
Salsa kini duduk di sisi ranjang yang berukuran besar. Pandangan mata nya menatap pantulan dirinya di kaca besar.
Tok
Tok
Tok
Pintu yang tidak tertutup itu terdengar di ketuk.
"Nona, izin kan kami masuk," pinta Marni yang berdiri di depan pintu.
Salsa menoleh ke pintu, terlihat 5 orang berjalan mendekatinya nya.
"Nona,segeralah mandi, karna sebentar lagi acara pernikahan nona dan tuan akan di laksanakan." ucap Marni yang sudah berdiri di sisi ranjang.
"Bi, tolong bilangin sama si om, untuk membawa Ibu Salsa kesini, atau paling tidak beritahukan lah Ibu Salsa kalau salsa hari ini menikah," lirih nya menatap Marni memohon.
"Baik nona," jawab Marni, lalu ia menyuruh seorang pelayan yang datang bersama nya untuk menyampaikan ke inginan Salsa pada Zidan.
Sedangkan Salsa bangkit, lalu masuk ke dalam kamar mandi. Ia masih belum menyangka sebentar lagi dirinya akan menikah. Menikah dengan seseorang yang masih asing baginya. Ia tak akan pernah tau nasib nya setelah menikah nanti. Apakah akan mendapatkan kebahagiaan atau kah malah mendapat penderitaan.
Namun, ia juga tidak bisa memungkiri, sejak pertama bertemu dengan Zidan, ada sesuatu rasa yang tidak bisa ia artikan. Jantungnya berdetak tidak ber aturan, tubuhnya yang gemetaran, itu selalu ia rasakan, bukan di saat pertama bertemu dengan Zidan saja. Tapi di setiap berada di dekat lelaki dingin itu. Bahkan dengan melihat nya dari ke jauhan pun rasa itu masih ia rasakan.
Pelayan yang di suruh Marni untuk menyampaikan keinginan Salsa, kini telah berada di balik pintu kamar Zidan.
Tok
Tok
Tok
Dengan mengumpukkan keberanian pelayan itu mengetuk pintu kamar tuannya.
Ceklek
Pintu terbuka, Zidan berdiri di depan pintu kamarnya, di depannya berdiri seorang pelayan dengan wajah yang menunduk takut.
"Siapa yang menyuruh kau, hingga berani mengetuk pintu ini?" tanya Zidan penuh penekanan. Dirinya memang melarang semua pelayan mendekati kamar nya, kecuali Marni, hanya Marni yang ia izinkan untuk membersihkan kamar, dan ruang kerja nya.
"Ma-maaf tuan, sa-saya di suruh Bibi Marni," ucap pelayan terbata.
"Katakan cepat. Apa yang kau ingin katakan?" tanya Zidan lagi. Pelayan yang mendengar suaranya gemetaran.
"No-no- nona. ka-ka-kata," ucap pelayan itu terbata-bata.
"Heis.... Kau pergilah, suruh Marni kesini," bentak Zidan.
"Ba- baik tuan," jawab pelayan itu dengan keringat dingin. Kembali ke kamar Salsa.
Pelayan itu masuk ke kamar Salsa dengan wajah pucat.
"Apa kamu sudah mengatakannya pada tuan?" tanya Marni yang di balas gelengan kepala oleh pelayan itu.
Tanpa bertanya apa-apa lagi Marni keluar dari kamar itu menuju kamar Zidan.
__ADS_1
Tiba di depan pintu kamar Zidan, Marni lansung mengetuk nya.
Tok
Tok
Tok
Ceklek
Zidan kembali membuka pintu kamarnya, terlihat Marni yang berdiri di depan pintu kamar.
"Apa yang ingin kau sampaikan?" tanya Zidan menatap pelayan nya itu dengan tatapan tajam.
"Maaf tuan. Saya ingin menyampaikan permintaan nona."
"Katakan apa yang di ingin kan nya?" tanya Zidan.
Nona meminta agar Ibu nya bisa datang menyaksikan pernikahan nya, tuan. Atau setidak nya, Ibu nya mengetahui jika nona akan menikah hari ini," jawab Marni.
"Suruh Raka pergi ke sana. Berikan juga mahar untuk nya," balas zidan, lalu melambaikan tangannya menyuruh Marni pergi.
"Baik tuan," jawab Marni berlalu pergi
Marni turun kebawah menemui Raka, menyampaikan apa yang di perintah kan Zidan tadi.
.
.
.
"Wah, nona terlihat cantik sekali," pujian Marni yang baru saja masuk ke dalam kamar itu, setelah menemui Raka di bawah tadi.
