Om CEO Galak Itu Suamiku

Om CEO Galak Itu Suamiku
Ulah Niken


__ADS_3

"Ya, memang-,"


ucapan Togar lebih dulu di sela Samuel.


"Gar! jangan gila kau! mereka juga tidak akan melepaskan kita dari sini-,"


Plak


Akh!!!"


"Sakiiiiiiiiit," pekik Samuel menggema di ruangan itu, karna Raka memukulkan palu nya ke punggung tangan Samuel yang terikat di pegangan kursi.


Togar meringis, ia semakin ketakutan.


"Cepat katakan!" Raka kembali bertanya pada togar.


"Ya, memang kami lah yang menembak mobil itu. Kami di suruh Niken untuk membunuh orang yang bernama Raka,"


Deg


Raka sedikit tersentak mendengar pengakuan togar.


Jadi, aku target wanita ular itu. Tapi, bukan kah wanita ular itu berada di apartemen? Sejak kapan dia keluar. Aku harus memastikannya sendiri. 


gegas Raka melangkah pergi meninggalkan tempat itu.


*****


Di rumah Sakit.


"Tante, tante masuk duluan ya, tiba-tiba perut aku sakit nih," Niken meringis sambil memegang perut nya, saat berjalan di Koridor rumah sakit menuju kamar inap Zidan.


"Kamu tidak apa-apa niken? Apa perlu di periksa?" tanya Maria sedikit rasa khawatir.


"Tidak apa tante, mungkin karna tadi aku terlalu banyak makan saja," Niken menjawab sambil terus memegang perutnya.


"Oo, ya sudah, tante tunggu di kamar inap Zidan ya, kamu tau kan dimana kamarnya? " Maria kembali melangkah setelah Niken mengangguk.


"Mama," Salsa lansung berdiri dari sofa yang di dudukinya, saat melihat Maria yang baru masuk ke dalam kamar inap. Seperti biasa ia meraih tangan Maria dan mencium punggung tangannya.


Tapi, balasan Maria tidak sehangat seperti biasanya. dimana biasanya Maria akan membalas mencium pipi dan juga akan memberikan pelukan hangat pada menantunya. Namun, saat itu Maria hanya memberikan tangan nya tanpa melihat Salsa.


"Ada apa Zi?" Maria terus berjalan mendekati Zidan yang duduk di sofa mengabaikan Salsa yang masih berdiri di dekat pintu.


Salsa bisa merasakan perubahan sikap mertuanya itu padanya. Tapi ia tidak begitu memikirkan nya. Mungkin sang mertua terlalu bersemangat karna Zidan tadi menelpon nya. Pikirnya.


"Mas," tegur Salsa saat melihat Zidan yang terlihat mengacuhkan Maria.


"Hmmmm, Ya," Zidan sedikit menoleh pada Maria kemudian ia mengambil ponsel nya yang terletak sejak tadi di atas meja itu.


"Ma, mas Zidan mau minta maaf sama mama, iya kan mas! " terdengar suara Salsa yang masih berdiri, yang tidak di pedulikan Maria. Sepertinya ucapan Niken benar-benar mempengaruhi otaknya.


Zidan melayangkan pandangan nya pada Salsa yang berdiri, seakan tidak suka istrinya mengatakan itu.

__ADS_1


Zidan juga bisa melihat raut wajah Maria yang tidak seperti biasanya.


"Bisa tinggalkan kami berdua!"


Deg


Maria mengucapkan kata itu pada Salsa tanpa menoleh melihat nya.


"Baik ma," Salsa hendak melangkah keluar dari ruangan itu.


"Lebih baik anda saja yang keluar," Zidan berdiri dan meraih tangan Salsa yang hendak meraih gagang pintu.


"Mas!" Salsa menekan kan suara nya pelan. pandangan matanya meminta Zidan untuk tidak bersikap seperti itu.


"Kalau bukan istri saya yang meminta, saya tidak akan pernah mau bicara dengan anda, tapi anda malah menyuruh nya pergi," Zidan menatap punggung Maria yang duduk di sofa.


"Mas!" Kali ini Salsa mencubit perut Zidan, Hingga Zidan sedikit meringis.


Maria lalu berdiri.


"Baiklah Zi! mama pergi," Maria melangkah keluar, melewati Salsa tanpa melihat padanya.


"Ma, tunggu ma!" Salsa juga ikut keluar mengejar mertuanya.


Tapi Maria seakan tidak mendengar, ia terus melangkah cepat di Koridor rumah sakit itu.


"Ma," Salsa menghentikan langkah nya tidak jauh dari pintu kamar inap. Ia hanya bisa menatap punggung wanita paruh baya itu.


"Seharusnya mas nggak ngomong gitu ke mama," ucapan Salsa seakan menyalahkan Zidan.


"Lho, kok nyalahin mas," kedua alis Zidan bertaut tidak menerima perkataan sang istri.


