Om CEO Galak Itu Suamiku

Om CEO Galak Itu Suamiku
Hendro


__ADS_3

Braaak


Mobil yang di kemudikan Jefri menabrak sudut trotoar. Zidan menunduk memeluk eret kepala Salsa yang ada di pahanya.


"Sabila, bangun Sayang,"


Zidan menggoyangkan tubuh Salsa yang ada diatas pahanya, namun Salsa tidak merespon nya.


Tok


Tok


Tok


"Bos.... Bos..... Apa anda baik-baik saja," Terlihat Raka yang sudah berdiri di samping pintu mobil yang kaca nya sudah berlubang.


Zidan membuka pintu mobil di sebelah nya itu.


"Raka, cepat antarkan aku ke rumah sakit! Sabila pinsan lagi." ucap Zidan yang masih berada di dalam mobil, wajah nya terlihat begitu cemas.


"Tapi bos, mobil anda hanya bisa menampung dua orang saja," Raka menoleh melihat mobil yang di bawanya.


"Sial, kenapa kau membawa mobil itu," bentak Zidan.


Tin


Tin


Tin


Sebuah mobil toyota voxy hitam berhenti di belakang mobil nya. Zidan menoleh kebelakang melihat dua orang berjas Hitam turun dari mobil itu.


Raka maraih Pistol yang ada di pinggang nya, lalu membidikkan pada dua orang yang berjalan menghampiri mereka.


"Tenang lah tuan, kami orang nya nyonya Maria," ucap salah satu pria berjas hitam itu sembari mengangkat kedua tangan nya ke atas.


Perlahan Raka menurunkan kembali senjatanya.


"Apa anda membutuhkan bantuan?" tanya pria yang berjas hitam tadi.


"Kebetulan sekali. Bos bawalah nyonya pulang dengan mereka," ucap Raka pada Zidan.


"Aku tidak butuh bantuan mereka Raka!" bentak Zidan.


"Jangan egois bos, pikirkan lah nyonya. Saat ini dia butuh pertolongan,"


Zidan menatap wajah Salsa yang ada di atas kedua pahanya. Kemudian ia mengangkat tubuh istrinya itu keluar dari mobil.


"Bos, untuk sekarang bawalah nyonya ke mension, saya akan menelpon dokter agar segera datang kesana," saran Raka.


Dua orang pria berjas hitam tadi berjalan mendekati mobil toyota voxy yang ada di belakang, mereka membuka kan pintu mobil itu, mempersilahkan Zidan masuk.

__ADS_1


"Jeff apa kamu baik-baik saja?" tanya Raka Saat mobil toyota yang membawa Zidan itu sudah pergi.


"Tidak apa-apa tuan," balas Jefri yang masih duduk di belakang kemudi.


Raka lalu menelpon dokter dan menyuruh nya untuk datang ke mension.


*


Sementara itu di sebuah bangunan yang seperti aula terdengar suara gesekan pedang yang beradu. Dua orang pria berbeda usia saling menguji kemampuan mereka dalam memain kan pedang.


Seorang pria yang hanya dengan menggunakan satu tangan nya, terlihat sangat mahir, mengayun kan dan menghunus kan pedang ke arah lawannya. Ia terus menyerang dengan memajukan langkahnya kedepan, lawan nya hanya bisa menangkis dengan memundur kan langkah nya


Pria yang hanya menggunakan satu tangan itu mengayun kan pedang nya kuat dengan posisi kuda-kuda yang kokoh.


Ting


Pedang lawan nya jatuh ke lantai.


"Kamu sungguh hebat sekali Rocky, aku sangat kagum dan bangga dengan permainan pedang mu. meski dengan satu tangan kamu bisa mengalahkan ku,"


"Terimakasih tuan Hen,"


Dreeet


Dreeet


Dreeet


Rocky berjalan mendekati ponsel nya yang terletak diatas meja. Melihat nama pemanggil dilayar ponsel nya terlebih dulu, lalu berjalan menjauh dari sana.


"Bagai mana? apa kalian berhasil?" tanya Rocky setelah menggeser tombol panah hijau di layar ponsel nya.


"Sudah bro," Jawab sesorang dari sambungan telepon.


"Apa kau yakin?" tanya Rocky.


"Yakin lah bro, jika kau tidak percaya, pergi lah ke kediaman nya sekarang untuk memastikan."


"Oke. sesuai perjanjian, bayaran akan aku transfer setelah aku memastikan nya sendiri," sahut Rocky.


