mension nya.


"Marni, Marni, Marniiiiii," Teriak zidan memanggil Marni, dengan masih berjalan menuruni tangga.


Dengan tergopoh-gopoh wanita yang telah berumur empat puluh tahun lebih itu berlari mendekati zidan yang sudah berdiri di lantai bawah.


"Kemana Salsabila?" herdik zidan pada Marni, yang baru saja tiba.


"Nyo-nyonya bilang, tu-tuan akan membawa nya ka mall, ja-jadi nyonya sudah menunggu tuan dari tadi di luar." jawab Marni dengan nafas yang ngos-ngos an.


Zidan lansung menuju pintu utama mension dengan langkah lebar nya. Nampak dari ke jauhan Salsa yang sudah duduk di kabin belakang mobil yang pintu nya masih terbuka, di luar ada jefri yang berdiri di samping depan mobil yang biasa di kemudikan nya.


Zidan menghentikan langkah nya, menghela nafas serta mengusap wajah nya kasar sebelum melangkah mendekati Salsa.

__ADS_1


"Kok lama banget sih om!" ujar Salsa, yang melihat zidan sudah berdiri di samping pintu yang masih terbuka itu, dangan kedua tangan nya berada di dalam saku celana, menatap cemas ke arah Salsa.


"Bukan kah tadi saya menyuruh mu untuk bersiap?" tanya zidan dengan ke dua tangan yang sudah menyilang di dada.


"Ini kan saya sudah siap om," jawab Salsa.


"Tadi saya juga menyuruh mu untuk mengganti pakaian juga kan?" tanya zidan yang kedua tangan nya sudah berpindah lagi masuk ke dalam saku celana nya.


"Ini kan saya sudah ganti baju," balas Salsa sembari menunjuk kan kaos hodie lengan panjang yang tadi di ganti nya.


"Heis, dia ini kenapa selalu menjawab terus,"  batin zidan kesal di iringi hela'an nafas panjang nya.


"Kita pergi dengan mobil saya saja," ucap zidan sembari melangkah mendekati mobil lamborghini veneno yang masih terparkir di garasi.


"Saya tidak mau naik mobil itu," ucap Salsa yang masih duduk di dalam mobil yang sudah beberapa kali mengantarkan nya ke sekolah.


"Kenapa? tanya zidan, yang menghentikan langkah nya sembari membalikkan badan menghadap Salsa.


"Sempit," Lirih Salsa dengan menunduk karna ia tidak pernah mampu untuk beradu pandang dengan zidan.


Zidan kemudian melangkah masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah Salsa, jefri segera menutup pintu belakang, dan bergegas berjalan masuk ke pintu kemudi, jefri melajukan mobil itu perlahan meninggalkan mension.


-


-


-


Dirumah ibu Salsa.


Siang itu Herman yang baru bangun dari tidur nya, berjalan ke dapur karna merasa perutnya sudah lapar. Herman membuka tudung saji yang di dalam nya seperti biasa hanya ada tahu dan tempe yang di kecap.


"Kenapa selalu makanan ini yang di masak si Rita sialan itu," gumam Herman, lalu menutup tudung saji itu kembali.


"Lebih baik aku makan di luar saja, dari pada harus memakan makanan sampah ini," Ucap Herman dalam hati.


-


-


-


Di Mall.


Salsa dan zidan sudah sampai di mall. tepat nya mereka kini berada di lantai satu gedung bangunan itu.


tanpa zidan sadari dari lantai dua mall itu sepasang mata sedang memperhatikan mereka.


clik!


clik!

__ADS_1


Orang itu juga mengambil beberapa photo salsa dengan ponsel nya.


__ADS_2