Om CEO Galak Itu Suamiku

Om CEO Galak Itu Suamiku
Sah....


__ADS_3

"Saya Terima nikah dan kawin nya Salsabila binti Baharudin dengan mas kawin emas seberat 500 gram serta uang tunai $ 100000 di bayar tunai,"


"Sah."


"Sah."


Ijab-qabul yang di ucapkan Zidan membuat mata indah Salsa membola sempurna. Dirinya merasa gugup, bahkan untuk sekedar menelan saliva pun dirinya merasa kesusahan.


Sesekali ekor matanya menatap Zidan yang kini telah sah menjadi suami nya. Marni mendekatinya, menuntun Salsa berjalan mendekatii Zidan.


Tepat di hadapan suami nya, Salsa duduk bersimpuh, dunyut jantung nya saat ini semakin kencang, apalagi dadanya saat terlihat kembang kempis. Sesak, itulah yang ia rasakan saat ini.


Kemudian Zidan mengulurkan tangan kanan nya.


Sejenak Salsa terpana menatap tangan yang menggantung di depannya. Dirinya mengedarkan pandangan kesekitar, menatap lekat Marni yang duduk di sebelah nya, seperti meminta persetujuan pada pelayan yang sudah dianggap seperti Ibu nya sendiri. Marni mengangguk seraya tersenyum.


Salsa memberani kan diri menatap wajah Zidan sekilas, sebelum meraih tangan laki laki yang baru saja sah menjadi suaminya. Menghela nafas besar, lalu dengan ke dua tangannya, ia meraih tangan laki-laki yang baru saja menjadi suami nya. tangan itu ber urat itu dia cium dengan takzim, Cukup lama tangan itu ia cium, seperti hendak mencurah kan hidup nya pada tangan itu.


.


.


.


Sementara itu di tempat lain.


Herman melangkah gontai, sesekali kaki nya menendang apa saja yang ada di jalan, dirinya kesal, marah pada Rita yang begitu bodohnya menolak uang mahar.


Ciiit.....


Sebuah motor metic berhenti tidak jauh darinya. Seorang laki-laki bertato datang mendekat.


"Woi Man. Cicilan utang loe udah telat satu minggu, sekarang loe mesti bayar doble. Cepat bayar sekarang!" kata salah satu pengendara motor metic yang berjalan mendekati Herman.


"Nanti pasti aku bayar, kalian tenang saja. Tapi tidak sekarang, sekarang aku lagi tidak ada uang. Tolong kalian mengerti dan sampaikan pada tuan Albert." ucap Herman memberi alasan.


Laki-laki bertato itu menatap temannya yang duduk di atas motor, seperti meminta pendapat.


Dan teman nya itu mengangguk.


Bagh


Bugh


Bagh


Bugh


Pukulan demi pukulan mendarat tepat di perut Herman. Membuat nya meringis menahan sesak.


"Loe dengar baek-baek ya Man! satu minggu lagi gua bakal nemuin loe. Kalo loe belum bayar juga! gua mampusin loe!" ancam laki-laki bertato itu sebelum pergi.


"Hufh. Hufh.. Hufh..,"  Herman berjongkok memuntahkan sesuatu dari mulut nya. Pukulan di perut nya begitu terasa sampai ke usus nya, perih, ngilu, begitu lah rasa nya.


"Bagaimana pun caranya aku harus bertemu dengan anak sialan itu, cuma dia yang bisa memberi ku uang," gumam nya.


"Uhuk.... Uhuk...... Uhuk...... Kemarin di gebukin di wajah, sekarang malah di perut, besok dimana lagi mereka akan memukul ku. Uhuk.... Uhuk..... Ini gara gara si Rita sialan. Dariasar bego!!!" racau nya mengumpat sendiri.


.


.


.


Acara ijab qabul telah selesai, penghulu yang menikahkan pun sudah diantarkan oleh Jefri pulang. Namun, Raka dan Zidan masih duduk di sofa ruang utama. Tidak seperti biasanya Raka akan berlama-lama di mension itu, jika tidak ada urusan penting dengan bos nya.


"Selamat ya Bos atas pernikahan nya, saya Doakan semoga Bos cepat dapat......??" Raka tidak melanjutkan kata-kata nya, kala mata elang Zidan menatap nya tajam.


"Bos, apa besok Bos akan datang e kantor?' tanya Raka mengalihkan.


"Hmm," jawab Zidan terlihat serius dengan ponsel nya.


"Kapan kau akan pulang Raka?" ucapan sidiran Zidan, tanpa matanya beralaih dari layar ponsel.


"Apa Bos mengusir saya?" tanya Raka.

