
"Antar kan dia pulang sekarang!" Dengan rasa kecewa Zidan melepaskan tangannya yang memegang tangan Salsa kemudian melangkah pergi.
"Mas, tunggu!" panggil Salsa mencoba menghentikan langkah Zidan. namun Zidan saat itu seakan tuli, ia tetap terus berjalan meninggalkan Salsa dan Maria.
Salsa hanya berdiri menatap punggung Zidan yang terus berjalan kedepan tanpa mengejar nya.
"Sayang, kenapa kamu tidak pulang dengan suami mu?" Maria yang berada di belakang nya bertanya.
"Tadi nya Salsa mau mengajak mas pulang bareng sama kita ma." jawab nya sembari berbalik badan menghadap pada Maria.
Maria tersenyum, ia tau maksud menantunya itu sebenarnya, tapi ia juga sangat tau sifat keras kepala putranya.
"Sayang, jangan paksa suami mu. mungkin dia butuh waktu untuk bisa menerima mama kembali," tutur Maria yang selalu terdengar lembut di telinga Salsa.
Maria mendekati Salsa, memegang kedua bahunya, serta menyisipkan rambut ikal yang sedikit menutupi wajah menantunya itu ke balik telinganya.
"Ya sudah, Kita pulang sekarang ya! Mama tidak mau mas mu itu nanti mengamuk lagi, kalau kita terlalu lama di sini," ucap Maria yang di balas anggukan kepala Salsa.
Di dalam perjalanan pulang Maria sedikit bercerita tantang kelakuan Zidan semasa kecil dulu. Salsa semakin tertarik mendengar kan nya saat Maria menceritakan kalau dulu Zidan sangat sering cemburu dengan papa nya. Bahkan dari cerita Maria Zidan begitu menggemaskan dan sangat lah manja, tidak seperti sekarang ini. Yang terlihat dingin dan kaku.
**
Zidan yang sudah lebih dulu sampai di mension, menunggu Salsa di balik pintu pagar. Sesekali ia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan nya. Sudah lebih lima menit dia menunggu namun mobil Maria belum juga terlihat.
Beberapa detik kemudian dari kejauhan Zidan melihat iringan mobil yang ia kenali sudah terlihat. Ia pun bergegas masuk ke dalam mension dan duduk di sofa ruang utama.
Sembari menunggu Salsa masuk kedalam mension, Zidan mengeluarkan ponsel dan memainkan jemarinya di sana seperti terlihat sangat fokus, tapi sudut matanya selalu mencuri pandang ke arah pintu utama.
Mobil Maria hanya berhenti di luar gerbang mension saja. Kemudian pergi lagi setelah Salsa turun.
__ADS_1
Setelah mobil Maria tidak terlihat lagi, Salsa melangkah masuk ke dalam mension, ia juga menyapa beberapa satpam dan penjaga yang terlihat disana. Ia juga melihat mobil Zidan yang sudah terparkir di halaman mension.
"Bang jeff, mas Zidan sudah lama ya sampai?" ucap Salsa bertanya pada jefri
"Sekitar sepuluh menit yang lalu nyonya, tapi tadi tuan cukup lama berdiri di sini," jawab jefri.
"Oo, makasih ya bang," Salsa kemudian melangkah masuk ke dalam mension.
Masih berada di pintu, Mata Salsa lansung menangkap Zidan yang duduk di sofa.
Salsa berjalan mengendap-endap mendekati sofa, niat nya ingin mengejutkan Zidan yang sudah melihat dirinya sejak ia berjalan memasuki mension. Tapi Zidan berusaha memasang muka datarnya.
"Coba tebak siapa ini." Salsa yang sudah berdiri di balakang sofa menutup mata Zidan dengan kedua telapak tangan nya.
"Tidak usah bercanda Salsabila!" ucap Zidan dengan suara tegasnya.
"Iih. Kok mas bisa tau sih," Salsa berjalan dan lansung duduk di sebelah Zidan yang memasang muka masam.
