
Dorrr.......
"Aakh,"
Suara letusan senjata api dan erangan suara kesakitan terdengar keras di sana.
Raka membuka mata, maraba-raba tubuh nya sendiri.
"Apa ini arwah ku?"
gumam nya bicara sendiri.
"Tuan Raka!" panggil Alfredo yang masih berdiri di samping mobil.
Raka menoleh melihat Alfredo yang membidikkan senjata nya ke arah Samuel dan togar.
"Syukurlah ternyata aku masih hidup," Raka menghela nafas panjang.
"Ucap kan lah terimakasih pada ku tuan," ujar Alfredo yang mendengar.
"Ya terimakasih tuan pred," dungus Raka sambil melangkah mendekati Samuel dan togar.
Samuel meringkuk kesakitan memegang tangan nya yang di tembak Alfredo.
"Am-ampun tuan, maaf kan kami," Togar meringkuk bersujud menyatukan kedua telapak tangan nya ke depan.
*
Niken yang masih berada di cafe, berlari mengejar Maria sampai ke parkiran.
"Tante, tante tunggu tante," Niken berlari mengejar Maria yang hendak masuk ke dalam mobil yang di sampingnya berdiri sopir yang masih memegang pintu.
Satu kaki Maria yang hendak melangkah masuk ke dalam mobil terhenti, ia menoleh melihat Niken yang berlari ke arah nya.
Maria menurun kan kembali kaki nya.
"Ada apa lagi Niken! Kalau hanya untuk menceritakan hal tadi tante tidak ingin mendengarkan nya." tegas Maria.
"Tidak tante, soal itu terserah tante mau percaya atau tidak. Aku sekarang hanya bingung harus tinggal di mana. Boleh nggak tante kalau aku tinggal dengan tante," Niken merengek mengharap iba Maria.
"Tante akan sewakan apartement untuk mu, kamu bisa tinggal di sana."
"Sekarang tante harus pergi," Maria kembali melangkah kan kaki nya masuk ke dalam mobil.
"Tante aku ikut," belum Maria mengizinkan, Niken sudah masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah Maria.
"Kamu mau kemana Niken! Tante ada urusan penting," ucap Maria mencegah nya.
"Tidak apa tante, aku tidak akan mengganggu urusan tante," Niken dengan santai nya duduk di dalam mobil, mata nya mengedar melihat interior mobil mewah itu. Tanpa memperdulikan ucapan Maria yang secara halus melarang nya masuk.
"Jalan Jo," titah Maria pada sopir.
****
Dirumah sakit.
Salsa terbangun dari tidur nya karna merasa perutnya yang lapar. Wajah tampan Zidan terpampang tepat di matanya saat ia membuka mata.
"Mas," Suara serak Salsa khas bangun tidur menyapa suami nya.
Zidan membuka matanya, lalu kembali membelai pipi Salsa.
__ADS_1
"Sudah bangun sayang?" ucap nya sambil satu tangan nya mengusap lembut pipi Salsa.
"Aku lapar Mas, kita makan yu," ucap Salsa dengan nada manja nya.
Zidan hendak bangkit dari ranjang.
"Mas, mas telepon mama dulu ya, minta dia datang kesini, habis itu mas minta maaf sama mama. ya!" pinta Salsa membujuk.
"Nanti saja ya sayang, kita makan dulu," balas Zidan sambil menarik tangan nya yang di pegang Salsa. raut wajah nya pun sedikit berubah.
"Sekarang aja mas, kalau mas nggak mau aku nggak jadi makan," ucap nya memaksa, berharap ancaman nya bisa membuat Zidan luluh.
"Ya, ya. Mas telepon sekarang," Zidan bangkit dari ranjang dan lansung menyambar ponsel nya diatas nakas, ia berjalan ke arah sofa.
Salsa hanya melihat saja, saat Zidan mendekatkan ponsel nya ke telinga, dan terlihat seperti berbicara dengan seseorang.
Tidak berapa Lama Zidan kembali mendekati ranjang.
"Udah sayang, kita makan sekarang," ucap Zidan yang sudah berdiri di samping ranjang.
Salsa menatap Zidan dengan menyipitkan sedikit matanya.
"Ke-kenapa kamu menatap mas seperti itu, kamu tidak percaya?" tanya Zidan yang seakan paham maksud tatapan sang istri.
"Mana lihat ponsel mas," Salsa yang masih berbaring di ranjang menampung kan satu tangan nya.
"Ke-kenapa kamu tidak percaya dengan Mas?" wajah Zidan berubah gugup.
"Aku bukan tidak percaya mas, hanya ingin memastikan saja," Salsa masih menampung kan satu tangan nya.
"Sama saja, kamu tidak percaya dengan mas," sergah Zidan.
"Iiiih mas itu ribet deh, apa salah nya aku melihat ponsel mas. atau jangan jangan mas punya selingkuhan ya?" mata Salsa kembali menyipit.
Zidan menggaruk kepala belakang nya, sungguh ia merasa gugup tidak paham dengan sikap istrinya saat ini.
