Om CEO Galak Itu Suamiku

Om CEO Galak Itu Suamiku
Terpaksa mandi dua kali.


__ADS_3

Pagi hari di Mension Zidan.


Setelah selesai mandi dan menggunakan seragam putih abu-abu nya. Salsa baru membangun kan Zidan.


"Mas, bangun..... Bangun, Mas....," Salsa menggoyang kan tubuh suami nya yang masih tertidur.


Namun, tidak di sangka Zidan malah menarik tangan Salsa, hingga tubuh istrinya jatuh menimpa dada nya. Zidan lansung menciumi lehernya yang masih tercium aroma sabun yang sangat wangi.


"Ihhh....Mas, bangun lah! Nanti saya telat sekolah," Salsa berusaha melepaskan tangan Zidan yang memeluk tubuh nya


"Tunggu lima menit," balas Zidan yang lansung mencium bibir istrinya.


"Mas!" Salsa berusaha melepaskan tubuhnya dari dekapan Zidan dengan memukul-mukul dada bidang suami nya. Namun, usaha nya itu hanya sia-sia saja karna tenaga Zidan lebih besar darinya.


"Ohhh... Sshh, Mas," Salsa mendesah saat tangan Zidan meremas gunung kembar miliknya dari balik seragam putih yang ia gunakan. Zidan terus mencumbu, dan menggerayangi tubuh istri nya itu, hingga Salsa berteriak kencang.


"Mas!" pekik nya disertai tubuh nya yang bergetar.


"Mas!! Nyebelin iiihh. Saya kan sudah mandi. Nih lihat baju saya jadi kusut kan," Salsa menggerutu kesal saat Zidan sudah melepaskan tubuh nya.


"Ayo mandi lagi, kamu tadi pipis, kan?" ledek Zidan menyunggingkan senyumnya.


"Mana ada!" jawab Salsa ketus, di sertai pipi nya yang berubah merah.


Zidan kemudian berjalan kekamar mandi.


"Mas! Cepatan mandi nya!" sungut Salsa saat Zidan sudah membuka pintu kamar mandi.


"Kenapa? Mau ikut ya? ledek Zidan.


"Ihhh. Mas nyebelin!" gerutu nya.


"Saya mandi nya lama, kalau kamu mau mandi lagi, lebih baik kita mandi sama-sama saja," ujar Zidan lalu masuk kedalam kamar mandi.


Salsa mendengus kesal, sambil meraba rok nya yang memang basah, di sebabkan cumbuan Zidan tadi.


* * *


"Selamat pagi bos, pagi nyonya!" sapa Raka yang memang sejak tadi sudah menunggu mereka di bawah tangga. Disusul sapaan para pelayan yang juga sudah berbaris di bawah tangga.


"Kalian kembali lah bekerja, dan kau Raka panaskan mobil ku, sekarang," perintah Zidan.

__ADS_1


"Mobil sudah saya panaskan mesinnya sejak tadi, bos. Bahkan knalpot nya pun sudah saya bersihkan," jawab Raka sembari tersenyum.


Zidan dan Salsa berjalan ke meja makan, diikuti Raka di belakang mereka.


"Raka, tunggu aku di luar!" ucap Zidan setelah duduk.


"Abang, nggak usah dengarin, duduk aja. Abang pasti belum sarapan kan, kita sarapan sama-sama," ucap Salsa menyela sembari menyendok kan makanan ke piring untuk Zidan.


Raka menatap Zidan yang hendak menyeruput kopi nya.


"Terimakasih nyonya," balas Raka, lalu menarik satu kursi di hadapan Salsa.


"Siapa yang menyuruh kau duduk, Raka?" tanya Zidan, menghentikan bokong Raka yang hampir menyentuh kursi.


"Mas, biar saja abang Raka sarapan dulu. Kan kasihan siapa tau abang Raka belum sarapan,"


Raka baru 'ngeh' sejak tadi istri bos nya itu bersifat lain, yang membuat nya semakin heran lagi. panggilan Mas yang Salsa ucapkan. Apa jangan-jangan bos nya sudah?


"Heis! kau duduk di sana, Raka!" Zidan menatap tajam pada Raka, sembari menunjuk kursi paling ujung yang berhadapan lansung dengan nya.


"Terimakasih, bos," Dengan cepat, Raka beralih duduk ke kursi yang di tunjuk Zidan.


