Om CEO Galak Itu Suamiku

Om CEO Galak Itu Suamiku
Mertua terbaik


__ADS_3

Dokter membuat surat rujukan untuk Salsa. Karna saat itu keadaan nya yang masih butuh perawatan medis. Karna tubuh nya yang masih lemah.


Santi dan Rendi juga sudah disuruh pulang oleh Maria karna hari yang sudah mulai petang, ia tidak ingin merepotkan dua orang teman Salsa itu.


Maria kembali kekamar inap Salsa, dengan membawa kursi roda, meski parawat sudah menawarkan diri untuk mendorong kursi roda itu, tapi Maria yang masih terlihat bersemangat memilih mendorongnya sendiri.


"Kamu sudah siap?" Maria berjalan mendekati ranjang pasien dengan mendorong kursi roda.


"Ma, maafin Salsa ya, karna sudah merepotkan mama," ucap Salsa dengan wajah sendu. Ia merasa teramat sangat merepotkan sang mertua. Tidak seharus ia di layani seperti itu oleh mertuanya.


Maria mendekat, lalu ikut duduk di pinggir ranjang di sebelah Salsa, yang sejak tersadar tadi tidak mau lagi berbaring, karna ingin segera di bawa ketempat Zidan.


"Mama tidak pernah merasa repot sama sekali sayang," Maria mengusap lembut pipi menantunya itu lalu mencium dan memeluknya. Setetes air mata haru jatuh di sudut mata Salsa, perlakuan lembut Maria padanya sungguh berbanding terbalik dari perlakuan yang di berikan ibu kandungnya. Ia sangat bersyukur memiliki mertua seperti Maria.


Salsa teringat dengan kata-kata mendiang ayah nya dulu sebelum meninggal. Jika suatu hari nanti, akan ada yang menjaga dan menyayangi nya.


Kata-kata itu menjadi kenyataan, ia kini telah mendapatkan suami, yang menjaga, melindungi, serta sangat menyayanginya. Bahkan ia mendapatkan lebih dari itu, bukan hanya suami saja menyayangi, tapi juga sayang mertua yang melebihi kasih sayang ibu kandungnya sendiri.


Maria melepaskan pelukannya, melihat air mata Salsa yang jatuh, ia menghapus nya pelan.


"Kalau kamu sayang sama mama, jangan pernah bersedih atau pun menangis lagi ya! sayang," dengan cepat Salsa menggelengkan kepalanya serta menarik sudut bibirnya ke atas. "Iya ma Salsa janji nggak akan nangis dan sedih lagi,"


"Gitu dong sayang! Kalau tersenyum kan lebih cantik," ucap Maria menggoda, yang membuat Salsa menundukkan wajah nya karna tersipu akan ucapan sang mertua.


"Sayang, sekarang apa kamu sudah siap untuk bertemu mas Zidan tercinta," Maria semakin menggoda menantunya, saat melihat pipi Salsa yang merona sambil tangan nya bermain di ujung pakaian.


Ekspresi wajah mu itu sangat menggemaskan sekali sayang, terlihat sangat polos. pantas saja Zidan sangat menyukaimu. 


Maria tersenyum sendiri saat melihat wajah sang menantu yang begitu menggemaskan.


Maria kemudian berdiri dari duduk nya lalu meraih pegangan kursi roda dan mendorong lebih dekat lagi ke Salsa.


"Sekarang duduklah, kita segara pergi ke tempat suami tercintamu." Maria meminta Salsa duduk di kursi roda yang di bawanya.


"Salsa bisa jalan sendiri ma," tolaknya karna tidak ingin sang mertua yang mendorong kursi roda untuk nya.

__ADS_1


"Kalau kamu tidak mau menuruti kata mama, kita tidak jadi pergi!" ucap Maria mengancam, seketika itu juga Salsa lansung berdiri dan duduk di kursi roda. Maria kembali mengulas senyum melihat nya.


*


Dirumah sakit lain, Dokter telah berhasil mengeluarkan peluru di tubuh Zidan. Beruntung sekali peluru itu tidak menembus ke tulang lengan bagian atasnya.


Raka tadi nya begitu khawatir saat Zidan tertembak, karna tubuh nya lansung tumbang seketika tidak bergerak sama sekali. membuat nya semakin panik. Ia mengira tidak akan bisa mengabdi lagi pada sang bos yang begitu banyak berjasa padanya.


Masih teringat jelas oleh Raka, saat ia masih hidup di jalanan dulu, Zidan lah yang meminta tuan Alvero (papa Zidan) membawanya ke mension. Menyekolahkan nya sampai keperguruan tinggi. Dan lansung memperkerjakan nya sebagai tangan kanan Alvero. Bahkan Zidan dulu sering cemburu padanya karna selalu mendapatkan perhatian lebih dari sang papa.


Kini Raka bisa bernafas lega, saat dokter Erwin mengatakan padanya, jika luka Zidan tidak begitu parah.


**


Salsa dan Maria kini sudah sampai di rumah sakit dimana Zidan di rawat. Salsa hanya bisa pasrah saja saat Maria memaksa nya untuk kembali duduk di kursi roda setelah turun dari mobil. Mulai Dari parkiran, Maria berjalan sambil mendorong kursi roda terus keKoridor rumah sakit, sampai tiba di kamar inap Zidan.


