Om CEO Galak Itu Suamiku

Om CEO Galak Itu Suamiku
Bahagia diajak Dinner


__ADS_3

"Ya sudah, biar saya belikan. kamu tunggu saja di sini," ujar Zidan sembari berjalan meninggalkan kamar.


'Memang nya dia tau ukuran nya?'batin Salsa bertanya.


"Om tunggu, saya ikut," Salsa lansung bangkit dari duduk nya, berlari mengejar Zidan yang sudah berada di luar kamar.


"Heish, kamu itu belum mandi, ngapain ikut," balas Zidan yang kini sudah berbalik badan menatap Salsa yang berdiri di depannya.


"Ya-, ya saya harus ikut lah! Kan Om gak tau ukuran nya," lirih Salsa malu-malu. Pipi nya kini benar-benar sudah seperti kepiting rebus.


Pandangan Zidan tertuju pada dada Salsa, sejenak ia memperhatikan tonjolan di sana, sebelum berbalik badan memunggungi Salsa.


"Ya mana saya tau, kan saya belum pernah melihat nya," celetuk Zidan yang sudah membelakangi Salsa.


Mata Salsa membola sempurna, seketika ia menyilangkan ke dua tangan di dada.


"Oom!" sentak nya sembari menghentak kan kaki ke lantai.


"Kan benar. saya belum pernah melihat nya," ucap Zidan membenarkan ucapan nya, masih berdiri memunggungi Salsa.


Jakun Zidan bergerak naik-turun saat pikiran nya membayangkan bagaimana bentuk serta besar kepunyaan istrinya.


"Sepertinya saya tidak perlu melihat, untuk mengetahui ukurannya," ucap Zidan sinis, berusaha menghilangkan kepanikan nya saat ini.


"Hah! Maksud dia apa?" batin Salsa bertanya.


Zidan melanjutkan langkah nya keluar dari resort itu.


Perlahan Salsa mengangkat wajah nya, menatap punggung Zidan yang keluar dan menutup pintu bangunan mini malis itu kembali.


"Hufh, malu nya aku,"  gumam Salsa merutuk sendiri.


Salsa kembali masuk ke dalam kamar, setelah Zidan menghilang dari balik pintu, ia duduk dan menyandarkan tubuh nya di Sofa di dalam kamar, matanya semakin sayu sebelum benar-benar terpejam


* * *


Sementara itu dirumah tuan Daniel.


Sudah semalam Rendi di rawat di rumah sakit, di sebab kan pukulan Zidan, ia memang sudah sadarkan diri, namun, keadaannya begitu lemah sekali.

__ADS_1


"Apa yang sebenarnya terjadi ma?" tanya tuan Daniel pada istrinya.


Tuan Daniel memang tidak mengetahui apa yang terjadi sebab ia baru saja pulang dari luar kota. Ia di beri tahu istri nya lewat sambungan telepon kemarin, istrinya mengatakan saat itu keadaan Rendi tidak sadarkan diri. Tapi Istri tuan Daniel waktu itu belum mengatakan jika yang melakukan nya adalah Zidan.


"Mama juga tidak tau pasti, Pa. Sore itu Rendi diantarkan oleh orang-orang Zidan. Mereka berpesan agar Rendi jangan pernah lagi mencampuri urusan tuannya mereka," jawab istri tuan Daniel yang tampak cemas.


"Apa yang telah di lakukan Rendi, Ma, hingga membuat Zidan begitu marah?" tanya tuan Daniel.


"Mama juga tidak tau Pa, tadi pagi Mama sudah menanyakan pada Rendi, tapi dia hanya diam saja," jawab istri tuan Daniel.


"Apa Mas Hendra sudah tau masalah ini?" tanya tuan Danial lagi.


"Belum Pa, mama belum ada memberi tahukannya," jawab istri tuan Daniel.


"Bagus lah jika mas Hendra belum tau, biar kita saja yang menyelesaikan nya secara kekeluargaan dengan Zidan," balas tuan Daniel.


**


Salsa tiba-tiba tersentak dari tidurnya, ia lansung duduk di sofa tempat dia tertidur tadi, mengumpulkan kembali kesadaran nya. Di lihat nya suasana di luar yang sudah mulai gelap.