Selama sarapan berlansung, Zidan terus saja melayangkan tatapan tajamnya pada Raka, tatapan yang seakan menguliti Raka hidup-hidup. Terlihat sekali ia tidak menyukai keberadaan Raka di meja makan itu.


Salsa memakan sarapannya dengan cepat, seoerti sedang ikut lomba makan. Itu terjadi karna ia harus berlomba dengan waktu.


"Raka, pagi ini kau temankan aku mengantarkan Sabila kesekolah."


"Baik bos," balas Raka.


"Mas ayo, nanti saya telat," ujar Salsa yang sudah berdiri dari duduk nya.


Zidan terlebih dahulu melihat arloji di pergelangan tangannya sebelum berdiri. sedang kan Salsa sudah dulu berjalan ke depan.


"Habis mengantarkan istri ku ke sekolah, kita ke markas dulu," bisik Zidan pada Raka, saat berjalan meninggalkan meja makan.


"Baik bos,"


"Katakan pada Jefri untuk mengikuti kita, dan suruh dia agar tetap menunggu istriku di sekolah," imbuh Zidan.


"Baik bos," balas Raka.

__ADS_1


**


Kini, mobil Raka telah tiba di sekolah Salsa. Sebelum turun dari mobil, seperti biasa Salsa meraih tangan Zidan dan mencium punggung tangan nya.


Rasanya jika tidak ada Raka yang terus memperhatikan, mungkin Zidan akan kembali ******* bibir istrinya itu.


"Kalau ada apa-apa telepon saya, pulang sekolah lansung pulang, jangan pergi ke mana-mana dulu!" pesan Zidan sebelum Salsa turun.


"Iya Mas," jawab Salsa lalu turun dari mobil.


Setelah Salsa turun dari mobil, Zidan masih saja memandang punggung istri nya yang berjalan masuk ke pekarangan sekolah.


"Bos, apa kita lansung ke markas?" tanya Raka sembari memperhatikan Zidan dari kaca spion.


Namun, Zidan seperti tuli, matanya terus saja memandang Salsa hingga istrinya itu menghilang.


"Kau tunggu apa lagi, berangkat sekarang!" sentak Zidan setelah Salsa tak di lihat nya lagi.


"Baik bos," balas Raka.


"Perasaan tadi aku sudah menanyakan nya?" gumam Raka.


Tanpa Zidan sadari dari warung sebrang jalan, Herman sejak tadi memperhatikan mereka.


"Sial bagaimana cara nya aku mendekati anak siakan itu? Tapi, walau bagaimana pun caranya aku harus bisa bicara dengan anak sialan itu. Karna hanya dia yang bisa membantu masalah ku saat ini," gumam nya.


***


Mobil Raka sudah tiba di sebuah bangunan berlantai dua yang di sekitar bangunan tersebut di kelilingi tembok tinggi, serta di puncak tembok itu di pasang kawat tajam. Bangunan itu hanya terdapat dua pintu masuk, yaitu pintu utama yang di pasang pagar besi dan pintu belakang yang hanya ada pintu kecil berbentuk lorong.


"Selamat pagi tuan," sapaan para penjaga yang ada di dalam bangunan itu saat Zidan dan Raka sudah berada di dalam.


"Raka, dimana dia?" tanya Zidan.


"Diruang bawah tanah, bos," jawab Raka.


Mereka lalu berjalan menuruni lorong yang terdapat tangga-tangga kecil.


Di ruang bawah itu, banyak peti-peti kayu yang tersusun, serta beberapa orang yang berjaga. Zidan melihat seorang wanita didalam ruangan yang bagian depannya di pasang jeruji besi, dan di samping pintu ruangan itu ada seorang laki-laki yang berdiri berjaga.


"Zi, syukurlah kamu datang honey. Lihat lah apa yang di lakukan si Raka dan anak buah mu pada ku. Mereka mengurung ku di sini. Hukum mereka sekarang honey," cerocos wanita yang berada di ruang jeruji besi itu ketika melihat Zidan berdiri di depannya.

__ADS_1


"Buka pintunya!" perintah Zidan pada laki-laki yang berjaga di sana.


Pintu pun di buka oleh penjaga yang, wanita itu segera keluar dan lansung memeluk Zidan.


__ADS_2