Sebelum nya Maria sudah menelpon Raka terlebih dulu melalui ponsel Salsa, menanyakan keadaan Zidan saat itu serta menanyakan letak ruang inap nya.


Salsa lansung berdiri dari kursi roda setelah masuk ke kamar inap Zidan, ia berdiri di samping ranjang meraih tangan Zidan. Raka yang ada di sana segera meletakkan satu kursi disamping ranjang untuk istri bos nya itu.


"Sayang, ingat apa kata mama tadi! jangan pernah menangis!" Maria memperingati menantunya itu saat melihat mata Salsa yang sudah mulai berkaca-kaca. Salsa pun mengangguk pelan, sekuat tenaga ia menahan air mata nya agar tidak jatuh.


"Raka, apa kamu tau siapa pelakunya?" tanya Maria.


"Maaf nyonya, saya sama sekali tidak tau!" jawab Raka.


"Ceritakan bagaimana kejadiannya?" pinta Maria.


Raka mengingat-ingat terlebih dahulu sebelum ia mulai bercerita.


"Setelah nyonya pergi dari kediaman tuan, kami pun juga pergi, memeriksa markas yang tadi malam terjadi kebakaran. Tiga puluh menit kami disana, setelah itu tuan meminta saya untuk mengantarkan nya ke sekolah nyonya Salsa.


"Penembakan itu begitu cepat terjadi nya nyonya. Setelah kami melewati lampu merah, dari arah kanan ada motor lewat, membonceng satu orang di belakang. saya kira mereka hendak menyalip jalan saja. Tapi tiba-tiba satu orang yang duduk di jok belakang motor itu menodong kan pistol pada saya. Reflek saya menginjak gas memacu mobil lebih laju, bersamaan itu terdengar suara tembakan. Saya seketika menginjak rem dan menunduk. Tapi saat saya menoleh kebelakang, tuan sudah terbaring di jok belakang," tutur Raka menceritakan.


"Kamu tadi bilang Kebakaran? Maksud mu apa Raka?" Maria menyipitkan matanya mencoba mengurai satu persatu ucapan Raka.

__ADS_1


"Tadi malam dimarkas tempat penyimpanan barang-barang terjadi kebakaran, nyonya." balas Raka.


"Apa Zidan masih melanjutkan usaha papanya itu?" Maria memang tau bisnis gelap yang dilakukan Alvero dulu, bahkan dia sendiri juga ikut membantu mengembangkan bisnis gelap suaminya. Dunia bawah tanah bukan lah hal tabu baginya, bahkan Maria sangat ahli merakit dan menggunakan senjata api.


"Tuan kini tidak begitu menggeluti bisnis itu nyonya, ia hanya menyimpan stok untuk pelanggan tetap saja nyonya," balas Raka.


"Apa Zidan punya musuh?" Maria terus menanyai Raka, tapi ia belum menemukan, orang yang patut di curigai. Akhir nya Maria meminta Raka untuk membawa alfredo ke lokasi kejadian penembakan putra nya. Berharap Alfredo bisa menemukan sedikit jejak yang bisa menuju ke pada si pelaku.


Setelah selasai menanyai Raka. Maria kembali masuk ke dalam kamar inap Zidan, di dalam ia melihat Salsa yang sudah tertidur dengan posisi duduk di kursi, kepala ia rebahkan di ranjang pasien di samping Zidan berbaring. Satu tangan Zidan pun ia letak kan di atas kepalanya.


Sebelum Maria duduk di sofa untuk mengistirahatkan badannya, ia kembali berjalan keluar, menyuruh jefri membelikan makanan dan minuman untuk nya, dan Salsa nanti jika ia terbangun. Pasti menantunya itu akan merasa lapar karna sejak tadi siang ia belum makan.


****


Tengah malam Salsa terbangun karna merasakan usapan lembut di kepalanya. Dengan kesadaran yang belum sepenuh nya terkumpul, satu tangan nya meraih kepalanya sendiri, memegang tangan yang mengusap kepalanya.


Sontak ia menegakkan kepalanya yang tadinya berada di atas ranjang pasien. Ia melihat Zidan yang sedikit menyunggingkan senyum padanya.


"Mas," Salsa seketika berdiri dan lansung memeluk tubuh Zidan yang berbaring di ranjang pasien.


"Auwh," Zidan mengaduh merasakan sakit di luka nya, saat Salsa secara spontan memeluknya.


Salsa kembali mengangkat tubuh nya, berdiri tegak saat tersadar keadaan Suami nya saat itu.


"Maaf mas, Sakit ya?"


Zidan menggeleng pelan, dangan wajah yang masih sedikit menyunggingkan senyum pada Salsa.


"Haus," ucap Zidan lemah.


"Mas haus? Salsa mengulangi ucapan Zidan, karna suara Zidan yang begitu pelan.


Kembali Zidan mengangguk pelan.


Salsa melihat meja yang ada di belakangnya, diatas sofa juga terlihat Maria yang berbaring meringkuk seperti udang. Salsa berjalan mendekati meja, mengambil satu botol air mineral yang terletak di sana serta sedotannya.

__ADS_1


Salsa membuka tutup botol air mineral, kemudian memasukkan sedotan kedalam botol, lalu ia mendekat kan sedotan itu ke mulut Zidan.


Selesai minum, tangan kiri Zidan menunjuk kursi yang di duduki Salsa tadi. Menyuruhnya agar kembali duduk di sana.


__ADS_2