
"Raka, kau keluar lah, bawa Salsabila sekalian, dokter ingin bicara dengan ku," ucap Zidan yang membuat dokter menatapnya heran.
"Baik bos," balas Raka sembari melangkah keluar diikuti Salsa di belakangnya.
"Tidak ada yang serius dengan luka anda tuan," ucap dokter menjelaskan setelah Raka dan Salsa keluar.
"Kau tidak usah banyak bicara, kau tuliskan saja resep obat yang banyak untuk ku," Zidan menatap tajam dokter itu.
"Baiklah tuan," balas dokter pasrah, lalu menuliskan beberapa resep obat.
"Sekarang Pergilah, dan kau katakan jika aku tidak baik-baik saja. Kau paham!" tegas Zidan penuh penekanan.
"Baik tuan," ucap sang dokter seraya melangkah kan kaki nya keluar.
-
-
"Dokter bagai mana keadaan om?" tanya Salsa saat dokter membuka pintu kamar.
Dokter menghela nafas panjang nya sebelum mulai menjelaskan.
"Tuan tidak baik-baik saja nona, ada luka dalam yang sangat serius di badannya," ucap dokter terpaksa berbohong.
"Separah itu kah?" balas Salsa tidak percaya.
"Kalau begitu saya permisi dulu nona, mari tuan Raka," ucap dokter menghindari pertnyaan lainnya sembari melangkah pergi.
-
-
"Kalau begitu saya juga permisi nona," timpal Raka, sembari mengejar langkah kaki dokter yang telah dulu melangkah.
Salsa terpaku memikirkan ucapan dokter tadi. Ia juga menyesal karna semua yang terjadi itu di sebab kan oleh kesalahan nya sendiri yang membuka pintu, menyebabkan kan zidan jatuh.
"Uhuk,, uhuuk,, uhuuk,," Zidan sengaja batuk-batuk agar menyadar kan Salsa dari lamunan nya.
Salsa bergegas mendekati Zidan dengan langkah nya yang masih sedikit memincang. Namun, sebelum sampai di dekat Zidan, Salsa seakan teringat sesuatu.
"Astagah! sebentar om, bang Raka lupa membawa ini." ucap Salsa yang hendak berbalik keluar kamar, karna buket bunga dan boneka panda yang di berikan Raka tadi masih di tangan nya.
"Biarkan saja," balas Zidan, menghentikan langkah kaki Salsa, yang hendak mengejar Raka ke bawah.
"Ini punya bang Raka om, kasihan dia, pasti dia tadi mau memberikan ini untuk pacar nya," ujar Salsa sembari menatap bunga lily dan boneka panda itu.
"Abang Raka romantis banget ya," Imbuh Salsa sembari meletakkan bunga lily dan boneka panda itu di atas meja.
"Itu punya saya bukan punya Raka," bentak Zidan.
"Terserah, intinya abang Raka itu orang nya romantis, tidak seperti-?" Salsa buru-buru menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan.
"Seperti siapa?" tanya Zidan dengan satu alis nya terangkat.
__ADS_1
Salsa hanya diam sembari menggeleng kan Kepala nya.
"Cepat katakan seperti siapa?" bentak zidan dengan mengangkat kepalanya yang sedang berbaring itu.
Salsa menundukan kepalanya dengan kedua tangan nya yang masih menutup mulut.
"Ini semua gara-gara kau Raka. harusnya dia sekarang tertawa senang karna aku sudah memberikan nya bunga dan boneka itu, sial, sial, sialan kau raka," rutuk zidan dalam hati dengan tangan yang sudah mengepal ia hentak-hentakkan ke kasur.
-
-
Malam hari.
Herman yang sudah mendapat kan uang dari hasil menggadaikan sertifikat rumah rita, kini sedang berada di tempat judi.
Tiba-tiba dua orang preman anak buah nya tuan Albert datang.
"Man, mana janji loe!" ucap salah satu anak buah tuan Albert yang memiliki tato seraya memegang kasar kerah baju Herman.
"Santai bro, santai," balas Herman sembari tangan nya berusaha melepaskan tangan laki-laki bertato itu.