"Hafg, aku ketiduran," gumam nya.


Kemudian Salsa bangkit, mencari Zidan.


Mata Salsa tertuju pada ranjang, yang di atas nya ada beberapa paper bag terletak di sana.


"Apa Om sudah datang? Tapi kemana dia? kenapa dia tidak membangunkan ku? gumam nya sembari berjalan mendekati ranjang, lalu meraih satu paper bag disana. ia mengeluarkan satu dalaman yang berbentuk seperti kaca mata dan segitiga yang berwana merah jambu dari dalam paper bag.


"Kenapa ukurannya bisa pas?" gumam nya sembari melihat benda itu dengan teliti.


"Apa jangan-jangan Om itu sudah pernah melihat nya? Haufg... Apa yang lu pikirkan," Salsa bergumam sambil memukul kening nya sendiri.


Kemudian di keluarkan nya semua yang ada di dalam paper bag. Ada yang berisi dress, piyama, dan high heels.


Salsa mengambil dress, merentangkan dress itu di tubuh nya.


"Ini Cantik sekali! dan ukuran nya juga sangat pas di tubuh ku," gumam nya sembari mematut diri di depan cermin.


"Tapi kenapa ya, semua ukuran pakain ku Om itu bisa tau? " batin nya bertanya.

__ADS_1


Diatas ranjang, Salsa juga melihat secarik kertas kecil. Diambil nya kertas itu dan di baca.


"Pakai lah pakaian ini, saya menunggu, kita dinner diluar," 


Salsa tertegun sejenak, setelah membaca tulisan di kertas itu. Seperti sedang mengartikan maksud dari kata-kata yang tertulis itu.


"Apa Om itu mengajakku---? Hah-----?" 


Salsa menutup mulut nya yang menganga lebar. Lalu, ia berlonjak kesenangan sambil memegang kertas itu.


***


Selesai mandi, Salsa menggunakan drees cantik yang di coba nya tadi. Ia segera berjalan keluar menemui Zidan. di sepanjang jalan yang ia tapaki, berjajar lilin-lilin yang menerangi langkah nya, tidak jauh di depannya, Salsa melihat lebih banyak cahaya lilin yang menerangi.


Salsa memegang dada nya yang berdetak hebat. Dirinya merasakan saat ini sudah seperti seorang ratu dari negri dongeng.


Jangan di tanyakan jantung nya. Sudah pasti jantung gadis yang sudah menyandang status sebagai istri itu sudah berdisco ria. Namun, dirinya berusaha menguasainya.


"Om," Salsa menyapa Zidan yang berdiri membelakangi nya. Tepat di depannya ada sebuah meja yang sudah terhidang makanan, serta lilin putih yang berdiri kokoh diatas penyangga.


Zidan menoleh ke belakang, melihat Salsa yang berdiri tersenyum manis padanya. Beberapa jenak Zidan terpaku memandang Salsa dengan balutan dress yang di belikannya tadi.


"Om, apa kita akan makan malam di sini?" tanya nya penuh harap. Kebahagian terpancar di wajah gadis itu.


Zidan tersentak saat Salsa ingin menarik satu kursi di meja itu.


"Tunggu dulu! Siapa bilang kita akan makan di sini?" tanya Zidan ketus.


Salsa menatap Zidan, lalu wajah nya kembali menunduk di sertai langkah kaki nya mundur dua langkah, menjauh dari meja itu. Wajah bahagia nya yang tadi terpancar, sirna sudah.


Maaf, saya kira Om yang sudah menyiapkan semua ini," lirih nya dengan wajah tertunduk.


"Kamu lihat kan. Dari tadi saya hanya berdiri di sini, lalu kenapa kamu mengira meja ini untuk kita," Zidan menatap lekat wajah Salsa yang tertunduk.


"Ya, saya kan sudah minta maaf. Om jangan marah-marah, lah," Suara Salsa sudah berubah serak, bola matanya pun sudah berkaca-kaca.


Zidan kemudian tersenyum kecil.


"Om, saya mau balik ke kamar, Saya sudah kenyang," Salsa lansung berbalik badan.

__ADS_1


"Salsabila"


Langkah Salsa terhenti, mendengar Zidan memanggil namanya.


__ADS_2