
Salsa berjalan sangat cepat di lantai dasar mall itu, sesekali ia menoleh melihat zidan yang sudah cukup jauh berada di belakang nya, ia ingin memastikan jika suami nya itu masih mengikuti langkah nya.
Salsa berbalik berjalan mendekati zidan, karna langkah nya yang sudah terlalu jauh di depan. Salsa lalu meraih satu tangan zidan, yang membuat Mata Zidan seketika membola menatap pergelangan tangan nya yang di pegang Salsa.
Salsa tidak memperhatikan ekspresi wajah zidan saat itu, setelah memegang tangan zidan, salsa lalu berjalan cepat didepan, zidan hanya bisa pasrah mengikuti langkah istri nya itu.
"Cepat om, saya mau ke sana," ucap Salsa yang mulai berjalan dengan menarik tangan zidan agar mengikuti nya.
Zidan berjalan mengikuti langkah kaki Salsa dengan menoleh kiri dan kanan melihat orang-orang yang menatap nya.
"Kenapa kau mengusul kan aku membawa nya Raka," gerutu zidan dalam hati.
Salsa terus berjalan dengan memegang tangan zidan. Seperti kerbau yang di cucuk hidung nya, Zidan hanya menuruti saja kemana Salsa membawanya, zidan juga merasa malu dengan banyak pasang mata yang menatap nya.
"Siapa gadis yang bersama dengan zi itu? Kenapa dia berani menarik tangan zi?" gumam niken yang sedari tadi memperhatikan zidan dari kejauhan.
Niken memperhatikan foto Salsa yang diambil tadi dengan kamera ponselnya.
"Aku harus cari tau siapa gadis ini, Ada hubungan apa zi dengan dia? "
Niken kemudian mengirim kan foto Salsa yang diambil nya tadi, lewat aplikasi whatsapp ke nomor seseorang, sebelum melakukan panggilan suaranya.
"Cari tau siapa orang yang ada di foto itu," ucap niken setelah sambungan ponsel nya terhubung.
"Kirim kan dua puluh juta besok anda akan mendapatkan informasi nya," balas seseorang dari sambungan telepon si wanita.
"Tidak masalah," Niken kemudian memutuskan sambungan telepon nya. Lalu mentransfer sejumlah uang yang di minta orang tadi.
Salsa menghentikan langkahnya dan melepas kan tangan zidan setelah sampai di kios es krim.
"Om, saya mau es krim," ucap Salsa sembari menunjuk kios eskrim yang ada di depannya.
"Heis, kamu seret saya dari sana hanya untuk minta es krim?" Kesal zidan dengan menunjuk ke arah nya tadi
"Iya om, saya mau eskrim yang rasa strowberry," balas Salsa sembari tersenyum.
"Baik lah, saya akan turuti semua keinginan mu, dan setelah itu kamu juga harus ikuti semua ke inginan saya, bagaimana?" ucap zidan memberikan penawaran.
"Ih, om kok gak ikhlas gitu," Kesal Salsa dengan memanyunkan bibirnya kedepan.
"Mau tidak?" ulang zidan bertanya.
__ADS_1
"Gak usah, saya sekarang gak suka eskrim," ucap Salsa kesal sembari melangkah pergi.
"Ish, kok jadi dia yang marah," gumam zidan mengusap kasar wajah nya.
Dengan terpaksa zidan mengikuti langkah kaki istrinya yang sudah berjalan di depan. Tiba-tiba Zidan merasa ponsel di kantong celananya bergetar, sambil berjalan, Zidan meraih ponsel didalam kantong celanya nya, setelah melihat nama yang tampil di layar ponselnya, zidan menggeser tombol hijau kemudian mulai berbicara dengan seseorang yang menelpon nya. Hanya sebentar saja kemudian zidan mengakhiri sambungan teleponnya. Zidan mengedarkan pandangan nya ke segala arah di lantai dasar mall itu, matanya tidak menemukan Salsa.
Sembil berjalan mencari Salsa, zidan juga mencoba menghubungi nomor ponsel nya, namun tidak ada jawaban, berkali-kali zidan menghubungi nomor Salsa namun hasil nya sama, tidak ada jawaban.
"Kemana dia? Kenapa dia tidak menjawab panggilan telepon ku," dengan rasa cemas dan dada yang sudah naik turun zidan masih mencoba menghubungi nomor ponsel Salsa.