Salsa menahan senyum nya. Namun, pipi yang belum di polesi make-up itu terlihat jelas merona.
Salsa sejak tadi memang sudah menyadari, perubahan dirinya saat menggunakan baju ke baya itu. Tapi keempat pelayan yang bersamanya tidak memberikan respon apa pun, mereka hanya seperti robot yang bekerja.
Marni berdiri di belakang Salsa, melihat wajah cantik gadis remaja itu dari pantulan cermin.
"Bibi," panggil Salsa.
"Iya nona, apa nona menginginkan sesuatu?" tanya Marni yang menatap wajah gugup Salsa dari pantulan cermin.
Salsa menggeleng, tapi bibir nya hendak mengatakan sesuatu yang tertahan, sedangkan jemarinya di bawah memainkan ujung-ujung kebaya.
"Bi- boleh nggak? kalau Salsa ingin berte-," ucap nya ragu-ragu untuk melanjutkan kata-kata nya.
"Maksud nona?" tanya Marni mengangkat satu alis nya.
Salsa menghela nafas besar sebelum melanjutkan kata-kata nya.
"Salsa mau bertemu Om," ucap nya tanpa melihat cermin di dapan, wajah nya sedikit tersipu saat menyebutkan kata itu.
Marni yang melihat ekpresi wajah Salsa seperti itu hanya tersenyum.
__ADS_1
"Baiklah, apa nona ingin tuan ke sini, apa nona yang ke kamar tuan?" ujar Marni.
Tidak ada jawaban dari Salsa, bahkan mengangkat wajah pun dia tidak bisa. Dia hanya asyik melihat jemari nya yang bermain di ujung kebaya.
Marni yang seakan tau apa yang diinginkan gadis didepan nya itu, kemudian pergi keluar menemui tuannya.
Tok
Tok
Tok
Pintu kamar Zidan kembali di ketuk Marni.
Ceklek
Pintu dibuka Zidan dari dalam, dirinya berdiri di depan pintu, menggunakan kemeja putih polos.
Zidan menaikan satu alis nya, tanpa bertanya pada Marni yang berdiri di depan nya.
"Maafkan saya tuan, saya hanya menyampaikan kalau nona saat ini ingin bertemu dengan tuan." ujar Marni.
"Kenapa dia ingin bertemu dengan ku?" tanya zidan dingin.
"Saya tidak tau tuan," balas Marni.
'Apa dia berubah pikiran? Apa dia tidak mau menikah dengan ku?" tanya Zidan dalam hati.
"Kau tanyakan pada dia untuk apa dia ingin bertemu dengan ku," titah Zidan berusaha tetap santai. Padahal di hatinya sangat takut jika gadis itu berubah pikiran.
Marni pun bergegas pergi ke kamar Salsa.
"Nona, tuan bertanya untuk apa nona menemui nya?" tanya Marni yang sudah sampai di kamar Salsa.
"Aishh, pertanyaan macam apa itu, dia menanyakan untuk apa aku ingin bertemu dengan dia, ishh... Kenapa seperti aku yang menginginkan pernikahan ini. Bukannya ini keinginan dia. Apa aku tidak boleh bertemu dia? aku kan calon istrinya, haaafg .... Menyebalkan sekali!" gerutu Salsa dalam hati.
"Bilang saja bi, Salsa mau mencekek nya," kesal nya yang tak menyadari ucapan nya.
Mata Marni membola, dahi nya berkerut mendengarkan perkataan yang di lontarkan Salsa.
"Apa nona serius ingin mengatakan itu pada tuan?" tanya Marni sebelum kembali ke kamar zidan.
Salsa tidak menjawab ia hanya diam, bahkan ia tidak mendengar apa yang Marni katakan, bahu nya sesekali menggelinjang karna kesal, hati nya mungumpat, bibir nya seperti seseorang yang sedang membaca mantra, matanya hanya melihat jemari nya, yang sedang memainkan ujung kebaya.
Marni harus segera keluar, karna dari tempat ia tadi berdiri, ia bisa melihat Zidan yang masih berdiri di pintu kamar.
"Kenapa nona bicara seperti itu? Apa kata-kata itu harus aku sampaikan juga pada tuan?" batin Marni, yang terus melangkah mendekati zidan yang berdiri menunggunya di pintu kamar.
"Apa yang dia katakan? Katakan cepat!" Zidan semakin penasaran.
"No-nona bilang dia-dia- dia-."
"Cepat katakan!" bentak Zidan menyela ucapan marni.
"Nona bilang mau mencekik tuan," ucap Marni cepat, hanya dengan satu tarikan nafas saja. karna kaget nya dibentak Zidan.
__ADS_1