"Cepat loe bayar atau gua habisin loe," ujar preman bertato itu seraya menyodorkan kepalan tangan nya tepat di depan muka Herman.
"Lepaskan dulu tangan mu ini biar aku ambil uang nya," pinta Herman.
Laki-laki bertato itu pun kemudian melepaskan pegangan tangan nya dari baju Herman.
"Nih, ambil! aku bayar lunas sekalian," ucap Herman setelah melemparkan segopok uang seratus ribuan diatas meja.
"Ini lebih dua ratus ribu," ujar laki-laki bertato itu seraya memberikan nya kembali pada Herman.
"Ambil saja buat kalian," balas Herman yang masih melanjutkan permainan judi nya.
"Oke man, kalau loe butuh duit lagi datang saja pada bos Albert," Ucap laki-laki bertato itu seraya menepuk satu pundak Herman sebelum pergi.
-
-
Dikamar zidan.
Zidan yang pura-pura sakit parah, sedari tadi hanya berbaring saja di ranjang.
"Salsabila," zidan memanggil Salsa yang duduk di sofa kamar zidan.
"Iya," balas Salsa sembari bangkit dan berjalan mendekati suaminya.
"Saya lapar," ucap zidan pura-pura lemas.
"Saya panggil bi Marni ke bawah dulu ya om," balas Salsa yang hendak melangkah.
"Tidak usah, kamu tekan saja itu," ucap zidan seraya menunjuk tombol merah seperti di kamar Salsa.
__ADS_1
Salsa lalu menekan tombol yang di tunjuk zidan. Setelah itu ia hendak melangkah kembali ke sofa.
"Tunggu!" ucap zidan yang menghentikan langkah kaki Salsa.
Salsa berbalik menatap zidan.
"Apa kamu bisa membantu saya duduk?" ucap zidan dengan suara lembut.
Salsa lalu menganggukkan kepala nya, dan berjalan mendekati zidan.
Salsa berdiri di samping ranjang lalu membantu zidan untuk duduk. Tapi zidan mengeraskan badannya sampai Salsa meringis mengeluarkan tenaganya untuk membantu nya duduk tetap tidak bisa.
Tok!
Tok!
Tok!
Pintu di ketuk dari luar, Salsa yang sudah kehabisan tenaga, perlahan berjalan membuka kan pintu kamar itu.
"Siapa lagi sih! Mengganggu orang saja," gerutu zidan menatap tajam ke arah pintu itu.
Ceklek!
Pintu di buka Salsa terlihat Marni sudah berdiri di depan pintu.
"Selamat malam nona. apa nona dan tuan butuh sesuatu?" tanya Marni.
"Iya bi, om minta di bawakan makan malam nya ke sini," ujar Salsa pada Marni.
"Baiklah nyonya, saya akan segera kembali," balas Marni yang hendak berlalu pergi.
"Bi, tungu," ucap Salsa, menghentikan langkah Marni seketika.
"Iya nyonya, apa ada lagi?" tanya Marni setelah membalikan badannya kembali.
"Apa bibi bisa membantu Salsa untuk membantu om duduk?" ucap Salsa yang bisa di dengar zidan.
"Hais, dia itu kenapa harus menyuruh Marni membantu ku," kesal zidan dalam hati.
"Kenapa dengan tuan nyonya?" tanya Marni yang belum tau.
"Tadi om jatuh, ada luka dalam yang serius kata dokter yang memeriksa om tadi," ujar Salsa.
"Sekarang bagaimana keadaan tuan nyonya?" tanya Marni kembali.
"Sekarang om susah untuk duduk bi, apa bibi bisa membantu Salsa?" ujar Salsa meminta tolong Marni.
"Baiklah nyonya." ucap Marni yang melihat zidan, tapi mendapat plototan mata tajam dari zidan. Yang membuat tubuh Marni seketika gemetar.
"Maaf nyonya saya harus ke bawah sekarang membawa makanan untuk tuan," ucap Marni yang lansung bergegas pergi.
"Salsabila, kemarilah!" Zidan memanggil Salsa yang masih berdiri di pintu.
__ADS_1
Salsa lalu berjalan mendekati zidan.
"Kemarilah bantu saya duduk," ucap zidan sembari menepuk tengah-tengah ranjang itu.