Om CEO Galak Itu Suamiku

Om CEO Galak Itu Suamiku
Jangan panggil saya Om


__ADS_3

"Salsabila."


Suara itu seketika menghentikan langkah Salsa yang sudah berjalan meninggalkan Zidan.


"Saya tadi hanya bercanda saja." Zidan berjalan mendekati Salsa. "Semua ini memang sengaja saya siapkan untuk mu," lanjut Zidan.


Kemudian, Zidan mengambil pematik yang sudah tersedia di meja, lalu menyalakan lilin dengan pematik itu.


"Kemarilah," Zidan meminta Salsa agar mendekat pada nya, mengulurkan satu tangan ke depan Salsa.


Namun Salsa hanya berdiri diam dengan kepala tertunduk.


'Enak saja dia, habis membuat ku malu, bukan nya minta maaf, malah bilang bercanda,"' batin nya menggerutu kesal.


Lama tangan Zidan menggantung di udara tanpa di lihat Salsa, apalagi di pegang seperti yang ia harapkan Zidan.


'Heis, kenapa dia masih berdiri di situ,' Zidan yang kesal pun hanya bisa membatin, lalu menurunkan kembali tangan nya.


Zidan lalu duduk di salah satu kursi di meja itu, yang posisi nya tepat menghadap ke Salsa.


"Berdiri saja di sana sampai besok pagi, biar saya habis kan sendiri makanan ini." dengus Zidan, lalu mengambil satu piring makanan di meja.


"Menyebalkan...." gerutu Salsa, mau tidak mau dirinya melangkah pelan, duduk di depan Zidan.


Beberapa saat tempat itu hening, hanya ada suara sendok dan piring yang beradu, serta suara ombak di laut yang samar-samar bisa terdengar di telinga mereka.


Zidan hanya mengaduk-aduk makanan di piring saja, tanpa memakannya. Sesekali ia mencuri pandang melirik Salsa yang makan dengan lahap.


"Bicaralah, jangan diam saja!" sungut Zidan, seakan benci dengan keheningan itu.


Salsa menghentikan makan nya, menatap wajah kesal Zidan.


"Sebenarnya, untuk apa Om mengajak saya makan di sini?" tanya Salsa kemudian, menatap wajah Zidan lekat, membuat Zidan gelagapan.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" Zidan juga bertanya.


"Kan tadi Om yang menyuruh saya agar ngomong.Saya sudah nanya malah di tanya balik. Kalau seperti ini lebih baik saya diam saja lah," Salsa kembali menyendok makanan di piring nya.


"Ya, saya mengajak kamu kesini untuk liburan," jawab Zidan kemudian.


"Liburan? Kan sekolah saya belum waktunya liburan Om."


"Ya saya mengajak mu berlibur itu agar otak mu tidak stress, karna harus belajar terus!" sungut Zidan beralasan.

__ADS_1


"Tapi saya tidak ada stress Om, saya malah senang belajar," ujar Salsa yang menatap Zidan.


Zidan menghela nafas besar, diam tanpa ingin manjawab lagi kicauan Salsa, karna ia tau istri nya itu akan selalu punya jawaban.


"Om..." Salsa memanggil Zidan, yang sejak tadi hanya melempar pandangan ke arah lain.


"Kenapa Om nggak mengajak tunangan Om saja?" lanjutnya bertanya.


Zidan tersentak, menatap Salsa dengan ke dua alis bertaut.


"Tunangan? Maksud kamu?" Kali ini raut wajah Zidan terlihat serius.


"Ya tunangan Om lah, masa Om nggak tau apa itu tunangan?" jawab salsa sinis di tambah ketus.


"Sabila, maksud saya, yang kamu tanyakan itu tunangan saya itu, siapa?" tanya Zidan hati-hati.


"Om nggak usahlah pura-pura gak tau, gitu," Salsa memutar bola mata nya malas.


"Ya, saya benar-benar tidak tau, siapa yang kamu maksud."


"Ya sudah lah lupakan saja," ucap Salsa mengalah.


"Sabila, katakan? Siapa yang kamu maksud tunangan saya?" sentak Zidan yang semakin penasaran.


"Apa dia yang mengatakan nya padamu?" tanya Zidan lagi.


"I-iya," Salsa menjawab lirih.


Zidan menghela nafas besar, meletakkan ke dua sendok yang di pegang nya.