"Duduk lah, saya mau ke kamar," Zidan mengangkat kepala Salsa yang ada di atas paha nya.
"Mas kenapa?" Salsa bertanya saat melihat Zidan yang sudah berdiri dari duduk nya. namun Zidan tidak menjawab ia malah berjalan kekamar meninggalkan Salsa yang masih duduk di sofa.
Benar kata mama, pasti dia lagi merajuk saat ini.
batin Salsa sembari tersenyum.
***
Malam hari nya.
__ADS_1
Salsa yang baru menyelesaikan tugas sekolah nya, berjalan mendekati Zidan yang duduk bersandar di ranjang dengan laptop di atas kedua paha nya.
Salsa merangkak di atas ranjang lalu meniup tengkuk leher Zidan, yang dari tadi terlihat sangat sibuk dengan leptop nya.
Meski merasakan sesuatu saat Salsa menggoda nya, tapi apalah daya Zidan yang masih merajuk karna tadi siang Salsa lebih memilih pulang dengan Maria, menahan gairah yang menjalar di tubuh nya. Tapi ia membiarkan seberapa jauh Salsa ingin menggodanya.
Zidan menutup leptop kerja nya dan meletak kan diatas nakas, sebelum berbaring memunggungi Salsa.
Namun Salsa semakin nekat menggoda, ia berbaring menempelkan badan nya di punggung Zidan, sambari mencium dan menggigit pelan leher Zidan. Sama Seperti yang sering Zidan lakukan pada nya saat mereka sedang bercumbu.
"Mas gak mau itu ya? malam ini," bisiknya di telinga Zidan. Dengan kedua tangan nakalnya yang kini telah menyusup ke dalam piyama atas Zidan meraba-raba perut yang di penuhi otot-otot seperti roti sobek.
"Tidak," jawab Zidan singkat. tapi jawaban dari mulut dan reaksi yang di Terima tubuh nya tidak singkron, tubuh nya saat ini seperti di aliri sengatan listrik yang lansung menjalar ke semua titik sharafnya.
"Yakin nih nggak mau," bisiknya seraya menggigit daun telinga Zidan, tangannya pun semakin nakal bergerilya menyusup ke dada bidang Zidan yang di tumbuhi rambut-rambut halus di sana.
Nyaris Zidan melenguh karna menahan nikmat nya sentuhan jemari lembut istri nya yang bermain ditubuh depannya itu. Ditambah bibir Salsa yang masih mendusel leher Zidan, terkadang Salsa juga mengisap leher suami nya itu bahkan kadang juga menggigit nya seperti seorang drakula.
Kenapa dia nakal sekali, aku bisa tidak tahan lagi kalau dia berbuat seperti ini terus.
Zidan berusaha menahan kenikmatan itu agar tidak lolos dari mulut nya. Apalagi sebelah tangan Salsa yang bergerilya kini telah menyusup ke piyama bawah Zidan.
"Tidur lah," Suara Zidan tersdengar begitu serak, ia menangkap satu tangan Salsa yang bermain didada nya. Tapi membiarkan satu tangan Salsa yang sudah meraba adik kecil nya yang sejak tadi sudah berdenyut keras.
"Ya sudah, kalau mas gak mau. Aku tidur ya!" Salsa berbisik tepat di telinga Zidan seraya melepaskan tangan nya yang ada di tubuh suaminya itu. Salsa kemudian menggeser tubuh nya ke sudut ranjang serta menarik selimut untuk menutupi tubuh nya.
Kenapa dia menghentikannya? Oh...., Sial......! Kenapa aku menyuruhnya tidur.
Zidan merutuki dirinya sendiri. Perlahan Ia membalikkan tubuh nya terlentang melihat Salsa yang sudah berbaring jauh di sudut ranjang dengan selimut tebal yang membungkus tubuh nya.
__ADS_1
Kini Zidan yang merasa gelisah ia uring-uringan berguling-guling di ranjang.