__ADS_1


"Menurut kau?" jawab Zidan ketus.


"Bos, Niken bagaiman? apa rencana yang Bos buat itu tetap saya jalankan?" tanya Raka seperti sengaja mengulur waktu agar bisa lebih lama berada di mension itu.


Zidan menghela nafas besar, menatap Raka sejenak.


"Biarkan saja dulu," balas nya singkat.


"Tapi bagai mana nanti jika foto-foto itu tersebar dan istri Bos melihat nya?" tanya Raka lagi.


"Aku sendiri yang akan menghabisi dia," balas Zidan tanpa mengalihkan pandangan nya dari ponsel.


"Kau pulang lah Raka aku mau istrahat," ucap Zidan seraya bankit dari duduk nya, melangkah meninggalkan Raka.


"Bos. pelan-pelan nanti me-,"


Plak


Belum selesai Raka bicara, satu sandal yang di pakai Zidan lebih dulu mendarat di wajah Raka.


"Kenapa Bos melempar saya. Tadi nya saya hanya ingin mengatakan, pelan-pelan naik tangga, itu saja Bos," Raka menggerutu sambil mengusap wajah nya.


"Tutup mulut kau itu Raka. Sudah berapa tahun kau bekerja dengan ku? Kenapa baru sekarang kau mengingatkan?"


"Ma-maafkan saya Bos," sesal Raka.


"Tapi Bos, ini kan baru jam sembilan malam. Kenapa Bos ingin buru-buru masuk kamar?" tanya Raka lagi, sepertinya pria itu sengaja ingin menggoda Bos nya.


"Apa yang kau pikirkan Raka!" bentak Zidan sangat keras, suaranya menggema ke setiap sudut ruangan itu.


"Ampun Bos," Raka berlari, ketika Zidan hendak mendekati nya.


"Kembali kau Raka!" bentak Zidan, kali ini membuat para pengawal berhamburan ke arah suara.


Para pengawal telah berkumpul diruangan itu, karna mendengar suara teriakan tuannya yang begitu keras.


"Kalian kembalilah," ucap Zidan melambaikan satu tangan nya mengusir.


"Awas kau Raka," dengus Zidan, dada nya sudah naik turun.


.


.


Dirinya kemudian duduk diatas ranjang. Berusaha untuk menenangkan diri.


"Hais.... Kenapa lah aku seperti ini? Bagaimana nanti kalau dia masuk ke kamar ku? Bagai mana kalau dia meminta-----?? Tidak, tidak. Salsa tenang, jangan gugup,"  mencoba menenangkan diri, mangatur nafas agar terlihat tidak gugup sama sekali.


Ceklek


Zidan membuka pintu kamar Salsa yang tidak terkuncin. Berdiri di pintu kamar itu dengan tangan yang masih memegang gagang pintu.


Salsa seketika menunduk, menatap selimut yang menutupi tangannya.


"Om, ngapain ke sini?" tanya nya dengan suara berat, namun dirinya tetap memberanikan diri menanyakan itu.


"Heis..... Apa Kau lupa ini rumah siapa?" jawab Zidan dengan angkuhnya.


"Ya saya tau. Saya di sini memang hanya menumpang saja, jadi.......???" lirih nya ragu untuk melanjutkan kata-kata nya.


"Jadi apa, Hah!?" tanya Zidan, tidak dengan suara pelan.


Salsa tidak menjawab. Gadis itu hanya menatap jemarinya yang bermain di bawah selimut, hingga terlihat selimut itu bergerak-gerak sendiri. Mulut juga komat-kamit seperti sedang membaca mantra.


"Jadi apa? jawab lah cepat!"


Salsa tersentak kala mendengar suara bentakan itu.


"Ja-jadi Om tidak perlu panggil saya dengan kata KAU, atau pun bentak-bentak saya, saya ini kan-," ucapannya kembali ia jeda


Zidan menaikan satu sudut bibir nya, tersenyum sinis. perlahan dirinya mendekati gadis itu.


"Lanjutkan, saya mau dengar!" pinta nya, yang berjalan semakin mendekat ke arah Salsa.


Lagi-lagi Salsa hanya diam, menghela nafas lebih dalam. Seperti nya saat mengatakan kalimat tadi, oksigen dalam paru-paru nya terlalu banyak terbuang.

__ADS_1


"Salsabila binti Baharudin lanjutkan kalimat mu tadi," suara Zidan tertengar tegas, berdiri tepat di samping Salsa.


Lagi-lagi Salsa hanya bisa diam.