"Ya habis, kenapa mas ngomong gitu," Salsa merengek. Ia sedikit kecewa, padahal sedikit lagi ia akan melihat suami dan mertuanya itu berdamai.


"Sudah lah! jangan terlalu di pikirkan, sore ini kita akan pulang, Kamu istrahat lah dulu," Zidan mencoba mengalihkan pikiran istrinya.


"Tapi mas. Mas ngerasa nggak sih? mama itu tadi sikap nya beda lho? Tidak seperti biasa," Salsa meminta pendapat Zidan.


"Hmmm," Zidan mendehem tanda setuju.


*****


Maria terus berjalan menuju parkiran rumah sakit, wajah nya terlihat sendu seperti menahan kesedihan.


Sampai di parkiran, jo bergegas membukakan pintu mobil untuk Maria.


"Jalan jo!" perintah Maria setelah duduk di kabin belakang. Maria terlihat tidak fokus, terbukti ia bahkan lupa tadi datang bersama Niken.


Baru saja mobil berjalan meninggalkan rumah sakit, ponsel nya berdering, dengan gerakan malas Maria mengambil ponsel nya yang berada di dalam tas brandednya. Ia lihat nama Alfredo yang tertera di sana. Segera Maria mendekatkan ponsel nya ketelinga setelah menggeser panah hijau di layar ponsel.


"Ada apa Alfred?" Maria lansung bertanya saat sambungan ponsel nya terhubung.


"Nyonya, kami sudah menemukan pelaku yang menembak tuan Zidan," balas Alfredo dari sambungan telepon.

__ADS_1


"Bagus Alfredo, sekarang dimana mereka?"


"Saya juga tidak tau alamatnya di mana, nyonya. Tapi yang pasti kami sudah tau siapa orang yang menyuruh menembak tuan Zidan." jawab Alfredo.


"Siapa?" Maria sudah tidak sabar untuk mengetahui siapa orang yang telah mencoba membunuh putranya.


"Orang itu menyebut nama Niken, dan sasaran mereka pun bukan lah tuan Zidan tapi tuan Raka,"


Deg


Mulut Maria menganga, seakan tidak percaya apa yang di ucapkan Alfredo padanya.


Sungguh ia merasa telah di bodohi oleh Niken.


"Nyonya, nyonya, apa anda masih ada di sana?" Suara Alfredo dari sambungan telepon seakan tidak didengar lagi oleh Maria.


Tangan Maria mengepal sangat kuat hingga tubuh nya gemetar, karna amarah yang tertahan.


"Jo, kembali kerumah sakit," perintah Maria pada sopirnya.


Bodoh nya aku kenapa harus percaya dengan ucapan wanita iblis itu.


sayang maaf kan mama nak hikz. hikz. 


Maria terisak mengusap sudut matanya yang ber air. dada nya terasa amat sesak, mengingat wajah Salsa tadi.


Kau akan terima balasan nya Niken. 


Maria terus menggeram, menahan amarah dan penyesalan nya.


***


"Aku kira tante meninggalkan aku," Niken sambil tersenyum berjalan mendekati Maria yang baru saja turun dari mobil.


Maria mengepalkan tangan nya kuat, rasanya ingin sekali ia merobek mulut Niken yang berjalan semakin mendekat padanya. Tapi, ia masih berusaha menahan, agar Niken tidak curiga jika ia sudah mengetahui kebenaran nya. Karna saat ini ia harus bertemu dulu dengan Salsa, Rasa bersalah terhadap menantunya itu begitu menghantui pikirannya.


"Tunggulah di sini, tante ingin mengambil barang yang tertinggal di kamar Zidan," Maria berlalu pergi, guratan amarah di wajah nya tidak bisa ia sembunyikan. Ia mengayun kan langkah nya cepat di Koridor rumah sakit, tidak sabar rasa nya untuk memeluk tubuh sang menantu.


Ceklek


Maria membuka pintu kamar inap, mata nya lansung beradu pandang dengan Zidan yang duduk di sofa.


"Mau apa lagi anda datang kesini?" suara berat Zidan terdengar menggema di ruangan itu dengan sorot mata tajam pada nya.


Maria terus melangkah kan kaki nya masuk, meski ucapan Zidan begitu menusuk hatinya. Mata nya menangkap Salsa yang berbaring di ranjang pasien.


Maria seakan tidak memperdulikan Zidan yang duduk di sofa, yang tidak melepaskan tatapan tajam nya. Maria terus melangkah mendekati Salsa yang berbaring di ranjang pasien dengan mata terpejam.


"Keluar!!!!." dengan penuh amarah Zidan manyeret tangan Maria keluar.


"Mas!" suara Salsa dari arah ranjang menghentikan langkah kaki Zidan.


Salsa gegas bangkit dari ranjang, mendekati suami dan mertuanya.

__ADS_1


__ADS_2