"Nih, periksa sendiri," dengus Zidan sambil memberikan ponsel nya ke tangan Salsa.
"Gitu dong, dari tadi kek," Salsa tersenyum penuh kemenangan.
"Pasword nya apa mas?"
"Satu delapan kosong dua," jawab Zidan.
Lah itu kan tanggal lahirku.
batin Salsa dalam hati sambil mengetikkan angka itu di pasword ponsel suaminya.
Salsa memeriksa menu kontak panggilan keluar di ponsel suami nya, tapi tidak menemukan nomor mertua nya di sana.
"Mana? Kok nggak ada? katanya mas udah nelpon mama," Salsa melihat Zidan seperti orang yang sedang kebingungan.
"Mungkin tadi sudah kehapus," jawab Zidan tanpa melihat Salsa.
"Mas!" Salsa melayangkan tatapan yang selalu membuat Zidan luluh.
"Ya, ya mas tidak punya nomor kontak nya," dengus Zidan mengakui.
Salsa kembali tersenyum melihat wajah suami nya itu. Wajah yang kesal tapi tetap mau menuruti nya.
Salsa lalu duduk, bersandar di ranjang, ia menggapai ponsel nya yang ada di meja nakas samping ranjang.
__ADS_1
Setelah menyalin nomor Maria ke dalam ponsel Zidan, Salsa lansung melakukan panggilan suara ke nomor Maria.
"Halo ma, ini mas Zidan mau ngomong," ucap Salsa saat sambungan telepon nya terhubung.
Salsa lalu mengembalikan ponsel suami nya yang sudah terhubung ke nomor Maria.
"udah kamu saja yang ngomong," desis Zidan menolak.
Salsa kembali melayangkan tatapan nya. Zidan merenggut mengambil ponsel di tangan Salsa, lalu mendekatkan ke telinganya.
"Hallo, halo, halo," suara Maria dari sambungan teleponnya.
"Cepat ngomong," Salsa mengarahkan Zidan agar segera menjawab sapaan mertuanya.
"Ya, halo," ucap Zidan malas pada Maria dari sambungan telepon, dengan mata terus memperhatikan Salsa yang begitu antusias menyuruh nya bicara.
"Ya Zi, ada apa?" terdengar suara Maria yang begitu semangat dari sambungan telepon.
Zidan melihat Salsa yang mengucapkan kata tanpa suara padanya, seperti mendikte nya agar mengikuti ucapan nya.
"Zi, hallo Zi," suara Maria kembali terdengar untuk memastikan sambungan telepon nya masih terhubung.
"Salsa menyuruh anda datang kesini," balas Zidan kemudian memutus kan sambungan teleponnya.
Salsa yang mendengar menepuk dahi nya.
"Iiiiiih, mas itu susah sekali di bilangin," Salsa menggerutu kesal saat Zidan sudah meletakkan ponsel nya.
"Sudah kan! Sekarang mari kita makan,"
****
"Jo, kerumah sakit sekarang," perintah Maria pada supirnya.
Maria kembali bersemangat setelah mood nya yang tadi hilang, ketika mendengar cerita Niken.
Berbeda dengan Niken yang terlihat gelisah, apa lagi saat mendangar Maria bicara dengan Zidan di sambungan telepon tadi.
Bagaimana ini? tidak mungkin aku ikut dengan nenek tua ini menemui Zidan di rumah sakit.
Di tempat lain. Raka membawa Samuel dan togar ke markas Zidan. Ia membawa nya ke ruang bawah tanah, tempat dimana ia juga pernah mengurung Niken disana.
Samuel dan togar di masukkan kedalam ruangan jeruji besi, mereka di duduk kan di kursi yang berbeda, dengan tangan dan kaki mereka yang di ikat ke bagian kursi.
"Apa kalian masih belum mau mengaku?" Raka berjalan mendekati mereka, dengan membawa paku dan palu yang ia sembunyikan di belakang tubuh nya.
Alfredo yang juga ada di sana, hanya berdiri tegap memperhatikan cara Raka meintrogasi.
"Sudah berapa kali kami katakan! bukan kami lah pelakunya," jawab togar yang terlihat ketakutan.
Mata togar membelalak nyaris keluar, saat melihat Raka memperlihatkan benda yang di bawanya.
"Ma-mau apa kau!" togar meronta saat Raka meletak kan paku di punggung tangan nya yang terikat di pegangan kursi.
"Apa kau masih belum mau mengaku?" Raka sedikit menusuk kan paku itu ke penggung tangan togar.
"Aaaakh!" pekik togar menggema di ruangan itu.
Raka hendak mengayunkan palu untuk memukul paku yang sudah menembus sedikit kulit punggung tangan togar.
"Hentikan! ba-baik aku akan mengatakan nya," Ucap togar yang mendapatkan tatapan nyalang dari Samuel. tapi togar seperti tidak peduli dengan itu.
__ADS_1
"Cepat katakan! Siapa yang menyuruh mu melakukan itu?"