"Ya kau pastikan lah sendiri,"


"Dan satu lagi! jangan sampai tuan Hendro mengetahui ini." ucap Rocky sedikit berbisik.


"Aman itu, kau pergi lah sekarang ke kediaman nya untuk memastikan. Karna kami sangat butuh uang itu." ucap orang di ujung telepon.


"Kalian jemput aku sekarang, biar kita sama-sama memastikannya," ucap Rocky.


"Baiklah, kau kami segera kesan,"


Setelah memutuskan sambungan telepon, Rocky kembali berjalan mendekati pria yang berlatih pedang dengan nya tadi.

__ADS_1


Semenjak Rocky memutuskan kembali ke indonesia dengan tujuan membalas kan dendam nya. Hendro adalah orang pertama yang dia tuju. Karna Rocky tau nama Hendro di pasar gelap cukuplah di kenal. Bisnis Hendro sebagai Bandar Narkoba dan perdagangan Barang-barang ilegal, ia juga mempunyai kekuatan yang cukup besar, memiliki anak buah yang cukup banyak. itulah alasan Rocky ingin bergabung dengan nya.


Meski Awal nya Hendro memandang Rocky remeh, karna keadaan fisik nya yang tidak sempurna. Namun, pandangan Hendro berubah saat Rocky berhasil merampas beberapa unit senjata api di markas Zidan, yang hanya dibantu dua orang anak buah nya saja.


Semenjak itu Hendro mulai kagum dengan keahlian serta kehebatan yang di miliki Rocky, ia juga sangat mempercayai Rocky, untuk membantu mengawasi bisnis gelap nya.


Tapi tidak dengan Rocky, ia malah menginginkan kekuasaan Hendro.


****


Zidan yang diantar oleh anak buah Maria, kini sudah sampai di Mension nya. Dengan langkah lebar dan wajah yang masih terlihat cemas, ia berjalan masuk ke dalam Mension dan membaringkan tubuh Salsa perlahan di atas ranjang.


Zidan mengenggam erat satu tangan Salsa dengan ke dua tangan nya. dengan bibir gemetar dan bola mata yang sudah berkaca-kaca.


Tidak lama berselang dokter Erwin datang. Zidan bangkit dari duduk nya dan berjalan mendekati dokter Erwin. Ia menarik dokter Erwin mendekati ranjang tempat Salsa berbaring.


"Cepat, sembuh kan, dan bangun kan dia sekarang," ucap Zidan dengan suara yang gemetar.


"Tuan. tuan tenang lah dulu, saya akan memeriksanya," balas dokter Erwin.


Dokter erwin meletak kan tas kerjanya di atas nakas, lalu membuka nya, ia mengambil stetoskop dari dalam tas, lalu memeriksa detak jantung Salsa. Ia juga membuka kelopak mata Salsa dengan menyinari dengan cahaya senter.


Zidan yang berdiri di belakang dokter Erwin mengusap kasar wajah. Penampilan nya begitu kusut dengan wajah yang terlihat begitu cemas.


Dokter Erwin kembali menutup tas kerjanya setelah memasukkan alat-alat yang tadi ia keluarkan.


"Bagai mana keadannya nya?" tanya Zidan seraya kedua tangan nya mencengkram kerah baju dokter Erwin.


Dokter Erwin menghela nafas dan membuka serta membersihkan kacamata nya yang berembun, sebelum menjawab pertanyaan Zidan.


"Tuan tenang lah dulu, di sini saya hanya sebagai perantara saja, tapi yang menyembuhkan nya itu bukan saya, tapi Tuhan," ucap dokter Erwin pasrah.


"Apa yang kau katakan bangsat!"


Bugh


Zidan mendorong tubuh dokter Erwin hingga tersandar ke dinding kamar.


"Tenang lah dulu tuan, saat ini keadaan istri anda sangat lemah, saya belum bisa memastikan apa-apa, tapi jika anda memaksa, kita bisa membawa nya kerumah sakit untuk memastikan apa ada penyakit yang serius di tubuh nya," ujar dokter Erwin menjelaskan.


Zidan mengepalkan kedua tangan nya kuat, lalu berjalan mendekati dokter Erwin.


Bugh


Bagh


"Jangan pernah kau katakan itu padaku, bangsat!!! "


Bugh


Bagh

__ADS_1


"Bos, hentikan bos," Raka datang dan menarik tubuh Zidan.


__ADS_2