Zidan melangkahkan kaki nya cepat, mengedarkan pandangan nya menelusuri seluruh lantai dasar mall yang ia lewati.
Dari kejauhan zidan melihat Salsa yang duduk di dekat tiang besar di dalam mall itu. Zidan berlari mendekatinya dengan perasaan yang sudah bercampur aduk. Ia berdiri sejenak mengatur daru nafas nya yang masih memburu, juga menunggu degup jantung yang sangat cepat itu agar kembali reda.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya zidan yang sudah berada di samping Salsa.
"Gak ada," jawab Salsa singkat.
"Ishhhh," Zidan menggeram kesal.
"Sebenarnya om mengajak saya kesini untuk apa?" tanya Salsa yang hanya menatap lurus ke depan.
"Mau membelikan mu gaun, untuk menghadiri acara malam ini," jawab zidan jujur.
"Acara ulang tahun pernikahan," jawab zidan apa ada nya.
"Ih, saya gak mau pergi lah, om pergi saja sama abang Raka, atau sama siapa lah," balas Salsa.
"Kamu jangan bertingkah," Ucap zidan.
"Bertingkah apa? Saya hanya tidak ingin pergi. titik," Balas Salsa menolak.
"Kamu harus pergi Salsabila," Ucap zidan tegas.
"Gak mau, saya harus belajar, saya sibuk," ketus Salsa dengan memalingkan wajah nya.
"Sudah, sekarang kamu ikut saya," ucap zidan seraya melangkahkan kaki nya pergi.
"Gak," balas Salsa masih duduk diam.
"Kamu mau jalan atau saya akan gendong kamu," ancam zidan.
__ADS_1
"Om nyebelin," Kesal Salsa dengan terpaksa bangkit dari duduk nya.
Zidan mulai melangkah naik ke lantai dua mencari gaun untuk Salsa.
Sebenar nya zidan kebingungan karna ia belum pernah menemani wanita untuk berbelanja, apalagi untuk mencari gaun.
"Selamat datang tuan, selamat datang nona," sapa karyawan saat zidan dan Salsa masuk ke dalam toko yang menjual gaun-gaun wanita.
"Pilihkan beberapa gaun yang cocok untuk dia," ucap zidan pada wanita yang menyapa nya tadi.
"Mari nona, kami akan memperlihatkan produk terbaik kami pada nona," ucap ramah wanita itu, Salsa hanya mengikuti wanita itu dari belakang.
"Hii zi," sapa niken yang baru saja datang.
Zidan tidak menjawab ia hanya melihat sekilas ke arah niken, lalu memalingkan kembali wajah nya.
"Kok kita bisa kebetulan ketemu di sini," ucap niken berbasa-basi sembari berjalan lebih mendekat ke zidan.
"Tutup mulut kau itu, dan segera lah pergi dari sini," ucap zidan mengancam.
"Kenapa kamu tidak pernah memberikan aku sedikit ke sempatan zi," lirih niken mengiba.
"Sampai sekarang aku masih memberi kau kesempatan, kau masih bisa hidup tenang. Bukan kah itu adalah kesempatan dariku," ujar zidan dingin.
"Zi, aku minta maaf, semua itu hanya kekhilafan ku," ucap niken.
"Sudah lah, sekarang kau pergilah, sebelum kesempatan dariku itu hilang." ucap zidan dengan penekanan.
Niken hanya bisa pasrah, ia melangkah pergi meninggalkan tempat itu.
Salsa keluar dari kamar ganti dengan memakai gaun merah darah sepanjang mata kaki nya. dengan lengan tangan yang hanya sepanjang siku nya. Di padukan dengan kulit nya yang putih, Salsa terlihat sangat cantik menggunakan gaun itu.
"Om," Sapa Salsa dengan balutan gaun merah yang di pakai nya itu.
Zidan menoleh melihat salsa, sempat terpana sesaat sebelum ia menyuruh menggantinya dengan gaun yang lain.
Sepuluh kali Salsa mengganti gaun nya di ruang ganti dengan warna dan model yeng berbeda.
"Sudah lah om, saya itu memang tidak cocok memakai gaun, percuma saja mengganti nya lagi dengan gaun yang lain," ujar Salsa tidak semangat.
Salsa kembali ke ruang ganti untuk menggunakan pakaian yang ia gunakan tadi.
__ADS_1
Zidan membeli semua gaun yang sudah di coba Salsa tadi.