"Ooo... Baiiklah mungkin saya akan tidur disini sampai kamu mengatakannya,"


Buk


Setelah mengatakan itu, Zidan lansung menghempaskan tubuh nya di ranjang empuk itu, mendarat tepat di hadapan gadis yang sejak tadi hanya diam menunduk.


"Eh... Eh...... Om mau ngapa'in?" sontak dirinya menggeser duduk ke belakang, hingga mentok di sandaran ranjang.


"Kenapa? Apa kau takut?" sinis nya sambil menopang satu tangan di kepala, berbaring menyamping.


"Ba-baiklah saya akan melanjutkan kata-kata tadi, tapi Om bangun dulu. Om duduk di sana saja." balas Salsa wajah nya terlihat panik. Tangan nya menunjuk bangku di depan meja rias di kamarnya.


"Heis... Kau ini,"


Dengan malas Zidan pun bangkit, karna melihat wajah Salsa yang ketakutan.


"Sudah, cepat katakan apa yang ingin kau sampaikan." ucap Zidan setelah duduk di bangku yang di tunjuk Salsa tadi.


"I-iya." jawab Salsa. Namun, sebelum melanjutkan kata-kata nya dirinya terlebih dalu mengatur nafas.


"Hais... Sampai kapan aku menunggu kau mengatakan nya?" tanya Zidan sengit.


"Om jangan panggil saya kau,  atau pun bentak-bentak saya, saya ini kan."


Lagi, untuk kesekian kalinya gadis itu menjeda kalimat nya.


Zidan yang sudah tidak sabar lagi membentak nya. "Saya ini kan. Saya ini kan. Apa?!"


"Sa-saya ini kan istri Om," sambung nya dengan wajah tertunduk. Sungguh, ada rasa takut kala dirinya mengungkap kan hal itu.


Zidan menatap gadis yang baru saja menjadi istrinya.


"Saya tidak dengar, coba ulang sekali lagi," pinta Zidan, sedikit senyum tipis terukir di wajah nya.


"Ish..... Dia ini lah, bilang orang tuli, padahal dia sendiri yang tuli," racau Salsa pelan, seperti dirinya sedang membaca mantra, yang sayang nya mantra yang diucapkan nya itu dapat di dengar Zidan.


Salsa masih memanyun-manyunkan bibir nya, membuat Zidan merasa gemas sendiri.


"Hai, saya bisa dengar kau sedang mengatai saya barusan!" sengit Zidan kesal. Segera bangkit dari duduk nya, berjalan mendekati Salsa. Zidan menampar kasur empuk di samping gadis yang duduk itu.


"Ka-kau berani mengatai saya hah!" bentak Zidan tak terima, lalu menepis kan kasar tangan nya ke udara.


"Hikz..... Hikz...Hikz..."


Istri kecil Zidan itu menangis.


Tangis yang awalnya hanya terdengar isakan-isakan kecil, kini berubah menjadi raungan yang semakin keras.


"huaaaa...... huaaaa...huaaaa..... Hikz... Hikz.... Hikz....." isak tangis gadis itu semakin menjadi-jadi.


Sama hal nya dengan Raka, Zidan pun tidak tau caranya membujuk orang yang menangis.


"Diamlah," ucap Zidan menyuruh sang istri diam. Tapi bukan nya diam, Salsa malah semakin meraung keras.


"Diamlah," sekali lagi Zidan ucap kan kata itu. Tapi, kali ini suara nya melunak. Sayang nya ucapan nya itu tak bisa menghentikan tangisan Salsa.


Zidan berpikir, meletakkan satu tangan nya di dahi, ia berjalan bolak-balik di samping ranjang Salsa.


"Diam lah... Atau malam ini saya akan tidur di sini." ucap Zidan setelah cukup lama berpikir.


Seketika kamar itu hening. Tangisan meraung raung tadi lenyap seketika, kini tinggal isakan kecil yang keluar dari bibir Salsa. Istri kecil Zidan itu juga menghapus air mata nya yang hanya beberapa tetes saja yang keluar. Itu pun tidak sampai mengalir membasahi pipinya.


"Heis......" Zidan berdecak kesal, menghempaskan satu tangan nya ke udara.


"Om keluar lah, saya mau tidur," Salsa seketika menghempaskan kepalanya ke bantal, serta membungkus tubuh nya dengan selimut, hingga tak ada lagi yang terlihat dari tubuh nya.


Dengan kesal zidan pun melangkah keluar dari kamar itu.


Prak


Suara pintu yang Zidan hempaskan kasar.

__ADS_1


Seperti kepompong yang akan menjadi kupu-kupu, perlahan kepala salsa mengintip keluar, memastikan Om nya itu benar-benar sudah pergi sebelum ia benar benar mengibaskan selimut tebal itu.


__ADS_2