"Ya itu dulu, dua tahun yang lalu, sebelum dia menjalani hubungan dengan sahabat saya-" Zidan memulai bercerita.


"Pasti Om sedih banget ya waktu itu?" Salsa menyela cepat, melihat wajah Zidan yang tiba-tiba berubah sedih.


"Tidak. Malahan saya sekarang bahagia, karna tau kebusukan nya," ucap Zidan sembari tersenyum.


"Jawab nya serius lah Om, masa orang putus hubungan bahagia," sungut Salsa melihat Zidan tersenyum.


"Saya serius," Zidan mempertegas wajah serius nya.


Salsa memutar bola mata malas melihat wajah Zidan yang dibuat-buat itu.


"Sebenarnya, dia adalah teman saya sewaktu kecil dulu, tapi arwah Papa menjodoh kan saya dengan dia, karna waktu itu Papa ingin saya segera mempunyai pasangan. Saya menuruti kemauan papa, sebab saya tidak ingin mengecewakan nya." ujar Zidan menceritakan.

__ADS_1


"Tapi Om kelihatan mesra dengan dia," celutuk Salsa asal.


"Masra?" Kening Zidan berkerut tujuh.


"Ya, saya melihat foto Om lagi tidur sama dia. Apa itu bukan pasangan mesra," Salsa berkata sembari menghempaskan sendok ke piring nya yang sudah kosong.


"Saya bahkan tidak tau hal itu, ketika itu saya di beri obat tidur dengan dosis besarbesar. Dan, saat saya terbangun saya sudah berada di mension. Tapi Kata Raka, dia memang menemukan dan membawa saya dari hotel," terang Zidan menjelaskan.


"Seperti nya dia sangat mencintai Om. Kenapa Om nggak kembali saja sama dia," lirih Salsa, yang sudah menundukkan kepalanya.


Zidan berdiri dari duduk nya, berjalan mendekati Salsa yang sudah menunduk. Kemudian ia meraih tangan Salsa agar istrinya itu juga ikut berdiri.


Salsa menurut ia juga ikut berdiri, dengan detak jantung yang sudah tidak normal lagi.Rasanya dirinya mau pinsan saat ini.


"Salsabila. saya minta maaf jika selama ini saya membuat kamu tidak nyaman. Saya minta maaf selama ini saya selalu berkata keras dan kasar pada mu." Zidan menjeda ucapannya, menatap Salsa yang menundukan kepala di depannya.


Zidan melepaskan tangan Salsa yang di pegangnya, lalu ia mengeluarkan kotak kecil dari dalam saku celana dan membukanya. Terlihat sebuah cincin, yang bertahtakan berlian di tengahnya.


Zidan mengeluarkan cincin itu dari kotak, meraih kembali satu tangan Salsa dengan kedua tangan nya, ia memakaikan cincin itu di jari manis Salsa.


Salsa menatap jarinya kemudian menatap wajah Zidan yang ada di atas kepalanya dengan haru.


Zidan kembali meraih kedua tangan Salsa, posisi mereka kini sudah saling berhadapan dengan mata saling memandang.


"Salsabila," Zidan menghela nafas dalam sebelum melanjutkan kalimat nya.


"Salsabila, kamu dengarkan baik-baik! Saya hanya akan mengatakan ini sekali saja, dan akan berlaku untuk selamanya. Saya bukan lah orang yang romantik, saya tidak bisa mengutarakan apa yang saya rasakan dengan kata-kata indah, saya hanya akan mengatakan, saya tidak akan pernah melepaskan mu, sampai kapan pun! Dan kamu, hanya akan memandang wajah saya ini sampai tua." tutur Zidan yang lansung di balas pelukan oleh Salsa yang tak dapat lagi menahan rasa.


"Saya juga nggak mau pisah dengan Om," lirih nya dalam pulukan Zidan.


"Hais, kenapa dia masih panggil aku Om," batin Zidan mendengus kesal.


Zidan melerai pelukan Salsa.


"Sabila, apa saya boleh minta satu hal?" tanya Zidan.


Salsa mengangguk cepat.


"Tolong jangan panggil saya Om," lirih Zidan menatap lekat Salsa, begitupun Salsa juga menatap nya.


"Kenapa? Selama ini Om nggak pernah mempermasalahkan nya." tanya Salsa polos


"Terserah kamu mau memanggil saya apa, tapi selain dari Om,"

__ADS_1


__ADS_2